
"Bell ... "
Noah sudah terbiasa dengan dentingan-dentingan suara sistem di kepalanya, itu karena World Order terus membangun Silverstone, sedang Satellite di HighCopper terus melakukan ekspansi ke beberapa Jaringan di sana.
Namun, perubahan pada sikapnya sendiri, membuat Noah mencurigai sesuatu.
"Ternyata, benar ... "
Saat panel Sistem muncul di depannya, Noah melihat beberapa perubahan di sana. Namun, itu sudah dia duga.
Noah penasaran, Apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena jelas, sesuai dugaannya, dentingan dari sistem yang terdengar setelah Thomas pertama kali mengatakan keadaan ketiga gadis itu, langsung membuat suasana hatinya, benar-benar buruk.
"WRATH ... !" (kemaharahan)
Sesuai dengan dugaan Noah, saat ini Bell, Sistemnya baru saja memberinya misi baru
Saat itu juga dia menyadari kenapa dia sangat sulit sekali mengendalikan amarahnya saat berbicara dengan Thomas tadi.
Wrath atau kemarahan adalah salah satu dosa besar. Seperti yang sudah diketahuinya, Bell, Sistemnya ini membawa kutukan tujuh dosa besar yang akan mempengaruhi dirinya.
Seperti beberapa saat yang lalu ketika masih berada di panti asuhan, mungkin Thomas benar-benar terkejut dengan perubahan sikapnya, setelah lebih dari tiga tahun mereka tidak bertemu.
Noah memperhatikan kembali seluruh Bar di panel Sistemnya, untuk memastikan semuanya.
[PEMBERITAHUAN DAN KONFIRMASI MISI BARU]
[Nama Pengguna \= Noah Evans]
[Status \= Manusia Bumi level C]
[Pengalaman(P) \= 80]
[Mentalitas(M) \= 60]
[Vitalitas(V) \= 60]
[Sense (S) \= 25]
[Intuisi (I) \= 20]
[Keahlian Spesial (KS) \= 4]
[Poin (P) \= 3.562.217]
[Poin Spesial (PS) \= 100]
[Level (L) \= 3]
[Minimal Belanja Bulanan (MBB) \= $1.000.000.000.000]
__ADS_1
[Misi Sistem : Pembangunan]
[Mode Misi : WRATH]
[misi Utama : Penguasa]
Hanya ada tiga perubahan di sana. Namun, nilai MBB nya menjadi sepuluh kali lipat dari sebelumnya.
Menghabiskan uang, sepertinya tidak terlalu jadi masalah. Akan tetapi, jelas misi barunya itu sedikit membingungkannya.
"Pembangunan? ... "
Noah tidak mengerti dia harus membangun apa. Sebab, jelas saat ini World Order sedang membangun ulang Pusat Olah raga, dan sebuah gedung yang akan digunakan sebagai kantor WallEye media, yang akan dikendalikan teman-temannya.
"Noah, aku sudah menghubungi beberapa orang. Setidaknya, kita memerlukan beberapa orang untuk menjaga saudara-saudaramu setelah apa yang baru saja kita lalukan."
Setelah menggumamkan bell di dalam hatinya, Noah mengangguk untuk menanggapi laporan dari Ted Bowie itu.
Di depannya, saat ini terbaring salah satu pemuda yang tumbuh bersamanya, dalam keadaan beberapa tulang patah dan serta luka-luka lecet serta lebam di hampir setiap bagian tubuhnya.
"Old Ted, aku ingin kau menyelidiki seluruh Jaringan yang terlibat dengan keluarga Briley, di kota ini dan ... "
Noah menggantung kata-katanya tampak berfikir seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Saat itu, dia mengingat kejadian tadi siang di ruangan Gabe Jackson, ayah Jade.
"Tidak, tidak ... Aku ingin kau selidiki seluruh Jaringan yang terlibat dengan keluarga Briley, di mana saja."
Tentu saja Noah bisa mendatangi keluarga Briley saat ini juga untuk memberi pelajaran pada seluruh keluarga itu, karena telah mengusik keluarganya.
Saudara-saudaranya yang lain, juga mengalami kesulitan. Thomas mengatakan bahwa beberapa dari mereka terjerat masalah dengan keluarga Briley dan beberapa jaringan lainnya di Bronzeland.
Ted Bowie yang sudah mendengar penjelasan Noah, saat dalam perjalanan ke rumah sakit ini, tentu langsung mengerti apa yang di inginkan oleh the Ghost, bosnya ini.
"Baiklah, aku akan mengurusnya."
Ted Bowie langsung pergi dan keluar dari sana, dengan Ponsel yang kembali menempel di telinganya.
Sebelumnya, Noah sengaja meminta Thomas untuk menghubungi semua orang, agar segera berkumpul secepatnya.
Saat ini, Noah berniat membawa seluruh penunggu panti Asuhan tersebut ke Silverstone dan menghancurkan seluruh Jaringan di kota ini, yang telah membuat keluarganya kesulitan.
"Noah, kau tidak bisa melakukan itu, nak. Setelah aku sembuh, aku harus kembali ke sana."
Noah mengernyitkan dahinya mendengar tanggapan Victoria saat memberitahu semua rencananya pada wanita itu.
Berfikir bahwa hal tersebut akan membuat Victoria senang dan akan bersedia tetap tinggal di Silverstone, namun ternyata tidak. Wanita yang merawat dan membersarkannya tersebut langsung menolaknya.
"Nyonya Voctoria, kota ini sudah sangat kacau dan tidak baik untuk mereka, aku ingin saudara-saudaraku hidup dengan baik."
Lama Victoria terdiam di seberang sana. Noah tau bahwa ada yang sedang coba di katakan wanita itu padanya. Tidak mendesak, namun Noah menunggu agar Victoria menanggapinya.
__ADS_1
"Noah, Nona Alice juga mengatakan akan memberikan pekerjaan yang baik untuk saudara-saudara mu. Dan aku sangat senang mendengarnya. Hanya saja ... "
Noah sepertinya mengerti apa yang kini di cemaskan oleh Victoria, langsung menyela kata-kata wanita itu yang masih menggantung.
"Nyonya Victoria, jelas adik-adik kami semua akan ikut juga. Tidak mungkin kau berfikir bahwa aku akan meninggalkan Merry, Rachel dan yang lainnya di sini, bukan?"
"Ya, kau benar ... Dan itu juga bagus, tapi ... "
Kali ini, Noah sudah tidak tau apalagi yang membuat Victoria sangat keberatan untuk meninggalkan BronzeLand.
"Nyonya Victoria aku—"
Belum sempat Noah menyelesaikan kata-katanya. Victoria langsung memotongnya.
"Noah, bagaimana jika dulu saat aku masih muda, aku memutuskan meninggalkan BronzeLand, dan memilih untuk hidup nyaman?"
Saat itu juga, Noah langsung tertegun. Jika Victoria tidak di BronzeLand saat itu, maka bisa dipastikan mereka tidak akan bertemu.
Noah, tidak bisa membayangkan siapa yang akan merawatnya, apakah akan sebaik Victoria atau tidak, bahkan saat ini Noah berfikir mungkin saja dia sudah mati terlantar di depan sebuah pintu atau tong sampah.
Karena, hampir semua dari mereka yang tinggal di panti asuhan tersebut, bertemu dengan Victoria dengan kejadian yang hampir sama.
Mereka adalah anak-anak yang di telantarkan bahkan dibuang oleh orang tua mereka, sejak mereka baru saja menghirup nafas di dunia ini.
"Noah, kau di sana? ... Nak?"
"Ya, Nyonya Victoria ... A-aku ... Aku, mendengarkanmu ... !"
Noah langsung terbata saat menjawab wanita itu. Tentu saja saat ini Noah sudah sangat mengetahui kenapa Victoria sangat berkeras ingin kembali ke kota ini.
"Noah, Apa sekarang kau sudah mengerti kenapa aku harus ada di sana?"
Sekali lagi, meski tau bahwa Victoria tidak bisa melihatnya, Noah menganggukkan kepalanya.
"Ya, Nyonya, aku mengerti ... "
Saat itu juga Noah juga langsung mengerti bahwa Victoria telah lama mengetahui, kota inilah yang membutuhkan orang seperti dirinya.
Bukan Victoria yang ingin kembali. Tapi, dia memang harus berada di kota ini. Hal itu di karenakan anak-anak terlantar di kota ini membutuhkannya.
"Nyonya Victoria. Saat kau benar-benar telah membaik, aku berjanji akan membawamu kembali kesini."
"Baguslah kalau begitu. Ternyata, sekarang kau memang benar-benar sudah dewasa."
Saat sambungan itu terputus, Noah langsung berjalan ke jendela bangsal tempat di mana Issac yang masih belum sadarkan diri, dirawat.
Melihat bagian kota BronzeLand dari sana, sebuah tekad muncul di hati Noah.
"Aku akan menjadikan, kota ini jauh lebih baik."
__ADS_1
Itulah yang Noah pikirkan dan itulah tujuannya saat ini. Namun, baru sebentar saja dia hanyut dalam pikirannya itu, seseorang membuyarkan lamunannya.
"Permisi ... Apa kau benar-benar, Tuan Evans?"