
Tidak ada lagi suara di seberang sana, Noah menutup ponselnya. Yang dia lakukan setelah itu hanyalah kembali membaca.
Akan tetapi, ketenangan itu tidak lama. Dua orang yang beberapa waktu ini tidak terlihat, kembali muncul di depannya.
"Yo, Noah ... Sepertinya, kau menikmati profesi barumu hingga jarang datang ke kampus."
Noah mendongak dan menemukan Greg dan Leyton sedang berdiri di seberang meja dengan kedua tangan, terlipat di dada.
"Greg, apa sekarang kau menjabat sebagai ketua staff kedisiplinan fakultasku? ... Kalau begitu, pasti pemuda di sebelahmu ini wakilnya, bukan?"
Wajah angkuh kedua pemuda itu langsung berubah kesal, mereka tidak menyangka beberapa minggu saja tidak bertemu, Noah sudah berubah semakin berani.
"Greg, aku rasa kau benar. Kita harus memberi pecundang ini, pelajaran."
Mendengar itu, Noah mendengus. "Oh, ternyata benar. Leyton, Pelajaran apa yang ingin kalian berikan padaku?"
Keduanya benar-benar dibuat mencapai batas mereka. Hingga akhirnya, Greg tidak tahan lagi untuk tidak mengatakannya.
"Mother F**ker ... hanya karena kau berhasil menjadi budak Alice Sanders, bukan berarti kau bisa bicara seperti itu pada kami, kau tidak tau bagaimana dunia ini ber—"
"Greg, aku penasaran. Jika ayahmu tidak ada, akan menjadi apa dirimu?"
Kesal karena kata-katanya di potong, Greg kembali menggeram. "Bajingan, jaga mulutmu. Kau fikir kau mengenal ayahku?"
Noah hanya mencibir meremehkan dan menoleh pada Leyton. "Kau ... Akan jadi apa kau jika keluargamu sangat miskin?"
"Kau ... Sial, mati—"
"Buk ... !"
Saat Leyton menunjuknya, Noah langsung menarik tangannya dan menangkap kepala pemuda itu, sebelum akhirnya membenturkan wajahnya pada meja.
Kejadian yang begitu cepat, sehingga orang lain tidak menyadari hal tersebut, sehingga hanya terdengar seperti tumpukan buku tebal yang di taruh dengan sedikit kasar di atas meja saja.
Mata Greg melebar karena terkejut melihat apa yang baru saja terjadi.
"Noah, apa yang kau—"
"Buk ... !"
Detik itu juga, Wajah Greg mengalami hal yang sama. Saat ini, dengan tangan masih menekan kedua kepala pemuda itu di meja, Noah menunduk dan bicara setengah berbisik.
"Pikirkan kata-kata ku ini, karena sebentar lagi kalian akan membutuhkannya ... Akan jadi apa kalian, jika keluarga kalian begitu miskinnya?"
Setelah mengatakan itu, Noah pergi meninggalkan dua orang yang kini separuh badan mereka tergelatak di atas meja perpustakaan.
Membunuh mereka mungkin saja Noah lakukan. Itu akan sangat mudah saat Albert Hall yang mengurus sisanya. Namun, tidak begitu. Noah ingin mereka merasakan hidup dalam kemiskinan karena Itu akan jadi neraka untuk keduanya.
__ADS_1
Noah paling benci orang-orang yang hidup hanya dengan membanggakan keluarganya. Karena sejak awal, Noah tidak tau rasanya memiliki keluarga.
****
Sementara itu, Di gedung perusahaan milik keluarga Fargo, Arlen menjadi tambah panik.
Benar-benar jauh dari apa yang mereka duga. Namun, mungkin saja memang seperti itu dan kemungkinan itu semakin besar.
"Dia bilang begitu? ... "
"Begitulah, Tuan Muda."
Mendengar penjelasan Alger, Arlen memang merasa ada yang aneh dengan Noah. Saat ini, hati kecilnya mulai mencurigai bahwa pemuda itulah The Ghost. Pemimpin dari World Order.
"Tuan Muda, aku rasa sebaiknya anda menghubungi keluarga Fane dan Kingston. Minta mereka untuk sementara tidak menerima pesanan apapun setidaknya dari World Order. Dengan begitu, kita tetap bisa menekan World Order karena tidak mendapatkan kebutuhan mereka."
Gagasan Alger seolah membawa angin surga pada Arlen. Saat itu, dia langsung tersenyum "Kau benar, bahkan, jika aku akan membayar kerugian mereka selama itu."
Tak lengah, Arlen langsung mencoba menghungi William.
"Arlen?"
"William, aku tidak bisa berbasa basi. Tapi telah terjadi sesuatu di Silverstone dan aku butuh bantuanmu dan juga Dale."
Arlen langsung menjelaskan konflik yang sedang dia dan keluarga Fargo alami dengan Jaringan World Order.
Arlen meminta agar William dan Dale, sebagai pemilik perusahaan Distributor tidak menerima pesanan dari World Order.
Akan tetapi, jawaban William sangat Mengejutkannya.
"Arlen, tawaranmu sangat bagus. Tapi, akhir-akhir ini, tidak ada satupun orang-orang dari World Order menghubungi kami, untuk melakukan pesanan barang apapun."
"William, jangan bercanda. Aku tau bahwa Mereka melakukannya."
"Tidak, aku tidak bercanda soal itu. Lagipula, Arlen ... Jika memang itu terjadi, saat ini aku dan Dale tetap tidak bisa membantumu."
"Kenapa? ... Bukankah Jaringanku dan keluarga kau juga Dale berhubungan baik? Apa terjadi sesuatu dengan kalian?"
Saat menanyakan hal tersebut, entah kenapa Arlen semakin cemas.
"Ya, terjadi sesuatu di sini ... Salah satu Raja jalanan mendirikan perusahaan baru dan berinvestasi sangat besar pada perusahaan kami. Jadi, walaupun kami bersedia, tentu saja saat ini kami tidak bisa melakukan apapun untuk membantumu."
Mata Arlen melebar. Saat itu, dia langsung menyimpulkan sesuatu. "William, apakah yang mendirikan perusahaan itu the Ghost?"
"The Ghost? ... Siapa itu?"
"Kau tidak tau siapa the Ghost?"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak tau siapa dia. Tapi, sebaiknya, jika kau tidak mau bermasalah dengan jaringan keluargaku dan Dale, jangan mencari masalah dengan orang ini. Ini bukan ... "
"Praaang ... !!"
Arlen tak mendengar lagi Kata-kata William karena dia baru saja membanting ponselnya ke dinding.
Saat itu, dia menyadari bahwa dia sudah salah langkah sejak awal. Meski yakin William tidak berbohong, tapi Arlen yakin bahwa orang yang mendirikan perusahaan itu adalah the Ghost dari World Order.
"F**K ... !!"
Saat ini, dia tau bahwa dia sudah kalah dalam permainan ini. Arlen menyesal kenapa tidak sejak awal dia yang mengambil alih perusahaan distributor tersebut.
Jelas dialah yang sudah dipermainkan disini. World Order benar-benar berada beberapa langkah di depannya.
"Dua bajingan itu ... "
Alger yang menyadari bahwa pembicaraan bis nya dengan William tidak menuai hasil baik, bertanya ragu.
"Tuan Muda, ada apa?"
Arlen berdiri dan berteriak keras.
"Jemput dan paksa kedua bajingan tua Luis knox dan luke Norman sialan itu kemari, sekarang juga ... !!"
Arlen yakin kedua orang itulah yang mengkhianati dirinya. Terutama Luke Norman.
Menurutnya, semua data pemesanan kebutuhan World Order yang diberikan Luke Norman pada keluarga Fargo, palsu.
"Baik ... Aku akan melakukannya!"
Alger langsung menghubungi seseorang untuk menjemput paksa dua orang yang disebutkan oleh bosnya tadi, saat itu juga. Dia sudah tau bahwa semua tidak sesuai rencana keluarga Fargo.
"Baiklah, jika cara ini tidak berhasil, maka aku akan memakai cara lama."
Setelah Alger selesai berbicara di telfon, Arlen langsung memberinya perintah.
"Alger, siapkan orang-orang. Kita akan menyerang World Order langsung ke kandang mereka."
"Tuan Muda, mereka bukan orang yang bisa—"
"Lakukan saja yang aku perintahkan, kau F**kin bast**d ... !!"
Pemimpin cabang jaringan kekuarga Fargo di Silverstone itu, sudah sangat prustasi.
Arlen benar-benar sudah tidak peduli lagi akan dampak besar apa yang akan terjadi, jika dia menyerang langsung World Order seperti itu.
Bentrokan langsung dua Jaringan Mafia, tidak pernah berakhir sebelum salah satu pihak benar-benar hancur. Tentu saja dia tau itu.
__ADS_1
Akan tetapi, Baginya saat ini yang terpenting adalah, memaksa The Ghost keluar dari persembunyiannya, dengan menghancurkan kantor pusat World Order.
"The Ghost sialan itu ... Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri ... !"