World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Udara


__ADS_3

Sementara itu, di gedung pusat World Order, Luke Norman dan Luis Knox terlihat panik.


Keduanya baru saja mendapat panggilan dari anggota keluarga Fargo. Dalam waktu lima belas menit, jika mereka tidak menemui Arlen, maka keluarga keduanya akan terluka.


Tau bahwa Arlen bukan tipe orang yang hanya memberi ancaman kosong belaka, keduanya langsung bergegas untuk menemuinya.


Namun saat itu, Ted Bowie dan beberapa orang sudah masuk ke dalam ruangannya. Hal itu, membuatnya sedikit terperanjat.


"Tuan Norman, sepertinya anda buru-buru sekali. Ada apa?"


"Old Ted, aku memang sedang terburu-buru. Sesuatu akan terjadi pada kekuargaku jika aku tidak menemui—"


"Arlen Fargo ... Bukan?"


Mata Luke Norman melebar. Saat dia menoleh, barulah dia menyadari bahwa Ted Bowie tidak datang sendiri. Saat itu juga, dia sudah menyadari bahwa apa yang dilakukannya, sudah diketahui oleh World Order.


"Old Ted, kau ... Aku ... Ini tidak ... "


Old Ted hanya mendengus. "Apa kau akan mengatakan bahwa ini tidak seperti yang aku pikirkan? ... Apa kau berfikir bahwa World Order sebodoh itu?"


Mengetahui bahwa dia akan di tahan saat ini, Luke Norman segera menghambur dan berlutut di depan Old Ted.


"Tuan Bowie ... Jika kau sudah tau, berarti kau juga tau bahwa keluargaku sedang terancam, bukan? Aku mohon biarkan aku menemuinya terlebih dahulu."


"Luke, kau sudah tau apa yang kau lakukan akan membahayakan keluargamu sejak awal. Jadi, apa bedanya? Jika Arlen melepaskanmu, apa kau pikir kami akan melakukan hal yang sama?"


Saat itu Ted Bowie maju mendekat dengan Luke Norman masih berlutut.


"Aku katakan padamu keparat ...  jangan main-main dengan kami. Ini bukan lagi keluarga Sanders yang bisa kalian hancurkan dengan mudah, ... kami adalah World Order ... !"


"Buk!"


Sebuah tendangan keras dari Old Ted pada kepalanya, sukses membuat Luke Norman hilang kesadaran saat itu juga.


"Seret bedebah ini ... !"


Di dua tempat terpisah lainnya, Luis Knox dan Brandon anaknya, juga mengalami hal yang hampir sama.


Sedikit dekat dengan Noah daripada yang lainnya, membuat Old Ted juga sedikit lebih memahami apa yang pikirkan bosnya itu.


Akan tetapi, Ted Bowie juga menyadari bahwa ini belum berakhir. Arlen Fargo pasti akan mengambil tindakan ekstrim, seperti biasa sebagaimana tabiatnya.


****


"Bos ... Aiden Rogers dan jaringan keluarganya memiliki beberapa usaha, mereka berniat bergabung dengan jaringan kita. Aku menunggu keputusanmu."


Noah tidak menyangka bahwa Aiden memiliki pengaruh besar di keluarga sehingga mampu mengambil keputusan seperti itu.


Memang, sejak awal Noah sengaja memakai nama Tim mereka untuk perusahaan yang dia dirikan di HighCopper. Tapi sepertinya nama itu memang memiliki Arti berbeda bagi kedua kakak adik itu.


"Tuan Clark, Aiden dan Mia adalah temanku. Tentu saja aku senang jika keluarga mereka mau bergabung."


"Baiklah, aku mengerti ... "


"Tuan Clark?"

__ADS_1


"Ya, Bos"


"Jadikan apapun usaha yang di kelola perusahaan mereka, yang terbesar di HighCopper."


"Baik, aku mengerti."


Setelah memutus pembicaraan itu, Noah langsung menelfon Aiden.


"Noah, ada yang harus kami lakukan?"


"Tidak, tidak ... Bukan itu."


"Jadi, apa kau akan ke HighCopper?"


Tidak menanggapi pertanyaan Aiden, Noah langsung menyampaikan maksudnya. "Aiden, apa kau dan keluargamu memang ingin bergabung dengan Jaringanku?"


"Tentu saja ... Aku tidak ragu saat memutuskannya, apakah itu membuatmu tidak nyaman?"


"Tidak, tentu saja tidak. Bahkan aku menggunakan nama Satellite untuk perusahaan itu, bagaimana aku bisa tidak nyaman."


"Sukurlah ... Jadi, ada apa?"


"Aiden, ada beberapa hal tentangku yang kalian tidak tau. Aku rasa, aku tidak perlu menjelaskannya. Kau bisa bertanya pada Tuan Clark apa aturan yang mereka pegang, dan aku berharap kau juga bisa memegang aturan yang sama. Bagaimana?"


"Noah ... Kau Rajanya, apa kau lupa?"


Saat itu, meski Aiden tidak bisa melihatnya, Noah tersenyum. "Baiklah, aku rasa tidak ada masalah dan ... Selamat bergabung."


Lebih dari apa yang diharapkan Noah. Awalnya, Noah hanya berniat bekerja sama dengan keluarga Aiden jika mereka memiliki Jaringan.


Satu hal lagi yang membuatnya senang adalah, sebentar lagi dia akan mendapatkan poin sistem karena hal itu.


Uang bukan segalanya, Noah sudah menyadarinya. Ada banyak hal yang dia butuhkan untuk menyelesaikan misinya.


Dan untuk terus naik ke atas, dia tidak bisa selalu mengandalkan Sistem yang ada pada dirinya.


"Hmm ... Sepertinya, memang sudah saatnya." Gumamnya.


Saat itu, tiba-tiba suara seorang gadis membuyarkan apapun yang sedang dia pikirkan.


"Noah, aku pikir kau akan menemaniku di sini. Tapi, sejak tadi kau hanya sibuk dengan banyak panggilan."


Noah menoleh pada gadis itu dan tersenyum canggung. "Ya, maafkan aku. Ada beberapa hal yang sedang aku urus."


"Noah, karena kau sangat sulit sekali di temui, aku tidak bisa mengatakan ini sebelumnya. Aku benar-benar berterimakasih karena sudah membantu keluarga."


Noah menggelengkan kepalanya. "Jade, bukankah aku pacarmu? Dan pacarmu ini, hanya sedang melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk gadisnya."


Jade tau saat itu Noah hanya bercanda. Tapi, di hati kecilnya, dia berharap itulah yang sesungguhnya.


Jade tidak menyangkal bahwa dirinya cantik. Bukan dia yang mengatakannya, tapi hampir semua orang selalu mengatakan itu padanya.


Tapi Noah, benar-benar berbeda. Pemuda yang ada didekatnya ini, tidak melihatnya dari fisiknya.


"Baiklah, meski aku pacarmu, tapi aku tetap harus berterimakasih, bukan?"

__ADS_1


Noah hanya tersenyum mendengarnya. Namun, tiba-tiba Jade mencium pipinya. Hal itu membuatnya membeku sepersekian detik lamanya, sebelum Jade kembali bersuara.


"Untuk saat ini, hanya itu yang bisa aku lalukan sebagai ungkapan rasa terimakasihku." Ucapnya sambil tersenyum.


"Jade, kau tidak perlu melakukan apa—"


Noah tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena Jade langsung memotongnya.


"Noah, tidak ada yang gratis di dunia ini. Kau tentu sudah mengetahui hal itu ... Aku akan melakukan apa saja untukmu, kau mengerti?"


"Jade, aku bukan Leyton ... "


"Ya, kau bukan Leyton. Dan aku tentu saja ribuan kali lebih baik darinya. Kau adalah Noah, Noah Evans dan aku menyukaimu, kau juga sudah tau itu ... "


"Jade ... Aku ... "


"Noah, kau tidak perlu mengatakan apapun yang tak ingin kau katakan. Siapapun kau, aku tetap akan menyukaimu ... "


Jade tau bahwa dia tidak akan pernah bisa menggantikan Alice Sanders. Selain sangat cantik dan dewasa, wanita itu adalah salah satu A4 dari World Order.


Siapapun gadis di Silverstone saat ini, sangat ingin menjadi seperti wanita itu. Termasuk dirinya.


Malang baginya, sepertinya apa yang dikatakan Greg dan Leyton benar. Alice Sanders benar-benar menyukai Noah, dan mau melakukan apa saja untuk pemuda ini.


"Jade, kau juga tau aku menyukaimu ... "


Jade hanya tersenyum saat Noah mengusap rambutnya. Namun, saat itu juga Jade teringat sesuatu


"Noah, sehari sejak kau meminta Nona Alice membantu ibuku, Tuan Alex, Salah satu A4 dari World Order lainnya juga menghubungi ayahku. Apakah itu ada hubungannya denganmu?"


Saat Noah hendak menanggapi pertanyaan Jade itu, tiba-tiba ponselnya kembali bergertar.


"Jade, aku harus menjawab ini ... "


Tanpa menunggu tanggapan Jade, Noah sudah berjalan mengambil jarak agar gadis itu tidak mendengarnya.


"Old Ted, bagaimana?"


"Noah, Arlen sudah bergerak ... Aku dan yang lainnya, juga sudah bersiap."


"Baiklah, aku akan ke sana ... !"


Jade melihat Noah baru saja memutus panggilan. Namun, pemuda itu hanya berbalik dan mengatakan bahwa dia harus pergi.


Gadis itu hanya tersenyum menanggapinya. Bahkan mungkin saat itu Noah tak sempat melihat senyumnya itu, karena pemuda itu langsung pergi begitu saja.


"Udara ... " Gumam gadis itu.


Sekarang, Jade merasa Noah bagai udara baginya. Tak bisa di sentuh, tak bisa di genggam. Tapi, entah sejak kapan, Jade merasa sangat memerlukan Noah, agar dia tetap hidup.


Gadis melihat untuk terakhir kali sebelum punggung Noah menghilang setelah berbelok di koridor rumah sakit, tempat ibunya di rawat.


Dan sekali lagi, gadis itu bergumam.


"Inikah, Cinta? ... "

__ADS_1


__ADS_2