World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Kelamnya Bronzeland


__ADS_3

Biar bagaimanapun, Noah cukup mengenal Fredy. Meski telah banyak berubah, pemuda kurus dan sama tinggi dengannya itu, memiliki banyak masa lalu dengannya.


"Fredy,  bawa semua kebutuhan yang kalian perlukan. Aku akan membayarnya."


Saat ini mereka sedang berada di sebuah minimarket. Fredy sudah menjelaskan sebagian cerita, bagaimana dia bisa berakhir bersama Bearice ataubyang sering mereka panggil BB.


"Noah, apa kau yakin?...  Ini ... "


"Ya, ambilah. Aku akan membayarnya."


Niah bisa saja memberi Fredy uang yang banyak. Tapi, tentu saja tidak saat ini. Karena, jika dia memberi Fredy uang maka ada kemungkinan pemuda itu akan menghabiskannya untuk hal-hal tidak penting lainnya.


Saat mereka berjalan menuju tempat di mana keduanya tinggal, tiba-tiba beberapa orang menghadang jalan mereka.


Dari cara mereka berpakaian, Fredy bisa mengenal kelompok itu. Bahkan, sepertinya dia mengenal lima orang yang kini berdiri di depannya dia Dan Noah tersebut.


"Hei, kenapa kalian menghalangi jalan kami?"


Salah seorang dari mereka yang tadi berdiri sedikit di belakang, maju dan menjawab Fredy.


"Lihat, kau dia fredy ... Kalian mengingatnya?"


"Tentu saja, siapa yang bisa melupakan kejadian itu. Hahahahaha ... "


"Hahahahah ... !"


"Hahahahha ... !"


Noah bisa merasakan bahwa antara Fredy dan orang-orang ini, memiliki kejadian tidak mengenakkan di masa lalu. Namun begitu, Noah tau saat ini mereka bukan ingin berurusan dengan Fredy tapi, dirinya.


"Sepertinya kalian cukup akrab, apa kalian kesini datang untuk mengobrol dengan fredy, atau ... "


Noah sengaja menggantung kata-katanya, sebelum akhirnya kembali melanjutkan.


"Seseorang menyuruh kalian untuk menemukanku, bukan?"


Tentu saja Noah mengetahui tujuan orang-orang ini. Saat dia mendengar tiga saudaranya di bawa paksa oleh keluarga Briley, Noah mendatangi sebuah klub untuk menjemput mereka.


Sayangnya, tentu saja Jaringan itu tidak akan membiarkan mereka begitu saja. Hingga, malam itu terjadi sedikit keributan di sana.


Saat Noah menyanyakan itu, tawa mereak sudah mereda. Saat ini, wajah orang-orang itu berganti marah.


"Sial, sepertinya kau memang sudah tau tujuan kami. Kalau begitu, ikut kami ... Sekarang."


Noah memasukkan kedua tangan pada saku depan celananya, dan sedikit memiringkan kepalanya.


"Jika aku menolak, apa yang akan kalian lakukan?"


Mendengar itu, mata Fredy langsung melebar. Dia sangat mengenal orang-orang ini, dan juga Noah.


Saat itu juga, Fredy yang sedang menenteng dua kantong besar belanjaannya di kedua tangannya, datang mendekat dan berbisik.


"Noah, apa kau sudah gila? ... "


Melihat ketakutan Fredy, lima orang yang sempat terkejut tadi mulai tersenyum.


Akan tetapi senyuman mereka hanya bertahan beberapa detik saja. Karena, setelah itu Noah sudah berjalan kedekat mereka.


Baru saja seseorang hendak bergerak untuk bereaksi, Sebuah tendangan mendarat tepat di wajahnya.

__ADS_1


"Buk!"


Empat lainnya masih berdiri untuk mencerna yang baru saja terjadi. Namun, saat mereka mulai menyadari bahwa pemuda yang ingin mereka bawa itu telah menyerang lebih dahulu, semua sudah terlambat.


Noah sudah mengeluarkan kepalan tangan dan langsung menghantamkan pukulan pada perut serta wajah mereka dengan sangat cepat.


"Buk!"


"Buk!"


"Buk!"


"Buk!"


"Setidaknya, bawa orang lebih kuat atau lebih banyak untuk mendatangiku ...  stupid."


Fredy yang langsung masih melotot melihat lima orang yang sudah terkapar di depannya itu, baru bisa mendapatkan kesadarannya setelah Noah memanggilnya.


"Fredy ... Apa kau akan berdiri di sana seharian? ... Bukankah BB sedang menunggumu?"


"Oh, Iya iya ... Aku datang."


Ini tidak ada dalam rencana Noah sebelumnya. Namun, saat melihat mereka, sebuah ide muncul di kepalanya.


Sepertinya, untuk masuk kesebuah Jaringan, seseorang setidaknya harus memiliki nama. Jadi, dia melakukan itu untuk sedikit menarik perhatian. Dalam hal ini, siapa saja.


Sampailah mereka di sebuah gedung apartemen berlantai tiga di salah satu distrik di kota itu. Noah melihat, kondisi bangunan itu sangat memprihatinkan.


"Noah, aku dan BB tinggal di lantai dua, ayo."


Baru saja mereka berdua ingun menaiki tangga, seorang wanita sudah menunggu di atas sana.


"Praaaang ... "


Beruntung keduanya sempat mengelak, jika tidak sebuah bunga berikut pot dan tanah-tanahnya, berpontensi mendarat di kepala mereka.


"Bearice, maafkan aku ... Aku hanya tersesat. Itu kenapa aku sedikit lama ... "


"Kau Son Of A B*tch ... Tersesat kau bilang?  Ke sini kau ... aku akan benar-benar membuat mu seperti itu ... !"


Noah terkejut melihat itu semua. Fredy yang berubah saja sudah membuatnya sulit mengenalinya, sekarang, Bearice. Wanita itu benar-benar membuatnya terperangah.


Tau bahwa ini tidak akan berakhir begitu saja, Noah memilih untuk cepat mengambil tindakan.


"Hai, BB ... Kau tidak ingat aku?"


Bearice menggeleng. "Tidak, aku tidak mengingatmu. Jika dia berhutang padamu, maka itu hutangnya ... Jangan menagihnya padaku. Si bodoh ini hanya meletakkan p*n*s nya di sini, dan tidak ada urusan lain selain itu ... "


Mendengar kata-kata Bearice tersebut, Fredy balas berseru.


"Bearice ...! Apa yang kau katakan. Dia Noah ... Noah Evans, apa kau tidak mengingatnya?"


Saat itu juga, Bearice tampak berfikir, lalu. "Noah? ... Kau ... "


"Ya, ini aku ... Noah Evans, teman sekelasmu. Sekarang, tolong taruh kembali benda itu, di manapun seharusnya. Kau menakutiku."


"Ya ... Kau menakuti kami—"


"Menakutimu? ... Aku ingin membunuhmu brengsek!"

__ADS_1


"Prannng ... !"


Sekali lagi pot bunga mendarat di tanah yang hampir saja, mengenai wajah Fredy.


Niah hanya bisa menggelengkan kepalanya, sebekum akhirnya kembali berbicara.


"Bearice, aku tudak akan menanyakan kabarmu. Tapi sebagai teman, apa kau tidak berniat menawarkanku untuk masuk?"


"Ya, lihat ... Noah membelikan kita banyak bahan makanan."


Melihat, Fredy mengangkat kedua kantong besar di tangannya, Bearice kembali menatap Noah.


"Kali ini, kau selamat. Aku hanya memandang Noah, B*st*rd ... !"


Setelah Bearice berbalik, mereka menaiki tangga dan mengikutinya dari belakang.


Tempat tinggal keduanya tidak terlalu kecil, namun tidak ada barang-barang berharga di sana selain tempat tidur kecil dan alat-alat masak seadanya.


Meski penasaran, Noah tidak menanyakan bagaimana mereka bisa sampai berakhir begini.


Namun, saat ini Noah sudah benar-benar melihat dan membuktukan langsung bahwa, Bronzeland adalah neraka untuk anak-anak yang tumbuh dan menjalani kehidupan orang dewasa di sana.


"Noah, kenapa kau sampai berurusan dengan Anggota Jaringan Briley?"


Setelah Bearice tenang, akhirnya Fredy bisa lega dan membawanya bicara dengan sedikit lebih serius.


"Beberapa hari yang lalu, mereka membawa tega saudaraku, jadi aku sedikit membuat kekacauan ditempat mereka. Itu saja."


Fredy melihat Noah sekali lagi. Memang, saat ini Niah sudah tampak sedikit berubah. Selain terlihat sangat bersih dan bertambah tampan, tidak ada perubahan berarti.


Namun, cara Noah bertarung, sungguh sudah beda cerita. Fredy hampir saja memuntahkan seluruh makanan yang ada di perutnya, saking terkejutnya saat tiba-tiba saja Noah bisa menghajar lima orang dengan sangat mudah.


Noah yang dia kenal selama ini, akan berakhir sebaliknya. Dia sangat  yakin hal itu. Namun, dia sudah melihatnya dan itu sangat tidak wajar.


"Noah, kau bermusuhan dengan keluarga briley? ... "


Kali ini Bearice ikut bertanya. Dan Noah hanya menganggukan kepala. Namjn, saat itu juga wajah Bearice berubah.


"Noah, sebaiknya kau ceoat keluar dari kita ini. Atau, ... "


Saat itu, Bearice melihat pada Fredy yang saat itu duduk di sampingnya.


"Bearice, ada apa? ... Apa mereka kalian juga bermasalah dengan mereka?"


Pertanyaan itu, membuat baik Bearice ataupun Fredy menelan ludah mereka.


"Noah, ... Kau tidak akan sanggup hidup lagi, jika merasakan apa yang telah mereka lakukan padaku dan Fredy."


Noah mengernyitkan dahinya, dan kembali bertanya.


"Apa yang mereka lakukan pada kalian berdua?"


Fredy menghela nafas dan melepasnya. Dia menatap Bearice lalu kembali menatap Noah.


"Apa yang Bearice katakan itu, benar. Noah ...  Sebaiknya, kau pergi selagi bisa."


Niah langsung menggelengkan kepala. "Tidak, tidak ... Aku tidak akan pergi. Jadi, katakan, apa yang telah mereka lakukan pada kalian berdua?"


Melihat Fredy tak mau menjawab Noah, akhirnya Bearice kembali bersuara.

__ADS_1


"Mereka memberi kami berdua semacam obat untuk hewan, lalu memaksa kami bercinta di tengah jalan seperti orang gila ... Dan ... Mereka merekamnya sambil tertawa."


__ADS_2