
Tidak ada yang berpikir bahwa The Elevens adalah yang tertinggi. Akan tetapi, saat nama Big Table di sebut, tentu saja semua orang melihat pada pemuda yang keberadaannya di sini, sempat dipertanyakan oleh banyak orang yang belum mengenalnya.
"Anak muda—"
"Henry ... Panggil aku Henry!"
Anson Haines adalah orang pertama yang mengeluarkan suara. Dia pernah mendengar tentang nama itu beberapa kali. Akan tetapi, dia sama sekali menganggap hal itu nyata.
"Tuan Henry ... Apa kau ingin mengatakan bahwa Big Table terlibat dengan sesuatu di sini? ... Tapi maaf! Sebelumnya, apa kau mengerti apa yang kita sedang bahas di sini?"
Banyak orang di sana menganggukkan kepala mereka saat mendengar pertanyaan Anson Haines itu.
Tentu saja begitu, Pemuda yang mengaku bernama Henry ini, terlihat begitu muda. Jadi, mereka menyangsikan perkataannya.
Akan tetapi, saat itu juga Alice Sanders menyalakan mic dan menatap pada Anson Haines, dan berkata.
"Tuan Haines ... Jika kau meragukan apa yang dia ucapkan hanya karena melihat penampilan serta umurnya, aku pikir kami harus mempertimbangkan kembali keberadaanmu di sini."
Saat mengatakan itu, Alice sempat melirik sebentar pada Julius Clark. Saat itu, pria tersebut juga terlihat sudah menekan tombol mic nya namun Alice mendahuluinya.
Namun, mendengar kata-kata Alice, kening Anson berkerut. Dia yakin tidak hanya dirinya saja yang berpendapat sama di ruangan ini.
"Nona Sanders ... Dengan segala Hormat. Aku telah lama menjalani dunia yang sedang kita bicarakan ini. Big Table? ... Tentu aku pernah mendengarnya. Hanya saja, setelah sekian lama, aku tidak yakin bahwa itu memang ada ... "
Anson menggantung kata-katanya, lalu berbalik menoleh pada Henry, dan kembali melanjutkannya.
"Dan tiba-tiba saja seorang pemuda di sini mengatakan hal tersebut. Aku hanya menebak, dia pernah mendengar nama itu di suatu tempat, dan mengatakannya di sini untuk menarik perhatian. Itu—"
Kata-kata yang panjang itu, langsung terpotong oleh Julius Clark yang sejak tadi sudah menahan geram.
"Cukup! ... Tuan Haines, berhenti di sana!"
__ADS_1
Saat itu, suasana langsung berubah. Keduanya datang bersama, namun saat ini terlihat sedang memiliki pandangan berbeda.
"Tuan Clark, kenapa kau menghentikan ku? Aku hanya ... "
Haines kehilangan kata-katanya karena saat itu juga dia melihat Julius melihatnya dengan tatapan mengancam. Dia hendak kembali berkata, namun nalurinya mengatakan jika dia meneruskannya, maka dia akan benar-benar di usir dari tempat ini.
Hal itu juga di rasakan oleh yang lainnya. Seolah membicarakan umur dan pengalaman, adalah hal paling sensitif di ruangan ini. Itu ditandai dengan lima orang lainnya, yang juga menatap Anson Haines dengan cara yang sama, dengan apa yang ditunjukkan Julius Clark.
Suasana di sana benar-benar berubah, karena pembahasan beralih pada topik yang sangat jauh melenceng. Akan tetapi, Henry hanya tersenyum dan kembali menekan tombol mic di depannya.
"Maaf, aku di sini tidak untuk di nilai apakah perkataanku benar atau tidak. Jika ada yang meragukannya, silahkan bicara setelah aku menyelesaikannya."
Alice Sanders langsung mengangguk, dan mengangkat tangan mempersilahkan Henry meneruskannya.
"Silahkan Tuan Henry ... Untuk itulah, kalian bertiga, sengaja kami minta secara khusus datang untuk datang pada pertemuan ini."
Liam dan Noel mengangguk berterimakasih kasih pada Alice. Karena ucapan wanita itu, membuat semua orang menatapnya dengan cara yang sudah sedikit berbeda.
Setelah mengatakan itu, Henry kembali melanjutkan.
"Seperti yang aku katakan, bahwa ada organisasi yang jauh lebih kuat dari the Elevens. Jika ada di sini, yang tidak mengetahui keberadaan mereka, maka aku menganggap hal itu adalah wajar. Mengetahui keberadaannya saja, sudah membuat aku dan temanku hampir mati, jika teman kami, tidak datang tepat waktu untuk menyelamatkan."
Orang-orang langsung mengangguk mengerti, saat melihat penampilan Henry dan William di sana. Akan tetapi, mereka tidak puas dengan jawaban itu, dan Henry sudah menyadarinya.
"Big Table, bekerja di belakang layar ... Aku mengetahui ini secara kebetulan. Mungkin, ini juga yang menjadi pemicu semuanya ... Aku hanya ingin mengatakan bahwa, tidak hanya Zargosky, Shelby, Zille atau keluarga Flare saja yang akan kita hadapi kedepannya ... lima Jaringan keluarga mafia lainnya dari the Elevens, sudah terlibat sejak awal."
Mendengar itu, semua orang menajamkan pendengarannya dan menatap fokus ke mulut pemuda yang berbicara itu.
Saat mereka menyangka Henry masih akan terus berkata, tapi pemuda itu sudah menarik diri dan menjauh dari mic-nya.
Namun, seorang pemuda lainnya, maju dan langsung berkata.
__ADS_1
"World Order, akan menghadapi seluruh kekuatan Jaringan keluarga Mafia di negara bagian ini, dalam waktu bersamaan. Itulah yang ingin dikatakan temanku ... "
Semua fokus beralih pada Liam. Pemuda itu tampaknya sudah mengerti dengan apa yang dikatakan Henry. Bahkan, sepertinya bertiga, mereka sudah membahasnya terlebih dahulu.
Hanya saja, dari semuanya yang sudah di bahas, tidak ada yang lebih mengerikan dengan apa yang di maksud oleh dua pemuda ini.
Dan sebentar lagi terasa akan menjadi tiga pemuda, karena saat itu, Noel yang berada di tengah keduanya, juga sudah memajukan tubuhnya lalu menyalakan mic di depannya.
"Tuan-tuan ... Sebaiknya kalian tidak hanya melihat apa yang di depan mata. Ada banyak hal yang sepertinya telah kalian lewatkan di sini ... Aku yakin, inilah cara kerja Big Table yang dimaksud temanku. Seseorang atau sesuatu sudah bergerak di belakang layar. Sebaiknya, kita memulainya dari sana."
Saat itu juga, semua orang yakin, bahwa keberadaan tiga pemuda ini sangat penting di ruangan itu. Sepetinya, ketiganya, lebih mengetahui banyak hal tersembunyi di negara bagian ini daripada mereka.
Alice dan yang lainnya tersenyum. Fakta bahwa ketiganya adalah sahabat Noah, itu semakin membuat mereka bangga. Seorang yang luar biasa, akan di kelilingi oleh orang-orang yang luar biasa pula.
Antonius sempat merasa menyesal telah mengirim mereka dan berakhir sangat tragis sebelumnya. Akan tetapi, saat ketiganya muncul dan melakukan lompatan pembahasan kedalam hal yang jauh lebih penting, pria itu memiliki senyum yang paling lebar di antara yang lainnya.
Alice kembali menyalakan mic di depannya, dan mengedarkan pandangannya pada semua orang.
"Baiklah Tuan-tuan ... Sepetinya kita sudah memulai dengan cara yang salah. Sekarang, kita sudah tau titik awalnya ... Jadi, kita akan mulai dari sana. Jadi, aku menyarankan agar kalian membuat draft informasi yang kalian punya terlebih dahu—"
Mereka semua mengernyitkan kening, saat kalimat Alice berhenti di udara. Sekarang, mata wanita cantik itu menatap pada ponselnya yang sedang bergetar di atas meja.
Jelas semua orang sempat melihat mata wanita yang begitu mendominasi di pertemuan ini, melebar saat menatap benda itu.
Begitu Alice mengangkatnya, wanita itu langsung memberi tanda pada yang lain. Agar jangan bersuara.
Saat itu juga, semua orang sudah bisa menebak siapa yang sedang menghubungi wanita tersebut.
"Ya, Boss ... ?"
"Alice ... Kumpulan semua orang di aula pertemuan gedung ini ... Aku akan segera ke sana ... !!"
__ADS_1