
Jika ada seseorang yang tidak mungkin dia lupakan sebelumnya, tentu saja gadis ini. Akan tetapi, entah kenapa Noah sudah lama tidak memikirkan gadis yang dulu sangat dia cintai ini.
"Noah ... Kenapa kau di sini?"
Noah melihat kedalam sebentar, lalu berbalik melihat pada Laura yang juga sedang melihat padanya.
"Aku hanya membesuk Henry dan Liam ... Terjadi sesuatu, hingga keduanya harus di rawat di sini."
Lucy sebenarnya cukup terkejut karena melihat Noah di sini. Sebelumnya, karena malu, gadis itu bahkan tidak berani untuk menyapanya.
Lucy hanya menganggukkan kepalanya, mengerti. Dia tidak tau harus berkata apa, namun dia tidak ingin Noah pergi begitu saja.
"Kau sendiri ... Kenapa kau bisa ada di sini? Apa ada saudara atau kenalan mu yang sakit?"
Mata Lucy sedikit melebar, namun cepat dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak ... Aku hanya ... Aku hanya ... "
Noah melihat Lucy sedikit Seksama. Dia berjalan mendekat pada gadis itu, untuk memastikannya.
"Lucy ... Apa kau sakit?"
Noah mendapati wajah gadis itu, sedikit pucat. Dia sangat mengenal gadis ini. Dan dia yakin Lucy tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Lucy menggelengkan kepalanya, namun tidak mengeluarkan suara. Akan tetapi, saat dia ingin menjawab, Noah kembali menyelanya.
"Lucy ... Kau terlihat tidak baik-baik saja. Katakan, apa yang terjadi?"
Noah bisa saja hanya balik menyapa dan meninggalkan gadis ini begitu saja. Akan tetapi, dia sama sekali sudah tidak menyimpan dendam atau perasaan apapun pada gadis ini.
Melihat Lucy yang sedikit jurus dan pucat, apalagi saat itu mereka sedang berada di rumah sakit, tentu saja Noah memiliki kesimpulan di dalam kepalanya.
Lucy menatap Noah, lalu melirik pada seorang gadis cantik dengan mobil sport mewah berwana hitam, tampak sedang memperhatikan mereka.
Lucy tidak tau harus senang atau tidak. Dia merasa Noah telah bertemu dengan gadis lain yang benar-benar jauh lebih baik dari dirinya. Dan itu tidak hanya satu, tapi tiga.
Di mulai dari Jade, bahkan Alice Sanders yang begitu terkenal. Sekarang, satu lagi gadis dengan tampilan yang tak biasa. Hal itu membuat dirinya terasa semakin rendah, saat berhadapan dengan pemuda yang sempat begitu mencintainya ini.
__ADS_1
"Noah, aku tidak apa-apa ... Aku hanya ingin menyapa, begitu melihat mu. Itu saja ... " Lucy kembali melirik pada Laura yang bersandar pada mobil, dan kembali berkata. "Pergilah, aku rasa pacarmu sedang menunggumu ... Aku tidak ingin mengganggu."
Noah berbalik sebentar, dan melihat Laura tersenyum pada mereka. Dia Kemudian kembali berbalik dan memperhatikan Lucy sekali lagi.
Noah tampak berpikir, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Tak lama, dia mengangguk dan berbalik.
Sejenak, Lucy berpikir bahwa Noah benar-benar akan pergi. Entah kenapa dia tidak bisa merelakannya, meski dia tau bahwa dia sama sekali tidak berhak untuk menahan pemuda itu.
"Sebentar ... Tunggu aku di sana."
Lucy seolah tak percaya apa yang di dengarnya. Namun, dia terus melihat Noah berjalan mendekat pada gadis yang di yakin bahwa itu adalah pacar Noah saat ini.
Keduanya tampak berbicara dan Noah terlihat sedang menjelaskan sesuatu. Gadis itu sempat melirik padanya sebentar, yang membuat Lucy berpikir untuk segera berbalik dan pergi dari sana.
Namun, tak lama Noah kembali berjalan mendekat, sedangkan gadis itu berjalan memutar lalu masuk kedalam mobil dan pergi dari sana, begitu saja.
"Noah, apa yang kau lakukan? ... Gadis itu akan berpikir ... Dia ... Pasti ... Noah, sebaiknya ... Aku ... "
Noah hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Lucy ... Aku mengenalmu dengan sangat baik. Kau tidak baik-baik saja. Dan aku tidak bisa pergi dan membiarkanmu begitu saja ... Kau tentu, mengenalku, bukan?"
"Noah ... Aku ... Aku ... "
Noah merangkul bahu gadis itu yang mulai berguncang, kemudian berkata. "Lucy ... Ayo, sebaiknya kita cari tempat untuk bicara ... Kau bisa terjatuh dan pingsan, jika tetap berdiri di sini ... "
Setengah jam kemudian, keduanya sedang duduk di sebuah bangku di taman rumah sakit. Keduanya terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Lucy yang berusaha menahan tangisnya, yang sudah sedikit mereda, dan Noah yang masih terdiam menatap jauh entah kemana.
Beberapa menit kembali berlalu, tidak ada suara di antara keduanya. Sebelum akhirnya, Lucy mendengar Noah bertanya.
"Jadi, dia sudah menghilang ... "
Lucy menganggukkan kepalanya sekali, dan terus menyela air yang terus mengalir dari matanya.
Dia tidak menyangka hal yang selama ini dia rahasiakan dari semua orang, akhirnya dia ceritakan pada satu orang. Dan orang itu adalah Noah. Mantan kekasihnya sendiri.
__ADS_1
Noah menarik nafas dalam dan melepasnya. Dai mencoba mendapatkan ketenangan dan mencoba berpikir sebaik mungkin.
"Jadi, bagaimana keadaanmu, dan ... "
Saat mengatakan itu, Noah sedikit melirik ke arah perut gadis yang duduk di sebelahnya itu. Dia tidak tau cara menghadapi hal seperti ini sebelumnya.
"Sudah dua bulan ... "
Sulit bagi Noah mendengar kabar ini. Lucy ternyata sedang hamil, dan bayi yang ada di dalam kandungannya, adalah anak dari Greg. Pemuda yang membuat gadis ini mencampakkannya beberapa bulan yang lalu.
Noah tidak begitu menanggapinya, lalu balik bertanya. "Apa keluargamu, sudah mengetahuinya?"
Saat Noah menanyakan itu, tangis yang tadi sudah sedikit mereda, kembali terdengar dari gadis itu.
Noah hanya bisa menggelengkan kepalanya, Karen sudah langsung bisa mengetahui jawabannya.
"Aku ... Aku ... Tidak, bisa ... "
Noah tentu mengerti. Keduanya berasal dari daerah yang sama. Dia mengetahui bagaimana keadaan keluarga Lucy. Mereka berharap gadis ini bisa menyelesaikan kuliah, dan membantu keluarganya.
Noah hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena langsung bisa membayangkan situasi yang sulit, yang kini sedang di hadapi gadis di sebelahnya ini.
Saat itu, Noah berdiri. Dia menatap pada Lucy dan kembali terlihat berpikir.
Beberapa kali dia menggelengkan kepalanya lalu mengangguk kemudian menggelengkan kepalanya lagi. Apapun yang dia pikirkan, seolah tidak memberi solusi apapun pada gadis ini.
Menyadari bahwa dia sudah membawa Noah dalam masalah ini, Lucy berkata.
"Noah ... Maaf, telah mengecewakanmu ... Aku yakin, aku bisa mengatasi ini ... "
Dia berdiri, dan berniat untuk pergi. Lucy sama sekali tidak merasa lega setelah mengatakan hal tersebut pada pemuda itu.
Sekarang, dia merasa bahwa dia baru saja menambahkan beban pikiran pada seseorang yang seharusnya sangat membencinya. Namun, dia tau bahwa Noah begitu baik dan tidak berpikir picik seperti banyak pemuda lainnya.
"Lucy ... Aku tidak tau cara membantumu bagaimana ... Tapi, untuk saat ini, ikutlah denganku ... "
__ADS_1