World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Hari Baru


__ADS_3

Hal yang sudah di duga Noah sebelumnya. Namun, saat ini dia tidak menolak ataupun menerima ajakan Alice. Akan tetapi, dia hanya menjawab dengan kalimat yang membuat Alice tercenung.


"Baiklah, kau boleh datang ke kamarku, kapanpun kau mau ... "


Setelah mengatakan itu, Noah pun berlalu, sedangkan Alice masih terdiam di tempatnya.


"Sial ... Kenapa dia menjawab dengan cara seperti itu?"


Daripada apa yang diceritakan Noah, Alice sudah lebih dahulu mengetahui segala sesuatu yang terjadi di Bronzeland, lewat Ted Bowie.


Memang benar, bahwa Noah tidak ingin melibatkan World Order, untuk misinya kali ini. Tepatnya, menurut Noah, misi yang diberikan oleh Bell, Sistemnya itu, sesuatu yang harus dia selesaikan sendiri.


Akan tetapi bukan berati A4 dan lainnya akan diam saja tanpa mencari tau apa yang terjadi. Akibatnya, mereka semua melihat sisi lain dari pemuda yang telah mereka ikuti beberapa waktu ini.


Ted Bowie dan A4 adalah orang-orang yang sedikit lebih tau sumber kekuatan finansial Noah, dari pada kebanyakan orang lainnya. Namun, dengan memantau sendiri bagaimana cara Noah mengambil alih BronzeLand, mereka semakin yakin bahwa bos mereka yang sangat misterius itu, benar-benar sangat berbahaya.


Beruntung. Itulah yang mereka pikirkan saat mengetahui fakta kekejaman Noah. Karena, tidak hanya berada di pihak pemuda itu, tapi mereka adalah bagian penting dari tujuan Noah, di masa depan.


Jadi, semakin lama, Alice menyadari bahwa sebagai wanita, dia tentu ingin menaklukkan pria. Akan tetapi, saat ini gadis itu mulai ragu. Sekarang, dia merasa Noah bukanlah seseorang yang bisa di miliki apalagi untuk dikuasai.


Alice mengurungkan niatnya, dan mulai berpikir jernih. Tidak dipungkirinya bahwa meski tidak terlalu dalam, dia menginginkan Noah.


Akan tetapi, dengan tujuan besar yang dimiliki pemuda itu, hal-hal semacam ini hanya akan menjadi batu sandungan bagi mereka semua.


"Pemuda ini, semakin menakutkan ... "


Alice pun mengambil tasnya, dan beranjak pergi meninggalkan Noah sendiri di rumah barunya tersebut.


Beberapa hari selanjutnya, Noah kembali ke kampusnya. Karena saat ini, Masih ada janji lainnya, yang harus dia tepati pada Victoria.


Di sisi lain, sebelumnya Noah telah mengutus Antonius untuk mengambil alih urusan yang ada di BronzeLand. Dengan begitu, dia sudah merasa yakin, apapun yang dia rencanakan untuk saudara-saudaranya serta kota itu, akan berjalan tanpa masalah.


Namun hingga saat ini, baik Victoria dan saudara-saudaranya itu, belum mengetahui secara pasti apa dan siapa Noah di mata A4. Mereka hanya bisa memastikan bahwa apapun itu, kehidupan Noah memang telah jauh berubah.


Victoria sengaja menekankan pada semua orang untuk tidak terlalu mencari tau tentang itu. Karena baginya, meskipun bukan ibu kandungnya, dia sangat mengetahui sifat anak laki-laki yang telah dibesarkannya tersebut.


Pada saatnya nanti, Dia yakin Noah akan mengatakan segalanya. Sementara untuk saat ini, dia memutuskan untuk tidak mendesak pemuda tersebut.

__ADS_1


Dia tidak ingin rasa ingin tahunya, menyebabkan Noah menjadi terbebani atau bahkan terpaksa berbohong pada semua orang.


Baginya saat ini, melihat Noah telah berubah dan tumbuh jauh lebih dewasa, sudah membuatnya bahagia.


"Noah, itu kau? ... "


Saat Noah berbalik, dia melihat Noel sudah berlari mendekat padanya. Hanya dalam hitungan detik saja, temannya itu sudah mensejajari langkahnya.


Tidak seperti biasanya, Noel sendiri tanpa dua temannya yang lain. Sedikit penasaran, Noah bertanya.


"Noel, di mana yang lainnya?"


Noel menatap temannya itu, heran. Lalu dia menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya menjawab.


"Ah, tentu saja kau belum mengetahuinya ... Mereka berdua telah mengambil cuti beberapa bukan ke depan."


Seperti kata Noel, tentu saja dia tidak mengetahui hal tersebut. Dia bahkan tidak menghubungi teman-temannya ini, sejak saat dia menginjakkan kaki di BronzeLand, beberapa waktu yang lalu.


"Cuti? ... Untuk apa?"


Noel mendesah, karena menurutnya seharusnya Noah lah yang harus mereka beritahu terlebih dahulu. Karena apapun yang saat ini mereka kerjakan, bermula dari bantuan sahabatnya ini.


"Kami sudah berkali-kali mencoba menghubungimu, tapi kau sama sekali tidak pernah menjawab telfon, atau bahkan membalas pesan."


Saat itu juga Noah mengingat beberapa panghilan dari mereka yangbsengaja di abaikannya, karena dirinya terlalu fokus pada urusan di BronzeLand.


Sedangkan untuk teman-temannya ini, dia telah mempercayakan segala sesuatunya pada Antonius. Jika ada sesuatu yang salah terjadi pada ketiganya, maka Antonius akan segera mengabarinya. Berfikir bahwa bawahannya tersebut tidak melaporkan apa-apa, maka Noah berasumsi semuanya berjalan dengan lancar.


"Maafkan aku, waktu itu aku—"


Saat Noah meminta maaf, Noel langsung memotongnya.


"Tidak perlu ... Kau tidak perlu meminta maaf. Aku sudah mengetahuinya. Nona Alice telah mengatakannya pada kami."


Saat itu juga kening Noah berkerut. Tentu saja Alice bisa mencarikan alasan tentang dirinya. Akan tetapi, saat dia melihat wajah Noel tersenyum dengan sangat mencurigakan, Noah langsung memikirkan apa yang dikatakan Alice pada mereka.


"Oh begitu, baiklah ... Lalu, kenapa Henry dan Liam mengambil cuti? Apa terjadi sesuatu?"

__ADS_1


Meski merasa penasaran tentang apa yang Alice katakan pada ketiganya, Noah memilih untuk tidak membahasnya. Dengan bagaimana Alice bersikap padanya, dia sedikit curiga Alice telah mengatakan sesuatu yang membuat ketiganya salah faham.


Melihat wajah Noel, sepertinya dugaannya tidak salah. Akan tetapi, Tentu saja Noah tidak ingin membahas apapun tentang itu. Dia lebih memilih untuk menanyakannya sendiri pada Alice.


"Tentu saja ada yang terjadi. Itu kenapa kami mencoba menghubungimu. Tapi karena kau sudah di sini, dan masih bertanya, aku rasa Nona Alice tidak memberitahumu, bukan?"


Noah langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, dia sama sekali tidak mengatakan apapun padaku."


Noel merangkul temannya tersebut, selagi keduanya berjalan. Dia sama sekali tidak mengindahkan Noah yang saat ini menoleh padanya sedikit heran.


"World Order benar-benar luar biasa ... Tuan Antonius, sedang mempersiapkan mereka berdua untuk menjalankan sistem perusahaan media milik World Order, Walleye."


Hal ini tidak mengejutkan Noah. Karena dia sudah tau ketiganya akan menjalankan perusahaan itu. Tapi, apa yang dikatakan Noel, sama sekali belum menjawab pertanyaannya.


"Maksudmu?"


"Karena mereka yang akan menjalan sistem yang ada di dalamnya, maka Tuan Antonius sengaja membawa para profesional dari berbagai penjuru dunia, untuk memberikan mereka bimbingan."


Noah mengatakan itu, dengan mata berbinar bangga. Akan tetapi, saat ini Noah merasa heran. Kenapa Noel tidak bersama mereka.


"Lalu, bagaimana denganmu? ... Kenapa kau tidak bersama mereka?"


Saat Noah mengatakan hal tersebut, Noel berjalan lebih cepat dan segera berbalik. Dia berhenti lalu merentangkan tangannya, sebelum akhirnya berkata dengan bangga.


"Aku tidak membutuhkan itu. Karena aku yang akan menjadi bos mereka. Hahahahaha ... "


Noah hanya menggelengkan kepalanya. Karena memang seperti itulah rencananya. Noel tidak seperti Liam, apalagi Henry yang memiliki otak yang brilian.


Akan tetapi, Noah memiliki firasat baik bahwa dalam management bisnis, Noel melebihi keduanya.


"Ya, tentu saja kau—"


"Noah ... "


Noah dan Noel menoleh pada suara yang berseru memanggilnya. Saat itu juga, dia mendengar Noel langsung bergumam.


"Yah, sudah kuduga ... Noah, aku menunggumu di kelas ... "

__ADS_1


Noah tidak lagi mengindahkan kata-kata Noel yang terdengar lebih seperti menggerutu tersebut.


"Hai Jade ... "


__ADS_2