
Noah tidak mengingat kapan terakhir kali dia melihat Jade, dan apa yang mereka bicarakan saat itu.
Akan tetapi, entah kenapa saat ini dia melihat gadis itu bertambah cantik saja. Apalagi, saat dia tersenyum seperti saat ini.
Jade yang melihat Noel pergi, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Karena sejak beberapa waktu terakhir, dia terus mencari pemuda itu untum menanyakan kabar tentang keberadaan temannya.
Namun, saat dia melihat Noah, Jade merasa sedikit bersalah karena tidak menyapanya.
Dia bisa mengatakan permintaan maaf pada Noel nanti. Akan tetapi, saat ini dia memiliki sesuatu yang lebih penting. Dia merindukan pemuda yang balas menjawabnya, seperti tidak terjadi apapun ini.
Noah tidak mengernyitkan dahinya, karena Jade tidak menjawabnya. Akan tetapi, gadis itu langsung berjalan setengah berlari mendekat padanya.
"Noah, kau kemana saja. Aku ... Merindukanmu."
Mata Noah melebar, karena tiba-tiba saja Jade memeluknya, sambil mengatakan hal itu.
Itu mungkin bukan masalah besar bagi keduanya. Akan tetapi, ini pagi hari dan sedang di area kampus mereka. Sontak pemandangan tersebut, mencuri perhatian banyak orang.
"Aku ... Aku, Jade ... Aku ... "
Jade mengeratkan pelukannya untuk beberapa saat, sebelum melepasnya. Di mata gadis itu, Noah melihat genangan air mata. Akan tetapi, sebuah senyuman tidak lepas dari wajahnya.
"Tidak perlu mengatakan apapun. Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan, saat bertemu denganmu. Karena aku benar-benar merindukanmu."
Noah menelan ludahnya saat mendengar kata-kata Jade tersebut. Mungkin, gadis ini tidak peduli dengan apa yang dilakukannya. Sebenarnya Noah juga begitu.
Akan tetapi, Noah tidak bisa untuk tidak peduli dengan tatapan ratusan pasang mata, yang kini menonton mereka. Noah tidak suka menjadi pusat perhatian, terutama di sini, di kampus ini.
"Jade, sebaiknya kita cari tempat lain saja."
Tanpa menunggu aba-aba, Jade meraih selah di antara satu tangan dan tubuh Noah, lalu mulai berjalan.
"Baiklah, aku rasa karena kau terlalu lama menghilang. Tidak ada salahnya aku menculikmu dan membuatmu menghilang sehari lagi dari kampus ini, bukan?"
Noah tentu saja akan mengatakan bahwa itu masalah. Akan tetapi, melihat bagaimana sikap Jade saat ini, dia tidak ingin membuat gadis itu kecewa.
Lagipula, mungkin saat ini dia memerlukan ini. Untuk beberapa lama, Noah merasa tertekan menahan reaksi pikirannya dari dampak Sistem yang ada di tubuhnya, saat menyelesaikan misinya. Sedikit bersenang-senang rasanya tidak salah.
"Baiklah, kemana kau akan membawaku?"
"Haha ... Lucu sekali. Apakah sang penculik harus memberitahu korban, kemana dia akan membawanya?"
Noah hanya tersenyum saat mendengar itu, meski semua mata masih menatap mereka.
Akan tetapi, dia antara semua pemilik pasang mata di sana, mereka tidak menyadari bahwa saat ini, ada dua orang yang berdiri di tempat berbeda, melihat semua itu dengan tatapan penuh amarah.
Seorang pemuda yang berdiri dengan dua orang teman di kiri kanannya, bertanya dengan geram.
"Siapa brengsek itu? ... "
__ADS_1
Tidak bermaksud menjawab, salah satu temannya itu, juga bersuara. Akan tetapi, dengan nada sedikit terkejut.
"Sial ... Aku pikir, dia sudah tidak berkuliah di sini lagi."
Pemuda yang tadi bertanya dengan geram tersebut, menoleh pada temannya itu, dan kembali bertanya.
"Yori, Kau mengenalnya?"
Yori adalah Salah satu mahasiswa yang sekelas dengan Noah. Mendengar pertanyaan seperti itu, dia langsung menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja aku mengenalnya. Dia Noah Evans ... Finn, kau mungkin baru di sini. Tapi, Aku rasa, semua orang di kampus ini mengenalnya."
Mendengar Jawaban temannya itu, Finn langsung melebarkan matanya. Dan kembali bertanya.
"Sial, apa brengsek itu sangat populer di sini?"
"Hahahahhahaha ... "
Baru saja pertanyaan itu dia lontarkan, teman yang ada di sisi lainnya, langsung tertawa terbahak.
Tidak itu saja, bahkan saat ini Yori yang ditanya, juga sedang merapatkan bibirnya menahan tawa.
Finn yang merasa heran, mengerutkan kening sambil menatap keduanya bergantian.
"F**k ... Jared, kenapa kau tertawa? Apa ini terlihat begitu lucu bagimu, sialan?!"
Jared menggelengkan kepala berusaha meredakan tawanya. Tapi, hal tersebut terasa sulit baginya. Karena, pertanyaan Finn tersebut, benar-benar terdengar lucu.
Kesal karena Yorke tidak langsung menjawabnya, Finn kembali bertanya. "Yori, apa yang tidak seperti yang aku pikirkan?"
"Dia memang sangat terkenal, tapi bukan karena sesuatu yang membanggakan. Tapi, karena dia benar-benar pecundang."
Lagi, Finn merasa apa yang dikatakan Yori, terasa sangat membingungkannya.
"Pecundang? Apa maksudmu?"
Yori menggelengkan kepalanya, sambil menunjuk kesebuah Arah. "Kau lihat gadis yang berdiri di sana?"
Saat itu juga, mata Finn langsung menoleh pada gadis yang sedang ditunjuk oleh Yori. Saat melihat gadis yang kebetulan hanya berdiri sendiri itu, dia langsung mengangguk.
"Ya, tapi ... Apa hubungannya gadis itu, dengan pertanyaanku?"
"Aku akan menceritakan padamu, seberapa pecundangnya pemuda tersebut ... "
Saat Yori mulai menceritakan sesuatu pada Finn, gadis yang mereka tunjuk itu kini berjalan, lalu pergi dari tempat di mana dia berdiri.
Di dalam hatinya, dia ingin melakukan hal yang sama. Dia ingin memeluk dan mengatakan hal yang sama. Menggandeng tangan dan membawa Noah berjalan dengan cara yang sama pula.
Lucy, juga ingin tersenyum seperti cara Jade tersenyum pada Noah. Dan Lucy, juga sangat ingin melihat wajah Noah yang lugu, saat dia memaksakan keinginannya, saat seperti keduanya masih memiliki hubungan dulu.
__ADS_1
Lucy berjalan sedikit gontai, dengan dada terasa sesak. Sama seperti Jade, dia juga merindukannya. Lucy benar-benar merindukan Noah.
Hanya saja, saat ini semua telah berubah. Noah tak lagi sama, dan dia tak lagi sama di mata pemuda yang telah dia sakiti dengan cara yang sangat kejam itu.
"Noah, aku ... "
Bahkan dihatinya, Lucy merasa tak sanggup mengatakan bahwa betapa rindunya dia pada Noah. Karena, dia tau dia tak lagi berhak mengatakan itu.
Hampir setengah jam kemudian, Noah dan Jade sudah berdiri di sebuah restoran sederhana, yang dia yakini sebagai tempat makan Favorit Noah.
"Jadi kau menculikku, hanya untuk membawaku ke tempat ini?"
Jade tersenyum lebar, sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya ingin kau memiliki tenaga terlebih dahulu, karena hari ini akan berjalan sangat panjang."
Tidak tau apa yang sudah direncanakan Jade saat itu, Noah hanya bisa tersenyum pasrah. Lagipula, dia memang belum sarapan.
"Baiklah, sebagai korban, sepertinya aku harus mematuhi perintah penculikku, bukan?"
"Ya, tentu saja ... Ayo masuk."
Di dalam, keduanya bercerita hal-hal yang ringan. Seperti biasanya, atau bahkan lebih, Jade selalu bisa mencari topik yang membuat Noah nyaman saat bersamanya.
Bahkan Jade tidak bertanya kemana dia selama ini. Gadis itu, benar-benar tidak peduli.
Di selah-selah perbincangan itu, Noah menyempatkan diri mengamati keadaan sekitarnya.
Dalam ingatannya, di tempat inilah dia pertama kali menyadari System yang telah mengubah alur cerita hidupnya. Bahkan, Noah juga baru menyadari bahwa saat ini dia duduk di meja yang sama.
Tak terasa sudah banyak kejadian yang dia jalani setelah itu. Tidak hanya dirinya yang terasa telah jauh berubah. Saat itu, dia duduk disini dengan perut lapar, setelah sehari sebelumnya dicampakkan dengan cara yang sangat memalukan oleh gadis yang sangat dicintainya, karena dia sangat miskin.
Sekarang, dia kembali di sini dengan pribadi dan situasi yang jauh berbeda.
Saat ini, Noah tau bahwa dia memiliki sumber keuangan tak terbatas. Apalagi di depannya saat ini, duduk seorang gadis yang terus berusaha membuatnya tersenyum, tanpa menuntut apa-apa
Noah juga menyadari bahwa, Jade juga sudah berubah. Gadis cantik ini, sekarang sepertinya benar-benar bisa tertawa lepas.
Entah apa penyebabnya, tapi Noah juga merasa senang untuknya.
"Jade ... Kau menolak aku menjemputmu, hanya karena ingin melewati makan pagimu, di tempat seperti ini, dengan pecundang ini?"
Kebahagiaan tidak bisa disebut kebahagiaan, jika tidak ada yang mengusiknya. Karena begitulah cara kerja dunia ini.
Entah siapa orang ini, dia tidak mengenalnya. Akan tetapi, bagaimana cara dia bertanya, tentu saja Noah langsung bisa mengerti situasinya.
Sangat klise, dan selalu terjadi pada dirinya. Noah bahkan tidak ingin melihat wajah pemuda yang entah siapa itu, selain mencoba memperhatikan wajah Jade, dan menunggu bagaimana reaksi gadis itu, terhadap orang ini.
"F**k ... Finn, berani sekali kau berbicara seperti itu pada Noah. Bagiku, kaulah pecundangnya ... "
Mata Finn langsung terbelalak, saat melihat bagaimana cara Jade menanggapinya. Namun, saat dia menoleh pada Noah, hatinya semakin di buat kesal saja.
__ADS_1
Pasalnya, saat ini dia melihat dengan sangat jelas, pemuda yang dikatakannya sebagai pecundang itu sedang tersenyum, seolah mengejeknya.
"Kenapa kau tersenyum, brengsek? ... Apa kau ingin mati? ... "