
"Noah, kau tau kenapa Alice sangat mencemaskanmu, bukan?"
Noah tidak perlu menjawab pertanyaannya. Ted Bowie sudah bisa mendapat jawaban hanya dari melihat wajah pemuda itu.
Karena Noah hanya diam saja, Old Ted mengalihkan pembicaraan. Banyak pertanyaan yang mengganjal di kepalanya.
Namun, saat ini yang pertama kali dia ingin tau tentu saja perkembangan ilmu bela diri Noah.
"Noah, tidak sampai satu bulan, kau sudah menyamaiku. Tidak ada orang lain di dunia ini, yang memiliki perkembangan ilmu beladiri, secepat apa yang bisa kau lakukan itu. Apa sebenarnya kau memang sudah berada di level ahli sebelumnya?"
Noah sudah menduga Old Ted akan menanyakan hal tersebut. Namun, dia juga sudah mempersiapkan jawabannya. Meski dia tau bahwa jawabannya, tidak akan memuaskan pria itu.
"Old Ted, aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang membuatku harus berbohong padamu. Karena aku menghormatimu."
Tentu saja itu bukan jawaban. Tapi, dengan segala rahasianya, Old Ted tau ketulusan Noah saat mengatakan hal tersebut. Oleh karena itu, dia harus puas dengan jawaban pemuda yang kini memiliki lebam dan luka di pelipisnya itu.
"Baiklah, jika begitu ... Tapi, Kenapa tadi, kau langsung menyerang Antonio?"
Noah tersenyum menggeleng. Bahkan, dia juga masih sulit untuk mempercayai apa ya telah dilakukannya.
"Saat itu, aku mendengar kau akan berkata yang seolah-olah dia sangat hebat. Saat itu juga, tubuhku bergerak sendiri. Sekarang, sepertinya Aku sedang tidak menyukai jika seseorang dipuji di depanku."
Saat mereka berbicara, Alice datang dengan sebuah kotak P3K. Mereka melanjutkan pembicaraan sementara Alice membersihkan luka dan wajah Noah.
Jawaban Noah benar-benar membuat Old Ted kehabisan kata-kata. Namun, saat dia kembali ingin bertanya, Noah kembali bersuara.
"Saat itu aku merasa, hanya itu satu-satunya cara agar dia mau bekerja untukku."
Mendengar itu, Old Ted mengusap wajahnya. "Kau benar-benar gila. Dia bisa saja membunuhmu karena itu. Apa kau tak memikirkannya sebelumnya?"
Mata Alice langsung melebar saat Ted Bowie mengatakan hal tersebut. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa saat itu dan terus membersihkan wajah Noah.
"Tapi, sepertinya dia tidak melakukannya. Apa kau memohon padanya untuk membiarkanku hidup?"
Saat itu juga, Old Ted kembali tersenyum "Tidak, aku tidak akan melakukan itu. Tapi ketahuilah, kau melakukan semuanya dengan sangat baik."
"Maksudmu?"
Old Ted menggeleng. Memutuskan untuk langsung bicara intinya. "Sudahlah, waktu akan menjelaskannya. Tapi, sekarang anggap saja Antonio mau membantu kita. Lalu, Apa rencana selanjutnya?"
Noah mengangguk walaupun saat itu dia tidak mengerti kenapa Old Ted terlihat sangat yakin bahwa keluarga Reyes akan membantu World Order.
"Jangan tanyakan itu padaku, seharusnya aku yang bertanya pada kalian."
"Kami? ... Termasuk aku?"
Tentu saja Alice merasa heran. Karena saat itu hanya ada mereka saja di sana.
"Ya tentu saja, Terutama dirimu."
"kenapa aku?"
"Alice, aku akan menghancurkan keluarga Fargo. Tapi katakan, apa yang kau ingin aku lakukan, untuk membalas rasa sakit hatimu?"
Saat itu wajah Alice benar-benar berubah. Dia sudah mendengar apa yang Noah katakan sebelumnya tentang alasannya menantang keluarga itu.
__ADS_1
Tapi, pada akhirnya, Noah seperti melakukan ini untuk dia dan yang lainnya.
Alice menajamkan mata dan mendekatkan wajahnya pada Noah, lalu berkata dengan nada geram.
"Noah ... aku ingin Arlen Fargo bajingan itu, pergi dari kota ini. Tapi ... Saat itu terjadi, Aku ingin nyawanya tetap tinggal di kota ini."
Noah tersenyum saat mendengar itu, dan langsung menoleh pada Ted Bowie. "Old Ted, kau sudah mendengar Nona ini. Jadi aku rasa, kau sudah tau apa yang akan kita lakukan, bukan?"
"Baiklah, aku mengerti. Aku akan mengabarimu saat Antonio menghubungiku."
Ted Bowie langsung melangkah pergi setelah itu. Sekarang, dia benar-benar tau apa yang harus di lakukan, dan apa yang perlu dipersiapkan.
Noah melihat Old Ted melangkah pergi meninggalkan mansion. Sekarang, hanya ada dia dan Alice.
Namun, saat dia berbalik ingin mengatakan sesuatu pada wanita itu, Alice langsung memeluknya hingga Noah kembali terlentang di sofa dengan Alice menindihnya.
Noah membiarkan wanita itu melakukannya. Lagipula, tidak ada yang bisa di lakukan saat ini, selain mengusap punggung wanita itu.
Tiba-tiba Sebuah kecupan mendarat di kening Noah. Saat dia menyadarinya, dia melihat wajah Alice dengan senyum dan tatapan nakalnya.
"Apa kau akan menggunakan kesempatan ini, untuk memperkosaku?"
Alice menatap keatas tampak berfikir. "Hmm ... itu Ide yang sangat bagus ... Tapi, akan aku lakukan di lain waktu. Akan sulit dilakukan dengan pakaianku saat ini."
Satu lagi kecupan sebelum Alice melepaskannya dan segera berdiri dengan senyuman yang menurut Noah, itu adalah senyuman terindah dari Alice selama dia mengenalnya.
Noah hanya menggelengkan kepala saat wanita itu pergi dengan membawa kota P3K di tangannya.
"Baiklah, saatnya menaklukkan kota ini ... "
****
Saat itu, Antony Reyes akan melakukan apa yang di minta Noah, setidaknya untuk saat ini sampai World Order benar-benar menghancurkan keluarga Fargo.
Untuk menguras semua dana milik Arlen, tentu saja itu akan memakan waktu. Namun, Noah menikmati prosesnya.
Seperti apa yang pernah dia katakan sebelum melakukannya. Noah ingin menguras darah mereka sebelum benar-benar menghancurkannya.
Selama proses itu, Keluarga Reyes memberikan akses pada World Order untuk mengendalikan satu anak perusahaannya, untuk melanjutkan permainan mereka.
Antonius sejak mendapat pemberitahuan dari Noah, memang tidak tanggung-tanggung.
Awalnya, Dia memesan barang dengan jumlah dua puluh milyar dollar dan membiarkan informasi itu bocor pada Arlen.
Demi untuk mengahancurkan World Order, Setelah membeli barang dari Satellite, Arlen akan menjualnya pada Reyes. Dan perusahaan Reyes akan mengirim barang itu kembali ke Satellite. Begitulah Seterusnya.
Setiap transaksi di lakukan, Antonius menaikan pemesanan sebanyak lima milyar. Yang Di yakin akan membuat Arlen semakin kesulitan.
Apalagi setelah mengetahui bahwa setiap transaksi keluarga Fargo akan kehilangan sepuluh persen dari harga saat menjualnya ke perusahaan Reyes.
"Mother F**ker ... !"
Arlen mengumpat saat lagi-lagi mendapati informasi bahwa World Order kembali meningkatkan pemesanannya. Setelah sembilan kali transaksi, Arlen telah membuat keluarga Fargo kehilangan tiga puluh enam Milyar.
Sementara dia tidak melihat DevilHill atau usaha-usaha World Order lainnya mengalami kemunduran. Bahkan, dari informasi yang dia dapat, Pusat Olah Raga Goldwest mendatang kan banyak pekerja.
__ADS_1
"Tian Muda, sebelum kita bertindak dan rugi terlalu jauh, bukankah ini saat yang tepat untuk berhenti?"
Meski tidak pernah meragukan keputusan Arlen sebelumnya, Alger merasa ini saat yamg paling tepat untuk melakukannya.
Arlen mengangguk-anggukan kepala dengan wajah geram. Namun, sebelum dia bicara, pria itu menggelengkan kepala. "Tidak, tidak ... Keluargaku tidak akan kalah oleh mereka.
"Tuan Muda ini—"
Belum sempat Alger kembali ingin mengingatkannya, Arlen memotongnya.
"Alger lakukan saja. Kita pasti mememenangkan ini. Aku akan menelfon ayahku, untuk meminta bantuannya."
Alger hanya bisa terdiam saat itu. Sebab, Arlen memang memiliki watak keras kepala dan tak mau mengalah apalagi kalah.
Sebelum Arlen memutuskan untuk menelfon Ayahnya, dia mengingat sesuatu.
"Alger, panggil pemuda itu ... Ini sudah terlalu lama dan dia tidak memberikan kabar apapun."
"Baik ... Aku akan memanggilnya."
Dalam dua minggu ini, selama permainan berlangsung, Noah hanya menghabiskan waktunya di kampus, terutama di perpustakaan.
Namun, Siang itu dia melihat ponselnya yang dia letakkan dia atas meja, bergetar.
Saat melihat siapa yang memanggil, sebuah senyum muncul di wajahnya. Karena itu adalah panggilan yang sedang dia tunggu-tunggu.
"Tuan Alger?"
"Noah ... Di mana kau?"
"Aku? ... " Noah sengaja menjeda dengan pura-pura bertanya. "Aku di kampus ... Apa kau butuh bantuanku?"
"F**k untuk apa kau ke kampus sial itu? ... Bukankah kau kami minta untuk melakukan sesuatu?"
"Ya, kalian memintanya. Lalu?"
"Sial, kenapa kau malah bertanya. Jadi, apa yang bisa kau temukan? Apakah kau sudah mengetahui siapa the Ghost itu?"
Mendengar nada frustasi Alger di seberang sana, membuat Noah semakin menikmati permainan ini.
"Tentu saja aku tau ... Bukankah, sudah aku katakan lada kalian waktu itu?"
"Sial, kau mempermainkan kami?"
Saat mendengar itu, wajah Noah berubah. Saat itu dia langsung merubah nada bicaranya.
"Kalian tidak perlu mencarinya lagi.".
"Apa maksudmu?"
"Ya, kalian tidak perlu mencarinya lagi. Karena ... Dia akan mendatangi kalian, dalam waktu dekat."
Tiba-tiba Noah tidak lagi mendengar suara Alger di sana.
"Hello, apa kau dengar aku?"
__ADS_1
Karena Alger tidak juga menjawabnya, Noah kembali berbicara.
"Dia yang akan mendatangi kalian ... Dan, Bersiaplah!"