
Mata Stella melebar, karena tidak menyangka bahwa apa yang akan dilakukannya, dihentikan oleh pemuda di depannya ini.
Dan hal yang lebih mengejutkannya lagi, tentu saja apa yang di ucapkan pemuda tersebut, setelahnya.
Noah melepaskan tangan gadis itu, kemudian beranjak dari hadapan gadis yang kini terdiam tersebut dan memilih meja secara acak sebelum akhirnya duduk di sana.
"Kau dengar? ... Apa yang baru saja dikatakannya?"
Han bertanya pada Jeremy, yang juga sama terkejutnya dengan Stella. Jaraknya dengan Noah, membuat pemuda itu mendengar apa yang dikatakannya dengan sangat jelas.
"Nona Stella ... "
Jeremy berusaha meminta penjelasan pada Stella, namun apa yang dia lihat setelahnya, membuat pemuda itu ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Heh, brengsek ... Kau pikir kau bisa mengancam ku, dengan trik murahan seperti itu, Huh? ... "
Stella mendekat pada Noah, lalu berdiri di depan pemuda yang kini terlihat sama sekali tak ingin balik menatapnya.
Noah sudah merencanakan ini. Menurut informasi dari Jack, Stella ada satu dari empat kelompok besar di kampus ini. Itulah kenapa, akhirnya dia memutuskan untuk tiba-tiba saja memasuki kelas, yang terkenal tidak ramah dengan orang miskin ini.
"Sudah aku katakan, akan lebih baik kau mengatakan langsung pada tuan Portman. Aku juga penasaran bagaimana reaksi mu setelah ini ... "
Kata-kata Noah yang baru saja dia dengar, sama sekali tidak membuatnya lega. Stella semakin murka.
Seseorang mungkin bisa membeli sebuah sesuatu seperti mobil atau bahkan rumah, dengan mudah. Akan tetapi, tempat mereka berada saat ini adalah sebuah universitas.
Tidak masuk akal jika ada orang yang bisa mengambil alih sebuah kampus, layaknya membeli benda murahan yang tanpa mengikuti proses serta prosedur apapun, kecuali orang itu benar-benar memiliki kekuasaan yang mampu mengatur hal itu.
Akan tetapi penampilan Noah, mengatakan sebaliknya. Bagi Stella, pemuda di depannya ini tidak akan mampu membeli sepatunya alih-alih seluruh University of HighCopper milik kakeknya ini.
"Baiklah, aku juga penasaran dengan apa yang akan terjadi padamu setelah ini ... Kau memintaku menelfon kakekku, bukan? ... Kebetulan sekali, aku juga ingin menghubunginya, dan meminta dia untuk mengusir sampah sepertimu dari tempat ini ... "
Mendengar itu, Noah hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya.
"Terserah ... Lakukan sesukamu ... "
Kejadian ini, di saksikan semua orang. Namun, entah kenapa mereka semua sekarang mulai sedikit takut. Pasalnya, hanya orang-orang tertentu yang bisa memprovokasi Stella. Dimana, hanya ada beberapa orang saja di kampus ini.
Namun, pemuda yang kini duduk sementara Stella berdiri di dekatnya, tampak benar-benar tidak peduli dengan latar belakang gadis itu.
Mereka berpikir mungkin saja Noah benar-benar sudah membeli kampus ini, atau ... Noah hanyalah seorang pemuda gila, yang sudah kehabisan cara untuk menghadapi Stella sehingga mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal ini.
__ADS_1
Jika benar begitu, maka bisa dipastikan hidup pemuda tersebut, tidak akan pernah tenang, selagi dia masih berada di Universitas ini.
"Jeremy ... Katakan pada ku, tepatnya bagaimana kau bertemu dengan pemuda itu? ... Sepertinya dia sangat asing. Aku bahkan tidak pernah melihatnya sebelumnya ... "
Jeremy hanya menggelengkan kepala, dan fokus pada Stella yang kini telah mengeluarkan ponselnya, lalu mengusap layar benda itu sebelum akhirnya menempelkan di telinganya.
"Kakek, aku ingin kau-"
Kata-kata Stella langsung terhenti karena kakeknya yang berada di seberang sana, langsung memotongnya.
"Stella, kebetulan sekali ... Kakek baru saja ingin menghubungimu."
Mendengar kakeknya berkata seperti itu, Stella sempat melirik sebentar pada Noah dan kembali fokus pada kakeknya yang berada di seberang sana.
"Kakek ingin menghubungiku? ... Ada apa?"
"Jika perkiraan ku benar, seorang pemuda saat ini sudah sampai di kelas mu, bukan?"
Mendengar kakeknya mengatakan itu, jantung Stella langsung terasa menendang keras tulang dadanya. Dia mencoba memastikan apa yang dikatakan kakeknya dan bertanya sedikit terbata.
"Pe-pemuda ... ?"
"Ya, dia Tuan Evans ... Aku harap kau berlaku sopan padanya. Kita tidak bisa berhadapan dengan orang seperti dirinya. Ingat itu ... "
Stella menelan ludah, untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba saja terasa kering. Sepertinya pemuda ini tidak mengatakan kebohongan dan itu benar-benar mengejutkannya.
Akan tetapi, membeli sebuah kampus masih sangat terasa mustahil baginya. Sekarang, hanya tinggal satu pertanyaan lagi yang terbesit di kepala gadis itu.
"Ja-jadi ... Di-dia ... Su-udah membeli, kampus ini?"
Mendengar kata-kata cucunya itu, di seberang sana, Carl Portman langsung berseru.
"Hoho ... Sepertinya kau sudah bertemu dengannya. Itu bagus ... dan ya, dia baru saja mengambil alih kampus ini, namun tidak itu saja ... Stella cucuku, dengarkan aku baik-baik ... "
Saat ini, Carl Portman seakan-akan ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.
Sementara itu, Stella sendiri sudah tidak merasakan kakinya.dia benar-benar tidak siap dengan kenyataan yang baru saja terjadi.
"Ikuti saja semua keinginannya. Masa depan keluarga kita, tergantung dengan bagaimana kau bersikap kepadanya, kau mengerti?"
Stella benar-benar membeku. Tidak hanya kakinya, bahkan sekarang dia sama sekali tidak merasakan otaknya.
__ADS_1
Pikirannya benar-benar kosong. Gadis itu sama sekali tidak bereaksi apapun, setelah kakeknya mengatakan bahwa masa depan keluarganya sangat bergantung dengan bagaimana dia bersikap pada pemuda ini.
Dan dia tentu saja sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan pada pemuda yang ternyata mampu membuat kakek yang sangat dibanggakannya itu, berbicara bahwa keluarga mereka bukanlah apa-apa.
Noah sudah menduga hal ini akan terjadi, dan ini juga sudah bagian dari rencananya. Dia tidak mau berlama-lama untuk mencari semua informasi yang ada di kampus ini.
Dengan membeli seluruhnya, Noah yakin dia akan langsung menguasai satu kelompok besar di sini. Dengan begitu, dia akan memiliki akses untuk mendapatkan informasi, jauh lebih cepat.
"Stella ... Stella ... Kau dengar? ... Hello? Stella ... ?!"
Suara kakeknya yang tiba-tiba terdengar cukup keras itu, memaksa gadis tersebut kembali ke dunianya.
"Ya, kek ... Aku ... Aku ... Dengar ... Tapi ... Tapi ... "
"Stella, dia hanya punya satu aturan, dan kau harus mematuhinya. Tidak sulit, kau hanya tidak di perbolehkan untuk mempertanyakan siapa dirinya, cukup mudah bukan?"
"Ya, ya ... Itu ... Ya ... Itu ... "
Tanpa menanyakan bagaimana reaksi cucunya setelah mendengar kabar itu, Carl Portman langsung berniat memutus sambungan.
"Bagus, bagus ... Aku mempercayakannya, padamu ... "
Stelah sambungan itu terputus, Stella langsung ambruk dan terduduk di lantai.
Hal tersebut membuat semua orang di sana terkejut.
Namun, saat itu juga mata mereka beralih pada Noah yang terlihat tidak peduli dengan hal tersebut.
Sementara itu, dia saat bersamaan. Di sebuah gudang milik perusahaan ekspedisi yang baru saja di akuisisi oleh Tobias Zargosky, di datangi beberapa mobil mewah.
Tobias mendapatkan sebuah perintah dari Nicholas, untuk memastikan sesuatu. Dan untuk itulah dia datang kesini.
"Dimana para brengsek itu?"
Toby memang tidak suka beramah tamah. Apalagi, sebelumnya Nicholas kakaknya mengatakan bahwa anggota mereka telah menemukan dan menangkap beberapa orang yang berpotensi mengganggu tujuan besar keluarga mereka.
"Mereka ada di dalam tuan ... Silahkan ikut aku ... "
Saat sampai di sana. Toby melihat ada lima orang sedang terikat di kursi, dengan mulut tertutup.
"F**k ... Katakan padaku, siapa di antara kalian, yang bernama Henry dan Liam, son of a b****hhh ... !"
__ADS_1