World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
University Of HighCopper


__ADS_3

Tatapan merendahkan dari beberapa pemuda serta apa yang baru saja dikatakan oleh salah satu dari mereka, sudah menjelaskan bagaimana kehidupan gadis yang sekarang bersama Mia ini. Noah sangat mengerti hal tersebut.


"Hei, apa maksud kalian, brengsek?!"


Tentu saja Mia tidak terima jika seseorang berkata seperti itu, apalagi saat ini Noah bersamanya.


Bukan merasa bahwa dirinya akan dilindungi oleh pemuda tersebut, tapi rasa kesal gadis itu bertambah karena jelas saja, pemuda-pemuda itu memasukkan Noah dalam celaan mereka.


Ada sekitar empat pemuda dan satu gadis di sana. Kelimanya, melebarkan mata saat mendengar kata-kata Mia sebagai tanggapan dari ejekan mereka tersebut.


Satu orang yang memiliki tubuh sedikit lebih tinggi dari yang lainnya, berjalan mendekat. Namun, saat dia cukup dekat dia langsung berhenti dengan kening berkerut.


Matanya menyoroti Mia dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Pemuda itu mengelus dagu sambil menggelengkan kepala. Dia tersenyum, sebelum akhirnya berkata.


"Sepertinya kami salah ... Kau cukup, tidak … kau lumayan juga."


Noah hanya memperhatikan itu dari tempat di mana dia berdiri. Pemuda itu berniat akan bertindak, jika sesuatu berjalan tidak baik.


"Ya, tentu saja begitu … Tapi …" Mia menggantung kata-katanya saat  menanggapi dan balas menyoroti pemuda itu dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Kemudian dia melanjutkan. "Sepertinya kau tidak … sebaliknya, kau terlihat menjijikkan."


Sontak mata pemuda itu terbelalak. Tidak banyak yang berani berbicara dengannya, apalagi berkata seperti apa yang di ucapkan gadis didepannya ini.


Tidak hanya dirinya saja, bahkan teman-temannya yang berada di belakang, menunjukkan reaksi yang sama.


Salah seorang dari mereka langsung berseru. "Jack, sepertinya dia belum tau siapa dirimu … sebaiknya, bawa dan tunjukkan padanya!"


Pemuda bernama Jack itu, langsung bereaksi begitu mendengar seruan temannya. Cepat dia semakin mendekat, dan mencoba  meraih lengan Mia, berniat menariknya.


"Kau, ikut aku … "


Namun, begitu tangannya menyentuh lengan gadis itu, satu tangan asin muncul menahan lengannya.


"Aku rasa drama ini, cukup sampai di sini … silahkan pergi."


Jack berbalik dan menoleh pada siapa yang berbicara. Dia mendapati Noah sedang menatapnya, datar.


Namun, saat itu wajah Jack memerah. Rasa sakit langsung menyerang otaknya, yang mengalir dari lengan yang di genggam sangat kuat oleh pemuda itu.


"Hei, kau … apa yang kau lakukan brengsek?!"


Satu orang lainnya, berteriak pada Noah dari belakang. Sementara yang lainnya lagi berseru pada Jack.


"Jack, kenapa kau membiarkannya? Beri dia pelajaran."


Tentu saja Jack akan melakukan itu tanpa di beritahu sekalipun. Hanya saja, mereka yang berada di belakangnya itu, tidak mengetahui apa yang sedang di rasakannya saat itu.

__ADS_1


Tulang lengannya kini terasa seperti hendak remuk, sementara saluran darahnya terasa akan pecah, Jika pemuda yang menggenggam tidak segera melepaskannya.


"Apa kau mendengarkan ku?"


Jack langsung mengangguk-anggukkan kepalanya cepat. Yang dia inginkan saat ini hanyalah keselamatan lengannya. Sambil meringis menahan


"Ya, aku dengar … Aku dengar … "


Noah melepaskan tangan Jack dan menatap dua gadis yang kini menatapnya dengan kedua mata mereka melebar.


Seharusnya, bagi Mia ini tidak terlalu mengejutkan. Karena dia sudah mengetahui seberapa berbahayanya pemuda itu. Namun, melihat perbandingan tubuh Noah dan Jack, tentu saja dia tetap terkejut.


"Hay, aku Noah … "


Mata gadis berkaca mata tebal dengan tas besar serta banyak buku di dalam pelukannya itu, tidak berkedip sedikitpun saat Noah menatapnya.


Bahkan, gadis itu tidak bereaksi saat Noah mengulurkan tangan untuk berkenalan dengannya.


"Sally ... Sally ... "


Gadis itu akhirnya mengerjakapkan mata karena Mia menegur untuk menyadarkan Sally, dari keterpanaannya.


Melihat tangan Noah yang sudah menggantung di udara, Sally langsung mengulurkan tangan namun segera menariknya, cepat.


Namun,demi menghargai Noah, gadis itu menundukkan tubuhnya dalam-dalam, sambil membungkuk, gegas dia menjawab Noah.


"Hay, aku … Sally!"


Mia sendiri langsung merasakan aura kecanggungan di sana. Tentu saja dia mengerti kenapa Sally menjadi takut melihat telapak tangan tersebut. Bahkan, dia juga merasakan hal yang sama.


Keduanya yakin, jika Noah secara tidak sengaja menampar mereka, maka bisa dipastikan keduanya akan berakhir di rumah sakit, dengan rahang sudah berpindah dari posisi sebenarnya.


Membayangkan hal itu saja, sebagai wanita, serentak mereka bergidik ngeri.


Mia langsung menangkap tangan Noah dan menggandengnya. Setelah itu, sekali lagi dia memanggil Sally.


"Sally, ayo pergi ... "


Baru sekitar dua atau tiga detik berlalu, barulah Sally tersadar dan langsung mengangguk.


"Ya, ayo ... Sebaiknya begitu ... Ya, ya ... "


Saat ketiganya melangkah pergi, Jack di datangi teman-temannya.


"Jack, ada apa kawan? ... Kenapa kau melepaskan mereka, terutama bocah itu? Melihatnya saja, rasanya aku ingin menghancurkan wajahnya."

__ADS_1


Jack yang memiliki harga diri cukup tinggi langsung menyembunyikan rasa sakitnya. Sambil merapatkan gigi-giginya, dia berkata.


"Ah, itu ... Di memohon padaku. Jadi, aku melepaskannya. Begitulah ... "


Tentu saja semua orang langsung melihat padanya. Jack harus memundurkan sedikit kepalanya, karena tatapan mereka Solah sedang menodongnya.


"Hey, aku melepaskannya untuk saat ini saja. Lagipula, aku tertarik dengan gadis itu ... "


Jack yang melihat apapun yang dikatakannya tidak akan memberi pengaruh banyak, langsung berpikir cepat untuk mengubah topik. Dia melihat pada salah satu temannya di sana, dan langsung berkata.


"Kau ... Sejak kapan aku mengatakan bahwa kita berteman?"


Pemuda yang tadi bertanya, langsung terdiam. Selama ini, mereka memang sudah dekat. Namun, Jack seolah hanya menganggap mereka anak buah saja.


Apalagi, setelah beberapa waktu terakhir. Mereka semua berpikir Jack semakin sombong dan besar kepala.


"Oh, maaf ... Aku tidak sengaja mengatakannya, bos ... "


Jack tidak terlalu menghiraukannya. Dia hanya berusaha mengalihkan topik agar mereka semua tak lagi bertanya. Sekarang, dia menatap punggung pemuda yang berjalan dengan dua orang gadis bersamanya itu.


"Sial, siapa brengsek itu sebenernya?"


Sementara itu, Setelah melakukan registrasi ulang. Noah dan Mia memutuskan untuk sarapan di kantin universitas tersebut. Setidaknya, menurut Sally, kantin adalah zona bebas.


Dari hal yang di ceritakan Sally selama mereka terus berjalan dan kini duduk di sebuah meja di dalam kantin itu. Ada beberapa kelompok mahasiswa yang cukup memiliki pengaruh di universitas ini.


Mereka seolah menjadikan berapa tempat sebagai daerah khusus untuk kelompok mereka, dan menganggap kelompok lain yang sengaja masuk ke sana tanpa permisi, berniat memprovokasi.


Cukup mengejutkan. Jack yang tadi mereka temui yang terlihat memiliki rasa kepercayaan diri yang cukup tinggi itu, ternyata hanya kelompok kecil di antara kelompok lainnya.


Ada lima kubu yang memiliki pengaruh paling besar di universitas ini. Menariknya, ada dua kubu yang diketuai oleh wanita. Dan yang mengejutkan satu kubu dari dua itu baru saja terbentuk belum lama ini.


University Of HighCopper, adalah sekolah tinggi paling bergengsi di kota ini. Hampir seluruh anak-anak dari orang berpengaruh bisa dipastikan sedang menuntut ilmu di tempat ini.


Menyimak semua yang dikatakan Sally, Noah tersenyum. Tepat seperti dugaannya. Rencananya akan berjalan lancar jika dia memulainya dari sini.


"Noah, bukankah kau mengatakan bahwa dirimu mengenal seseorang di sini?"


Saat Mia bertanya, Noah baru mengingatnya. Dia sempat melupakan bahwa seharuSnya dia melakukan ini dengan orang itu. Namun sekarang, rencananya berubah.


"Ya, aku mengenal seseorang di sini ... Aku akan menghubunginya nanti."


Noah menatap keluar, membayangkan seseorang yang dia kenal di kampus ini. Sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya, dia bergumam.


"Aku penasaran, bagaimana dia saat ini."

__ADS_1


__ADS_2