
"Rooney, apa menurutmu mereka adalah orang yang sama?"
Blacksteel masih terlihat tenang. Namun di atas, gejolak sudah mulai terasa. Bagi Timothy Flare, sangat mudah untuk mendapatkan informasi yang dia inginkan.
Buktinya, Rooney bahkan sudah mendapatkan data tentang beberapa Jaringan, yang menarik diri dari Zargosky dan berpindah pada Julius Clark di HighCopper.
"Tuan ... Aku tidak begitu yakin. Karena dari cara bertindak dan menyikapi segala sesuatunya, semua dilakukan dengan cara berbeda."
Timothy Flare menganggukkan kepalanya beberapa kali. Pria itu sama sekali tidak tertawa bahkan tersenyum saat mendengar informasi yang disampaikan oleh orang kepercayaannya itu.
Beberapa saat kemudian, dia melambaikan tangannya beberapa kali, tanda menyuruh pria berjas dan kaca mata hitam itu pergi dari sana.
"Tamara ... Kemarilah."
Sejak hari itu, Tamara memilki tempat sedikit spesial di dekatnya. Entah kenapa, Timothy sepertinya menyukai wanita itu.
Tamara sendiri terlihat begitu profesional. Tim merasa Nicholas telah menyia-nyiakan wanita ini. Sekarang saja, begitu dia memangilnya, Tamara langsung duduk berinisiatif memberinya service.
"Oh, tidak perlu ... Kita bisa melakukan itu, beberapa saat lagi."
Tim menepuk pahanya, dan meraih tangan wanita itu. "Duduklah di sini, aku ingin sedikit berbincang-bincang denganmu ... "
"Tuan Flare, ini bukan bagian dari perjanjiannya?"
Selama di sini, Tamara menolak untuk membicarakan bisnis atau semacamnya dengan Tim. Hal itulah yang membuat pria tua penggila wanita itu, begitu menyukainya.
"Oh, aku gadis yang manis dan juga sangat profesional ... Sebagai pebisnis, aku menyukaimu dan berharap kau.ada dipihakku."
Mendengar itu, Tamara berbalik dan memeluk leher Timothy Flare. Dengan nada sedikit menggoda, dia berkata.
"Tuan Flare, kau tau aku begitu memuja bos ku, bukan?"
Timothy tersenyum dan mencebik. "Ya, tentu Saja ... Pria muda bodoh itu, sepertinya beruntung memilikimu ... "
Tamara tersenyum lalu kembali berkata. "Ada alasan kenapa aku bisa sampai begitu memujanya ... "
Tak banyak hal yang menarik bagi Tim, seperti biasanya. Namun, kata-kata wanita yang kini hanya menggunakan bikini dan duduk dipangkuan sambil memeluknya itu, sedikit mengusik rasa penasarannya.
"Wah, sepertinya ini bukan bagian dari bisnis. Jadi, aku rasa kau tidak keberatan untuk menceritakannya bukan?"
__ADS_1
Tamara tersenyum, dan kembali berkata "Itu karena dia satu-satunya orang yang mampu membalaskan dendam ku ... "
Saat itu juga, raut wajah Timothy Flare berubah, dan menatap mata wanita yang berjarak sangat dekat dengannya itu, tajam.
Dia mencoba mencari tau, apakah wanita ini sedang berbohong, atau tidak. Namun, beberapa saat kemudian, dia menyadari bahwa apa yang di ucapkan Tamara adalah hal yang sebenarnya.
"Kau membuatku bergairah, sepertinya kau lebih berbahaya, bahkan dari bos mu itu ... "
Tamara melepas pelukan itu dan berdiri, sebelum akhirnya melangkah kedua pada Tim, dan duduk di sana. Wanita itu memposisikan agar dia bisa merasakan senjata milik pria tua yang sudah mulai bereaksi itu, lalu kembali memeluk kepala keluarga Flare itu.
Sambil mengerakkan pinggulnya dan merasakan benda itu yang sudah bangun sepenuhnya, Tamara berbisik di telinga Tim.
"Aku tau semua ada harganya. Dan aku sudah menaruh harga untuk dendamku itu, sejak aku merencanakannya ... aku akan memberikan segalanya, pada siapa saja yang bisa melakukannya. Meski, itu bukan untukku."
Timothy terbawa oleh permainan Tamara, dan memegang bokong wanita itu, agar bergerak ke arah yang diinginkannya.
"Lalu, pada siapa dendam itu kau arahkan?"
Saat itu, Tim bisa merasakan panasnya nafas Tamara. Namun, dia mendengar wanita itu berbisik.
"Alexander Reamus ... Aku ingin Alexander F**kin Reamus, Mati ... !"
"Aaron ... Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu, di kota ini. Bagaimana kabarmu?"
"Tuan Bowie ... Jujur saja, tidak sebaik dirimu."
Ted Bowie menemui Aaron teman lamanya, setelah keduanya bertukar pesan beberapa waktu yang lalu.
Namun, Ted Bowie sendiri tidak menyangka bahwa rekannya saat masih berada di militer ini, berada di Blacksteel.
"Ah, tidak perlu berbicara seperti itu. Orang seperti kita ini, masih bertahan dan tetap hidup, bukankah sudah cukup bagus? Hahahaha ... "
Keduanya saat ini berada di loby sebuah hotel, di mana Ted Bowie menginap selama berada di kota ini.
Aaron menggelengkan kepalanya. Namun, dia menyetujui apa yang di ucapkan oleh pria di depannya itu.
Akan tetapi, bukan itu alasan dia untuk bertemu dengan Ted Bowie kali ini. Dan dia langsung ingin membicarakan hal tersebut.
"Ted Bowie ... Kau dan komandan, bukanlah orang yang mau menundukkan kepala pada seseorang, jika kalian berdua tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk melakukannya. Sekarang jawab aku, seberapa hebat orang yang sedang kalian ikuti ini?"
__ADS_1
Mendengar itu, wajah Ted Bowie langsung berubah. Dia tida suka jika ada orang yang meremehkan Noah, meski orang itu sama sekali belum mengenalinya.
Di sisi lainya, Aaron langsung bisa mendapatkan jawabannya, hanya dari tatapan Ted Bowie saja. Meski begitu, masih sulit baginya untuk percaya begitu saja.
"Sial, wajahmu menceritakan semuanya ... Apa dia memang sehebat itu?"
Satu kali anggukan dari Ted Bowie, sudah cukup bagi Aaron. Namun, pria itu terlihat ingin berbicara.
"Aaron. Kau tau aku tidak suka membesar-besarkan sesuatu saat berbicara, bukan?"
Aaron mengangguk. "Ya, aku tau itu bahkan, kau tidak ingin orang lain tau, bahwa kau keluar dari squad untuk merawat istrimu ... Bagiku, itu sungguh luar biasa."
Mendengar itu, Old Ted hanya tersenyum miring. Namun saat itu menggelengkan kepalanya. Seolah apa yang akan dikatakannya itu, tidak mungkin bisa di terima oleh mantan rekannya ini.
"Pemuda ini, akan berdiri di puncak ... Kota ini, bahkan negara bagian ini, cepat atau lambat akan berada di bawahnya. Jadi, Aaron ... Meski kau rekanku, dan kita pernah saling melindungi saat muda. Tapi jika kita bertemu lagi dan kau berada di sisi yang berseberangan dengannya, aku tidak akan berpikir dua kali, jika dia memintaku untuk membunuhmu ... !"
Mendengar itu, Aaron menelan ludahnya. Dia sangat mengenal temannya ini. Ted Bowie dikenal sebagai laki-laki yang memegang kata-katanya.
Pria ini, lebih baik mati, daripada harus menarik ucapannya sendiri. Jelas, yang baru saja di ucapkannya adalah sebuah ultimatum.
"Ted Bowie ... Kita hidup di dunia yang sangat kejam ... Jika itu terjadi, maka aku juga akan melakukan hal yang sama, untuk orang yang aku ikuti ... "
Keduanya tersenyum, sebelum akhirnya tertawa bersama. Kedua orang itu memang pernah saling mempercayakan nyawa sebelumnya.
Akan tetapi, kehidupan membawa mereka pada jalan masing-masing. Dan keduanya memiliki prinsip untuk sama-sama setia pada apa ayang mereka anggap benar.
Namun, beberapa saat kemudian, Aaron mengernyitkan keningnya, seolah baru mengingat sesuatu.
"Bowie ... Aku rasa, aku salah mendengarmu. Kau terdengar seperti mengatakan bahwa dia adalah seorang pemuda. Katakan, apa aku memang salah?"
Ted Bowie langsung menggelengkan kepala, dan menatap Aaron untuk menegaskan ucapannya.
"Itulah kenapa, dia jadi sangat berbahaya, bukan?"
"Oh, F**k ... Itu benar-benar terdengar berbahaya."
Seorang pemuda yang mampu membuat Antony Reyes dan Ted Bowie menjadi bawahannya, bukanlah sebuah informasi yang diharapkan Aaron.
"Sial ... Bowie ... Kau terlihat tidak sedang bercanda!"
__ADS_1
"Ya, Aku sama sekali tidak bercanda ... Dia muda dan sangat berbahaya ... !" Tegas Bowie.