
"Ayah, apa yang terjadi di atas sana?"
Acara itu, sebenarnya di adakan di dua lantai. Hanya saja, demi privasi Noah, Rooftop di gunakan bagi para petinggi yang benar-benar memiliki kekuatan dan kekuasaan.
Sementara untuk yang di bawah itu, acara tetap diadakan namun di lantai atas gedung tersebut.
Brandon dan ayahnya Luis Knox, berada di lantai di mana para rekanan atau jaringan kecil berada.
Luis Knox tersenyum. "Hanya ada satu kata yang bisa mewakili itu, brandon."
"Ayah, apa maksudmu?" tanya Brandon heran.
"Ambisi."
Luis Knox mengerti. Gemuruh yang terdengar sampai kebawah hanya akan berarti satu hal. Seseorang telah memicu ambisi para pengusaha besar itu.
Hal itu tentu saja sangat bagus baginya dan seluruh orang yang ada di ruangan ini. Itu menandakan mereka juga akan mendapat peran serta keuntungan dari ambisi tersebut.
"Ambisi?"
Luis Knox mengangguk. "Ya, aku yakin The Ghost berada di atas sana ... " dia menatap anaknya itu. "Brandon. ke depan, bekerjalah lebih giat. Kita harus menemukan cara untuk bisa naik dan berhadapan dengannya. Kau mengerti?"
"Ya, ayah. Aku mengerti." Jawabnya cepat.
Sementara itu, di rooftop, Noah tampak berbincang-bincang dengan A4. Selain mereka, ada walikota di sana.
Jelas Gary Harald itu terlihat gugup di depan kelimanya saat ini. Meski menjabat sebagai walikota, dia tau bahwa posisinya bukan apa-apa bagi kelima orang itu.
"Tuan Evans ... Boss, maksudku. Ya, Boss."
Noah berbalik dan mendapati Ted Bowie sedang berdiri dengan gugup setelah tadi sempat sedikit membungkukkan badannya.
"Ya, Old Ted. Ada apa?"
Ted Bowie sadar bahwa dialah punca masalah yang tadi. Sekarang, dia ingat bahwa Noah sudah mengatakan bahwa ada kesalahfahaman antara dirinya dan pemuda itu saat di bawah tadi.
Jika dia mau mendengarkan Noah sedikit lebih lama saja, mungkin kejadian yang seperti itu, tidak akan terjadi. Sebagai penanggung jawab acara, Ted Bowie benar-benar merasa bersalah.
"Begini, masalah yang tadi ... Aku—"
"Old Ted. Aku tak menyalahkanmu, Tidak usah terlalu difikirkan."
Bagaimanapun, Ted Bowie bekerja secara profesional dan dirinyalah yang datang dengan gaya yang tidak meyakinkan. Apalagi, keduanya punya masa lalu dimana Noah menjadi bawahan Old Ted. Jadi, Noah bisa memakluminya.
__ADS_1
Old Ted menelan ludah dan segera mengangguk. "Baiklah, Boss. Aku mengerti."
Noah menggeleng. "Old Ted. Panggil saja aku seperti biasanya, Okey?"
"Tidak ... Tentu saja aku tidak berani. Itu sangat tidak sopan sekali."
"Old Ted, satu syarat aku tambahkan khusus untukmu. Jika kau mau bekerja padaku. Maka, panggil aku seperti biasa kau memanggilku."
Ted Bowie, benar-benar baik lada Noah. Saat dia bekerja di CrystalSky, Old Ted mentoleransi waktu Noah, karena pria tua itu tau bahwa Noah sedang kuliah.
Noah menyadari itu, dan itulah kenapa Noah sangat menghormati Old Ted ini.
"Baik, ... Baik. Aku mengerti." Jawab Ted Bowie, cepat.
"Tuan Evans, bagaimana dengan gadis-gadis itu?"
Albert Hall bertanya. Perwakilan hukum Noah itu, tidak perduli jika Noah benar-benar akan melemparkan gadis-gadis itu. Hanya saja, itu akan membuatnya sedikit bekerja, untuk membereskan masalah setelahnya.
"Tunggu apa lagi. Lemparkan mereka semua. Termasuk orangtua yang tidak bisa mendidik anak-anak bodoh mereka itu.!" Seru Antonius.
"Penjaga! ... Bawa mereka dan langsung lemparkan semua kebawah." Perintah Alex, pada penjaga saat itu juga
Julius Clark dan beberapa orang tua gadis-gadis itu, terkejut dan langsung memucat. Karena saat ini, para penjaga itu langsung datang menghampiri mereka.
"Hey kau ... Apa yang kau lakukan?" Teriak Alex saat mendapati Ivy sudah berlutut di depan Noah.
Tidak mengindahkan kata-kata Alex itu, Ivy langsung berkata, lebih terlihat seperti memohon.
"Tuan Evans ... Anda tau ini salahku. Biar aku saja yang lemparkan. Tapi aku mohon, lepaskan orangtuaku, dan yang lainnya."
Sebenarnya, Noah berkata akan melemparkan mereka karena sedikit emosi. Lagipula, saat itu hanya itu saja yang terlintas di kepalanya.
Karena salah seorang gadis mengancam akan melemparnya kebawah, maka dia menggunakan itu untuk balik menakut-nakuti mereka.
Namun, saat ini Noah tau. Satu tindakannya akan menunjukkan sekuat atau selemah apa dirinya di hadapan orang-orang ini.
"Noah ingatlah, dunia ini kejam. Untuk bisa bertahan, kau harus lebih kejam dari dunia itu sendiri."
Lagi-lagi kata-kata gelandangan tua yang memberinya Bell, sistemnya itu, terngiang di kepalanya.
Saat ini, semua mata tertuju pada Noah. Mereka ingin melihat, bagaimana pemuda ini menyikapinya.
Noah tampak berfikir sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. Setelah itu, dia bersuara.
__ADS_1
"Nona, aku seorang pebisnis. Sebagai anak pengusaha, aku yakin kau pasti tau hukumnya. Bahwa, Setiap permintaan pasti memiliki harga. Sekarang, untuk nyawa-nyawa mereka itu, apa yang bisa kau tawarkan padaku sebagai gantinya?"
Semua orang langsung serentak menghela nafas. Melakukan penawaran dengan orang seperti Noah, seseorang harus memiliki sesuatu yang sangat berharga.
Harta, tidak akan berguna. orang gila sekalipun tau siapa yang terkaya di sana. Bahkan, mereka semua yakin jika mereka menggabungkan kekayaan mereka lalu dikalikan seratus, tetap saja tidak akan mampu menyaingi kekayaan seorang pemuda, yang baru saja menambahkan dana segar sebesar seratus Milyar dolar pada perusahaan, seperti bukan apa-apa itu.
Ivy langsung panik, begitu juga ayahnya. Keduanya sadar bahwa tidak ada yang bisa mereka tawarkan sebagai gantinya pada Noah. Itu membuatnya langsung putus asa. Namun, tiba-tiba dia memikirkan sesuatu.
"Diriku ... Kau boleh mengambil diriku sebagai gantinya!"
Julius tidak tahan melihat anaknya seperti itu, berniat maju dan akan membelanya. Namun, tiba-tiba sebuah suara menghentikannya.
"Nona muda. Sepertinya, kau lupa satu hal di sini. Tuan Evans ingin melemparmu dan mereka kebawah, ... Sekarang lihat, kau menawarkan dirimu sebagai gantinya. Apakah, kau tidak terlalu memandang tinggi dirimu, kau fikir, Tuan Evans tertarik padamu?"
Saat Alice berkata seperti itu, tentu saja semua orang di sana termasuk Ivy dan ayahnya, sadar. Dengan kekayaannya, Noah bisa dengan mudah mendapatkan gadis sepertinya. Bahkan, gadis-gadis itu akan dengan suka rela merangkak di depannya jika Noah memerintahkannya.
Noah sendiri, tadi saat Ivy berkata ingin mengorbankan dirinya saja sudah terkejut. Sekarang, kata-kata Alice itu, tentu saja lebih mengejutkannya.
Saat itu, di batinnya dia berkata. "Aku baru saja di campakkan pacarku ... "
"Aku ... Aku ... "
Ivy benar-benar kehilangan kata-kata. Apa yang dikatakan Alice itu, tentu saja ada benarnya. Bukan, begitulah faktanya.
"Katakan, kau apa? ... Hah?" Desak Alice.
Noah yang sudah merasa tidak nyaman dengan suasana itu, langsung memikirkan cara menyudahinya. Jika diingat kembali, awalnya dialah yang sudah berlaku tidak sopan pada gadis yang tengah berlutut di depannya ini.
"Baiklah, aku menerima penawaranmu."
Semua orang kembali melepas nafas yang tanpa sadar sejak tadi mereka tahan. Kemudian, mereka mendengar lagi Noah berkata.
"Ini adalah acara pembukaan perusahaanku. Hal-hal seperti ini, tidak harus merusaknya, dan aku tidak mau semuanya dimulai dengan keburukan, bukankah begitu Nona Alice?"
Noah sengaja bertanya pada Alice, karena terlihat jelas bahwa, wanita itulah yang paling emosi saat ini.
Alice langsung mengangguk, mengerti.
"Ya, kita harus memulainya dengan hal-hal baik."
Namun, baru saja Noah hendak bernafas lega. Alice menunduk dan mendekatkan wajahnya pada Ivy, menatap gadis itu tajam lalu kembali buka suara.
"Nona, ingatlah ini dan tanamkan di kepalamu itu! ... Mulai Saat ini kau dan kehidupanmu adalah milik The Ghost. Bersukurlah atas kebaikannya ... Jaga dan rawatlah tubuh ini baik-baik, karena itu bukan milikmu lagi!"
__ADS_1
Tegas Alice sambil menunjuk dada Ivy, penuh penekanan dan ancaman serius pada Ayahnya, Julius Clark, saat Alice menoleh dan menatapnya, tajam.