
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Teman-temannya kembali menelfon. Kali ini terdengar tidak untuk membicarakan masalahnya lagi.
Akan Tetapi, tidak bisa juga jika tidak di bilang masalah. Di obrolan grup Fakultasnya, kembali tersiar kabar tentang Noah. Tidak tau siapa pengirimnya, namun saat itu berita tersebut berbunyi.
Itik dan Angsa. Lengkap dengan foto Noah tengah berjalan bergandengan dengan seorang gadis.
Saat Noah melihatnya, suasana hatinya langsung menjadi gelap. Mungkin saja ini ulah Greg, tapi bisa saja tidak. Namun, berita ini seolah sangat merendahkannya.
"Aku tak akan membiarkan siapapun, menghinaku lagi dengan cara murahan seperti ini." Geram Noah.
Bergegas pemuda itu bersiap dan keluar dari hotel dimana dia biasa menginap. Di hatinya saat ini, ingin membalas siapapun yang mencoba menjatuhkannya. Dia harus secepatnya memiliki pengaruh dan kekuasaan di kita ini.
Sampai di luar, saat menunggu taksi. sebuah mobil, baru saja keluar dari parkiran hotel di mana dia menginap.
Tak terlalu memperhatikan sebelumnya, tapi mobil itu berhenti tidak jauh darinya.
Lucy baru saja keluar dari mobil itu, dan terlihat berjalan ke halte di mana dia berdiri saat ini.
"Ah, sial. Kenapa dia berjalan kesini?"
Noah berharap cepat mendapatkan taksi namun sepertinya harapannya tidak terkabul. Saat ini, mantan pacarnya itu sudah berdiri di halte itu.
"Noah. Kau disini?"
Noah benar-benar tidak memikirkan Lucy lagi akhir-akhir ini. Lagipula, dia tidak terlalu menyalahkan gadis itu. Kata-kata kakek yang memberinya sistem itu, masih teringat di kepalanya.
Saat itu, dia masih sangat miskin. Jika Lucy meninggalkannya, sebagai laki-laki Noah tidak bisa terlalu menyalahkannya.
Akan tetapi, karena Lucy bersama Greg, itu membuat hatinya sedikit kesal. pemuda itu jelas hanya memanfaatkan gadis yang pernah sangat dicintainya ini.
"Lucy, aku tidak mengikutimu. Kau lah yang berjalan ke sini."
"Aku tau. Kau tidak perlu menjelaskannya."
Noah melihat mata Lucy sedikit merah. Ingin sekali bertanya, tapi pemuda itu menahannya. Lagipula, saat ini itu bukan lagi urusannya.
"Greg tiba-tiba mendapat telfon dari ayahnya, dia tidak bisa mengantarku ke kampus. Jadi aku menunggu taksi di sini. Kau tau, ayahnya baru saja membelikannya mobil baru."
Noah menoleh pada Lucy sebentar lalu kembali membuang pandangannya.
"Lucy, aku tidak ingin tau bagaimana kau dan Greg. Itu tidak ada urusannya lagi denganku"
"Aku hanya ingin kau tau. Greg tidak menyuruhku turun dan kami tidak bertengkar."
Noah menghela nafas panjang dan melepasnya perlahan lalu menoleh pada gadis itu.
Meski terhitung jenius, Sifat Lucy yang lugu seperti inilah yang membuat Noah sangat menyayanginya.
Lucy tidak bisa berbohong. Jika dia berbohong, maka gadis ini dengan akan sangat gugup dan mencoba menjelaskan, meski tidak ditanya.
Dulu, itu sifat itu sangat membuat Noah senang. Tapi, sekarang dia melihat Lucy begitu memprihatinkan.
__ADS_1
"Lucy, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau seperti ini?"
"Aku ... Noah ... " Lucy mulai terisak.
Hati Noah menjadi sakit. Tapi, ingatan tentang apa yang dikatakan kakek itu, kembali melintas di kepalanya.
'Dunia ini kejam, jika kau ingin bertahan, , maka kau harus lebih kejam daripada dunia itu sendiri.'
"Lucy, kau tidak perlu mengatakan apapun. Kau sudah memilih jalanmu. Dan aku sudah memiliki tujuan lain di hidupku."
Saat itu, taksi yang Noah tunggu-tunggu lewat dan berhenti saat Noah menyetopnya. Meski memiliki tujuan yang sama, Tanpa permisi, Noah meninggalkan gadis itu di sana.
Noah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan tepat seperti dugaan Noah, gadis itu menangis.
Jika Noah tetap di sana, ada kemungkinan dia akan memeluk dan mencoba menenangkan Lucy.
"Maaf, Lucy. ... Aku bukan lagi Noah yang kau kenal dulu."
Noah sudah memutuskan untuk menjadi penguasa. Dia tidak akan membiarkan siapapun atau apapun menghalanginya.
Dia tau bahwa perasaannya pada Lucy bukan lagi cinta. Tapi, hanya rasa iba, karena begitu mengenal gadis tersebut sebelumnya.
"Kebodohan adalah dosa!" Ucap Noah untuk mempertegas keputusannya.
"Ting!"
Noah tiba-tiba mendengar dentingan di kepalanya.
"Bell"
Dengan mahalnya level pengalaman dan mentalitas, jelas itu membuatnya terkejut.
"Apakah, merelakan seseorang adalah pengalaman yang sangat mahal?"
Noah langsung menyadari kenapa level bar Pengalaman dan mentalitasnya tiba-tiba bertambah. Saat ini, Noah semakin mengerti cara kerja sistemnya.
Level Bar akan bertambah jika sesuatu hal mempengaruhi dirinya. Meski itu bukan sesuatu dari sistem.
"Sistem ini, benar-benar sudah menyatu dengan diriku."
Saat dalam perjalanan ke kampus, Noah melewati beberapa Showroom mobil. Pemuda itu tersenyum karena baru saja mendapatkan gagasan.
"Sepetinya, sudah saatnya aku memiliki sebuah kendaraan."
Noah berhenti di depan sebuah showroom mobil. Dia menelan ludah saat melihat mobil-mobil yang di pajang di sana. Saat ini, dia berdiri tepat di depan sebuah Showroom mobil sport mewah.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan?"
Itulah yang Noah pikirkan saat melihat betapa keren-kerennya barisan mobil sport yang ada di dalam bangunan yang sangat luas itu.
"Selamat siang Tuan, apakah anda ingin membeli mobil?"
__ADS_1
Saat Noah masih tampak ragu, seorang Sales wanita datang menghampirinya.
"Oh iya, aku berniat melihat-lihat dan mencari tau, apakah ada salah satu mobil di dalam sana, yang cocok untukku."
"Baiklah Tuan, aku Laura Fanes. Silahkan, aku akan menunjukkan beberapa koleksi kami, yang mungkin akan menarik minat anda."
Laura Fanes, sudah hampir tiga bulan bekerja di Showroom ini. Meski menjanjikan insentif yang tinggi, Namun sampai saat ini, dia belum berhasil melakukan penjualan apapun.
Hal itu membuatnya mendapat teguran beberapa kali dari manager tempatnya bekerja, karena di anggap makan gaji buta.
Karena itu, Melihat seorang pemuda masuk ke dalam Showroom, membuatnya bersemangat.
"Terimakasih, Nona Fanes."
Noah merasa senang karena Sales itu tampak ramah. Karena sejak dia masuk, dia melihat beberapa sales wanita lainnya. Namun, mereka tampak mengabaikannya.
"Tidak perlu sungkan, Silahkan."
Noah mengikuti Laura dari belakang. Wanita itu seperti memberikan Noah Tur kecil dan bersemangat menjelaskan berbagai macam tipe mobil, fitur, danĀ kelebihan masing-masing setiap unitnya.
Penjelasan Laura membuat Noah membulatkan hatinya untuk membeli salah satunya.
Paling tidak, itu untuk membalas keramahan Laura padanya. Lagipula, uang bukan masalah lagi baginya.
Namun, saat Laura menunjukkan salah satu mobil sport mewah yang lainnya, seseorang menyela mereka.
"Laura, apa yang kau lalukan?"
"Oh, Ethel. Tuan ini ingin melihat-lihat dan akan membeli satu jika dia merasa cocok." Jelas Laura.
"Huh, pantas kau tidak berhasil menjual apapun. Bahkan, kau tidak bisa membedakan mana orang yang memiliki kemampuan untuk membeli, mana orang yang hanya ingin mencuci mata saja. Hahahha."
Kata-kata gadis yang baru saja datang itu, membuat Noah sedikit tersinggung.
"Nona, apa maksudmu?"
Ethel menyunggingkan senyum yang meremehkan. "Tuan, gadis ini memang cantik. Tapi, jika kau di sini hanya ingin berpura-pura membeli mobil hanya untuk menarik perhatiannya. Sebaiknya kau tidak perlu sampai sejauh ini. Apakah kau tau apa tipe mobil ini dan berapa harganya?"
Noah sedikit heran dengan pertanyaan sales wanita ini. "Tentu saja aku tidak tau, untuk itu aku bertanya."
"Huh, Laura. Kau lihat? Dia bahkan tidak tau mobil apa yang sedang kau tunjukkan."
"Ethel, tolong jangan kasar pada pelanggan ku."
Tak mengindahkan keringatan Laura, Ethel kembali meremehkan Noah. "Tuan, ini adalah Lamborgini aventador LP 700-4. Ini salah satu tipe paling laris di dunia. Kau bahkan tidak tau itu. Kau akan sangat terkejut dengan harganya."
"Ethel, ada apa denganmu?" Laura tidak tahan lagi dengan ulah teman kerjanya ini.
"Nona, katakan padaku harganya, dan aku akan membayarnya saat ini juga."
"Hah?! ... "
__ADS_1
Seru Laura dan Ethel bersamaan.
"Ya, sebutkan harganya dan aku akan membayarnya saat ini juga." Tegas Noah.