World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Kebuasan


__ADS_3

Alice menarik Noah, ke dalam pelukannya. Entah sudah berapa kali dia mengharapkan ini terjadi. Bahkan, dia sudah memimpikan ini berkali-kali.


Saat ini, Alice ingin waktu terhenti, dan mereka melakukannya selama yang dia bisa.


Noah mulai membalas. Pemuda itu memaksa lidahnya masuk. Saat Alice mendesah saat lidah itu berjalan di langit-langit mulutnya.


Tangannya menggenggam rambut Noah yang sedikit panjang itu, sementara satu yang lainnya mencengkeram punggung pemuda tersebut.


Hal itu terjadi sedikit lama, hingga Alice mulai kehilangan nafasnya. Namun, saat Noah ingin menarik Alice terus membenarkannya. Gadis itu, tidak peduli sama sekali permainan Noah, begitu terasa nikmat baginya.


Hal itu di tambah saat di merasakan satu tangan Noah mendarat di salah satu gunung kembar, yang masih tertutup oleh pakaiannya. Sebuah sengatan listrik mulai terasa di otaknya, saat tangan yang kokoh itu sedikit merremasnya.


"Ahhhhh .... !!"


Alice bisa melenguh karena Noah baru saja melepaskan pertautan lidah mereka. Namun, lidah Noah sama sekali tidak lepas dari bibir, dan kini mulai bergerilya ke bawah, dan mengeksplorasi lehernya.


Tubuh Alice sempat menegang, karena di saat bersamaan, Noah meremas sedikit lebih kuat. Dengan tangannya yang bebas, di berusaha membuka satu demi satu  kancing Jas hingga kemejanya.


Namun, dengan posisi satu tangan yang terhalang sandaran Sofa, itu terasa sulit. Namun, tiba-tiba Noah berdiri. Alice sempat tersentak, takut Noah berubah pikiran.


Namun, saat melihat kemana mata pemuda itu terarah, detik kemudian dua tangan milik pemuda itu menarik kemeja miliknya dengan paksa.


"Tek Tek Tek Tek ... "


Semua kancing itu terbang dari tempatnya. Saat ini, hanya tinggal satu lagi yang menghalanginya. Namun, tidak menunggu lagi Noah langsung menenggelamkan kepalanya di sana.


Posisi tubuhnya kini sedikit bergeser. Sambil menikmati permainan Noah di tulang lehernya, dia berusaha melepas kancing dan menurunkan resleting rok, yang sejak tadi terasa menyulitkannya.


"Uhhh ... "


Akhirnya, tangan itu memaksa masuk kedalam penutup terakhir gunung kembarnya. Saat kulit telapak tangan Noah baru menyentuh ujung buah ceri itu, hal itu mengirim sinyal gelombang sengatan listrik, ke otaknya.


Ini bukan pertama kali baginya. Tapi, ini pertama kali dia sudah berkeringat, padahal baru saja memulainya.


Tidak puas dengan permainannya sendiri. Noah kembali berdiri. Namun membawa Alice dalam pelukannya.


"Lepaskan ini ... "


Noah mengerti maksud Alice. Dia juga sudah merasakan bahwa kedua gunung itu mengeras. Noah langsung melepas pengait di belakang punggung Alice, setelah wanita itu terlebih dahulu membuka pakaianya.


Noah sempat terpana dengan apa yang di lihatnya. Sepasang gunung itu terlihat sempurna, dan dua buah ceri berwarna merah muda menghiasi puncaknya.


Hal tersebut, membuat Gairah Noah, yang sudah lama dia tahan, yang semakin terbakar.


Pemuda itu kembali mendorong tubuh Alice  ke atas sofa, dan dan langsung menyesap buah yang terlihat menantangnya itu, lidahnya langsung bermain dengan salah satunya, sementara tangannya mengeksplor yang lainnya.


"Ahhhhhhhhhhh .... "


Alice tau ini juga bukan pertama kali bagi pemuda ini. Tapi, dia sedikit menyesal karena membiarkan hal ini tertunda begitu lama. Kenikmatan ini, belum pernah dia rasakan sebelumnya.

__ADS_1


Noah mengeksplorasi kedua bukit itu bergantian semata Alice sudah merasakan cairan mulai keluar membasahi satu-satunya kain penutup tubuhnya, di bawah sana.


Tidak ingin merasakannya sendiri, Alice mendorong tubuh Noah. Entah dari mana dia mendapat kekuatan itu, karena Noah seolah enggan melepaskannya.


Begitu berhasil, Dia langsung meraba benda yang tersembunyi di balik celana pemuda yang beberapa saat lalu, dia rasakan mulai mengeras saat menindih paha dalamnya.


Saat itu, dia melihat Noah membuka seluruh pakaian atasnya sekaligus. Alice tersenyum puas, karena hanya tinggal satu lagi yang harus dilakukan nya.


Sekali lagi dia menolak Tubuh Noah, Hinga pemuda itu tertidur di sisi sofa lainnya. Alice melihat pemuda itu sambil tersenyum, dan berkata.


"Giliranmu ... !"


Setelah mengatakan itu, Alice membuka satu kancing dan menarik resleting celana Noah. Mata Alice sempat melebar, mencoba membayangkan apa yang masih tersembunyi di sana.


Wanita yang sudah terbakar Gairah itu, tidak ingin menunggu lama. Sempat mengelusnya sebentar, lalu dia menarik seluruh celana Noah hingga benar-benar terlepas tak bersisa.


Akhirnya, dia melihat benda itu berdiri seperti tugu besar, dengan posisi yang sangat menantang.


Dia sempat melirik dan tersenyum nakal pada pemuda itu, sambil mengelus benda tersebut.


Noah, membalas senyuman Alice, namun saat itu juga, wanita itu membenamkan wajahnya di bawah sana.


Sekarang, giliran Noah merasakan gelombang listrik kecil yang di otaknya.


"Owwhh ... "


Akan tetapi, sekarang terasa jauh berbeda. Alice, benar-benar bisa memberikan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Noah masih menikmati apa yang Alice lakukan di bawah sana. Kadang gadis itu seperti sengaja sedikit menggigit puncak miliknya, hingga dia merasakan sensasi yang asing, tapi ingin dia rasakan lagi.


Entah berapa lama Alice melakukannya, sebelum akhirnya Noah menarik tubuh gadis itu ke atas dan memeluknya.


Keduanya kembali berciuman, namun Alice merasakan Noah mengangkat dan merebahkannya di sisi lainnya.


Pemuda itu melepas pelukan mereka, dan mulai berangsur turun. Alice merasakan angin di bagian tubuhnya yang basah, saat Noah baru saja menarik habis penutup nya.


Beri beberapa detik, tubuh Alice menegang. Apa yang di lakukan Noah di sana, yang membuatnya seperti itu.


Merasakan itu, membuat wanita tersebut mulai kesulitan mengatur nafasnya. Alice memejamkan mata, karena otaknya menerima sinyal yang kenikmatan tiada Tara.


Beruntung saat gelombang besar itu terasa akan datang, pemuda itu berhenti. Alice tidak ingin selesai, sebelum semuanya benar-benar di mulai.


Dia membuka matanya, saat di bawah sana, benda tumpul yang tadi dieksplornya, berusaha menembus miliknya.


Alice sengaja membuka kakinya sedikit lebih lebar, berharap itu bisa membantu. Berpikir, bahwa pemuda itu akan melakukannya dengan pelan, namun saat ujungnya berhasil menerobos, Noah langsung memaksa sisanya masuk dan menembus, sangat dalam.


Mata Alice melebar, sebelum akhirnya dia tidak bisa menahannya lagi.


"AAAAAHHHHHHHHHH ... !!"

__ADS_1


Beruntung Noah tidak langsung bergerak, karena dia belum sepenuhnya siap. Ada rasa sakit di sana, namun juga nikmat dalam waktu bersamaan. Tanpa sadar, tubuhnya terangkat dan memeluk Noah kencang.


"Maaf ... Aku akan pelan-pelan ... "


Saat itu, Alice mengelengkan kepalanya dan tersenyum. "Tidak ... Aku menyukainya ... "


Noah merebahkan tubuh Alice, lalu mulai menarik pelan miliknya setengah dan mendorongnya kembali ke dalam. Gerakan itu dia lakukan berulang.


Saat dia melihat Alice sudah mulai menikmatinya, Noah menambahkan kecepatan nya perlahan. Hingga menemukan tempo yang sesuai dengan kenyamanan tubuh keduanya.


Hal itu benar-benar terasa sangat nikmat bagi keduanya, terlebih bagi Alice. Baru beberapa menit saja, tubuhnya langsung menegang.


Dia berharap Noah sedikit menunda, namun lagi-lagi tidak. Pemuda itu memompa semakin cepat dan lebih cepat. Hingga kecekatan itu, membuat Alice tidak bisa lagi membendung gelombang yang sangat besar itu.


"No ... Ahhhhhh ... Aku ... Daaaa ... "


"Aaaaaaahhhhhhhhh ... "


Noah memelankan gerakannya, untuk memberi Alice jeda untuk mengambil Nafas.


Alice merasa udara di sekitarnya menipis, atau paru-parunya terasa menyempit. Saat ini, Dia mencoba mengatur agar bisa bernafas dengan Normal.


Sekali lagi Noah tidak bertindak sesuai yang dia duga. Sempat berpikir Noah benar-benar akan membiarkan bernafas lebih lama, tiba-tiba mata melebar.


Noah Manarik dan membalikkan tubuhnya. Saat itu juga, Alice langsung berpegangan pada sandaran Sofa, sementara satu tangannya di genggam Noah. Dia belum sepenuhnya siap, namun dia sudah merakan benda tumpul yang masih sangat keras itu, kembali menerobos memasuki dirinya.


Sekarang, Noah sama sekali tidak menunggu. Pemuda itu langsung menaikkan tensi permainan nya sejak awal.


Hal itu membuat gairah Alice yang sempat meredup kembali terbakar. Apalagi, saat ini satu tangan Noah mencengkram satu bukit miliknya. Beberapa menit saja, Gelombang yang sama kembali datang.


Alice mencengkeram erat sandaran Sofa, saat gelombang kedua ini menerjang. Dia jatuh berlutut karena ombak susulan yang membuat Tenaganya terkuras hingga terasa mencapai batas.


Punggungnya Naik turun saat bernafas. Namun itu hanya sebentar. Karena saat itu juga benda tadi kembali menerobosnya.


"No-Noah ... Se-se-sebentar ... A-aku ... "


Terlambat. Noah sudah melancarkan serangannya. Dan itu terjadi setidaknya lima kali, sebelum akhirnya Noah mencapai gelombang puncak, saat Alice berada di posisi atas.


Saat ini, dia benar-benar kehabisan tenaga. Dia berharap Noah membiarkannya saja, tertidur di dada pemuda yang terasa sangat nyaman itu, saat ini.


Namun, matanya kembali terbuka lebar, saat dia mendengar Noah berbisik.


"Kita akan melakukannya sampai pagi ... "


Saat itu, Alice sadar, bahwa dia baru saja membangunkan seseorang dengan kekuatan dan daya tahan yang sangat, Buas. Alice merasakan tubuhnya terangkat dan di bawa berjalan menuju kamar.


"No-Noah ... Se-se-sebentar ... Beri aku—"


Alice tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, karena begitu pintu kamar tertutup, sejak saat itu Sampai Noah merasa puas, pemuda itu tidak lagi melepasnya.

__ADS_1


__ADS_2