
Noah baru menyadari siapa yang menariknya setelah jauh dari aula. Itu adalah Ted Bowie Manager CrystalSky Club, saat dia masih kerja paruh waktu sebagai OB di sana.
Namun sepengetahuannya, saat itu Ted berhenti bekerja untuk mengurus sesuatu di kampung halamannya.
"Old Ted, apa yang kau lakukan?" Tanya Noah ketus.
Old Ted, itulah cara orang-orang memanggilnya, termasuk Noah. Meski ramah dan terkesan tenang, Ted Bowie sangat kuat. Noah pernah beberapa kali melihat Ted, menghajar brandalan yang berani mengacau di CrystalSky Club.
"Bocah. Aku tidak tau kau juga bekerja di sini. Ini ... Pakailah, Bisboss akan segera tiba."
Noah melebarkan matanya. Jelas terjadi salah faham antara dirinya dan Ted di sini. Namun saat dia ingin menjelaskan situasinya, Ted kembali bicara.
"Apa? Kau tidak menyukainya? Ketahuilah, kita tidak bekerja pada orang biasa sekarang. Baju pakaian pelayan di sini, jauh lebih berkelas daripada kebanyakan pakaian pengusaha di luar sana. Nona Alice akan memarahiku karena membiarkanmu berkeliaran di sini dengan pakaian seperti itu."
"Old Ted. Kau salah faham, aku tidak—"
"Noah, Sejak kapan kau menjadi tidak bisa di atur begini. Sudah, pakai saja dan di sana ada sepatu. Cepat, kita akan bekerja di lantai dimana Nona alive berada."
Saat mendengar nama Alice, mata Noah melebar. Sebaiknya dia menelfon Alice saja, agar wanita itu bisa menjelaskan pada Old Ted ini.
"Old Ted, sebentar. Aku akan menelfon."
Meski baik padanya, Old Ted tipe manusia yang sedikit sulit di ajak bicara. Jika, dia melawan sedikit saja, Noah pernah melihat Old Ted ini melempar keluar pekerja paruh waktu yang ketahuan mengintip karyawan wanita berganti pakaian. Tentu saja saat ini, bukan saat yang tepat untuk mengalami semua itu.
"Sial, dimana ponselku?"
Saat itu Noah tidak menemukan ponselnya. Beberapa detik kemudian, dia baru ingat. Saat itu, dia buru-buru keluar hotel dan lupa mengambil ponselnya.
"Apa itu penting sekarang?!" Saat menanyakan itu, mata Old Ted sudah sedikit berubah menatapnya."Sudah pakai saja, dan cepat ikut aku."
"Sial" Umpat Noah dalam hatinya.
Namun, detik berikutnya, dia melihat pakaian yang di berikan Ted itu, memang jauh lebih berkelas dari apa yang dia pakai saat ini.
"Baiklah, Sebentar!"
Noah tidak punya waktu berdebat dengan Pria Tua ini sekarang. Sebaliknya jika dia mengikuti Ted, dia akan segera sampai di lantai dimana Alice berada.
"Old Ted, kemana saja dirimu selama ini?"
Saat ini, mereka berdua sedang berjalan ke arah lift. Noah memperhatikan Ted terlihat semakin tua, lebih dari seharusnya.
__ADS_1
Ted tersenyum padanya, "Aku harus menjaga istriku. Saat itu, aku tidak lagi bisa bekerja. Jadi, aku membawanya ke kampung halaman kami untuk merawatnya."
Noah hanya mengangguk. "Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Sudah jauh lebih baik. Beberapa hari yang lalu, Nona Alice menelfon dan memintaku bekerja. Dia juga menyuruh agar aku memindahkan istriku ke rumah sakit yang lebih baik dan menanggung seluruh biayanya." Jawab Ted sedikit semangat.
"Sukurlah, semoga istrimu cepat membaik." Ucap Noah tulus.
Saat sampai di depan lift, tiba-tiba Ted mendapat panggilan.
"Noah, naiklah ke lantai paling atas, acara di adakan di Rooftop. Bawalah ini, kau tidak bisa masuk, jika tidak menggunakannya."
Ted meninggalkan Noah sedikit tergesa-gesa. Noah hanya bisa menggelengkan kepala. Memang begitulah Old Ted yang dia kenal. Benar-benar profesional.
Noah menaiki lift, namun saat pintu Lift akan tertutup, seorang gadis yang terlihat seumuran atau dibawahnya, juga ikut masuk.
"Ya, bu. Aku sudah sampai. Sekarang aku sudah ada di lift."
"Ya Ya. Aku mengerti. Lagipula, kenapa ayah menyuruhku datang? Ini hanya pertemuan biasa bukan?"
"Siapa? Tidak ... Tidak, tidak ada Mahasiswa bernama itu di kampusku. Jika ada, dia sudah pasti populer sekali."
"Baiklah, aku rasa kalian salah mendengar umurnya. Aku rasa setidaknya, dia sudah setua Ayah."
Noah hanya diam saat mendengar gadis itu menelfon hingga panggilannya berakhir.
Berdua didalam lift bersama gadis cantik yang memiliki kulit putih bersih seperti susu, membuat Noah sedikit Grogi.
Meski kecantikannya bisa dikatakan sama dengan Jade, tapi dandanan serta pakaian yang dia kenakan, membuat gadis itu terasa lebih bersinar.
Tanpa sadar, Noah memperhatikan gadis itubdari kaki hingga ke kepalanya. Namun, saat sampai di kepala, kedua mata mereka beradu.
"Hei, apa yang sedang kau lihat?"
Noah sedikit terkejut dan reflek sedikit memundurkan kepalanya. Karena saat itu, dia bisa merasakan tatapan gadis itu begitu tajam.
Jika tatapan bisa membuat luka, maka saat itu mata Noah sudah buta saking tajamnya.
"Tidak ada! ... Aku hanya, tidak ... Tidak ada!"
Noah sedikit gelagapan. Karena tertangkap basah melihat apapun, persis seperti apa yang gadis itu pikirkan. Hingga membuat dirinya tidak bisa memikirkan alasan apapun untuk mengelak.
__ADS_1
Gadis itu berjalan dan semakin mendekat padanya. Saat sudah berada begitu dekat, gadis itu mengangkat tangan seolah akan menamparnya.
Reflek Noah juga ikut mengangkat tangan, untuk menangkap tangan gadis itu. Namun, sesuatu lebih dahulu mendarat di antara kedua pahanya.
"Buk! ... "
Lutut sang gadis, baru saja terasa memindahkan kedua bola milik Noah, ke lambungnya secara paksa.
Pemuda malang itu, langsung berlutut dan memegang titik serang gadis itu, dan tersungkur di sana menahan sakit yang luar biasa.
"Rasakan itu, brengsek!"
Noah masih di bawah saat pintu lift terbuka. Dia tidak menyangka akan mendapat serangan tiba-tiba seperti itu.
Noah berusaha berdiri dan berjalan dengan cara yang sedikit aneh saat keluar dari lift.
Saat itu, dia sudah melihat gadis tersebut menaiki tangga dan melewati pintu yang Noah yakin, di sanalah pesta pembukaan kantor pusat World Order ini, di adakan.
"Hari apa ini? Kenapa aku sial sekali?" Rutuk Noah, dalam hati.
Setelah sedikit lama, rasa sakitnya mukai menghilang. Noah berjalan menaiki tangga dan melewati penjaga dengan menunjukkan Kartu yang di berikan Ted tadi.
Kali ini, dia sedikit bernafas lega. Saat itu dia sudah benar-benar berada di tempat acara.
"Baiklah, aku rasa kesialan sudah berakhir sampai di sini."
Noah memperhatikan beberapa orang di sana. Mencari keberadaan salah satu dari empat orang yang kepercayaannya, yang mengendalikan World Order dibawah perintahnya.
Namun, saat itu dia tidak menemukan satupun dari mereka.
"Dimana mereka? Apakah aku salah tempat? Tidak mungkin, bukan?"
Tidak ada satupun orang-orang di sana yang dia kenal. Jadi, Noah merasa ini sama sekali bukan acara untuk dirinya.
Noah melihat sebuah bangku di pojok Rooftop itu, dan dia berjalan ke sana memutuskan untuk menunggu.
"Nona Ivy, apakah pelayanan ini yang telah melecehkanmu?"
"Ya, Itu dia."
Saat suara itu dia dengar, Noah langsung berbalik dengan pasrah. Saat itu, dia melihat gadis tadi dengan beberapa gadis lainnya.
__ADS_1
"Baiklah, ini belum berakhir."
Ucapnya sambil melihat semua gadis-gadis yang kini menatap tajam, seolah ingin memangsanya itu.