World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Giliranku


__ADS_3

Alice ingin melangkah untuk memperingatkan Noah, namun Ted Bowie segera menahannya.


"Alice, jangan permalukan pemimpin kita."


Alice menoleh pada Old Ted dengan wajah marah. "Old Ted, ini sangat berbahaya. Tidak apa-apa kita kehilangan World Order. Tapi Noah ... "


"Alice, ini jalan yang dipilihnya. Jika kita tak mempercayainya, semua ini tidak ada artinya."


Alice langsung menelan ludah dan memejamkan mata. Apa yang dikatakan Ted Bowie sangat benar. Ini adalah dunia yang dipilih Noah dan mereka adalah pengikutnya.


Tidak ada cara yang mudah di dunia ini,


Setidaknya, meski sangat muda, Pemimpin mereka sedang berjuang di jalannya.


"Alice ... "


Old Ted sekali lagi menahan gadis itu saat dia kembali ingin melangkah. Namun, kali ini Alice membalasnya dengan tersenyum.


"Tidak bolehkah aku menyemangati pemimpin kita?"


Mendengar kata-kata Alice, Ted Bowie dan A4 lainnya tersenyum. Karena, memang tidak ada cara lain selain memberikan kepercayaan dan dukungan penuh saat ini.


Saat Alice mendekat, semua orang melihatnya. Berfikir bahwa gadis itu akan meminta Noah mengurungkan niat, Arlen bersuara memprotes.


"Alice, kau tidak bisa membatalkan ini ... Antony ... Kau sudah mengatakan aturannya,  bukan?"


Tidak memperdulikan kata-kata Arlen itu, Alice berdiri di depan Noah dan meletakkan kedua telapak tangannya di wajah pemuda itu.


"Noah, injak wajah orang itu ke tanah, seperti yang pernah kau katakan padaku ... !"


Noah tersenyum. "Aku pikir, kau akan mengatakan ini saat yang tepat untuk kita berciuman."


"Tidak, kita bisa melakukannya nanti, saat kau menepati janjimu, padaku ... "


Noah mengernyit heran. "Apa aku harus memberikan World Order padanya, agar kau tidak menciumku?"


"Ya ... Itulah pilihanmu ... "


"Hmm ... Cara memberi semangat yang aneh ... Tapi, menarik, kau akan tau pilihanku saat semua ini selesai."


Semua orang di sana mendengar apa yang dikatakan Alice pada Noah. Hal itu tentu saja membuat Ted Bowie dan A4 lainnya tersenyum menahan tawa.


Akan tetapi, tidak bagi Arlen dan anak-anak buahnya. Saat itu, dia merasa sangat diremehkan.


"Kumpulan orang-orang, gila ... !" Gumam Antony Reyes juga sambil menggelengkan kepala.


"Alger ... Buat bedebah itu hancur ... Sekarang majulah ... !"


Alger sudah melihat bagaimana cara Noah menendang. Itu sudah cukup baginya untuk mengetahui kekuatan lawan.


Pria berbadan besar dan tegap itu, tersenyum dan melangkah maju. Wajahnya, benar-benar meremehkan Noah.


"Baiklah ... Kalian sudah dengar aturannya dan—"


Belum sempat Antony menyelesaikan kata-katanya, Alger telah berlari dan langsung menerjang ke arah Noah.


"Alice ... !"


Noah langsung menarik Alice kesamping agar tidak terkena terjangan langsung Alger itu.


"Buk ... !"


Tubuh Noah langsung terpental dua meter kebelakang dan terus terseret di lantai karena menerima tendangan langsung dari Alger tersebut.

__ADS_1


"Yah ... Itulah aturannnya." Ucap Antony pasrah.


Sementara Alice yang terhuyung, langsung di tangkap Old Ted dan menariknya menjauh kebelakang.


"Noah ... !"


"Hahahahhahaha ... Bodoh sekali. Alger langsung selesaikan dengan cepat dan jadikan World Order milikku segera.  Hahahahaha ... !"


Noah langsung berdiri namun, Saat itu juga Alger sudah berada di dekatnya dan melayang satu lagi tendangan dari bawah ke arah wajahnya.


Dengan cepat Noah mendorong lantai dan berdiri untuk mengelak tendangan tersebut, dan langsung memberi pukulan balasan ke wajah Alger.


Alger tersenyum saat menyadari itu, dan berkata. "Seranganmu,  sangat mudah terbaca, Bocah ... !"


"Buk ... !"


Alger menangkisnya, dan saat itu juga senyumnya menghilang. Pria itu menyadari, pukulan Noah itu lebih kuat dari apa yang dia perkirakan.


Di belakang sana, Antony tersenyum.  "Kau terkejut? ... Aku juga." Batinnya.


Segera setelah serangan pertama, Noah langsung melayangkan tendangan dari samping yang di tahan Alger dengan mengangkat kaki dan menahan tendangan itu,  dengan sisi betisnya


Tidak cukup sampai di sana, Noah kembali memberi pukulan yang di arahkan ke wajah pria yang lebih tinggi darinya itu.


Saat Alger kembali mencoba menangkisnya, saat itu matanya melebar. Dia baru menyadari pukulan itu hanya pengalihan. Serangan sesungguhnya, datang dari bawah langsung menuju perutnya.


"Buk ... !"


Alger tertunduk sebelum lutut Noah terangkat hendak memberikan pukulan kewajahnya.


"Buk ... !"


Meski sempat menangkis, tapi hal itu memaksa Alger sedikit mundur kebelakang dan Noah sama sekali tidak membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja.


"Braaaaaaakkkkkk ... "


"Peraaaaannnngggggg ... !"


Tubuh besar pria itu, dipaksa mundur dan menabrak sebuah kabinet yang berisi banyak barang.


"Hmm ... Nanti aku akan menghitungnya ... Sepuluh juta untuk satu benda. Kau ingat?"


Kata-kata Antony, membuat Arlen murka dan berteriak pada Alger.


"Apa yang kau lakukan, Kau F**kin Bodoh?! ... Habisi pemuda brengsek itu, jangan bermain-main, bangsat ... !!"


Alger berdiri dan menarik nafas panjang. Tau kesalahannya, bahwa sejak awal dia  terlalu meremehkan lawannya.


"Sial ... Ternyata kau cukup tangguh, bocah."


Noah menggeleng. "Tidak, aku tidak setangguh itu. Tapi, terimakasih sudah memujiku ... "


Alger mengangkat kedua tangannya yang sudah terkepal, ke depan dada. Kakinya langsung memasang kuda-kuda siap menyerang.


"Aku akan serius sekarang, matilah kau ... !"


Saat itu, mata Noah melebar.  Tau bahwa serangan Alger sudah tidak seperti tadi. Namun, dia berusaha menangkis dan menghindari beberapa.


Namun, Alger tidak hanya sampai di sana. Kali ini, setiap Serangannya membawa beban lebih berat yang membuat Noah merasakan sakit di tangan dan kaki saat menahannya.


Serangan-serangan itu semakin cepat saja setiap kali Alger melancarkannya. Dengan satu gerakan tipuan darinya, Noah lengah.


Sebuah tinju dengan kekuatan yang luar biasa, sukses mendarat di wajah Noah dan langsung membuatnya terhuyung kebelakang.

__ADS_1


Hal itu membuat Alice dan yang lainnya cemas. Bahkan Ted Bowie juga. Dia tau bahkan jika dirinya yang menerima pukulan tersebut, maka ada kemungkinan dia akan kehilangan kesadarannya.


Sama seperti yang di lakukan Noah padanya, Alger tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.


pria itu langsung mengejar Noah dan Dengan sekuat tenaga, satu pukulan lagi mendarat di perut Noah.


"Buuk ... !"


"Uhuk ... Uhuk ... !"


Seteguk darah batu saja dimuntahkan Noah dari mulutnya ke lantai ruangan itu. Segera dia menggelengkan kepala, agar cepat mendapatkan kesadarannya yang terasa membuyar.


"Matilah kau, bangsat!"


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


Alger langsung melayangkan dan menghujani banyak pukulan dan tendangan pada Noah.


Noah dapat merasakan Serangan yang bertubi-tubi itu, sukses mendarat di bagian mana saja yang tergetkan pria itu padanya.


"Hiyaaaaa ... !"


"Bruuuuuukk ... !"


Tubuh Noah terpental beberapa meter setelah tendangan Alger mendarat tepat di dadanya.


"Praaaaaaangg ... !"


Sebuah Kabinet berbahan kaca di pinggir ruangan itu baru saja hancur, Saat tubuh Noah mendarat di sana.


"Rasakan itu ... Ini sudah berakhir, Bocah!" Ucap Alger, bangga.


Dilihat darimana saja, tentu saja itu sudah berakhir. Sebelum mendarat di puing-puing kaca, Tubuh Noah telah menerima banyak pukulan keras dan berakhir dengan sebuah tendangan keras yang menerbangkannya ke sana.


Sekarang, tidak hanya lebam-lebam. Tubuh pemuda pemimpin World Order itu, bersimbah darah akibat luka-luka yang dia dapat dari goresan-goresan kaca. Dan sebagian luka itu terlihat cukup dalam.


Noah diam terlungkup dan terlihat sudah tidak bisa bergerak lagi.


"Ini benar-benar Sudah berakhir ... Hahahahahahaha ... !" Ucap Arlen bangga.


Semua orang merasakan hal yang sama. Bahkan Alice dan yang lainnya, tidak percaya akan berakhir secepat dan setragis ini.


Namun ternyata tawa Arlen itu, tidak bertahan lama. Karena, sebuah suara batuk, langsung menghentikannya.


"Uhuk ... Uhuk ... !"


Saat itu, mereka melihat Noah masih bergerak, dan tengah berusaha berdiri.


"Oh **** ... Uhuk ... Kau kuat sekali ... Uhuk ... Orang tua."


Alger tertegun saat melihat lawannya yang kini, telah kembali berdiri tersebut.


Namun, yang membuat jantungnya tiba-tiba berdetak sedikit keras adalah, Pemuda di depannya itu, sekarang malah tersenyum padanya.


"Hehe ... Tapi Kau tau aturannya, bukan? ... Kau harus benar-benar membunuhku, barulah ini bisa dikatakan berakhir ... "


Sesaat setalah dia mengatakan itu, senyuman Noah, berubah menjadi sebuah seringai.


"Bersiaplah ... Sekarang, Giliran ku ... !"

__ADS_1


__ADS_2