
"Noah, apa kau bercanda? ... Di kota ini, perusahaan media ayahku bisa di katakan sebagai yang paling besar."
Mia yang mendengar itu, hanya bisa tersenyum miring. Ingin sekali rasanya gadis itu berteriak padanya bahwa di depannya sekarang ini, berdiri seorang pemuda yang jauh lebih kuat biasa dari ayahnya. Seseorang yang baru saja mengambil alih seluruh bisnis di sebuah kota.
Namun, Noah memiliki penilaian berbeda. Baginya, orang-orang seperti Jack dan yang lainnya, selalu mengandalkan orang tua mereka. Hingga, mereka melupakan potensi dirinya sendiri.
"Jack, aku tidak membicarakan perusahaan ayahmu, atau kota ini. Lagipula, aku tidak melihat potensi mu hanya karena ayahmu memiliki perusahaan media ... "
Baik Jack dan yang lainnya di sana, merasa heran dengan topik pembahasan yang di katakan Noah.
Jack sendiri, mengatakan semuanya agar terlihat bahwa dirinya mengetahui banyak hal di banding yang lainnya. Sementara, orang-orang yang ada di dekatnya, hanya ikut merasa bangga saat mengetahui teman mereka terlihat hebat.
Namun Noah, mengatakan sesuatu yang seolah-olah dia memiliki kekuasaan untuk mengatur sebuah perusahaan besar, dan memasukkan orang lain pada posisi tertentu, seolah itu bukan apa-apa.
"Noah, maaf kawan. Aku tidak bermaksud meremehkan kata-katamu. Tapi, sepertinya kau kurang mengerti yang sudah aku katakan ... Telah terjadi perubahan besar di kota ini, dan semua Jaringan sedang bergerak. Ayahku sendiri sepertinya juga sudah memutuskan kemana dia akan berpihak—"
Kata-kata Jack langsung terhenti, saat tiba-tiba saja Noah berdiri. Dia menatap jauh entah kemana, sambil berkata.
"Aku tidak peduli tentang ayahmu dan perusahaannya. Aku membicarakan dirimu ... Jadi, jawab aku Jack. Jika benar-benar ada yang menawarkan mu seperti apa yang aku katakan tadi, apa yang akan kau lakukan?"
Sudah naluri seorang manusia ingin melampaui yang lainnya. Dan sudah sewajarnya Jack ingin melangkah di depan dan membuat ayahnya bangga.
"Noah, begini ... Hmmm ... Aku, aku ... Tentu saja ... Maksudku ... "
Noah langsung menganggukkan kepalanya mengerti, meski Jack tidak mengucapkan kalimat yang jelas saat menanggapi pertanyaannya.
"Baiklah, aku mengerti ... Seseorang akan mendatangimu dalam waktu dekat. Mulai saat ini, kau dan teman-temanmu, untuk sementara hingga urusanku selesai, kalian sama sekali tidak mengenalku ... "
Setelah mengatakan itu, Noah langsung pergi begitu saja. Namun, mereka semua melihat pemuda itu berjalan sambil mengeluarkan ponselnya.
"Sial ... Apa itu tadi ... Jack, siapa sebenarnya pemuda yang kita kenal ini?"
Meski pertanyaan itu terlontar untuk Jack, namun wajah mereka semua berbalik menatap Mia, yang juga menatap mereka.
"Apa? ... Bukankah dia mengatakan bahwa untuk sementara waktu, kalian tidak mengenalnya, bukan? ... Jadi, jangan bertanya padaku."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Mia pun pergi dari sana.
Sementara Jack dan yang lainnya, terdiam membisu di tempat mereka. Sebelumnya, mereka berpikir Noah akan mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya.
Sehingga jika mereka merasa Noah atau keluarganya cukup bisa di andalkan, maka mereka akan mengatakan hal tersebut pada keluarga mereka.
Namun, sikap Noah membuat yang tadi itu, membuat cara berpikir mereka berubah.
"Jack, tidak mungkin orang seperti pemuda itu, mengatakan sebuah omong kosong, bukan?"
Jack tak bisa menjawab pertanyaan temannya itu. Bahkan, saat ini dia tak mampu berkata-kata. Nalurinya sudah mengatakan bahwa pemuda itu sangat berbahaya. Namun, dia selalu coba menepisnya dan mencoba bertukar informasi dengan Noah.
Namun, Noah memberi balasan berbeda. Dan jika apa yang dikatakan Noah itu benar-benar bukan omong kosong, maka tidak ada keraguan lagi tentang itu.
Jack masih mengingat hari dimana dia membandingkan aturan keberadaan seorang raja jalanan, dengan Noah. Entah kenapa, Naluri Jack mengatakan bahwa Noah jauh lebih berbahaya.
"Aku tidak, tau ... Sebaiknya kita tunggu, dan lihat saja kedepannya ... "
Sementara itu, di gedung pusat perusahaan Sattelite, Ivy Clark dan Miranda, ibunya. Baru saja tiba di sana dan l langsung naik kelantai atas, menuju ruangan di mana saat ini Julius Clark berada.
"Ivy ... Kenapa kau baru menceritakannya padaku sekarang? ... "
Ivy yang sudah beberapa hari ini tidak bisa tidur dengan tenang, akhirnya memutuskan untuk menceritakan apa yang sedang di hadapi, terkait perkenalannya dengan Tobias Zargosky, yang berakhir sangat buruk.
Saat mendengar semuanya, Miranda sempat kehilangan kata-katanya. Sebagai sosialita dan istri dari pemimpin perusahaan besar, tentu saja dia mengetahui siapa Tobias.
Bahkan, untuk membantu suaminya, Miranda sampai harus mencari tau nama-nama keluarga yang harus dia dekati, saat menjadi acara tersebut
Semua itu di lakukan, agar di masa depan dia dan Julius memiliki sedikit hubungan emosional untuk bekerja sama dengan keluarga-keluarga itu.
Saat itu, keluarga Zargosky berada dipuncak daftarnya. Apalagi saat ini, Nicholas Zargosky sedang menjadi perbincangan hangat lingkaran pergaulannya.
Mendengar pengakuan Ivy, tentu saja membuat jantung Miranda langsung menendang tulang dadanya. Pemuda yang di katakan Ivy yang bernama Tobias, adalah adik satu-satunya Nicholas.
Tentu saja, karena sudah mengumpulkan informasi tentang keluarga tersebut, Miranda sedikit banyaknya sudah mengetahui tabiat Nicholas. Orang itu begitu berambisi membuat nama keluarganya berada dipuncak tertinggi di negara bagian ini.
__ADS_1
Bahkan, Nicholas di gadang-gadang sebagai orang di belakang layar, yang mampu menumbangkan satu Jaringan diantara sebelas Jaringan terbesar di Negara bagian ini.
Jelas dia tidak akan menerima jika ada yang meremehkan keluarga.
"Ibu ... Sudah aku katakan bahwa sebelumnya aku merasa bisa mengatasinya. Lagipula, Aku tidak tau akan berakhir seperti ini. Dan ibu juga yang memintaku untuk bersikap baik pada semua yang ada di sana. Salah satu dari mereka adalah Tobias ... "
Ivy sebenarnya keberatan untuk datang. Namun karena Miranda meyakinkan dirinya bahwa dia harus membiasakan diri untuk bergaul dengan orang-orang penting, akhirnya dia menyetujuinya.
Keduanya tidak lagi membahas itu, karena begitu pintu lift terbuka, Mera sudah berhadapan langsung dengan pintu ruangan Julius.
Keduanya sempat menelan ludah secara bersamaan, sebelum akhirnya Miranda memutuskan melangkah lebih dahulu.
Sikap keduanya, membuat para eksekutif yang berniat menyapa, berpikir ulang untuk melakukan itu. Dari raut wajah keduanya, jelas bahwa mereka sedang dalam masalah.
"Brengsek ... ! Bagaimana kalian bisa mengatakan bahwa tidak ada satupun kapal yang bisa membawa itu? Bukankah kita sudah mengontrak perusahaan ekspedisi tersebut, hingga beberapa tahun ke depan?"
Miranda kembali menutup pintu, dan berbalik menatap Ivy yang juga mendengar ayahnya yang baru saja mengumpat di dalam ruangan tersebut.
Keduanya langsung bisa mengetahui, Julius sedang mengalami masalah. Ibu dan putrinya itu tetap berdiri di depan pintu, sementara Julius masih terdengar berbicara, dengan suara semakin meninggi.
"Praaaaaannnnnnggg .... !!"
Semua orang dapat mendengar sesuatu baru saja hancur, dari dalam ruangan tersebut.
Tau bahwa ini bukan waktu yang tepat. Miranda mendekati sekretaris Darius yang tadi sempat menundukkan kepala, menyapanya.
"Anna ... Apa yang terjadi?"
Salah satu Sekretaris Julius yang bernama Anna itu, tidak akan mengatakan apapun, jika yang bertanya adalah orang lain.
Namun, karena di depannya saat ini adalah Miranda istri pemimpin perusahaan itu dan di sebelahnya adalah putrinya sendiri, maka Anna menjawab, dengan suara sedikit rendah.
"Perusahaan yang kita kontrak untuk mengirimkan material milik World Order, tiba-tiba saja memutus kontrak secara sepihak, lalu menarik semua kapal mereka dan membayar denda serta penalti dari kontrak itu ... "
Mendengar itu, Miranda langsung membeku. Sementara Ivy sendiri, seolah sudah tidak lagi berada di sana.
__ADS_1
Saat ini, gadis itu berharap waktu bisa berputar, dan dia bisa memiliki kesempatan untuk memperbaiki kata-katanya.
Karena jelas, Apapun ancaman yang dikatakan Tobias padanya. Saat ini, adik kandung pemimpin Jaringan keluarga Zargosky itu, telah memulainya.