
William tak menjawab, namun langsung menarik Dale untuk mengejar Noah.
"Hei ... Ada apa?"
Tak menghiraukan pertanyaan Dale, William berteriak memanggil Noah.
"Noah, sebaiknya kita menyiapkan rencana ... "
Saat berteriak, William dan Dale melihat Noah sudah masuk ke salah satu mobil anggota mereka dan langsung melakukan Manuver sebelum akhirnya melesat keluar dari halaman rumah itu, menuju jalan raya.
Saat sampai di luar dan berniat mengejar Noah, William baru menyadari satu hal. Dia mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang ada di halaman rumah tersebut.
Hal tersebut membuat Dale merasa heran. Pasalnya saat ini Noah semakin menjauh, sementara William berdiri terpaku di depan pintu mobilnya.
"William ... Ada apalagi?"
"Dale ... Sepertinya, kita tidak bisa menyusulnya sekarang."
Saat mendengar itu, Dale juga melihat William sedikit mengangkat dagunya menunjuk arah kemana sekarang temannya itu melihat.
Saat Dale berbalik, dia juga baru menyadari bahwa di sana tidak hanya ada anggota mereka saja. Akan tetapi, ada ratusan anggota yang sebelumnya mereka duga adalah anggita dari Jaringan keluarga Fargo, yang dipimpin Paul yang mereka lihat sebelumnya.
"Siapa orang-orang ini?"
William menggelengkan kepalanya, lalu menjawab. "Jika mereka bukan anggota Paul, maka sudah bisa dipastikan siapa mereka, bukan?"
Seluruh anggota keluarga Faust sedang berdiri di halaman menatap keduanya, tampak kebingungan.
Tentu saja begitu. Karena mereka baru saja di beritahu oleh Paul Fargo bahwa dominasi bos mereka di Bronzeland, telah berakhir.
Oleh karena itu, sekarang mereka seperti kehilangan tujuan. Dan tetap berada di sana, sampai seseorang memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi, hingga mereka tau apa yang harus dilakukan ke depan.
Tau bahwa ada sesuatu yang harus mereka urus terlebih dahulu di sini, William maju mendekat dan bertanya.
"Siapa pemimpin kalian? ... "
Sementara itu, di markas The Ravens, Seluruh anggota Jaringan Keluarga Briley, sudah terikat. Namun, tidak ada Kurt di sana.
Tidak ada yang tau apa yang terjadi dengan Kurt, setelah Bearice dan Franky membawanya dalam keadaan babak belur dan setengah sadar.
Aiden dan Mia yang sempat melihat bagaimana cara keduanya memberi pelajaran pada pria itu, yakin bahwa apapun yang akan Bearice dan Franky lakukan, itu akan berakhir sangat buruk bagi Kurt Briley.
"Di mana Tuan Evans?"
"Nona, kau bertanya pada siapa?"
__ADS_1
Mia melihat seorang wanita yang datang entah dari mana, sambil mengedar-ngedarkan pandangannya seperti mencari seseorang.
Dari raut wajah wanita cantik itu, terlihat jelas bahwa dia panik dan sangat terburu-buru.
"Siapa saja ... Aku ingin tau, dimana Tuan evans sekarang."
Aiden yang juga baru sampai di sana, dan melihat adiknya berbicara dengan seseorang, langsung berbalik.
"Nona, aku Aiden ... Bisa kau katakan urusan apa kau datang mencari ketua kami?"
Meski sedang panik, wanita itu mengernyitkan dahinya, heran.
"Aku Myra, Tuan Evans mengenalku ... Ada yg harus aku sampaikan padanya."
Tentu saja Myra merasa heran. Meski tidak terlalu mengenal seluruh anggota the Ravens, tapi dia cukup akrab dengan wajah-wajah petinggi gangster tersebut.
Setidaknya, sebelumnya dia mengenal Dax. Tapi sekarang yang tampak memimpin gangster ini, dia yakin bukan orang dari Bronzeland.
"Aku Myra ... Jika kau mengetahui dimana dia, Katakan pada Tuan Evans, untuk tidak datang jika Barbara Cadman menghubunginya ... "
Gadis ini jelas mencemaskan Noah. Baik Aiden Ataupun Mia sudah menyadari hal itu sejak kedatangannya.
Akan tetapi, dengan tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, tentu saja hal itu membuat keduanya penasaran.
Apalagi sejak kedatangannya serta nada bicaranya, mereka yakin apa yang dikatakan Myra pada mereka bukanlah sebuah permintaan, melainkan peringatan.
Myra yang melihat Aiden mencoba menelfon, kembali bicara. "Jika ponselnya Aktif, aku bisa langsung menghubunginya sendiri ... "
Hal itu membuat Aiden tertegun dan langsung berfikir. Setelah beberapa lama, dia mengalihkan panggilan pada Dale.
Tak lama, panggilan itupun langsung terhubung. Tanpa basa basi, Aiden langsung bertanya.
"Dale ... Apakah Noah masih bersama kalian?"
Myra dan Mia memperhatikan reaksi wajah Aiden saat mendengarkan suara di sana. Dan tak lama, panggilan itu langsung diputus begitu saja.
Tak sabaran, Mia langsung bertanya. "Dale bilang apa?"
Aiden dengan ekspresi wajah berubah cemas, mengabaikan oertanyaan adiknya itu, lalu berbalik menoleh pada Myra yang juga sedang menatapnya.
"Nona Myra ... Katakan padaku, apa yang sebenernya menunggunya di sana? ... "
Saat itu juga, Myra menggelengkan kepalanya cepat. Dia sadar jika dia memberitahukan pada mereka apa yang di dengarnya. Maka, Aiden dan seluruh irang yang ada di sini akan datang ketempat di mana Noah sekarang sedang menuju.
"Maaf, aku tak bisa mengatakannya ... "
__ADS_1
Myra langsung berbalik, dan pergi begitu saja meninggalkan Aiden dan Mia.
"Mia, Jangan lakukan ... "
Aiden langsung menangkap tangan adiknya, yang juga terlihat ingin beranjak dari sana, berniat mengikuti Myra.
"Kenapa? ... Wanita itu pasti akan menuju tempat yang dikatakannya, seharusnya kita kesana, mengikutinya."
"Tidak, tidak ... Aku rasa tidak seperti itu masalahnya."
Saat itu Aiden mencoba memahami situasi yang terjadi. Baginya, Myra juga mencemaskan Noah, sama sepeti dirinya dan Mia.
Jika bantuan mereka memang sangat dibutuhkan, pasti Myra akan langsung memintanya. Aiden menyimpulkan Itu pertanda bahwa menurut gadis itu, demi keselamatan Noah ataupun alasan lainnya, dia tidak bisa mengatakan masalahnya.
Tidak mengerti kenapa Aiden menahannya, Mia berseru sedikit histeris pada kakaknya itu. "Jadi, apa masalahnya?!"
"Aku tidak tau ... " Aiden masih tampak berfikir sejenak, lalu menoleh pada Mia. "Dimana Bearice dan Franky? ... "
Malam ini terasa begitu panjang, tak sampai dua jam lagi, langit Bronzeland akan kembali terang.
Akan tetapi, di mana saat sebagian besar penduduk di sana masih terlelap, di kota itu sedang terjadi kejadian besar, di beberapa titik.
Kejadian yang sepertinya sebentar lagi akan segera mengubah arah perkembangan kota Bronzeland. Dan orang yang memulai dan menjadi poros perubahan tersebut, kini sedang memacu mobilnya dengan sangat cepat menuju tempat yang tertulis di pesan yang di kirimkan oleh Barbara padanya.
Tak berapa lama, Noah menghentikan mobilnya, di sebuah pabrik tua yang tak lagi digunakan.
Dia keluar dan langsung berlari seolah jika terlambat sedetik saja, mungkin dia akan menyesalinya.
Dengan kondisi fisiknya yang saat ini, bagi Noah cukup mudah untuk tetap berlari menaiki anak-anak tangga tersebut dengan cepat. Akan tetapi, itu masihlah terasa lambat baginya.
Beberapa saat berlalu, sampailah Noah di puncak bangunan yang dia naiki itu. Di atap pabrik yang sudah lama tertinggal itu, Noah sudah ditunggu oleh Barbara, dan seluruh ketua Jaringan Mafia BronzeLand lainnya.
Tak mengindahkan mereka, Noah langsung mengedarkan pandangannya. Tak lama, apa yang sedang coba dia pastikan, kini dia telah melihatnya.
Acton masih hidup, meski saat ini terlihat berlumuran darah. Hanya saja, di mana saat ini saudaranya itu terikat, membiat Noah murka.
"F**k ... Barbara, apa yang coba kau lakukan padanya, hah?"
Sebuah senyum miring tertoreh di wajah wanita itu, menanggapi Noah. Dia cukup senang karena reaksi inilah yang dia inginkan.
Akan jadi masalah jika dia salah perhitungan. Akan tetapi, melihat bagaimana marahnya Noah saat ini, Barbara menjadi sangat yakin, dia akan memenangkan perang ini, dengan caranya.
Barbara memalingkan wajah, dan menatap Acton yang terikat di besi yang menjulur keluar atap gedung, dengan posisi terbalik.
Tali yang mengikatnya, menjuntai panjang dan di pegang oleh beberapa orang anggotanya.
__ADS_1
Satu perintah saja darinya, saat tali di lepas, Acton akan langsung meluncur kebawah, dengan kepala terlebih dahulu.
"Tuan Evans ... Aku rasa, kau sudah tau apa yang kami inginkan, bukan?"