World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Wajah Yang Menjengkelkan


__ADS_3

Sementara itu, di university of HighCopper, Noah mendatangi, fakultas di mana Julius mengaturnya.


Tentu saja karena tujuan mencari informasi dari anak-anak orang berpengaruh di sana, Noah meminta agar Julius memasukkannya ke jurusan bisnis.


Dan di sinilah dia sekarang, berjalan dengan ratusan pasang mata menatapnya, heran. Meski menyadari itu, Noah sama sekali tidak peduli.


Di mana saja, dan akan sama saja. Selalu ad orang yang meremehkan orang lain, hanya karena penampilan mereka terlihat jauh lebih sederhana.


"Hei bro, apa.kau tersesat?"


Noah menghentikan langkahnya saat tiba-tiba saja seseorang berdiri tidak jauh di depan, mencoba menghadangnya.


Sambil tersenyum, Noah balik bertanya.


"Apa ini gedung fakultas Bisnis"


Pemuda yang terlihat sedikit lebih pendek namun memiliki perawakan sangat angkuh itu, mengernyitkan kening, lalu menanggapinya.


"Tentu saja ini Gedung Fakultas bisnis, kau pikir apa, Huh? Itu kenapa aku bertanya apa kau ter—"


"Oh, jika begitu ... Aku berada di tempat yang benar ... Terimakasih ..."


Tidak peduli, dengan kalimat selanjutnya, Noah akhirnya meneruskan langkah sambil yang membuat pemuda itu kehilangan kata-katanya.


Pemuda yang baru saja dilewati Noah, melebarkan matanya karena tertegun. Tidak pernah dia diperlakukan seperti ini sebelumnya, apalagi di gedung fakultas Bisnis ini.


Ada sebuah kelompok, yang memiliki aturan tak  tertulis, dan bisa dipastikan dipahami oleh seluruh mahasiswa di kampus ini, tentang bagaimana bersikap, dengan setiap anggota kelompok tersebut.


Merasa dirinya bagian dari anggota itu, pemuda itu tentu saja tak bisa menerima begitu saja perlakuan yang baru saja di dapatnya.


"Hei, brengsek ... Berhenti di sana, Sial ... Aku bilang berhenti ... "


Terlambat bereaksi, dia telah melihat Noah menghilang, setelah memasuki koridor dan berbelok ke arah tangga menuju lantai atas.


"F**k ... Dari mana datangnya idiot itu?"


Saat dia berniat mengejar, seseorang datang dan menahannya.


"Jeremy ... Ada apa?"


Saat melirik dan menyadari siapa yang menahannya, pemuda yang bernama Jeremy itu, terlihat sedikit senang.


"Han ... Kebetulan sekali, sebaiknya kau ikut aku. Sepertinya ada seseorang yang perlu diberi pelajaran ... "


Tidak perlu bertanya lebih jauh, Han sudah langsung mengerti maksud temannya itu. Dia dan Jeremy tidak jauh berbeda. Mereka menikmati saat-saat dimana mereka berdua bisa membuat seseorang terlihat seperti pecundang.


"sepertinya idiot itu, ke arah sana ... "


Keduanya berjalan, menuju kemana tadi Noah melangkah.

__ADS_1


Saat sampai di lantai tiga gedung tersebut, Noah melihat setiap tanda di pintu yang di lewatinya. Sama halnya saat di bawah, begitu banyak pasang mata yang seolah sedang mengawasinya. Namun, pemuda itu tetap tidak menunjukkan bahwa dia terganggu dengan tatapan-tatapan seperti itu.


Noah terus berjalan, Sampai akhirnya dia menemukan apa yang sedang di carinya.


"Sepertinya memang ini ... "


Tanpa pikir panjang, Noah langsung masuk ke dalam ruangan, yang merupakan sebuah kelas, di mana dia akan memulai kembali penyelidikannya.


Hening, itulah yang tiba-tiba terjadi, saat pemuda itu batu saja memasuki kelas dan mencari-cari tempat duduk, yang kosong.


Namun, saat Noah menemukan meletakkan tasnya, dia tidak jadi duduk, karena sebuah kaki, batu sajak menginjak bangku di meja itu.


Noah mengernyitkan dahi, karena sadar bahwa itu adalah kaki seorang gadis. Dia menoleh dan mendapati si pemilik kaki itu, menatapnya tajam.


"Ini sudah terisi ... Kau cari yang lain saja."


Noah sedikit mencibir, sebelum akhirnya mengangkat sedikit bahu dan berkata. "Maaf, kalau begitu aku akan pindah ... "


Pemuda itu berniat untuk pindah dan memilih meja yang berada tepat di belakang meja sebelumnya, namun tiba-tiba saja, gadis yang sama duduk di atas meja tersebut.


"Ups, sorry ... Yang ini, juga sudah terisi ... "


Kali ini, Noah mendapati gadis itu sama sekali tidak melihatnya. Rautnya, menunjukkan bahwa dia sengaja melakukannya.


Menyadari hal tersebut, Noah melipat kedua tangan di dada, kemudian bertanya.


Gadis itu tak menjawab, namun kini matanya tertuju pada beberapa orang yang terlihat sedang menikmati Drama yang akan segera terjadi di sana.


Tidak mendapat jawaban, Noah kembali menaikan bahunya sekali, lalu kembali mencoba pindah dan mencari meja kosong lainnya.


"Semua meja di kelas ini, sudah terisi ... Jadi, sebaiknya kau mencari kelas yang lain saja, atau fakultas lain atau ... "


Gadis itu kini berbalik dan menatap Noah. Dia memindai tubuh pemuda itu, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sambil mulut dan melebarkan mata seolah terkejut, dia kembali melanjutkan kata-katanya yang tadi sempat menggantung di udara.


"Oh tidak, aku pikir sebaiknya kau cari kampus lain saja ... "


Mendengar itu, semua orang yang ada di kelas tersebut, tertawa. Hanya orang bodoh saja yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh gadis itu.


Di saat bersamaan, Jeremy dan Han datang. Keduanya langsung bisa memastikan di mana pemuda itu berada, dari suara tawa banyak orang yang terdengar hingga keluar.


Saat melihat dengan siapa pemuda itu sekarang berurusan, Jeremy dan Han saling berpandangan, dan tersenyum licik.


Jeremy berjalan mendekat, sambil berkata, dengan nada kecewa yang di buat-buat.


"Oh, Nona Stella ... Kau mengambil mangsa kami ... "


Saat semua orang melihat kedatangan dua pemuda lain Mereka langsung bisa mengenalinya. Hal tersebut, membuat mereka semu bertambah bersemangat.


Noah mengernyit, saat melihat siapa yang baru saja masuk. Dia yakin anak yang tadi dia temui ini, berniat membalas sikapnya tadi.

__ADS_1


Seolah tak peduli, Noah kembali menatap pada Gadis yang ternyata bernama Stella itu.


"Nona, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kau terlihat tidak menyukaiku, dan berusaha mengusirku dari kelas ini ... "


Bersamaan dengan itu, Han juga sudah sampai di sana sesaat setelah Jeremy berdiri di sebelah kanan gadis itu.


Tidak menjawab pertanyaan Noah, Stella melirik pada Jeremy dan menunjukkan wajah sedikit kesal.


"Jeremy, jika di adalah mangsamu ... Kenapa kau melepaskannya? Sekarang lihat, kehadirannya di sini terasa seolah dia sengaja mengotori kelas ini ... "


Semua orang di sana menutup mulut mereka, karena terkejut. Meski sudah terbiasa dengan mulut gadis yang terkenal sangat kasar itu, namun mereka tidak menyangka bahwa setiap Stella berkata, dia selalu memiliki kalimat yang begitu tajam, hingga membuat seseorang benar-benar terlihat seperti sampah.


Jeremy dan Han, tak jauh berbeda. Namun, kata-kata Stella jelas sudah berada di level berbeda.


Jeremy kembali berpura-pura seolah dia telah melakukan dosa besar, dan berniat menebusnya.


Jeremy menatap pada Noah yang sedang menatap pada Stella, meski gadis itu terlihat sangat enggan balas menatapnya.


"Hei, idiot ... Seperti kata Nona Portman ... Kau itu seperti sampah, jadi sebaiknya kau enyah saja dari sini ... "


Saat mendengar Jeremy mengatakan nama keluarga Stella, Noah langsung mengingat sesuatu. Nama itu, seperti nama orang yang belum lama ini dia temui.


Untuk memastikan dugaannya benar, Noah sekali lagi bertanya.


"Portman? ... Nama itu, terdengar seperti pemilik kampus ini, Carl Portman. Apa kau anaknya?"


Kesal karena Noah menanggapi kata-katanya dengan sebuah pertanyaan yang seharusnya semua orang di kampus ini sudah mengetahui jawabannya, Jeremy memutuskan untuk menjawabnya.


"Dia cucu Tuan Portman ... Bagaimana bisa kau tidak mengetahuinya? Aku rasa kau benar-benar Idiot ... "


Mendengar itu, Han yang ada di sebelahnya menambahkan.


"Ya, dia adalah cucu Tuan Portman sang pemilik University of HighCopper ini, sementara Jeremy ini, adalah putra ketua rektor di kampus ini ... Sekarang, kau sudah tau dengan siapa kau bicara, bukan?"


Mendengar itu, Noah langsung menganggukkan kepalanya, tanda mengerti.


"Ya, sekarang aku mengerti kenapa kalian terlihat sangat percaya diri ... Kalau begitu, menyingkirkan kalian dari depanku ... "


Kata-kata Noah, tentu langsung mengejutkan semua orang di sana. Belum ada yang berani berkata seperti itu pada Stella, apalagi tepat di depannya langsung.


Ada empat kelompok yang tidak boleh di singgung apalagi sampai membuat ketuanya marah di kampus ini, salah satunya adalah kelompok yang diketuai oleh gadis ini.


Tau bahwa ketua mereka mendapat perlakuan sangat kasar, beberapa orang yang tadi berniat menikmati pertunjukkan, kini merasa bahwa yang terjadi sudah tidak lucu lagi.


Stella sendiri, terlihat sangat kesal. Sempat terdiam untuk beberapa saat, akhirnya gadis itu maju selangkah dan melayangkan tangan hendak menampar Noah.


Langkah semua orang terhenti, saat Noah berhasil menangkap tangan Stella, dan sekarang sedang menatap gadis itu, tajam.


"Hei Nona ... Sebaiknya kau hubungi kakek mu, dan tanyakan padanya, siapa pemilik kampus ini sekarang ... Tapi, sebelum itu, singkirkan wajah menjengkelkan mu ini, dari hadapanku ... "

__ADS_1


__ADS_2