
Barbara yang tadi juga tidak mampu bereaksi, tiba-tiba berteriak dengan sangat keras.
Namun, anggota yang dia perintahkan tersebut, tidak bergerak seperti apa yang dia inginkan.
Kesal, Barbara kembali berteriak panik. "F**k ... aku bilang lepaskan talinya sekarang, kalian son of a Biitch ... "
Sebenarnya, mereka mendengar sangat jelas apa yang di perintahkan bos mereka tersebut. Namun, bukan itu masalahnya.
Tentu mereka akan dengan senang hati melepas talinya jika memang itu yang terbaik yang bisa mereka lakukan saat ini.
Hanya saja, tatapan dari sepasang mata yang kini menatap tajam pada mereka berempat, menegaskan sebaliknya.
"Lepaskan, jika kalian berfikir itu yang harus kalian lakukan, brengsek ... "
Keempatnya langsung menggelengkan kepala mereka saat mendengar Noah mengatakan hal tersebut.
Menurut mereka, saat ini skenario sandera yang berada ditangan mereka dan target akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya itu, hanya ada dalam cerita film saja.
Karena saat ini, situasinya sangat jauh dari hal tersebut. Terget mereka benar-benar sangat berbahaya, dan level bahayanya, jauh dari berita tentang apapun yang pernah mereka dengar sebelumnya.
Saat ini, mereka masih merasa memiliki kesempatan hidup, jika mereka memastikan sandera tetap hidup.
Karena jika mereka melepasnya hingga terjatuh kebawah, maka sudah bisa dipastikan pemuda gila yang kini menatap mereka itu, tidak akan berfikir sama sekali untuk datang dan menendang mereka semua kebawah juga.
Noah menganggukkan kepalanya, "Tidak buruk ... setidaknya, daripada mereka semua, kalian masih sedikit memiliki otak di kepala kalian ... "
Secara tidak sadar, mereka mengangguk bersamaan. Apa yang mereka pikirkan sebelumnya ternyata benar. Tiket mereka untuk selamat pada situasi ini, tentu saja seperti itu.
"Doooor ... !"
Suara ledakan dari senjata api, tiba-tiba menggelegar di udara. Suara yang sangat besar itu, mengejutkan semua orang di sana.
Noah reflek berbalik untuk memastikan. Dan benar saja, saat itu dia melihat tangan Barbara sedang mengacungkan senjata ke atas, dengan senjata yang masih mengeluarkan asap tanda satu tembakan baru dilepaskan.
"Sial ... Sial ... Sial ... ! Lepaskan tali itu sekarang juga, kalian pengecut, bajingan ... "
Barbara benar-benar terlihat marah dan panik. Wanita itu sekarang menunjuk-nunjuk dengan senjata di tangannya.
Namun, perintahnya tetap tidak didengar oleh anggotanya tersebut.
"Doooor ... !"
Empat orang yang tadi memegang tali, sesaat sebelum tembakan dari senjata ditangan Barbara itu meledak, mereka langsung melepasnya dan berlari menjauh dari sana. Hal itu karena ke arah merekalah senjata itu diarahkan.
Reflek Noah berlari mengejar tali yang bergerak sangat cepat itu. Melihat tali semakin mendekat pada tepian bangunan, Noah melompat meraihnya.
Meski sempat menangkap tali itu, namun tubuhnya ikut terseret sekitar dua meter, sebelum akhirnya dia bisa berbalik dan menahan daya luncur tubuhnya itu dengan kaki, yang membuatnya langsung dalam posisi menahan kejatuhan Acton.
"Sial ... "
Noah mengumpat, sambil menahan panas. Itu karena meski bisa menahan, namun tali ditangannya masih meluncur di genggamannya hingga akhirnya dia benar-benar bisa menggenggam erat dan tali itu oun berhenti. Akan tetapi, Hal itu membuat Noah bisa merasakan telapak tangannya melepuh.
Noah bisa melihat sedikit kebawah, sebelum sebuah suara memaksanya harus membalikkan badannya.
"F**k ... Kau ... Kau ... "
__ADS_1
Saking kesalnya, Barbara tidak bisa merangkai kata-katanya sendiri. Sebenarnya, Barbara memang tidak tau harus mengatakan apapun dengan situasi yang sudah menjadi seperti saat ini.
"Kenapa kau mempersulitnya, bajingan ... "
Noah memindahkan tali ditangannya yang melepuh ke tangan lainnya. "Mempersulit? ... Aku hanya mengurangi jumlah kalian, itu akan semakin memudahkanku ... "
"Dorrrr ... "
"Argghhh ... "
Paha Noah baru saja tertembak. Senjata di tangan Barbara benar-benar tidak hanya dipakai sebagai ancaman saja.
Noah, langsung berlutut dan memegang paha dengan tangan yang tadi melepuh.
"Sial ... Kau, B***h ... "
Barbara tidak lagi menanggapi kata-kata Noah. Karena saat ini, itu sudah tidak penting lagi, dia hanya memerlukan tanda tangan Noah, dan mengakhiri semuanya saat itu juga.
"Aku akan membiarkan Acton hidup, jika kau menanda tangani berkas-berkas itu, bocah sialan ... "
Tentu saja Barbara sudah tidak perlu menyembunyikan maksudnya untuk tetap membunuh Noah, meski pemuda yang membuatnya seperti ini, menandatangani berkas-berkas tersebut.
"Kenapa penawaranmu berubah, B***h ... ?"
Tanggapan Noah semakin membuat kepala Barbara terasa akan meledak. Wanita yang sudah seperti orang gila itu, mengacungkan senjata ditangannya langsung ke kepala Noah.
Tau bahwa Noah tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti kata-katanya, Barbara berbalik dan menatap pada seseorang.
"Lakukan, brengsek ... "
Dia menelan ludah sebelum akhirnya mulai melangkah mendekat dengan keraguan. Kejadian yang baru saja dia lihat, benar-benar menghancurkan nyalinya.
Saat berjalan, dia sama sekali tidak berani menatap mata Noah. Bahkan, saat berkas itu dia julurkan pada pemuda tersebut, kepalanya masih tetap menunduk.
Satu dengusan dari Noah saja, bisa membuatnya terkejut. Dan saat Noah berbicara padanya, dia sempat beringsut mundur sedikit kebelakang.
"Aku tidak ingat dimana aku menjatuhkannya ... "
"Hah?"
Orang itu mau tak mau mengangkat wajahnya, dan menatap Noah. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang di katakan pemuda itu.
"Pulpen ... Aku tidak, ingat dimana menjatuhkannya ... "
Orang itu langsung terdiam, saat Noah mengatakan hal itu. Namun, dia dikejutkan oleh teriakan Barbara yang juga berdiri di dekat nya.
"Bajingan, ... Berikan dia pulpen, bodoh!"
"Oh, iya ... Iya ... "
Bergegas dia meraba-raba jas yang dipakainya mencari-cari dimana dia menaruh benda itu, dengan perasaan panik.
"Di sakumu ... "
Kembali dia terdiam dan menatap pada Noah, dengan kening berkerut dan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Oh F**k ... Kenapa aku dikelilingi pria-pria bodoh dan pengecut seperti ini ... Dia bilang benda sialan itu ada di saku jasmu, brengsek ... "
Teriakan itu langsung menyadarkan orang tersebut. "Oh, iya ... Ternyata di sini ... Ini Tuan, silahkan."
Saat Barbara berteriak, Lil briley dan ketua-ketua Jaringan yang tersisa tidak kauh dari sana, sebenarnya merasa tersinggung. Akan tetapi, tentu saja merwka tidak bisa membantahnya.
Harus mereka akui, meski wanita, Barbara memang memiliki nyali jauh di atas mereka.
Lil tua dan yang lainnya, bisa saja saat ini telah meregang nyawa karena pemuda gila yang kini kembali terdesak itu, jika Barbara tidak langsung bertindak, dan membalikkan situasi.
Noah menatap Pulpen yang kini di sodorkan krang itu padanya. Dengan nafas terengah, menahan sakit dari lubang yang di sebabkan peluru yang kini bersarang di tubuhnya, Noah kembali berbicara.
"Kau ... Berapa beratmu?"
"Hah?"
"Katakan, berapa berat tubuhmu?"
Meski ketakutan, tapi pertanyaan yang diulang Noah itu, terasa tidak terlalu sulit untuk di jawabnya.
"Delapan puluh tujuh ... " Jawabnya, Ragu.
Saat itu juga, dia melihat Noah mengangguk dan kembali berbicara.
"Bagus ... terimakasih dan Maaf, sepertinya wanita ini, akan secara tudak sengaja membunuhmu ... "
Belum sempat orang itu ataupun Barbara bereaksi karena ucapannya itu, Noah sudah kembali bergerak dan menarik orang tersebut kedepannya.
Barbara yang terkejut, reflek menembakkan senjatanya begitu saja. Peluru yang dilepas senjata itu, memecah tengkorak orang tersebut.
Akan tetapi, Noah bergerak tidak hanya sampai di situ saja. Dengan cepat, dia mengikatkan tali di tangannya, pada tubuh yang tak lagi bernyawa itu, dan mendorongnya kepinggir atap gedung tersebut.
Saat itu juga, jasad itu tertarik dan terlempar sebelum akhirnya meluncur kebawah. Dengan begitu, Noah yang sudah memperhitungkan berat badan orang itu melebihi berat tubuh saudaranya, langsung mengangkat tubuh Acton kembali ke atas.
Barbara yang panik, menembakkan sekali lagi senjata yang ada di tangannya. Namun, semua telah terlambat. Karena Noah tidak lagi berada di sana.
Barbara tak sempat berpikir saat dia merasakan tangan seseorang menggenggam tangannya yang memegang senjata. Dia menyadari Noah sudah berdiri, dan pemuda itulah yang melakukannya.
Kalah kekuatan, Barbara tidak bisa melawan saat Noah mengarahkan senjata moncong senjata itu, tepat ke dagunya.
Waktubterasa terhenti bagi satu-satunya wanita dari semua ketua Jaringan Mafia di kota BronzeLand tersebut, saat mendengat Noah mengatakan sesuatu padanya.
"Bunuh dirimu sendiri, Bitcchh ... "
"Dor ... "
Tembakan itu, menembus kepala Barbara, hingga memecah tengkorak atas kepalanya.
Semua ketua Jaringan termasuk Lil Briley, menyaksikan otak Barbara baru saja berhamburan di udara.
Akan tetapi, hal itu belum seberapa. Maslah sesungguhnya, bukan itu.
Sekarang, pemuda yang menjadi mimpi buruk bagi seluruh Jaringan Mafia di BronzeLand itu, kini berdiri menatap mereka tajam, dengan sebuah senjata di tangannya.
"Sudah aku katakan, bukan? ... Kalian semua, akan mati ... Brengsek ... "
__ADS_1