World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Dendam


__ADS_3

Tubuh Alice masih gemetar. Setengah jam yang lalu, Noah baru saja mentransfer uang sebanyak lima puluh juta pada rekeningnya.


Uang yang bahkan dia sendiri pun, belum pernah miliki sebelumnya. Noah, sama sekali tidak berkedip saat mengirimnya.


Sekarang, setelah pemuda itu mengatakan akan pergi untuk menyelesaikan urusannya, tinggallah Alice di sana terpaku dengan pikirannya sendiri.


"Aku harus menemuinya." Putusnya.


Alice berdiri dan bersiap untuk pergi. Saat ini, dia memutuskan untuk menemui orang yang dahulu sangat dipercayai oleh Ayahnya.


Saat bersiap-siap, Alice kembali memikirkan Noah. Dia menggeleng dan tersenyum.


"Baiklah, Anak muda. Jangan menyesal, karena Kau yang minta." Gumamnya.


****


Noah kembali ke kampusnya. Dalam perjalanan, setelah dia mencoba mengirim uang pada Alice dengan ponselnya, dia mencoba mengakses seluruh bank yang dia ketahui, untuk melihat akunnya.


Hal yang kembali mengejutkannya adalah Bank apapun yang dia akses, di sana dia memiliki uang yang tak terbatas.


"Bagaimana ini mungkin, apakah bank-bank ini terhubung ke satu akun utama, milikku?" Batinnya.


Setelah beberapa lama, Noah Tak terlalu memikirkannya lagi. Dia hanya mempelajari tentang hukum otoritas keuangan negerinya.


Ternyata, tidak ada masalah jika dia mentransfer uangnya kemanapun. Yang jadi masalah hanya jika dia tiba-tiba muncul dengan membeli barang secara membabi-buta.


Selain terlalu mencolok, itu akan merusak tatanan perekonomian. Dan juga, itu sangat berbahaya bagi dirinya sendiri.


Karena Noah menyadari bahwa dengan kekayaannya saat ini, dia tidak cukup kuat untuk melindungi diri dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya.


"Ah, aku harus secepatnya membangun kekuatan agar bisa bergerak untuk menuju puncak."


Saat Noah kembali melihat panel Bar nya, tidak ada perubahan berarti. Hanya saja, saat ini Bar MBB nya telah berkurang, namun PS nya tidak bertambah.


Satu hal yang di yakini Noah saat itu adalah, Poin akan bertambah jika dia menghabiskan uang untuk sesuatu yang langsung menjadi miliknya. Sebaliknya, jika dia hanya mengirimkan uang itu pada seseorang, itu tidak akan menambah Poin Sistemnya.


"Sebaiknya Nona Alice cepat menggunakan uang tersebut." Gumamnya lagi.


Begitu tiba di kampusnya, sesuai dugaan Noah sebelumnya. Banyak orang memandangnya rendah. Bagaimanapun, berita sudah pasti tersebar. Mereka yang kini menatapnya sambil berbisik-bisik itu, pasti sedang menghinanya.


Akan tetapi, Noah hanya tersenyum menanggapi semua itu. Menurutnya, saat ini orang-orang itu hanyalah orang-orang bodoh yang tidak tau apapun.


"Kalian akan muntah Darah jika mengetahui seberapa kaya aku sekarang." Noah balas mengejek di dalam hatinya.


"Noah, kemana saja kau? Kami mencemaskanmu."


Noah berbalik, dia melihat tiga orang yang dia kenal menghampirinya. Salah seorang dari mereka yang menyapanya adalah henry dan di antaranya ada Liam dan Noel.


Mereka bertiga adalah teman dekat Noah di kampus dan teman sekamar saat Noah masih tinggal di asrama.


"Oh kalian, aku hanya mencari tempat tinggal, dan sekarang aku sudah mendapatkannya."


"Noah, apakah kau baik-baik saja?"


"Seperti yang kalian lihat, aku baik. Kenapa bertanya?"

__ADS_1


"Tidak, maksudku ... Bukankah kau baru saja putus dengan Lucy? Kami fikir ... Kau ... "


Henry dan dua lainnya sedikit heran. Menurut mereka saat ini Noah seharusnya tidak baik-baik saja.


Video yang telah beredar, menunjukkan betapa terpukulnya Noah saat Lucy, pacarnya yang begitu di sayangi, memutuskannya dengan cara yang mengerikan.


Apalagi, saat itu Noah melihat langsung apa yang Greg lakukan dengan Lucy. Tapi, Noah yang mereka lihat saat ini sungguh jauh dari apa yang mereka bayangkan.


"Oh soal itu ... Hmm ... Aku tidak memikirkannya lagi."


"Noah, kami mengerti dan kau tidak perlu terlihat—"


"Noel, aku tidak apa-apa, sungguh. Kalian tidak perlu mencemaskanku."


Mereka bertiga mengangguk. Menurut mereka jika Noah bisa mengatasinya, untuk apa mereka mengungkitnya lagi. Itu malah menjadikan Noah mengingat kejadian itu lagi.


"Oh iya. Nona Jenkins memintaku memberikan ini padamu. Tapi, sebaiknya kau langsung saja menemui kepala Dekan. Soalnya ini sedikit ... "


Henry menunjukan sebuah surat pada Noah. Saat melihatnya, Noah hanya tersenyum. Tanpa membukanya pun, Dia sudah mengetahui isinya.


Noah menyambar surat itu dari tangan Henry. "Baiklah, terimakasih."


"Hei Noah, mau kemana kau. Bukankah sebaiknya kita bicarakan itu dulu, kami bisa membantumu." Panggil Henry saat Noah langsung pergi setelah mengambil surat itu dari tangannya.


"Tidak perlu, aku akan menyelesaikannya. Setelah itu, aku akan menemui kalian, oke?"


Noah berbalik dan terus melangkah menuju kantor Dekan Fakultasnya. Sementara itu, teman-temannya menatap punggungnya dengan heran.


"Henry, ada apa dengannya?"


Henry yang merasakan hal yang sama, hanya menggeleng."Entahlah, sebaiknya kita menunggunya saja."


Sebelumnya, ketiganya berniat membantu Noah untuk menyelesaikan biaya semesternya yang sudah menunggak.


Namun, melihat gelagat Noah, seolah temannya itu bersikap tidak ada masalah yang tidak bisa dia selesaikan saat ini.


Noah berjalan ke kantor Dekan, namun saat mendekat pintu kantor tersebut, dia melihat Lucy baru saja keluar dari sana.


Perasaan canggung pun segera mengambil alih suasana hatinya. Noah hendak menyapa, tapi terasa sangat enggan.


"Noah, kenapa kau mengikutiku. Sudah aku katakan, bukan? Jangan menghubungiku lagi."


"Lucy, aku tidak—"


"Yo, Noah. Sepertinya kau cukup keras kepala. Apa aku harus melakukan sesuatu padamu, untuk membuatnya lebih jelas?"


Wajah Noah seketika berubah saat melihat lagi-lagi Greg muncul.


"Aku tidak mengikuti Lucy, aku hanya ingin menemui Kepala Dekan. Ada sesuatu yang ingin aku selesaikan."


Greg dan Lucy melihat sebuah surat yang ada di tangan Noah. Saat itu Lucy langsung memutar bola matanya sedangkan Greg, tersenyum meremehkan.


"Hahahaha. Kau bahkan menunggak untuk biaya studimu? Apakah kau tidak akan mengganggu Lucy lagi, jika aku melunasinya untuk mu? Anggap saja ini kompensasi dariku karena telah menjadi penjaga pacarku selama ini, bagaimana?"


Lucy tertegun mendengar ucapan Greg. Seolah saat mengucapkan hal tersebut,  dia hanya dianggap sebagai barang oleh pemuda itu.

__ADS_1


"Tidak Greg, kau bisa mengambil Lucy. Lagipula, aku tidak memikirkannya lagi. Lakukan apapun yang kalian mau. Jika kalian ingin melakukannya disini, silahkan saja. aku tidak akan peduli. Sekarang, aku harus masuk."


Sebenarnya hati Noah begitu terbakar. Hanya saja kali ini dia belum cukup memiliki kekuatan untuk menunjukkan betapa kayanya dirinya sekarang.


Di dalam hatinya, dia bersumpah akan membayar Greg setidaknya sepuluh kali lipat, di masa depan.


Saat Noah berlalu, wajah Greg berubah kesal. "Cih, harga diri seorang pecundang."


"Greg, bukankah kau akan mengajakku ke suatu tempat. Kalau begitu, ayo kita pergi."


"Ya. Ya. Ayo!"


Di dalam kantor, Phill Edmans sama sekali tidak menyambut Noah dengan ramah. Dia bahkan tidak menawarkan pemuda itu untuk duduk sama sekali.


"Noah, langsung saja. Jika kau tidak—"


Noah yang sudah memiliki susana hati yang sangat buruk, langsung memotong kata-kata dekan itu.


"Tuan Edmuns, katakan berapa tunggakanku dan berapa lagi yang harus aku habiskan untuk masa kuliahku? ... Atau, Begini saja. Aku akan mentransfer satu juta dollar, sisanya silahkan anda gunakan untuk diri anda sendiri anggap saja itu sebagai biaya kompensasi dariku, karena sudah menunggak beberapa waktu."


Phill langsung terdiam tak bisa berkata-kata. Sementara itu, dia melihat Noah sedang menggeser-geser layar ponselnya. Dan ...


"Tuan Edmuns, aku sudah mentransfernya ke rekening universitas ini. Silahkan cek sendiri."


Phill tak sempat menunjukkan reaksinya. Namun, dengan sendirinya dia membuka laptop yang ada di atas meja untuk memastikan apa yang dikatakan Noah itu.


Mata Phill langsung melebar. Dia benar-benar melihat uang sejumlah satu juta dollar masuk ke rekening universitas itu.


"Noah ini—"


Saat dia akan berbicara, Namun, kata-katanya kembali terpotong.


"Tuan Edmuns, aku harus menjawab telfon ini."


Tanpa memperdulikan Phill sama sekali, Noah menjawab panggilan itu.


"Ya, Nona Alice?"


"Noah, bisakah kau datang ke CristalSky? Aku dan beberapa orang lainnya, sedang menunggumu."


"Baiklah, aku akan ke sana."


Setelah mengatakan itu, Noah menutup telfonnya dan berbalik menatap Phill.


"Bagaimana Tuan Edmuns? Sudahkah kau memeriksanya?"


Phill hanya bisa mengangguk dengan mata melebar. Dia sama sekali tidak mengenal pemuda yang ada di hadapannya saat ini.


"Bagus, apakah aku sudah bisa pergi? Ada sesuatu hal yang sangat penting yang harus aku selesaikan."


Lagi-lagi Phill hanya bisa mengangguk. "Ya. Silahkan Tuan Evans, maaf telah menyita waktu anda yang begitu berharga." Jawabnya tanpa sadar.


"Baik, terimakasih."


Noah langsung melangkah pergi dan meninggalkan kantor Dekannya itu tanpa basa basi. Sementara itu, Phill masih berdiri dengan perasaan yang sulit untuk dia jelaskan.

__ADS_1


"Apa itu tadi? Siapa sebenarnya dia?" Gumam Phill.


__ADS_2