
Noah Tidak berencana berlama-lama di tempat itu. Dia sengaja datang ke sini, untuk menyapa dan menyampaikan alasan keberadaanya di HighCopper pada yang lainnya.
Setelah masuk ke sebuah ruangan, dia langsung menjelaskan situasinya pada Aiden dan yang lainnya.
Seluruh anggota Sattelite mendengar penjelasan Noah dengan seksama. Hanya saja, mereka tidak percaya pemuda itu berniat untuk turun tangan langsung untuk memastikan keadaan teman-temannya itu.
"Noah, kau bisa memberi perintah, maka aku dan yang lainnya akan mencari keberadaan temanmu ke seluruh penjuru kota ini. Berikan padaku photo mereka."
Sebenarnya, Noah berpikir bahwa itu ada benarnya. Namun, tidak seperti situasi yang kini sedang di hadapinya.
Bell, Sistemnya baru saja memberi sebuah misi. Dan tidak seperti biasanya, misi ini sedikit berbeda.
Noah membutuhkan alasan yang tepat agar rasa penasaran yang menghinggapi kepala orang-orang yang ada di depannya ini, bisa di redam.
"Aiden, aku mengerti kalian bisa. Hanya saja, mereka teman-temanku dan aku sendiri yang mengirim mereka ... Aku datang untuk memberi tau kalian tentang itu, dan aku harap kalian mau membantu."
Tentu saja semua orang di sana bertambah heran. Pasalnya, pemuda yang berkata adalah ketua mereka, sekaligus salah satu dari empat Raja jalanan di negara bagian ini.
Noah meminta mereka untuk tidak melakukan apapun, jika terjadi sesuatu kecuali Noah sendiri yang memintanya. Semua orang tidak bisa mengerti bagaimana bisa seseorang meminta bantuan untuk tidak membantu.
Aiden dan yang lainnya tampak berpikir keras. Jika saja mereka tidak mengenal Noah, tentu saja mereka akan memilih untuk berdebat dengannya. Namun, pemuda yang bicara seseorang yang mampu memberi terror dan melenyapkan seluruh ketua Jaringan di satu kota, sebelum akhirnya mengambil alih kota tersebut.
Saat mereka sedang berpikir dan terlihat ragu untuk kembali berkata, tiba-tiba Mia yang sejak tadi hanya diam saja, memutuskan untuk bersuara.
"Noah, tentu saja kami akan dengan senang hati membantumu ... Tapi, bisa kau katakan kenapa dirimu harus menyamar? Bukankah akan sangat mudah mencari jika kau menggunakan statusmu sebagai Raja? Aku rasa, dua Raja lainnya juga akan dengan senang hati membantu kita ... "
Saat Mia mengatakan itu, Noah langsung berdiri. Sontak hal tersebut membuat jantung gadis itu berdebar dan darahnya berdesir hebat.
Dia mulai berpikir bahwa baru saja dia telah mengatakan sesuatu yang salah, hingga pemuda yang memiliki julukan the Madness ini, marah.
Semua orang tanpa sadar menahan nafas mereka. Sementara Aiden langsung beradu tatapan dengan adiknya seolah menegur agar menutup mulutnya. Namun, saat Noah kembali bicara, kebingungan semua orang bertambah.
"Mia, berapa umurmu?"
Noah menatap Mia dengan tatapan yang aneh. Namun, hal itu membuat gadis itu bertambah gugup. Dengan sedikit terbata, gadis itu menjawab.
__ADS_1
"Hah, aku ... Aku ... Sem-sembilan ... Be-belas ... "
Sebuah senyuman langsung terukir di wajah Noah. "Bagus, sepertinya saat ini, aku hanya butuh bantuan darimu ... "
"Hah, apa?!"
Tidak menghiraukan Mia, Noah berbalik menatap yang lainya. Saat itu Aiden yang terlihat ingin bertanya padanya, langsung mengurungkan niat karena saat itu juga pemuda tersebut kembali berkata.
"Aku baru saja mendapatkan sebuah ide. Namun, aku memerlukan bantuan Mia untuk melakukannya."
Saat itu juga, baik Aiden dan yang lainnya hanya bisa pasrah. The Madness, memang memiliki cara berpikir sendiri, yang tidak bisa mereka duga.
Tudak hanya itu saja. Saat semua orang melihat saat Noah tiba, tidak ada yang percaya itu benar-benar dirinya.
Pasalnya, Belum lama rasanya pemuda ini terkapar dan sekarat di rumah sakit, setelah menghabisi semua musuhnya di Bronzeland, dan hari ini pemuda tersebut sudah berdiri dengan kondisi sangat sehat, seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.
Bahkan, di saat mereka masih sering membahas betapa menakjubkannya hal yang telah dilakukan oleh ketua mereka, yang membuat semua orang bangga berdiri di bawah benderanya itu, namun tidak terlihat dari wajah Noah dia telah melakukan sesuatu yang belum tentu ada orang lain yang mampu melakukannya, kecuali satu orang.
Mereka mulai berpikir dan membanding-bandingkan bahwa the Madness, ketua mereka tersebut, mungkin mendekati atau bahkan setara dengan seseorang yang sangat misterius, yang berasal dari kota Silverstone. The Ghost.
Noah langsung menganggukkan kepalanya, dan tersenyum saat Aiden menanyakan hal tersebut. Dia berbalik dan menatap Mia yang kini menunggu penjelasan Noah selanjutnya.
"Jadi Mia, bukankah seharusnya, kau berkuliah?"
Sekarang, semua orang kompak berpikir untuk segera beradaptasi dengan bagaimana ketua mereka itu berpikir. Tidak ada lagi yang bertanya, selain apa yang mereka bisa lakukan, untuk memudahkan rencana pemuda tersebut.
Semua orang kembali duduk, dan Noah menjelaskan apa rencananya. Mereka mengangguk mengerti, kenapa pemuda itu memerlukan bantuan Mia.
Waktu berlalu, hingga pembahasan mereka telah selesai. Untuk menjalankan rencananya, Noah meminta pada Aiden, mencarikannya sebuah tempat tinggal. Dan di sanalah dia akan memulai semuanya.
Noah menghubungi Julius untuk mengurus sesuatu untuknya. Hingga pada keesokan harinya, dia dan Mia sudah berdiri di depan sebuah universitas paling terkenal di HighCopper.
"Aku tidak pernah berpikir akan datang hari di mana aku memasuki sebuah universitas dan berniat untuk belajar ... "
Noah sempat terkejut saat mengetahui bahwa Mia sama sekali tidak berkuliah. Bukan karena gadis itu tidak mampu atau semacamnya. Hanya saja, Mia sama sama sekali tidak tertarik dengan segala sesuatu tentang kelas dan mata pelajaran.
__ADS_1
Sejak muda, Gadis itu begitu mencintai mobil. Dia menghabiskan waktunya bermain di Basecamp milik Sattelite, alih-alih bersekolah.
Mendengar Mia mengatakan hal tersebut, Noah hanya bisa tersenyum. Dia tidak menyangka bahwa permintaannya pada Mia begitu berat.
"Mia, aku tidak ingin berdebat tentang hal ini ... Tidakkah kau berpikir bahwa ada sebuah mata kuliah, yang bernama teknik otomotif?"
Mendengar itu, Mia langsung menoleh pada Noah dengan mata melebar. "Benarkah? ... Kenapa aku tidak ada yang memberitahuku sebelumnya?"
Keterkejutan Mia itu, membuat wajah cantik gadis itu semakin, lucu. Noah masih tidak bisa mempercayai bahwa seseorang seperti gadis yang kini berjalan di sebelahnya itu, ternyata sedikit, bodoh.
"Sekarang, kau sudah mengetahuinya dan ... Kau akan memasuki kelas tersebut."
Entah kenapa wajah gadis itu langsung berubah cerah. Padahal, beberapa saat yang lalu, Noah masih merasa bahwa Mia sedikit keberatan dengan permintaannya.
Baru saja mereka berniat mendatangi kantor dekan kampus tersebut, keduanya mendengar seseorang berteriak memanggil.
"Hei, Mia ... !"
Noah dan Mia berbalik, dan mendapati seorang gadis berdiri tidak terlalu jauh, sedang menatap mereka.
Namun, seperti terlihat sudah memastikan bahwa orang yang di panggilnya benar, mata gadis itu langsung melebar.
"Ah, Sial ... Ternyata benar ... Mia, apa yang kau lakukan di sini?"
Noah melihat Mia tak kalah terkejutnya. Gadis itu langsung berlari dan mendekat pada yang memanggilnya. Seperti sebuah drama, pemuda itu melihat keduanya berpelukan.
"Sally ... Ini kau, ini benar-benar dirimu ... "
Dari melihatnya saja, Noah sudah bisa menyimpulkan keduanya sangat dekat. Namun, saat Noah berpikir bahwa drama itu akan segera berakhir, tapi ternyata tidak.
"Hei, coba lihat ... Apa kampus ini kedatangan beberapa orang aneh lagi?"
Mia dan temannya, melihat pada segerombolan pemuda yang kini menatap mereka, seolah meremehkan.
Tidak jauh dari sana, Noah berdiri dengan tersenyum miring. Sambil menarik nafas dan menggelengkan kepalanya, dia bergumam.
__ADS_1
"Ya, aku rasa ... Di manapun, akan selalu ada beberapa orang yang seperti ini ... "