
Alexander terdiam. Dia mencoba mencerna apa yang coba disampaikan orang tersekatnya itu.
Namun, tak berapa lama pria tua itu tersenyum lebar, dan akhirnya mulai tertawa.
"Hahahhahahaha .... "
"Hahahahahha .... "
Aaron tentu saja di buat heran dengan sikap Alexander Reamus yang kini terlihat seperti orang gila itu.
Jelas di matanya, meski bis nya itu sedang tertawa, raut wajahnya menunjukkan hal sebaliknya. Tidak ada kebahagiaan sama sekali di sana.
"Aaron ... Aku tau kau sangat mencintai jaringan ini. Tapi, aku sama sekali tidak menduga bahwa kau akan lebih putus asa dariku ... "
Aaron mengernyitkan keningnya. Sepertinya apa yang baru saja dia katakan, tidak berhasil meyakinkan pria tua di depannya ini.
Sekarang, Aaron mendapati bahwa dirinya sedan di tatap oleh Alexander Reamus, setelah tawa pria itu reda.
"Aaron ... Jik kau juga berminat untuk mengikuti langkah mantan rekanmu itu, maka pergilah. Aku tidak akan menahan mu ... "
Jelas Alexander Reamus salah memahami maksud Aaron.
Namun, saat dia berusaha kembali menjelaskan. Alexander mengibaskan tangan dan berbalik memunggunginya, tanda memintanya untuk segera pergi dan meninggalkan kepala keluarga Reamus itu seorang diri.
Hari kembali bergulir, hanya tinggal beberapa hari lagi sebelum acara pelelangan yang sebelumnya di katakan oleh Julius Clark padanya akan di adakan.
Sementara itu, selama tiga hari terakhir Noah yang entah bagaimana sudah menjadi bagian dari kelompok Jack di kampus mereka.
Selam tiga hari itu pula, Jack dan teman-temannya terlihat begitu akrab dengan pemuda itu. Hal yang membuat Mia ataupun Sally kebingungan.
Pasalnya, sehari setelah saat Mia untuk pertama kalinya bersemangat untuk berkuliah, saat pagi hari dia dan Sally di temui oleh Jack dan yang lainnya.
Berpikir mereka akan membuat masalah hingga membuat Sally pucat. Namun, keduanya terkejut saat melihat Jack mengulurkan tangan dan meminta maaf atas apa yang telah dia katakan sebelumnya.
Bahkan, Sally merasa bahwa dia sedang bermimpi bahwa hari yang ditunggu-tunggu nya benar-benar tiba.
Awalnya, sangat Sulit baginya untuk mempercayai kelompok yang terus mengganggunya itu, menundukkan kepala bahkan terdengar seperti Edang memohon agar di mau memaafkan mereka.
__ADS_1
Sekarang, setelah dia memaafkan mereka semua, dirinya mendapati bahwa akhirnya dia memiliki teman-temannya sendiri di kampus ini. Dan masih seperti mimpi, teman-temannya itu adalah Jack dan yang lainnya.
"Mia, siapa sebenarnya pacarmu itu? ... Sepertinya dia adalah orang yang sangat berbahaya ... "
Keduanya baru saja datang dan berniat bergabung dengan yang lainnya. Namun, saat Sally melihat bagaimana sikap gugup yang mereka tunjukkan saat berbicara dengan Noah, membuat Sally sulit menahan diri untuk tidak bertanya.
Namun, tanpa gadis itu sadari, pertanyaannya itu membuat wajah gadis yang tengah berjalan di sebelahnya itu, memerah.
"Dia bukan pacarku ... "
Langkah Sally terhenti, dan matanya melebar. Sementara Mia yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya, juga ikut berhenti, dan berbalik menatapnya heran.
"Kenapa tidak, eh ... Maksudku, dia bukan, jadi siapa ... Dia dan kenapa kau tidak memintanya untuk menjadikanmu kekasih ... Mmmmmppphhh"
Mia terpaksa bergegas mendekati Sally yang tanpa sadar meninggikan suaranya itu, untuk langsung membungkam mulutnya.
Sambil berdesis kesal, Mia berkata.
"Gadis bodoh, pelankan suaramu ... Dia bisa saja mendengar mu ... "
Masih dengan mulut yang di bekap oleh Mia, Sally menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kenapa kalian tidak berpacaran?"
Keduanya berteman cukup lama. Selama bersekolah, keduanya begitu dekat. Mia yang memiliki sifat malas dan sering tidak masuk itu, selalu di bantu Sally dalam hal belajar. Sebaliknya, Mia akan pasang badan, jika ada seseorang yang mencoba mengganggunya.
Sally sangat mengenal Mia. Gadis itu bahkan tidak memikirkan pria sama sekali. Bahkan Sally sangat yakin jika otak gadis itu di belah, maka hanya akan berisi tentang sparepart mobil, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu.
Sally juga mengenali kakak Mia, Aiden dan rekan-rekan timnya. Itu karena saat masih sekolah, dia sering berkunjung ke sana.
Jadi, saat melihat gadis itu dengan seorang Pemuda, Sally hanya bisa menyimpulkan bahwa akhirnya Mia, memiliki seorang pacar.
Lagipula, sebagai sesama wanita. Jelas dari matanya yang selalu memperhatikan Noah, menjelaskan betapa tertariknya Mia pada pemuda itu.
"Tentu saja aku berharap Noah mau menjadikanku kekasihnya, tapi ... "
"Tapi apa ... Katakan, tapi apa, huh?"
__ADS_1
Sally benar-benar di buat penasaran. Gadis di sebelahnya sangat cantik. Jadi tidak mungkin rasanya jika dia menyukai seorang pemuda, pemuda itu tidak belas menyukainya. Melihat keduanya begitu dekat, dia tidak merasa ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk memiliki hubungan.
Mia menarik nafas, dan menghembuskannya, kasar. Matanya menatap Noah yang kini terlihat sedang mendengarkan Jack dan yang lainnya sedang menjelaskan sesuatu pada pemuda itu.
"Sally, tidak akan ada yang menyalahkan ku atau bahkan kau Jika menyukainya. Tapi, seorang Raja tidak bisa di miliki oleh siapapun ... Dia adalah milik dirinya sendiri ... "
Mata Sally melebar seketika. Sebagai mahasiswi jurusan Sastra, dia seolah baru saja mendengar Mia mengatakan sesuatu yang luar biasa. Tanpa sadar, dia bergumam.
"Raja? ... "
Keduanya kini menatap Noah. Namun, Mia mengatakan sesuatu yang lainnya.
"Ya, dia adalah seorang Raja ... Dan sebagai seorang Raja, aku hanya bisa mengikutinya, bukan memilikinya ... "
Mia berjalan meninggalkan Sally yang terdiam seribu bahasa. Barulah beberapa saat kemudian, suara Mia yang memanggilnya, menarik paksa dirinya dari pikirannya sendiri.
Sebelum berjalan, Sally mengeluarkan buku dan mengambil pulpen. Lalu berkata.
"Sial, aku harus mencatatnya ... Aku benar-benar tidak mengetahui cinta bisa mengubah gadis gila itu, menjadi seperti ini ... Akhirnya aku menemukan bahan skripsi ku ... "
"Hei Sally, kenapa kau masih di sana, ke marilah ... "
Tanpa sadar dia balas berteriak. "Ya, sebentar ... Kau bisa membuatku melupakan kata-kata pentingnya ... "
Beralih dari Sally yang terlihat aneh karena memutuskan menulis entah apapun di sana, Mia berbalik untuk menyimak apa yang sedang di bahas Noah dan yang lainnya.
"Noah, itu intinya ... Beberapa anak-anak di sini sedang berusaha mendekati yang lainnya. Itu salah satu usaha mereka untuk saling berkomunikasi tanpa sepengetahuan Jaringan lainnya ... "
Mia yang baru saja bergabung, tentu saja tidak bisa langsung memahami apa yang tengah mereka bahas.
Namun, tidak bagi Noah. Kali ini, dia merasa sangat senang. Dia akhirnya benar-benar yakin tentang keputusannya untuk mencari informasi di universitas ini, sangat tepat.
Jack baru saja menjelaskan bahwa untuk mengantisipasi pihak lain mengetahui pergerakan mereka. Para pengusaha yang memiliki atau mengikuti sebuah jaringan, menggunakan anak-anak mereka untuk saling berkomunikasi.
Dan di sinilah sekarang Noah berada. Di kampus University of HighCopper. Tempat yang menjadi Pusat komunikasi tersembunyi bagi Jaringan-jaringan Mafia di kota ini.
Setelah mendengar penjelasannya, Noah merasa Jack benar-benar memiliki bakat mencari informasi yang sangat hebat.
__ADS_1
Noah tampak berpikir, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Namun, tak lama di mengangguk, dan bertanya pada pemuda itu.
"Jack, bagaimana jika kau di tawarkan oleh seseorang, untuk menjadi penanggung jawab redaksi di sebuah perusahaan media, yang jauh lebih besar dari milik keluargamu? ... "