
Paul Fargo Berjalan, menyongsong kedatangan Alice. Dia merentangkan tangan, dan bertanya.
"Nona Alice ... Apa-apaan ini? Kenapa kalian menyambutku, seolah aku adalah orang asing di kota ini ... "
Saat itu dia melihat Alice tersenyum padanya. Paul Fargo hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena dia tau bahwa wanita di depannya ini, tau apa konsekuensi jika saat ini berpikir untuk melawannya.
Tidak seperti Arlen Fargo, adiknya yang begitu pengecut, Paul memiliki sifat dan sikap yang jauh berbeda. Hal itu membuat keduanya memiliki karakter yang berbeda pula.
Menyedihkan memang saat mengetahui adiknya mati di tangan wanita ini. Akan tetapi, selain karena mencoreng nama keluarga Fargo dari Blacksteel, Paul hanya sedikit berempati dengan kematian adiknya itu.
Dia menganggap kebodohan Arlen membuat keluarga mereka harus kehilangan kesempatan untuk menguasai kota ini, juga sebuah rasa malu yang besar atas kematiannya.
"Apa kau sudah lama?"
Mendengar pertanyaan Alice yang sudah berada di dekatnya, Paul menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak begitu la—"
Paul tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena saat itu Alice berjalan melewatinya begitu saja.
Dia terpaksa harus membalikkan badannya, untuk melihat kemana wanita itu pergi.
"Tidak sama sekali, aku baru saja tiba ... Terimakasih, sudah membuang waktumu, untuk menjemputmu, hingga ke sini ... "
Paul mengernyitkan keningnya, saat mendapati Alice kini berdiri dengan seorang pemuda, yang terlihat masih seumuran mahasiswa.
"Tuan Noel ... Jangan bicara seperti itu ... Bagaimanapun, kau adalah bagian dari kami saat ini. Jadi, tidak ada salahnya aku datang menyambutmu, bukan?"
Noel tentu saja senang saat Alice sendiri yang datang menjemputnya. Dia baru saja kembali dari rumah sakit, dan berniat untuk memastikan persiapan pembukaan gedung Perusahaan, yang akan dikendalikannya bersama dua orang temannya yang lain.
"Oh, Terimakasih ... Aku sangat menghargainya."
Alice menganggukkan kepalanya, lalu memberi tanda. Mereka berdua mulai kembali berjalan, dan melewati beberapa orang yang tampak berdiri di sana menatap keduanya.
"Bagaimana keadaan mereka? ... Aku hanya sempat melihat, saat keduanya tiba."
Noel mengangkat bahunya, dan berkata. "Sudah jauh lebih baik. Sekarang, mereka sedang bersama keluarga masing-masing. Aku ke sini untuk memastikan semua persiapan berjalan dengan baik."
Alice mengangguk, mengerti. "Baguslah kalau begitu."
Saat itu, mereka berdua melewati Paul Fargo yang tampak berdiri dengan wajah yang tampak kebingungan.
Namun, begitu mereka sedikit menjauh dari sana, Tiba-tiba keduanya mendengar laki-laki itu berteriak.
"Alice Sander!! ... "
__ADS_1
Mendengar itu, Alice dan Noel menghentikan langkah mereka serentak, lalu berbalik.
Keduanya melihat Paul Fargo berdiri dengan wajah penuh emosi. Namun, keduanya saling bertatapan lalu kembali melihat pada pria itu.
"Nona Alice, aku rasa dia baru saja memanggilmu. Apa kau tidak mengenalnya?"
Alice memundurkan kepalanya sedikit, lalu menggeleng. Dia berbalik dan menatap Paul yang juga menatapnya, tajam.
"Hei, apa kau baru saja memanggilku?"
Paul yang sudah tersulut emosi, berusaha mengatur nafas agar tidak langsung datang dan menghajar wanita cantik yang berpura-pura tidak mengenal bahkan mengabaikannya itu.
"Ya, aku memanggilmu, B****h ..."
Mata Noel melebar, namun saat dia melihat pada wanita yang ada di sebelahnya, kening nya berkerut heran.
"Kau memanggilku ... Apa?"
Alice mulai berjalan mendekat pada Paul Fargo. Namun, entah kenapa pria itu menjadi sedikit ragu. Sebelumnya, dia berpikir bahwa Alice Sanders yang dia kenal, tidak akan bersikap seperti ini.
Bahkan, gadis ini tidak mampu melakukan apapun, saat ayahnya mati. Akan tetapi, tatapan wanita itu saat berjalan mendekatinya sekarang, sudah jauh berbeda.
Untuk sesaat, Paul Fargo merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang belum pernah dia temui sebelumnya.
"Aku bertanya padamu ... Kau memanggilku, apa? ... Coba kau ulangi."
"B***th ... !"
Alice hanya tersenyum, namun tetap terus berjalan mendekat pada pria itu. Setelah hanya tinggal berjarak tidak sampai satu langkah, wanita itu berhenti.
Dia melipat tangannya di depan dada, lalu bertanya. "Kau, siapa kau?"
Kesabaran Paul Fargo benar-benar di buat mencapai batasnya. Saat itu juga, tangannya terangkat, hendak menampar wanita yang ada di depannya ini.
Namun, dia harus menghentikannya. karena saat itu juga, Nalurinya berkata bahwa dia akan segera mati, jika melakukannya.
Sebuah cahaya berwarna merah, baru saja terarah tepat di antara kedua matanya. Bahkan tidak hanya dirinya saja. Titik-titik berwarna merah, juga muncul di kening semua pengikut yang ada di belakangnya.
"Aku bertanya padamu, brengsek! ... Siapa kau?"
Paul Fargo menelan ludah. Dia tidak menyangka akan begini kejadiannya. Tiba-tiba saja keringat membasahi wajah dan sekujur tubuhnya.
"A-aku ... Aku ... Aku ... "
"Hah? ... Siapa? ... Apa kau gagap?"
__ADS_1
Noel memperhatikan sekitar, dan melihat beberapa orang dengan senjata Laras panjang dan berpakaian serba hitam, mengelilingi mereka dari lantai atas loby gedung itu.
Noel hanya bisa menggelengkan kepala tak percaya. dia tersenyum pasrah dan menatap semua yang di sana dengan rasa iba, sambil bergumam dalam hatinya.
"Dari mana orang-orang bodoh ini, mendapatkan ide konyol dan mengatakan hal yang lebih konyol lagi, pada orang nomor dua di Jaringan ini ... tidakkah mereka tau bahwa ini adalah Gedung Pusat, World Order? ... "
"Heh, brengsek ... Tolong ingatkan aku sekali lagi, siapa kau ... Sepertinya, kau benar-benar mengenalku, bukan?"
"Alice ... Maksudku, N-nona ... Aku ... Aku .. "
Melihat itu Paul Fargo sudah kehilangan fokusnya, Alice tersenyum meremehkan.
"Paul Fargo ... Bukan?"
Mendengar itu, wajah Paul terangkat. Seharusnya, dia merasa sedikit lega karena Alice mengingat namanya.
Akan tetapi, Situasi yang dia hadapi saat ini sungguh jauh berbeda. Dia berharap wanita di depannya ini sama sekali tidak mengingatnya.
Karena, jika wanita ini mengingat siapa dirinya, maka tentu saja dia juga mengingat masa lalu kedua keluarga mereka.
"Tidak, Ya ... Maksudku ... Bukan. Bukan itu ... Begini ... "
Alice hanya menggelengkan kepalanya, lalu berkata. "Aku beri kau tiga detik. Kau tetap akan hidup, jika berhasil pergi dari kota ini saat aku selesai menghitung."
Setelah mengatakan itu, Alice langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Paul Fargo yang mengangguk, seolah mengerti.
Namun, beberapa saat kemudian, matanya melebar dan kepalanya kembali terangkat.
"Tiga Detik?!"
Saat itu, dia menyadari bahwa Alice sama sekali tidak berniat melepaskannya. Waktu seolah berjalan sangat lambat, Saat dia mendengar Alice mengangkat tangannya sambil membuka tiga jarinya.
"Tiga!"
"Zzzuupt ... "
Sebuah lubang, baru saja terbentuk tepat di antara kedua mata Paul Fargo, yang terbelalak menatap tiga jari Alice yang terangkat ke udara.
Gadis itu, bahkan tidak menghitung sama sekali. Peluru sudah bersarang di dalam tengkorak pria itu, begitu saja.
"Bruuukkk ... "
Saat tubuh Paul Fargo Ambruk ke lantai, secercah darah terpercik ke lantai gedung itu.
Alice berbalik, dan kembali berkata pada semua pengikut keluarga Fargo yang ada di sana.
__ADS_1
"Bersihkan semua kotoran itu, sebelum kalian membawa sampah ini pergi ... Ingatkan ini pada Halaand Fargo ... Bukankah kami sudah mengatakan bahwa, kami akan datang?!"