World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Saat Ini Kau Milikku


__ADS_3

Noah bisa saja membawa Lucy kerumahnya di DevilHill. Atau memberi gadis itu satu kamar mewah di salah satu hotel di Silverstone, yang sekarang sudah menjadi milik World Order.


Akan tetapi, dia tidak bisa melakukannya. Gadis ini pasti akan bertanya dan Noah tidak akan punya waktu untuk menjelaskannya.


Sekarang di sinilah mereka berada. Sebuah hotel yang tidak begitu besar, namu. Juga tidak bisa di bilang kecil.


"Lucy ... Mulai saat ini, tinggallah di hotel ini. Aku akan mengunjungimu beberapa waktu ke depan."


Di depan pintu kamar itu, Lucy tampak ragu. Dia memikirkan berapa biaya yang akan dihabiskan Noah, hanya untuk memberinya tempat tinggal saja.


"Noah, aku masih bisa tinggal di asrama ... Aku, bisa menyembunyikan ini ... Dan, jika bisa aku—"


"Lucy ... Aku tau kau gadis yang baik. Jadi, jangan berubah hanya karena kau pernah melakukan kesalahan. Anak yang ada di dalam perutmu itu, tidak melakukan kesalahan apapun. Mengerti?"


Setiap kalimat yang terlontar dari mulut Noah, membuat Lucy semakin merasa kehilangan. Saat ini, dia benar-benar merasa kehilangan separuh bahkan seluruh dirinya.


Noah begitu mengenalnya, bahkan melebihi dirinya sendiri. "Noah ... Aku ... Kau, kenapa begitu baik padaku?"


Lucy tidak bisa menahan air matanya. Ingin sekali rasanya dia memeluk pemuda itu, sekali saja. Namun, dia terlalu malu untuk melakukannya.


Akan tetapi, Noah tetaplah Noah. Sebuah tangan menarik tubuhnya. Kini sebuah tangan mendekatkan kepalanya pada dada pemuda itu, menyandarkannya di sana.  kehangatan ... Itulah yang Lucy rasakan sedang mengalir di sekujur tubuhnya.


"Lucy, Dengarkan aku ... mungkin kita tidak akan bisa kembali seperti dulu. Tapi, bukan berarti aku harus selalu marah, kecewa atau membencimu. Kita tumbuh dan belajar banyak hal bersama. Sesuatu telah terjadi  dan kita hanya bisa terus melangkah. Aku sudah menentukan tujuanku, dan sekarang giliranmu."


Lucy hanya bisa menangis di dalam dekapannya. Noah terlalu mengerti gadis ini. Bagi Noah, dia hanyalah korban dari ketidak Adilan dunia. Setiap orang ingin bahagia, namun Gadis dalam dekapannya ini, melakukan kesalahan saat ingin meraihnya. Dia tidak ingin menyalahkan gadis ini, apalagi dalam keadaan seperti ini.


"Lucy ... aku ingin kau menjaga kesehatanmu dan anak itu ... Jika kau butuh sesuatu, hubungi aku, mengerti? Kita, akan mencari cara untuk memberi tahu keluargamu nanti."


Setelah keluar dari hotel itu, Noah mengirimkan beberapa ribu dollar pada rekening gadis itu. Bahkan, dia belum bisa melupakan nomer rekeningnya. Noah tersenyum, saat mengingat betapa dulu dia tergila-gila pada gadis itu.


Setelahnya, dia menghubungi Alice, untuk menjemputnya.


"Kenapa kau bisa ada di hotel itu? ... Apakah terjadi sesuatu?"


Baru saja mobil itu berjalan meninggalkan hotel, di jalan Raya Alice yang terkejut saat mengetahui bahwa Noah sudah berada di Silverstone, merasa heran kenapa pemuda ini bisa berakhir di depan sebuah hotel, dan mintanya untuk menjemput.


"Ya, terjadi sesuatu dan aku mengurusnya."

__ADS_1


Sebuah jawaban yang tidak begitu memuaskan. Tapi, Alice tidak ingin bertanya lebih dalam. Fakta Noah akhirnya kembali ke sini saja, sudah membuatnya senang.


"Lalu, kemana kita sekarang?"


Noah menatap Alice dan tersenyum. "Pulang!"


Mendengar itu, Alice sudah tau kemana tujuan mereka. Jadi, dia tidak bertanya lebih jauh. Lagipula, untuk itu tempat tersebut didirikan. Sekarang, sang pemiliknya sudah kembali.


Porsche hitam Lucy memasuki Mandor super mewah yang hanya sempat di diami. Noah beberapa hari saja. Letaknya yang tersembunyi, memberi kesan yang sejalan dengan pemiliknya.


Baru kali ini Noah sempat memperhatikan rumah itu. Dia berjalan ke depan, dan melihat sebuah lembah terhampar tepat di depan Mandor miliknya itu.


"Aku baru menyadari, bahwa rumah ini tenyata besar sekali ... "


Alice yang menyusul di belakangnya, tersenyum. "Apa kau menyukainya?"


Noah melirik pada Alice sebentar, lalu kembali menatap jauh ke ujung lembah, lalu melihat ke langit senja.


"Ya, aku menyukainya dan ... Terimakasih karena telah menjadikannya ada, untukku."


Pemuda yang dulu hanyalah seorang pekerja patuh waktu di Klub miliknya, kini berubah menjadi seseorang yang sudah menguasai beberapa kota.


Hal yang sulit di percaya, jika orang lain mendengar ceritanya. Namun, pemuda ini juga telah membuatnya menjadi wanita bahkan manusia yang jauh berbeda.


"Noah ... Seberapa tinggi kau akan pergi?"


Noah tidak langsung menjawab, namun dia coba memikirkan apa yang sedang ditanyakan wanita yang sejak awal bersamanya itu.


"Aku tidak tau ... Tapi, situasi membuatku harus selalu bergerak ke atas, atau aku akan mati ... "


Kata-kata itu, sama sekali Noah katakan bukan untuk terlihat hebat. Akan tetapi, itulah kondisinya saat ini.


Sebuah sistem yang ada di dalam dirinya, membuatnya berada dalam situasi seperti itu.


"Jika begitu ... Teruslah hidup, sampai kakimu menginjak tangga terakhir di dunia ini ... "


Noah tersenyum, dan berbalik menoleh pada Alice yang kini menatapnya.

__ADS_1


"Itulah rencanaku ... !"


Alice membalas senyumannya, dan menjawab. "Sertakan aku selalu, dalam rencanamu itu ... !"


Setelah mengatakan itu, Alice melihat Noah merentangkan tangannya. Dia sempat mengernyit heran, sebelum akhirnya pemuda itu bersuara.


"Kemarilah ... Nona Alice Sanders! Sepertinya ini waktu yang tepat untukku, memelukmu."


Saat itu juga Alice tersenyum lebar, datang dan menyambut pelukan pemuda itu. Dan tak berapa lama, dia mendengar Noah kembali bersuara.


"Kau, selalu ada dalam setiap rencana ku ... Sejak awal, bukankah selalu begitu?."


Alice tersenyum dan memeluk pemuda itu lebih erat.


"Jadi, apakah kau berencana tidur dengan seseorang malam ini? ... "


Pelukan itu tidak terlepas begitu saja, saat Noah terdiam, Alice sedikit berjinjit dan langsung mencium bibir pemuda itu.


Entah kenapa, hari ini Noah sama sekali tidak berniat mengelak. Sekali lagi, Lucy sudah membuka pikirannya. Dia tidak perlu menahan diri, hanya karena hal-hal buruk yang pernah dia lalui.


Noah mengangkat tubuh Alice tinggi, hingga memudah wanita itu untuk terus memberikannya ciuman yang awalnya lembut, kini menjadi panas.


Hal itu berlangsung setidaknya selama beberapa menit, hingga Alice melepasnya. Nafas keduanya memburu.


"Kita akan melakukannya di sini, atau di dalam? ... "


Noah tersenyum. "Menurutmu ...?"


"Terserah ... Lagipula, Aku tidak perduli!"


Setelah itu, Alice kembali mencium bibir pemuda itu. Dia Bahakan tidak peduli saat merakan Noah sudah mulai berjalan.


Alice tersentak, saat Noah meletakkan tubuhnya di atas sofa di ruang tengah Mandor yang sangat besar itu.


Dia sempat berpikir sejenak, namun saat menyadari tidak ada orang di sini. Setidaknya untuk saat ini, dia tersenyum menggoda.


"Noah Evans ... Saat ini, kau milikku ... "

__ADS_1


__ADS_2