World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Kurt Briley


__ADS_3

Gabe tentu saja merasa tidak enak hati dengan kedatangan Jade, apalagi Noah ada bersamanya.


"Rosey ... Kembalilah terlebih dahulu, kita bisa bicara nanti. Okey?"


"Gabe ... Siapa pemuda ini? Apakah dia orang yang Jade katakan?"


Rosey melihat Noah dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Hal yang sama juga di lakukan Kurt. Namun, pemuda itu terlihat sedang meremehkan Noah.


"Apa kau menantangku? ... "


Noah menggelengkan kepalanya. "Kau bicara seolah-olah mengenal kota ini. Jadi, aku hanya ingin melihat apa kau bisa membuktikan omonganmu ...


Itu saja."


Meski tidak ada dendam, Noah benar-benar tidak suka dengan cara Kurt Briley melihatnya. Hanya saja saat ini Jade dan ayahnya ada di sana. Jika tidak, mungkin Kurt Akan berakhir dengan cara yang mungkin tidak pernah dia bayangkan.


Namun, kadang seseorang tidak memang terlalu bodoh untuk mengerti keadaan. Saat itu, Kurt Briley yang melihat Noah hanyalah seorang pemuda biasa, mengalihkan perhatiannya pada Jade.


Dengan mata yang terlihat sedang menelanjangi gadis itu, Kurt menyapanya. "Apa kabar mu, Jade?"


Jade memundurkan kepala, lalu menggeleng. "Tuan, aku tidak mengenalmu ... Kenapa kau menanyakan kabarku?"


Menanggapi itu, Kurt hanya tersenyum dan berbalik menoleh pada Gabe yang berdiri dengan wajah canggung.


"Tanyakan pada ayahmu, Nanti."


"Rosey ... Bawalah tuan Briley pergi, kita bicara nanti."


Mendengar nama keluarga itu, Noah langsung mengerti apa yang sedang di hadapi Gabe saat ini. Jade pernah menceritakan masalah perusahaan keluarganya sebelumnya.


"Oh, jadi kau tuan Briley dari Bronzeland?"


Kurt Briley menatap Noah bangga. "Kau mengenalku?"


"Tidak, tidak ... Aku tak mengenalmu, hanya saja aku pernah mendengar nama keluargamu."


Kurt mengangguk, sepertinya dia salah mengartikan kata-kata Noah.


"Baiklah, aku rasa keluargaku cukup di kenal." Kurt menoleh pada Rosey, "Nyonya Jackson, kita bicarakan ini nanti. Sekarang, ayo kita pergi."


Jade yang saat itu melihat bagaimana cara Noah menanggapi Kurt Briley, merasa tidak nyaman. Meski Noah tidak pernah mengakuinya secara langsung, tapi dia yakin bahwa ayahnya tidak akan mendapatkan proyek sebesar ini, tanpa campur tangan pemuda itu.


"Ayah, kenapa mereka kesini?"


Itukah yang langsung ditanyakan oleh Kade ketika bibinya Rosey dan Kurt Briley pergi dari sana.


"Kau tau, bibimu itu sangat sulit sekali di hadapi."

__ADS_1


Sebenarnya, Noah sama sekali tidak ingin terlibat masalah keluarga orang lain. Akan tetapi, karena sudah sedikit mendengar apa yang di bicarakan dua orang yang baru saja pergi itu pada Gabe, rasa penasarannya sedikit terusik.


"Tuan Jackson, sebenarnya apa masalahmu dengan keluarga Briley?"


Gabe menghela nafas dalam, dan melepasnya dengan kasar. Saat ini dia seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Karena Noah terlihat sangat baik baginya, akhirnya Gabe memilih untuk menceritakannya.


"Noah, dunia ini tidak adil. Aku memang keluarga jackson. Tapi ... "


Mulailah Gabe menceritakan bagaimana keadaan dirinya dan keluarganya. Mukai dari dia yang merupakan saudara tiri dari yang lainnya, masalah aset perusahaan sampai tanggungan hutang yang jadi tanggung jawab bersama.


Saat mendengarkan Gabe, Noah hanya mengangguk dan melirik pada Jade sekali-sekali.


Saat itu, Gadis itu terlihat sangat heran dengan bagaimana ayahnya yang sering menutupi masalah, begitu terbuka pada Noah.


"Yah, begitulah ... Tapi Noah, aku tidak akan menyerahkan Jade pada mereka. Kau bisa percaya padaku."


Mata Jade langsung melebar, "Ayah, apa maksudmu?"


Gabe langsung menoleh pada putrinya. "Jade, bukankah kau ... Kalian ... "


Melihat ekspresi Jade, saat itu juga dia mengerti satu hal. Jelas bahwa putrinya sangat menyukai Noah. Akan tetapi, saat dia menoleh pada Noah, Gabe langsung mendapati tanda tanya besar di kepalanya.


Noah hanya tersenyum pada Gabe dan langsung berkata. "Tuan Gabe, aku dan Jade hanya berteman. Tentu saja aku menyukainya."


Gabe langsung mengangguk-anggukan kepalanya. "Ya, tentu saja ... Jade, cantik ... Tidak hanya aku yang mengatakan—"


"Ayah, sudahlah. Lagipula Aku dan Noah kesini tidak untuk membahas hal itu."


"Jadi, kenapa kalian kesini?"


"Aku menelfon beberapa kali, tapi ayah tidak mengangkatnya, aku ingin mengabari bahwa, Ibu sudah diperbolehkan pulang besok."


Semenjak mendapatkan kontrak kerja, Gabe memang menghabiskan waktu lebih banyak di kantornya. Itu karena Alex mengatakan, seluruh Pusat Olah raga akan segera di bangun bersamaan.


Gabr juga sudah mengetahui bahwa World Order bukanlah perusahaan yang suka menunggu. Apalagi, saat ini dia juga sudah mengetahui bahwa perusahaan yang kini membayarnya itu, adalah Jaringan Mafia terkuat di Silverstone. Tentu saja dia tidak berani menjadi penyebab keterlambatan pembangunan pusat olah Raga ini.


"Ya, ya ... Baiklah, kita akan membawa ibumu pulang besok."


Noah hanya bisa tersenyum canggung di depan Jade dan ayahnya itu. Namun, wajah Gabe terlihat sedang memikul beban yang sangat berat.


Sebelumnya, Noah Berfikir dengan memberikan proyek ini pada Gabe, dia sudah bisa sedikit membantu keluarga tersebut. Akan tetapi, ternyata masalah yang di hadapai Jade dan keluarganya ternyata jauh lebih rumit.


"Tuan Gabe, Jade ... Permisi, Aku harus menjawab panggilan ini."


Noah menunjukkan ponselnya yang tiba-tiba saja bergetar pada keduanya, lalu langsung berbalik dan kekuar dari ruangan tersebut.


"Alice, ada apa?"

__ADS_1


"Noah, setelah menerima panggilan dari seseorang, tiba-tiba saja Nyonya Victoria berkeras ingin segera kembali ke BronzeLand, bisakah kau cepat kesini?"


"Baiklah, akunsegera kesana."


Noah hanya membuka pintu ruangan Gabe, namun tidak masuk.


"Jade, apakah kau tudak keberatan aku pergi dahulu, ada sesuatu yang sangat mendesak yang harus aku selesaikan."


Jade langsung mengangguk saat itu juga. Sekali lagi dia melihat Noah pergi begitu saja, setelah menerima sebuah panggilan.


"Jade, apakah kau benar-benar menyukai pemuda itu?"


Jade hanya tertunduk saat ayahnya menanyakan hal tersebut. Namun, dia tidak berani mengangguk, ataupun menggelengkan kepalanya untuk menanggapinya.


"Kemarilah ... "


Gabe merangkul bahu anak gadisnya itu, lalu kembali bersuara.


"Jade ... pemuda seperti Noah, sangat sulit ditemukan. Sudah sangat wajar jika kau menyukainya."


Masih tertunduk, Jade berusaha mengekuarkan suaranya. "Ayah, aku ... Aku ... "


Gabe menggelengkan kepalanya. "Jika dia tidak datang padamu, maka datanglah padanya. Salah satu darikalian, harus ada yang mulai melangkah, sebelum jarak semakin jauh ... Aku tidak akan melarangmu, mengejar pemuda seperti, Noah."


Jade langsung memeluk erat ayahnya, dan mulai menangis.


"Ayah, sepertinya aku ... Mencintainya ... Benar-benar mencintainya ... "


Gabe Jackson hanya bksa menghela nafasnya dalam dan mengusap rambut anaknya itu untuk menenangkannya.


"Ya, aku tau ... Aku tau ... "


Butuh, hampir satu jam bagi Noah untuk sampai di rumah Alice, saat baru saja masuk, dia sudah mendapati Victoria sudah menangis di sofa dengan Alice berada di samping untuk menenangkannya.


"Alice, ada apa?"


Alice hanya menggelengkan kepala, karena Victoria tidak menjelaskan apapun padanya selain mengatakan bahwa dia harus segera kembali ke BronzeLand.


Noah langsung berlutut di depan wanita tua itu, dan memegang tangannya.


"Nyonya Vitoria, ada apa? Kenapa kau ingin ke BronzeLand? Bukankah kita sudah—"


Sambil menangis, Victoria berkata terbata.


"Noah ... Panti ... Kita ... Adik-adikmu ... "


Noah berpindah dan duduk dinsebelah Victoria sambil merangkulnya.

__ADS_1


"Nyonya, tenangkan dirimu, dan katakan padaku apa yang terjadi ... "


"Noah, seseorang ... Akan, mengahancurkan ... Panti, kita ... !"


__ADS_2