
Noah tau dia tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi, karena saat ini saja dia telah memaksakan tubuhnya jauh melewati ambang batas seharusnya.
Dengan kondisinya sekarang, bisa saja dia akan kehilangan kesadarannya secara tiba-tiba.
Karena tidak hanya luka tembakan saja yang terus mengeluarkan darah. Akan tetapi ada satu luka lainnya, yang dia dapat sebelum kesini.
Niah langsung mendatangi tiga orang tersebut, untuk mengakhiri semuanya. Namun, saat kakinya melangkah, dia bjsa merasakan denyutan dipahanya terasa semakin sakin.
Sementara bagian tubuh mulai dari lutut hingga ke tapak dari kaki nua yang tertembak itu, mulai mati rasa.
Hal itu membuat pergerakkan Noah jauh lebih lambat dari sebelumnya. Akan tetapi, dia masih yakin bisa menghadapi ketiganya.
"Bersiaplah, dia datang ... "
Begitu Noah sampai di sana, lawan yang sudah dalam mode yang sangat-sangat siaga itu, berhasil menghindari serangannya.
Akan tetapi, serangan berikutnya yang dia lancarkan, berhasil mengenai salah satu lawannya. Dan sedikit membuat orang itu sedikit mundur.
Tau bahwa serangannya juga sudah mulai melemah, Noah mengumpat kesal. "Sial ... "
Tak lama, ketiga orang tersebut mulai balik menyerangnya. Beberapa saat kemudian, terjadilah pertarungan tiga melawan satu, yang mulai terlihat seimbang di sana.
"Sial ... Jika tidak mau mati di sini, sebaiknya kita bantu mereka, atau lari saja ... "
Seharusnya para pemimpin itu melakukannya sejak awal. Akan tetapi, mereka benar-benar telah meremehkan kekuatan Noah sebelumnya.
"Ambil apa saja sebagai senjata ... "
Saat itu juga mereka langsung bergerak mencari apa saja sebagai senjata. Karena itu adalah pabrik tua, tidak butuh waktu lama bagi mereka menemukannya.
Saat ini, masing-masing dari mereka memegang pipa besi dan mulai berjalan mendekati Noah, yang sedang menghadapi tiga orang tersebut.
Tidak seperyi sebelumnya,
"Jangan menyerangnya secara langsung ... Tangkap dia ... "
Pikiran itu baru saja melintas dari salah satu ketua jaringan tersebut. Karena, Noah masih terlihat sangat kuat dan akan sangat sulit dikalahkan jika mereka terus menyerangnya.
Namun, melihat bagaimana Noah bergerak sekarang, sepertinya menangkap pemuda itu merupakan ide yang bagus.
Tidak mudah memang, menangkap seseorang yang memiliki ilmu beladiri level tunggi. Karena saat percobaan pertama mereka lakukan, masing-masing dari mereka mendapatkan sebuah pukulan yang memaksa mereka kembali mundur.
__ADS_1
Namun begitu, Sekarang, semua orang sudah di sana. Niah sendiri, saat ini secara tidak langsung sudah terkepung.
Meskipun kondisi sama sekali tidak terlihat berpihak padanya, tapi tidak ada satupun dari orang-orang itu yang memiliki nyali untuk maju terlebih dahulu.
Lama mereka berada dalam posisi itu, dan Noah merasa sangat dirugikan. Akan tetapi, dia juga tau resiko jika dia bergerak serampangan. Hal itu tentu saja bisa berakibat fatal. Karena saat ini tidak hanya kakinya saja, namun tangannya yang terkena pisau Randy Faust sebelumnya, juga sudah mulai terasa kebas.
"F**k! ... Maju kau brengsek ... "
Tiba-tiba saja salah satu ketua jaringan itu, mendorong anggota keluarga Cadman ke arah Noah, yang menyebabkan pemuda itu waspada dan langsung menyerangnya.
Tentu saja begitu dan tentu juga diantudak sempat bereaksi apapun saat melihat datangnya pukulan Noah yang langsung menghantam bagian-bagian vital ditubuhnya.
Hanya beberapa saat saja, pandangan orang tersebut langsung buyar dan menggelap. Noah, bisa langsung mengakhiriya dengan sangat mudah.
Akan tetapi, apa yang dilakukan ketua Jaringan itu tadi, bukan sengaja untuk mengurangi jumlah mereka sendiri. Dia langsung berteriak saat Noah yang terlihat semakin lelah dan lemah, melancarkan pukulan terakhirnya.
"Sekarang ... "
Sebenarnya, mereka semua tidak perlu menunggu aba-aba. Karena saat itu juga mereka langsung maju dan menyerang Noah dengan pipa besi secara membabi buta.
"Tang ... !" "Buk ... !" "Buk ... !"
"Tang ... !" "Buk ... !" "Buk ... !"
"Tang ... !" "Buk ... !" "Buk ... !"
Mereka benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan terus menyerang Noah meski kadang senjata mereka saling berbenturan.
Meski serangan tersebut di lancarkan dengan membabi buta, tapi beberapa hantaman dari benda berbahan logam itu, berhasil mengenai Noah dengan keras.
"Jangan berhenti, terus lakukan hingga bajingan ini mati ... "
Mereka benar-benar takut bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak cukup membuat Noah terjatuh, hingga mereka terus menghujani pemuda itu dengan serangan.
"Noah ... "
Sebuah, sebuah suara parau memanggil pemuda yang kini sedang tersudut tersebut. Air langsung mengalir dari matanya, saat pandangan sudah kembali.
Acton sebenarnya sudah sadar sejak beberapa saat yang lalu, dia bisa mendengar semuanya. Akan tetapi, lama dalam posisi terbalik, membuat darah berkumpul di otaknya, yang membuat matanya tidak mampu melihat untuk sementara waktu.
Rasa bersalah dan sesal yang sangat besar, langsung menghujam dadanya, begitu penglihatannya, kembali.
__ADS_1
Adik kecil yamg selalu menjadi korban candaan saat mereka tumbuh bersama di panti, kini sedang dalam keadaan terdesak dengan kondisi tubuh bersimbah darah dan terus menerima hujan pukulan dari ketua-ketua jaringan mafia yang dikenalnya.
"N-Noah ... Noah ... Ma-ma-maafkan ... "
Acton benar-benar tidak tau bagaimana semua bisa berakhir seperti ini. Saat ini, dia berharap Noah benar-benar tidak perduli padanya dan membiarkannya mati di tangan Barbara atau yang lainnya.
Karena, saat ini ada sesuatu yang baru di sadari pemuda yang kini tergeletak tak berdaya itu. Sesuatu yang lebih sakit daripada kematian itu sendiri.
Sesuatu itu adalah, saat dimana dirinya melihat Noah, saudaranya sendiri, yang berusaha menyelamatkannya, harus berakhir dengan kondisi seperti itu.
"Acton ... Kenapa kau menangis, bajingan? ... Apa menjadi mafia membuatmu menjadi cengeng? ... "
Acton seperti berkhayal saat mendengar kata-kata itu. Meski pandangannya mengabur karena air mata. Tapi, dia bisa memastikan bahwa itu adalah siara Noah.
Memang kata-kata itu terdengar seperti umpatan. Namun Acton senang, karena dia juga sudah tidak lagi mendengar suara pukulan yang beruntun dari pipa-pipa besi yang menghantam tubuh adiknya itu.
Sibuk menyerang membabi buta, mereka tidak menyangka bahwa salah satu pipa besi yang dihantamkan oleh satu ketua Jaringan di sana, berhasil di tangkap Noah.
Dengan satu tendangan darinya, ketua jaringan itu harus rela melepaskan senjatanya. Akibatnya, mereka yang terkejut dengan kejadian itu, sontak menghentikan serangan mereka.
Namun, saat mereka ingin kembali menyerang, semua benar-benar sudah terlambat.
Dengan wajah berlumuran darah dan lebam di mana-mana. pemuda yang mereka panggil sebagai The Madness itu, kini tersenyum miring pada mereka.
"Oh, My F**kin ***** ... Kau ... Kau ... benar-benar bukan manusia ... "
Tidak mengindahkan kata-kata ketua Jaringan tersebut, Noah kembali berseru pada Acton.
"Jangan menangis brengsek ... Tunggu aku selesaikan ini, setelah itu aku sendiri yang akan menghajar kakak bodoh dan menyedihkan, pembuat masalah seperti dirimu ... "
Acton dengan tenaga tersisa, berusaha menahan tangisnya, lalu mengangguk-anggukan kepalanya.
Noah yang saat itu senang karena Acton tidak mengalami luka seburuk apa yang dia perkirakan sebelumnya itu, bergumam. "Bagus ... "
Setelah itu, Noah berbalik menatap semua orang di sana dengan wajah yang mengeluarkan senyuman menyeringai.
"Kau bilang aku bukan manusia? ... Hmm ... Mungkin saja ... "
Noah menggantung kata-katanya, tampak berfikir sebentar. Setelah itu, dia mengangguk dan kembali bersuara.
"Ya, sepertinya aku tidak lagi sepenuhnya manusia, karena di Silverstone ... orang-orang di sana menyebutku sebagai, The Ghost(Sang Hantu) ... "
__ADS_1