World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Ponsel Henry


__ADS_3

Keduanya langsung menggelengkan kepala, saat Noah menanyakan hal tersebut.


"Kami tidak mengetahuinya, saat itu seseorang tiba-tiba saja datang dan bertanya."


Liam menganggukkan kepalanya, menyetujui perkataan Henry dan menambahkan.


"Saat dia bertanya, kami menjawab bahwa kami berdua adalah mahasiswa yang hanya sedang mencari bahan untuk tugas kuliah. Saat itu, tidak ada pilihan lain, selain mengatakan yang sejujurnya agar dia tidak berbuat lebih jauh. Akan tetapi, orang tersebut mengambil kameraku, lalu mengeluarkan memorinya."


Noah sudah bisa membayangkan apa yang terjadi saat itu. "Bukankah seharusnya itu saja sudah cukup?"


Mendengar itu, keduanya menggelengkan kepala serentak. Noah melihatnya secara bergantian.


"Aku juga merekamnya menggunakan ponselku ... Dan saat orang itu lengah, aku menarik Liam, dan lari dari sana secepat yang kami bisa ... Jadi, sebenarnya ini semua adalah salahku."


Mendengar pengakuan itu, Noah hanya bisa menghela nafas panjang, lalu melepasnya. "Henry ... Kenapa kau begitu nekad? Hal seperti itu, bisa saja membuat kalian berdua terbunuh. Aku rasa kau juga menyadarinya, bukan?"


Henry tidak bisa menjawabnya, apa yang dikatakan Noah memang benar. Tidak hanya bisa membuat dirinya dan Liam terbunuh, mereka juga bisa menyebabkan tiga yang lainnya bernasib sama.


Sekarang saja, dia merasa bersalah karena telah membuat banyak orang kesulitan dan menghadapi banyak masalah karenanya.


"Noah, ada alasan kenapa Henry berbuat seperti itu ... Aku rasa, jika kau berada di posisi kami, kau juga akan melakukan hal yang sama."


Saat itu, Noah beralih pada Liam yang terdengar memberi pembelaan pada Henry. Saat dia ingin bertanya, Liam kembali berkata.


"Mereka menargetkan seluruh Negara bagian ini ... Bahkan, salah satu dari keluarga itu, menjadikan World Order, sebagai target mereka selanjutnya."


Saat itu, mata Noah melebar. "World Order?"


Liam mengakar bahu, lalu kembali menjelaskan. "Jujur saja, mereka tidak mengatakan itu secara langsung ... Tapi, aku dan Henry mendengar dengan jelas, bahwa Silverstone dan kota-kota yang ada di sekitarnya, akan mereka kuasai setelah keluarga Haines dan Reamus benar-benar tumbang."


Saat itu, Noah berusaha bersikap biasa. Namun, saat itu juga dia berbalik pada Henry. "Jadi, dimana ponselmu itu sekarang, apa mereka sudah mendapatkannya?"


Henry menghela nafas dan melepasnya. Dia mengangkat kepalanya yang sejak tadi sedikit tertunduk, lalu berkata.


"Saat ini, ponsel itu mungkin telah rusak. Akan tetapi, aku sudah mengirimkan benda itu, ke kantor perusahaan di mana kami menerima tugas lapangan ini. Aku rasa, benda itu saat ini sudah berada di mejaku, atau ... Tempat lain di gedung itu."

__ADS_1


Mendengar itu, Noah menganggukkan kepalanya mengerti. Tak lama diapun kembali tersenyum.


"Baiklah. Aku rasa ini saja sudah cukup ... Melihat situasinya, Aku senang kalian selamat."


Keduanya hanya bisa tersenyum miring menanggapinya. Lalu, Henry kembali berkata.


"Aku ingin membuat berita pertama dari perusahaan media WallEye yang akan kami pegang, menjadi headliner di seluruh penjuru negara bagian ini, atau mungkin saja seluruh negara ini ... "


Noah tentu mengerti apa yang sedang dibicarakan Henry. Namun, saat itu dia tidak bisa mengatakan bahwa dia sangat menghargai kerja keras dan pengorbanan keduanya untuk itu.


"Baiklah, sekarang kalian berdua beristirahatlah ... Karena tidak lama lagi, perusahaan itu akan segera di buka, dan kalian akan langsung bekerja, bukan?"


Keduanya menganggukkan kepala, lalu Liam kembali bertanya. "Noah ... Tolong katakan pada nona Alice, kami minta maaf ... Mungkin, dia bisa menyampaikan ini juga, pada orang yang membuat semua ini nyata, bagi kami bertiga ... "


"Noah, tolong katakan permintaan maaf kami, lewat nona Alice, pada pemimpin Jaringan World Order, the Ghost ... "


Noah hanya bisa tersenyum hambar saat mendengarnya. Namun, saat itu juga dia menepuk bahu temannya itu dan berkata.


"Baiklah, aku akan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Tidak perlu meminta maaf ... Aku yakin, saat mengetahuinya, semua orang akan mengerti dan menghargai kerja keras kalian ... "


"Noah, apakah kau akan ke kampus? ... "


Saat itu Noah menatap Liam dan berkata. "Tidak, tidak ... Aku memiliki rencana lain, dan aku akan ke sebuah tempat untuk menyelesaikannya terlebih dahulu."


Keduanya langsung mengangguk mengerti, dan melihat Noah sudah berjalan menuju pintu.


Saat itu keduanya melihat Noah berbalik, dan tersenyum sambil berkata. "Kalian pasti akan mendapatkan berita, yang tidak hanya akan mengguncang negara bagian ini ... Jadi, beristirahatlah, karena setelah ini kalian akan sangat sibuk."


Setelah itu, Noah berbalik dan menghilang di balik pintu bangsal rumah sakit tempat keduanya kini berada.


"Henry ... Apa yakin, Noah tidak hanya sekedar teman kencan Nona Alice ... Tidakkah kau berpikir sama denganku?"


Henry hanya bisa mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak yakin seperti apa dia sebenarnya. Tapi, Noah pasti bukan hanya sekedar teman kencan Nona Alice, seperti yang kau katakan ... Aku yakin,. Dia jauh lebih daripada itu."


Keduanya melihat ke arah pintu, di mana Noah tadi menghilang. Bagi mereka, Temannya itu terasa semakin berbeda, setiap kali mereka bertemu.

__ADS_1


Noah berjalan melintasi koridor rumah sakit dengan ponsel sudah menempel di telinganya. Belum sampai deringan kedua selesai, seseorang di seberang sana langsung menjawabnya.


"Boss?"


"Alex ... Bagaimana kabarmu?"


Diantara yang lainnya, Alex  lah yang paling lama tidak bertemu dengan Noah. Dia mengerti bagaimana sibuknya pria itu, dan tidak berpikir untuk mengganggunya beberapa waktu yang lalu.


"Aku baik ... Bagaimana denganmu?"


"Ya, cukup baik ... Alex, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku ... "


Di seberang sana, Alex memang sudah siap menantikan ini. Tidak butuh waktu lama baginya untuk langsung menjawab.


"Katakan, Boss ... "


"Aku ingin kau ke Blacksteel ... Dan temukan ponsel Henry di meja atau di manapun, di gedung perusahaan media tempat Antonius mengirim mereka untuk belajar."


"Baiklah, aku akan menelfon perusahaan itu dan menjemputnya setelah itu ... "


Meski Alex tak bisa melihat, Noah langsung menggelengkan kepalanya, dan berkata. "Tidak, tidak ... Aku ingin ku memastikan bahwa hanya kau yang memegang benda itu dan bawa kepadaku ... Kau mengerti?"


"Baik, aku mengerti ... Aku akan segera ke sana."


"Baiklah, terimakasih ... "


"Tidak perlu, Boss ... Kau bisa mengandalkan ku."


Sambungan itu terputus, dan Noah langsung memasukkan ponselnya ke saku celananya. Di depan sana, dia sudah melihat Laura menunggunya.


Namun, saat dia ingin keluar dari pintu utama rumah sakit itu, dia mendengar seseorang memanggilnya.


"Noah?"


Langkahnya langsung terhenti, dan dia pun berbalik. Saat itu, mata Noah sedikit melebar saat mengetahui siapa yang baru saja memanggilnya itu.

__ADS_1


"Lucy ... "


__ADS_2