
"Hei, apa yang kalian laku—"
"Buk!"
"Diam kau brengsek ... Sudah aku katakan, perintah kami berubah, bukan ... "
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk melumpuhkan seluruh anggota Jaringan Keluarga Faust di sana.
Selain terkejut dengan apa yang dilakukan pemimpin pasukan dari keluarga Fargo pada pemimpin mereka, mereka juga menyadari bahwa akan sangat berbahaya jika masih tetap mencoba melawan.
Saat semua terjadi, William datang mendekat pada Dale yang terlihat sedang berbicara menggunakan ponselnya.
Dale yang baru saja memutus sambungan, Tau apa yang yang akan ditanyakan oleh William padanya.
"Noah memintaku ke tempat dimana kau meninggalkannya."
"Begitukah? ... "
Kening Dale langsung berkerut saat melihat wajah William yang kini kebingungan tampak sedang mencoba memikirkan sesuatu.
"William, apa yang terjadi di sana? ... Kenapa kau meninggalkan Noah dan malah ketempat ini?"
Mendengar pertanyaan Dale, William hanya bisa menarik nafas panjang dan melepasnya dengan kasar. Dia menggelengkan kepalanya lalu memukul pundak pemuda di sampingnya itu dan balim bertanya.
"Dale, aku Rasa kita tak pantas bergelar Raja ... "
Kali ini giliran Kening Dale yang di buat William berkerut. Berbicara tentang gelar yang sudah mereka sandang selama beberapa tahun terakhir di saat seperti ini, sangat tidak tepat sekali.
Akan tetapi, mengatakan bahwa gelar yang sudah mereka dapatkan dengan susah payah, dan mempertahankannya dengan lebih bersusah payah lagi itu, tidak pantas mereka sandang, terdengar sangat tidak masuk akal baginya.
"Bro ... Bicara apa kau? Apa kepalamu membentur sesuatu?"
Sekali lagi William menggelengkan kepalanya. "Ayo kita ke sana ... Kau akan mengetahuinya ... "
Dax yang sejak tadi hanya diam, kini mulai bicara. "Maaf ... Apa ketua kami juga meminta kami ke sana?"
Dax sangat penasaran dengan dua orang pemimpin pasukan yang terlihat sangat kuat, yang sudah dia ketahui sebagai Raja jalanan seperti Noah ini.
Keduanya terlihat berumur tidak jauh darinya. Menandakan bahwa Noah jauh lebih muda.
Hanya saja, jika memang keduanya setara dengan ketuanya, Dax melihat kedua pemuda sangat menghormati Noah.
Hal tersebut, membuat mantan ketua Gangster the Ravens itu, lebih penasaran lagi seberapa hebat sebenarnya pemimpin mereka itu.
"Ya, dia meminta Seseorang yang bernama Dax, untuk membawa beberapa orang, untuk mengurus berapa hal."
Mendengar jawaban Dale, Dax langsung menganggukkan kepalanya cepat. "Itu, aku ... Baiklah, aku dan beberapa orang akan mengikuti kalian."
Setelah mengatakan itu, tiba-tiba Dax mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan orang itu? ... "
Dale dan William tersenyum saat melihat orang yang di tunjuk Dax.
"Jika kau adalah orang-orang Noah, maka dia sama sepertimu ... "
Saat Dale menjawab pertanyaan Dax, William berseru pada pemuda itu.
"Aiden ... Bisakah kau mengurus yang di sini? Aku dan yang lainnya harus ketempat Noah terlebih dahulu ... "
Aiden menganggukkan kepala saat mendengar seruan William. "Baiklah, serahkan padaku ... Aku akan mengurusnya."
"Jika apa yang kalian katakan benar, sebaiknya aku bicara padanya terlebih dahulu."
Tau bahwa mereka berada di bawah pemimpin yang sama, Dax segera menghampiri Aiden.
Saat mendekat, tanpa basa basi Dax langsung berkata pada Aiden. "Ketua memintaku dan beberapa orang untuk mengurus beberapa hal, aku akan meninggalkan sisa anggota the Ravens disini untuk membantumu."
"Baiklah, terimakasih ... "
Setelah itu, Dax meninggalkan Aiden untuk mengurus sisanya, dan membawa beberapa orang untuk mengikuti Dale dan William.
Di sebuah tempat tertutup, di tengah kota BronzeLand, semua ketua jaringan berkumpul.
Mereka sangat dikejutkan dengan apa yang terjadi di kota itu saat mereka masih berada di gedung milik keluarga Cadman.
"Sial! ... Dari mana orang-orang itu datang?"
Tidak menanggapi pertanyaan pria itu, sambil melipat tangan di dada, Barabara berkata. "Tuan Briley ... Katakan apa yang kau ketahui tentang keluarga Faust, yang kami tidak ketahui."
Lil Briley tau bahwa pada akhirnya semua orang akan curiga. Lagipula, dalam keadaan seperti ini, menyembunyikan rahasia yang telah lama diketahuinya itu, tidak lagi berguna.
Akan lebih baik baginya atau semua orang di sana, untuk mengetahui apa yang selama ini coba dia selidiki kebenarannya.
"Randy Faust masih hidup ... "
Seketika, mata mereka semua melebar. Pasalnya, itu benar-benar tidak mereka duga.
Tentu saja setiap orang di sana memiliki rahasianya sendiri. Akan tetapi, apa yang baru saja dikatakan oleh Lil Briley, tentu saja bukan rahasia biasa.
"Lil Tua, apa maksudmu? ... "
Lil Briley hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Selama ini kita benar-benar dipermainkan. Tapi, aku sengaja merahasiakan ini, karena aku ingin mengetahui apa sebenernya yang tengah direncanakan keluarga itu ... "
"Jadi, semua orang-orang ini ... Pemuda itu ... Ah, tolong seseorang jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi saat ini?!"
Tidak hanya satu ketua Jaringan yang berseru seperti itu saja yang tampak kebingungan dengan situasi di BronzeLand saat ini. Akan tetapi tentu saja mereka semua sangat bingung.
Berfikir bahwa selama ini mereka adalah orang-orang yang mengetahui hampir seluruh hal tentang kota ini, ternyata harus berakhir dengan keadaan seperti saat ini.
__ADS_1
"Aku akan menceritakan semuanya nanti ... Tapi karena keluargaku sudah hancur, aku rasa apapun yang terjadi ke depan, tidak akan berpengaruh banyak untukku."
Sudah rahasia umum bahwa sebenarnya mereka semua sejak lama sangat ingin saling menghancurkan satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, tentu saja saat ini semua itu sudah tidak penting.
"Lil Tua, kau dan ayah-ayah kami, merupakan bagian dari sejarah perkembangan kota ini ... Setelah ini, kita akan membicarakan masa depan ... "
Semua orang mengangguk mendengar kata-kata Barbara. Pada kenyataannya, memang seperti itulah sosok Lil Briley di mata mereka.
Hanya saja saat ini, Seperti apa yang dikatakan Lil Briley, keluarganya sudah hancur. Anaknya, kurt Briley kini tengah jadi bulan-bulanan orang-orang yang pernah mereka sakiti.
Beruntung, Barbara yang lebih dahulu mengetahui hal itu, berinisiatif untuk menjemput dan menyembunyikannya di tempat ini.
Meski apa yang dikatakan Barbara itu benar, tapu saat ini bagi Lil Briley ada sesuatu yang mengganjal.
"Nona Barbara ... Bukankah kau bagian dari mereka. Kenapa saat ini kau menolongku?"
Saat Lil Briley bertanya, semua mata kini kembali tertuju pada satu-satunya wanita di sana itu.
"Aku ingin semuanya jelas, dan aku ingin tau apa yang sebaiknya aku lakukan setelah ini ... "
Sebelumnya, mereka telah sepakat untuk mempercayakan semuanya pada Barbara. Akan tetapi, bisa saja saat ini wanita itu bagian dari skenario yang telah di rencanakan Noah.
Berfikir bahwa saat ini semuanya sedang dikumpulkan di sana, tiba-tiba saja semua orang langsung menaruh curiga oadanya.
"Sial ... Nona Cadman ... Apa kau sengaja menjebak kami semua, disini ... ?!"
Tuduhan yang dilancarkan padanya itu, sontak membuat Barbara menajamkan matanya.
"Dasar orang-orang bodoh ... Sudah aku katakan bukan, saat ini aku sedang ingin memastikan sesuatu ... "
"Katakan, apa yang sedang kau renca—"
Kata-kata Lil Briley terhenti saat Barbara mengangkat satu tangan memberi tanda, dan melihat ponselnya yang sedang bergetar di tangan satunya.
Mereka semua melihat wanita itu mendekatkan ponsel ke telinga, lalu mulai bicara.
"Katakan, apa kalian menemukannya? ... bagus ... Bawa dia kesini."
Saat sambungan itu terputus, Sontak mereka ingin mengetahui siapa orang yang dimaksud wanita itu.
Namun demikian, saat itu juga Barbara dengan sebuah senyuman licik, menjawab pertanyaan mereka.
"Setiap orang pasti memiliki kelemahan ... Saat ini, aku telah menemukan kelemahannya ... "
Tidak terlalu mengerti dengan apa tang di ucapkan wanita muda itu, Lil Briley kembali bertanya.
"Kelemahan? ... Kelemahan siapa yang kau maksud?"
Saat pertanyaan itu dia lontarkan, Lil Briley mengikuti semua orang menoleh pada pintu yang tiba-tiba saja dibuka dari luar.
__ADS_1
Saat ini, semua orang mengernyit heran karena melihat seseorang sedang berdiri di sana.
"Tuan-tuan ... setiap orang memiliki kelemahan, bahkan the Madness sekalipun ... "