World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Emosi dan Rencana


__ADS_3

"Dia? ... "


Lil Briley seakan tak percaya bahwa pemuda yang kini berdiri di depan pintu itu, adalah kelemahan seseorang yang telah menjelma menjadi mimpi buruk bagi seluruh Jaringan Mafia di kota BronzeLand ini.


Barbara hanya tersenyum saat melihat wajah Lil Briley yang tampak tak percaya itu.


"Ya, dia ... "


Sebenarnya bukan hanya Lil Briley saja yang tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Barbara tersebut. Semua ketua Jaringan yang ada di sana juga meragukannya.


Karena, sebenarnya mereka semua sudah tidak asing dengan orang ini.


Bahkan orang yang dimaksud, juga tidak percaya apa yang Baru saja dikatakan Barbara.


Tepatnya, dia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh ketua Jaringan Keluarga Cadman, yang selama ini telah menjadi kekasihnya itu.


"Sayang ... apa maksudmu?!"


Tentu saja Acton tidak bisa mengerti bagaimana Barbara bisa berfikir bahwa dia adalah kelemahan Noah.


Terakhir bertemu saja, adiknya itu terlihat sangat membencinya. Itu di buktikan dengan bagaimana saat itu,


Noah memberi sebuah pukulan telak padanya.


Tidak menjawab, Barbara memberi kode pada seseorang yang ternyata telah berdiri di belakang Acton beberapa saat yang lalu.


"Buk ... "


"Argh ... "


Tiba-tiba saja lelaki yang berbadan besar itu, menendang belakang kaki Acton, yang membuatnya langsung jatuh berlutut. Setelah menginjak betis Acton agar tidak bisa bergerak pria itu menjambak rambutnya, hingga menengadah menghadap pada Barbara yang kini berjalan kedepannya.


Dengan tersenyum meremehkan, Barbara menjawab Acton. "Hmm ... Berbicara dengan Noah menggunakan dirimu, sepertinya akan sia-sia. Tapi ... "


Barbara sengaja menggantung kata-katanya, sebelum berbalik menghadap pada seluruh ketua Jaringan, termasuk Lil Briley yang kini menatap adegan itu dengan heran.


"Kalian pasti tidak percaya ... Tapi, teman tidurku ini, adalah kakak dari the madness ... "


Saat itu juga semua mata di sana melebar. Karena Informasi itu, benar-benar tidak mereka duga sebelumnya.

__ADS_1


"Jadi dia? ... "


Lebih dari ketua Jaringan yang lainnya, Lil Briley menunjukkan reaksi berlebihan. Akibatnya, satu anggukan Barbara untuk meyakinkanya saja, membuat pria tua itu langsung berjalan mendekat pada Acton saat itu juga.


"Sial ... Saudaramu telah menghancurkan putraku, brengsek ... Sekarang, kau harus mati di tangan—"


Namun, tidak sempat Lil Tua melekatkan tangannya pada Acton, Barbara kembali bersuara. Tapi kali ini sedikit keras.


"Tuan Briley ... berhenti  ... !"


Dengan tangan masih mengepal yang terhenti di udara, Lil Briley berbalik dan menoleh pada Barbara.


Akan tetapi, saat dia ingin melayangkan protesnya. Barbara kembali bersuara.


"Hentikan kebodohanmu, itu ... Sudah aku katakan bahwa dia adalah kelemahan musuh kita. Apa kau benar-benar ingin merusak seluruh rencananya ini? ... Jika memang benar, maka ambil ini ... Bunuh dia sekarang juga."


Lil Briley langsung tertegun saat melihat benda yang tawarkan barbara padanya itu.


Melihat Lil Briley terdiam, Barbara balik mendesaknya. "Kenapa? ... Bukankah kau berniat membunuhnya? ... Ambil ini, dan ledakkan kepalanya saat ini juga."


Sepucuk senjata api berlaras pendek di tangan Barbara, kini ada di depan pria tua itu.


"Sial ... Jika kalian semua masih berbuat bodoh, maka biarkan aku yang memulainya."


Mata ketua Jaringan kelarga Briley terbelalak karena Tau bahwa Barbara serius dengan kata-katanya. Dengan sigap, Pria tua itu langsung bereaksi.


"Dor ... !"


Senjata itupun benar-benar meledak. Namun beruntung tangan Lil Briley sempat sedikit mendorong tangan Barbara.


Akibatnya, tembakan wanita itu urung mengenai kepala Acton, tapi sukses membuat lubang di dinding ruangan tersebut.


Tak terima dengan apa yang dilakuka Lil Briley, Barbara mengumpat kesal.


"F**k ... Apa yang kau lakukan orang tua, brengsek ... Bukankah begini cara kalian bekerja, huh? Kenapa kau malah menyelamatkannya?!"


Cepat Lil Briley memegang pundak Barbara yang sudah tersulut emosi, untuk menenangkannya.


"Maafkan aku, Barbara ... Aku terbawa emosi ... Kau juga, maksudku ... Itu ... Hmm ... Yah, maafkan aku. Itu maksudku ... "

__ADS_1


Lil Briley tidak tau ingin berkata apa. Pasalnya, saat kejadian beberapa saat yang lalu, otaknya yang sudah tua itu, sempat berfikir cepat.


Bertindak gegabah disaat seperti ini, tentu saja adalah sebuah kebodohan yang akan berakibat fatal kedepannya.


Jangankan untuk membalas dendam, mungkin saja apa yang berniat dilakukannya pada pemuda itu, atau jika Barbara benar-benar membunuh saudara dari musuh mereka tersebut, maka harapan mereka untuk keluar dari masalah ini akan semaki sulit, bahkan, bisa dipastikan kehancuran semakin mendekat pada mereka, dengan kecepatan berkali-kali lipat dari sebelumnya.


Bahu barbara naik turun, nafasnya terasa sangat sesak. Saat ini, dia sudah berfikir keras bagaimana cara menghentikan Noah.


Mencoba berpura-pura bekerja sama dengannya dengan menggunakan Acton, berakhir sangat buruk. Alih-ali bisa memanfaatkan Noah untuk menguasai kota ini, Jaringannya tiba-tiba saja harus berada di bawah pemuda itu.


Sekarang, saat dia merasa memiliki kesempatan lain saat keadaan sedang sangat rumit dan sangat genting ini, bisa dikatakan selain kepercayaan yang diberikan mereka padanya, Ketua Jaringan lainnya sama sekali tidak membantu.


Terlebih Lil briley, pria tua itu telah menyimpan sebuah rahasia besar sebelumnya. Ditambah beberapa saat yang lalu, pria tua itu berniat menghancurkan satu-satunya harapan mereka semua untuk selamat dan mempertahankan posisi mereka di kota ini.


Barbara benar-benar kesal, dan kehilangan kesabarannya. Tapi, beruntung Lil Briley berhasil menggagalkan kegilaannya.


Setelah berhasil mendapatkan ketenangannya. Barbara kembali menarik nafas panjang sambil menutup matanya. Setelah nafas itu dia hembuskan, matanya menatap Lil Briley sebentar, lalu berbalik menatap Acton yang menatapnya dengan mata terbelalak.


Kekasihnya itu, tentu saja sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan. Karena, jelas itu bukan sandirwara. Barbara benar-benar berniat membunuhnya.


Barbara berbalik dan menatap semua orang di sana. Tanpa basa-basi, dia langsung menjelaskan maksudnya.


"Sebelumnya, aku sangat yakin bahwa pemuda itu membenci saudaranya ini ... Tapi, melihat bagaimana cara dia menghancurkan Ketua Jaringan Scout, aku langsung sadar bahwa aku salah."


Itulah yang difikirkan Barbara tentang Noah dan Acton sebelumnya. Tapi sekaramg sudah berbeda.


Pemuda yang sangat berbahaya itu, mungkin memang marah pada kakaknya ini. Tapi, jelas dia masih peduli. Karena, jika Noah benar-benar serius memukulnya, maka menurut Barbara, tidak diragukan lagi bahwa Acton akan langsung berakhir di rumah sakit, dan dirawat layaknya Bourne Scout saat ini.


Semua orang di sana langsung mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Barbara. Begitu juga dengan Acton.


Hanya saja, dia memiliki perasaan yang berbeda. Karena, sampai beberapa detik yang lalu, dia sangat yakin bahwa Noah benar-benar telah membencinya.


Dengan perasaan bercampur aduk, tak sadar, Acton bergumam.


"Apakah, dia benar-benar masih peduli denganku? ... "


Acton juga tidak sadar bahwa Gumamannya di dengar oleh semua orang di sana.


"Ya, bukankah itu bagus ... Akhirnya, aku melihat guna dirimu, selain ekormu itu ... "

__ADS_1


__ADS_2