
Waktu berlalu sudah hampir satu bulan sejak pertama kali Noah mendapatkan Bell, Sistemnya.
World Order juga sudah bekerja sebagai mana mestinya. Dari seratus Milyar yang di investasikan Noah di sana, total A4 sudah memakai dua puluh empat Milyar lagi.
Jadi, Noah mendapat dua puluh empat ribu poin Sistem.
"Bell ... "
[Nama Pengguna \= Noah Evans]
[Pengalaman(P) \= 60]
[Mentalitas(M) \= 30]
[Vitalitas(V) \= 20]
[Sense (S) \= 14]
[Intuisi (I) \= 7]
[Keahlian Spesial (KS) \= -]
[Poin (P) \= 562.217]
[Poin Spesial (PS) \= -]
[Level (L) \= 1]
[Minimal Belanja Bulanan (MBB) \= Komplit]
Noah terus memperhatikan panel Sistemnya. Sekarang, dia memiliki 562.217 Poin sistem.
Berfikir untuk menaikkan level. Namun, beberapa kejadian terakhir, membuatnya sedikit berfikir.
Noah mencurigai sesuatu terjadi pada tubuh dan fikirannya. Sebab, dia tidak pernah merasa sombong ataupun kejam sebelumnya.
Akan tetapi, saat dia berpidato dia merasakan, ketamakan, bahkan kerakusan mempengaruhi pikirannya. Hingga dia berniat langsung mendominasi Silverstone dengan menambah dana investasi dalam jumlah yang Seharusnya memang bisa membuat World Order, mengembangkan sayapnya lebih luas dan bisa menguasai kota itu.
"Tujuh Dosa besar ... Greed (ketamakan) ... Gluttony (kerakusan) " Gumamnya.
Noah kembali memikirkan, ketika dia melihat tubuh Ivy saat di dalam Lift dan dia mengingat saat itu, tubuhnya bahkan pikirannya, menikmati hal tersebut. Padahal, sebelumnya Noah tidak berani memandang seorang gadis, dengan cara seperti itu secara langsung.
Noah hanya pernah melihat seorang gadis dengan cara yang sama, saat melihat Lucy. Tapi saat itu mereka memang memiliki sebuah hubungan.
"Hmm ... Lust (Hawa Nafsu) " Gumamnya, lagi.
Terakhir, saat dia mengatakan akan melempar semua orang, dia merasakan amarah. Lalu, saat dia melihat Ivy berlutut, saat itu Noah benar-benar merasa kesombongan mengambil alih dirinya.
Alih-alih memikirkan cara memaafkan gadis itu, Noah meminta penawaran Ivy sebagai gantinya. Hingga, gadis itu sampai menjatuhkan harga diri dan bersedia menyerahkan diri pada Noah.
Noah yang saat itu berbaring di tempat tidur, langsung terduduk dan berseru.
"Pride ... !! (Kesombongan)"
Saat ini, Noah merasa, kecurigaannya mungkin saja benar. Kali ini, dia memang sedikit yakin soal itu.
Menurutnya, Tidak akan mungkin semudah itu. Sistem ini, pasti meminta sesuatu sebagai gantinya.
"Apakah, Sistem ini akan mengambil alih, Tubuh dan Jiwaku?! ... "
Tiba-tiba Noah menjadi panik. Dia mengingat langsung beberapa kejadian. Saat di Mall, bertemu Lucy dan Greg, bertemu Phill ketua Dekan, hingga membeli mobil dan terakhir kejadian saat dia menghina wanita di toko pakaian.
Noah sangat yakin bahwa dia tidak memiliki kebiasaan seperti itu sebelumnya.
"Sistem ini berbahaya."
Nafas Noah jadi terasa sesak dan jantungnya berdetak lebih cepat. "Sial, jika kaya menjadikanku seperti orang-orang itu, itu sama saja aku sudah kehilangan diriku sendiri dan, ... Untuk apa semua kekayaan ini?"
Noah langsung berdiri. Saat ini, dirinya menjadi sangat gelisah. Pemuda itu berjalan mondar mandiri di kamar hotel sambil mengusap wajah dan mengacak rambutnya, seperti orang yang sedang prustasi.
__ADS_1
"Sial, tentu saja tidak ada yang gratis di dunia ini!"
Lama dia meluapkan rasa frustasinya, tiba-tiba saja dia memiliki sebuah gagasan.
"Bell ... "
Panel Sistem nya kembali muncul.
[Nama Pengguna \= Noah Evans]
[Pengalaman(P) \= 60]
[Mentalitas(M) \= 30]
[Vitalitas(V) \= 20]
[Sense (S) \= 14]
[Intuisi (I) \= 7]
[Keahlian Spesial (KS) \= -]
[Poin (P) \= 562.217]
[Poin Spesial (PS) \= -]
[Level (L) \= 1]
[Minimal Belanja Bulanan (MBB) \= Komplit]
Noah memperhatikan sekali lagi semuanya. Saat itu, dia berfikir untuk mencari kemungkinan agar bisa mematikan Sistem itu. Namun, dia tidak menemukan pilihan seperti itu di sana.
"Ahhh ... Sepertinya, ini memang benar-benar sudah menyatu dengan diriku."
"Bell ... "
Saat panel Sistemnya kembali tertutup, Noah duduk di tempat tidur, dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Noah semakin larut dengan fikirannya hingga beberapa waktu. dan tak berapa lama kemudian, dia seakan mengingat sesuatu.
Saat malam dia bertemu dengan Gelandangan Tua yang memberikan Sistem tersebut, Saat itu, orang tua itu pernah bertanya.
"Apa kau tau tujuh dosa besar?"
....
"Kesombongan, Ketamakan, Iri Hati, Kemarahan, Nafsu, Rakus dan Malas. Apakah itu, yang kau ketahui?"
....
"Anak muda, semua sifat itu lahir pada diri manusia, bagaimana bisa itu dikatakan dosa. Tapi sebaliknya, Hanya ada satu Dosa besar di dunia ini. Dan kau mau tau apa itu?"
....
"Kebodohan ... Ya. Kebodohan. Manusia tidak terlahir untuk bodoh. Dan ada banyak jenis kebodohan di dunia ini."
Noah langsung kembali berdiri.
"Ya ... !! Itu dia. Aku rasa kakek itu mencoba memperingatkanku."
Noah mengangguk-anggukan kepalanya. Di kepalanya saat ini, dia mencoba-coba untuk mengingat semua yang dikatakan kakek itu.
Dari banyak hal yang kakek itu ceritakan, hanya sedikit yang menyangkut dengan tujuh dosa besar itu.
"Kebodohan ... Ya, Kebodohan."
Saat ini, Noah berusaha berfikir keras untuk memperjelas petunjuk dari sang gelandangan tua.
Lama Noah berfikir hingga akhirnya dia mendapat sebuah kesimpulan yang cukup meyakinkannya.
__ADS_1
"Mungkinkah, maksudnya seperti itu ... ?!
"Ting ... !"
Noah mendengar Sistemnya berbunyi. Sadar akan perubahan di dalamnya, Saat itu juga dia berseru.
"Bell ... !"
[Misi Rahasia Sistem selesai]
[Kenaikan Level menjadi Level 2]
[mendapatkan bonus 50 Poin Spesial]
[Nama Pengguna \= Noah Evans]
[Status \= Manusia Bumi]
[Pengalaman(P) \= 60]
[Mentalitas(M) \= 30]
[Vitalitas(V) \= 20]
[Sense (S) \= 14]
[Intuisi (I) \= 7]
[Keahlian Spesial (KS) \= -]
[Poin (P) \= 562.217]
[Poin Spesial (PS) \= 50]
[Level (L) \= 2]
[Minimal Belanja Bulanan (MBB) \= Komplit]
[Silahkan tunggu pemberitahuan untuk misi selanjutnya.]
Noah langsung melihat perubahan di sana. Saat itu, dia langsung mengerti bahwa, misi rahasia sistem adalah menyangkut langsung dengan cara kerjanya.
"Jadi begitu. Tujuh dosa besar, benar-benar bisa mengambil alih diriku, jika aku melakukan sebuah kebodohan."
Noah menyadari itu saat sang kakek mengungkitnya. Jadi, Noah menyimpulkan jika dia tidak hanyut dalam kebodohan, maka dia akan selamat.
Masalah, saat itu juga Noah juga menyimpulkan bahwa, semakin naik levelnya maka akan semakin kuat juga pengaruh tujuh dosa besar itu pada dirinya.
Ditambah lagi, kakek itu juga mengatakan ada banyak jenis kebodohan di dunia ini. Tentu saja itu sangat ambigu.
Karena, kadang di saat kita sedang merasa melakukan sesuatu yang benar, orang lain menilai itu adalah kebodohan.
Jelas sekali kesimpulan itu benar dan langsung membuatnya menyelesaikan misi rahasia dari sistem, juga memicu kenaikan levelnya.
"Aku masih punya waktu sebelum misi selanjutnya. Sebaiknya, aku tidak menggunakan poin-poinku terlebih dahulu"
Noah sudah sedikit mendapat gambaran lebih jelas tentang Sistemnya. Karena ini menyangkut nyawanya, dia harus berfikir hati-hati untuk menggunakan poin-poinnya.
Padahal saat itu, dia sangat pemasaran bagaimana jika dia menaikkan salah satu bar level dengan masif. Noah ingin melihat apa yang akan terjadi.
Sadar bahwa itu akan memicu meningkatnya pengaruh tujuh dosa besar di dalam dirinya, Noah mengurungkan niatnya itu.
"Sebaiknya, aku memperkuat World Order dan mencoba mendapatkan segala informasi yang aku butuhkan terlebih dahulu."
Saat itu juga, Noah keluar dari kamar hotelnya, untuk mendatangi kantor pusat World Order. Di kepalanya saat ini, hanya ada satu tujuan.
"Misi apapun selanjutnya, pasti tidak akan mudah. Aku harus bersiap-siap."
Saat berjalan keluar Loby, Noah mengeluarkan ponsel dan mulai mencari nama Alice di sana.
__ADS_1
"Nona Alice, aku akan ke kantor. Saat aku di sana aku harap semua eksekutif, sudah berkumpul."
Noah langsung memutus panggilan, tanpa menunggu jawaban dari Alice.