World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Pemuda ini?


__ADS_3

"Tuan Evans?"


Antonius langsung menjawab panggilan, begitu dia melihat nama Noah tertera di layar ponselnya.


Setelah beberapa waktu terakhir, Noah sangat jarang sekali menghubungi dia ataupun A4 lainnya.


Jadi, begitu bos nya tersebut memanggil,  Antonius merasa ada sesuatu yang penting akan dikatakan Noah padanya.


"Antonius, aku sudah mengirimkan beberapa file dan ide untuk pembangunan di BronzeLand. Dengar ... Kau boleh mencari ahli dari mana saja, dan aku tidak akan membatasi anggaran untuk pembangunan kota itu. Tapi, kau harus membangun apa yang aku tandai terlebih dahulu ... "


Saat Noah menaklukkan BronzeLand, ternyata misi dari sistemnya belum selesai. Larut dalam misi yang berubah jadi mitivasi pribadi, sekarang Noah berada di ambang kegagalan dalam misinya.


Berbeda dari Silverstone, dimana Noah harus menguasai kota itu sebelumnya, sekarang misi di kota dimana dia dilahirkan adalah membangun kota tersebut.


Sayang sekali, Noah baru menyadari hal itu, saat dirinya sudah berada di Silverstone. Ironisnya, dia menyadari hal itu saat seseorang baru saja mengatakan beberapa hal padanya.


"Baik, aku akan melakukannya sesuai permintaan anda."


"Baik, terimakasih ... "


Kebiasaan Noah saat menelfon adalah memutus panggilan begitu saja. Akan tetapi, Antonius tidak mendapati hal itu terjadi saat ini.


Antonius menebak, Noah sedang memikirkan, atau mempertimbangkan sesuatu untuk di katakan padanya saat ini.


"Tuan Evans, aku siap  melakukan apapun, jika masih!ada yang ingin anda sampaikan."


Tentu saja dia siap. Malah, Antonius takut jika Noah sekarang mulai meragukan kinerjanya.


Antonius sangat berambisi membuktikan bahwa, statusnya sebagai salah satu dari A4 dari World Order, bukanlah karena faktor keberuntungan belaka. Sekarang, dia seolah berada di persimpangan jalan untuk membuktikan bahwa dia memang pantas.


Itu kenapa dari caranya bicara, pria itu terdengar seperti mendesak Bos nya tersebut, memberinya tugas lebih, atau malah dia akan senang sekali jika Noah memberinya sedikit tantangan.


Noah sendiri memang sedang memikirkan sesuatu. Namun, saat ini dia semakin heran pada pria yang berbicara dengannya saat ini.


Menurut Noah, sejak dia mereka bertemu di Bronzelang, Antonius dan yang lainnya sekarang berbicara dengannya seolah seperti ketakutan.


Lama Noah tak menjawab, Antonius coba memanggilnya kembali.


"Tuan Evans? ... "


"Oh, ya ... Ya. Aku ingin kau melakukan Sesuatu."


"Baiklah, aku siap ... "


Meski Noah masih heran kenapa Antonius menjawab pria paruh baya itu Siap, padahal dia belum mengatakan apapun tentang hal tersebut.


"Noah ... "

__ADS_1


Noah melihat berbalik, dan melihat Jade manggilnya. Karena saat ini dia emang sedang berada di rumah Jade.


Tapi, karena Antonius sedang menunggu perintahnya, Noah memberi tanda pada gadis itu, dia akan masuk kembali beberapa sat lagi.


Setelah Jade memberi tanda bahwa dia akan menunggunya di dalam, Noah langsung berbalik dan mengatakan instruksinya pada Antonius.


"Antonius, Kau sudah tau orang-orangku di sana. Tapi, untuk yang lainnya, aku ingin kau sedikit memberi perhatian lebih pada keluarga Collins, terutama Myra ... Aku menyukainya. Kau Mengerti maksudku?"


"Mengerti ... Aku mengerti."


"Bagu, terimakasih ... "


Sambungan terputus, begitu saja. Di seberang sana, Antonius mengangguk begitu dalam.


Karena, saat ini dia seperti mendapat tugas khusus atau bisa dikatakan lebih pribadi.


Baru saja, Noah yang di kota tempat dia berada saat ini lebih di kenal sebagai The Madness, memintanya secara khusus untuk memberi perhatian pada seseorang yang disukainya.


Tak pelak, saat itu Antonius merasa bahwa Noah benar-benar percaya padanya. Di dalam hatinya, Antonius bertekad akan melakukan yang terbaik yang dia bisa.


"Hoho ... Ini benar-benar luar biasa. Aku benar-benar merasa tertantang ... "


Saat itu juga, hari yang di lewati Antonius terasa sangat cerah.


"Tuan Evans, sekali lagi aku ucapkan ... Terimakasih atas semua bantuan yang kau berikan, pada kami selama ini."


Namun, Noah tidak menunjukkan rasa tidak nyamannya pada wanita tersebut.


"Tidak perlu sungkan, Nyonya Jackson. Itu,  bukan apa-apa ... Dan sudah aku katakan, panggil saja aku Noah. Aku dan Jade berteman."


Ibundah ayah Jade, tersenyum saat Noah mengatakan hal itu. Tentu saja mereka senang Jade berteman drngan pemuda ini.


Akan tetapi, Saat keduanya menatap putri mereka tersebut. Keduanya sedikit merasa iba.


Dari matanya, Gabe dan istrinya tau, anak mereka benar-benar menyukai pemuda ini. Cara Jade memandang Noah, tidak biasa. Bagi mereka, putri tidak hanya menyukai Noah saja. Jade, benar-benar mencintainya.


Namun, saat mereka mengingat kembali bagaimana Noah menatap putri mereka, keduanya bimbang. Jelas, Noah menyukai Jade, tapi keduanya tidak bisa menebak isi hati pemuda tersebut, hanya dengan caranya menatap saja.


Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk putri mereka dalam hal ini. Keduanya hanya berharap jika Noah tidak memiliki perasaan yang sama, Jade bisa bersabar dan merelakannya.


Akan tetapi, memang Momen ini terasa sedikit emosional dan asing. Namun, akan selalu saja ada sesuatu yang akan merusaksanya.


"Apa-apaan ini, kau sudah mengucapkan terimakasih padanya. Tidak perlu mengulang-ulangnya. Lagipula, bukan dia yang membantumu, tapi Nona Sanders, bukan?"


Rosey, adik Gabe Jackson dan suaminya, juga ada di sana. Sejak kepulangan Jade yang di nantinya di rumah itu yang ternyata datang dengan seorang pemuda, membuatnya sedikit kesal.


Apalagi melihat Jade yang sepertinya menyukai pemuda tersebut dan ditambah dengan Gabe dan istrinya yang terlihat juga menyukai pemuda tersebut, suasana hatinya semakin memburuk.

__ADS_1


Kesal mendengar ucapan bibinya yang tiba-tiba tersebut, Jade langsung membalasnya.


"Bibi Rosey, maaf aku mengatakan ini. Tapi, acara makan siang ini, memang di adakan khusus untuk Noah, sebagai rasa ucapan terimakasih kami. Jadi, sangat wajar jika ibuku mengatakan hal yang sama karena memang itulah faktanya. Jika bukan karena Noah, semuanya tidak akan terjadi!"


Saat itu juga, Rosey berbalik menatap Jade. "Jade, apa kau benar-benar menyukai pemuda seperti itu ... "


Rosey menunjuk Noah dengan dagunya, seolah meremehkan. Itu hanyalah tambahan saja, karena kata-kata yang baru saja di lontarkan Rosey pada Jade, jelas membuat gadis itu kesal.


Baginya, tidak ada yang boleh meremehkan Noah. Dan apa itu tadi? Menyukai? Jade tidak hanya suka. Tapi lebih dari pada itu.


"Bibi Rosey, seperti kataku ... Noah adalah tamu spesial pada makan siang ini. Tapi kau ... "


Jade sengaja menggantung kata-katanya seperti mempertimbangkan sesuatu. Setelah memikirkan perlakuan Rosey pada keluarganya selama ini, serta bagaimana Noah membantu keluarganya, ternyata itu membuatnya semakin bertekad mengatakannya.


"Kau ... Bahkan, kehadiranmu saja, tidak kami harapkan." Akhirnya, Jade mengatakan isi hatinya.


Jade itu benar-benar tidak menyukai adik ayah nya ini. Selama ini dia hanya diam. Tapi tidak untuk sekarang. Noah, bukan seseorang yang boleh di hina oleh siapapun, terlebih oleh Rosey.


"Jade, apa maksudmu dengan tidak mengharap—"


Kata-kata Rosey terpotong, saat tiba-tibaa Noah berdiri, dan memukul bahu Jade pelan, dan menatapnpada Gabe dan jstrinya, bergantian.


"Maaf, sepertinya aku harus menjawab panggilan ini ... "


Tanpa menunggu tanggapan dari mereka bertiga, Noah segera berbalik, dan pergi dari sana.


Sementara itu, Rosey yang kata-katanya baru saja terpotong, karena ulah pemuda yang menurutnya sangat tidak sopan itu, langsung mengumpat.


"F**k ... Kalian lihat? ... Pemuda itu, benar-benar tidak sopan!"


"Rosey ... Jaga ucapanmu!" Seru Gabe, memgingatkan.


"Bibi Rosey, kau tidak akan ada di sini, jika kau tidak memiliki kepentingan, bukan? ... Sekarang, katakan. Kenapa kau kesini."


Jade, sangat mengerti dengan sifat adik ayahnya tersebut. Karena kebetulan Noah tidak ada di sana, Gadis itu bertanya.


Namun, Jade dan keduanorng tuanta merasa heran. Setelah Jade menanyakan itu, Rosey tidak marah, namun terliihat senang dan tersenyum cerah.


"Jade, lupakan pemuda tak berguna itu. Sebagai gantiny, aku akan mengenalkanmu, dengan pria yang punya masa depan yang sangat cerah. Namanya, Franky. Sekarang, Dia di Bronzeland ... "


Saat sampai di luar, Noah langsung menjawab panggilan dari Alice. Namun, belum sempat Noah bertanya, Alice langsung berseru di seberang sana.


"Noah, Terjadi sesuatu pada temanmu Henry dan Liam ... "


"Alice apa maksudmu?"


"Aku belum tau detilnya. Sekarang kau dimana? Aku akan menjemputmu ke sana ... "

__ADS_1


__ADS_2