
Saat itu mendengar kata-kata Noah, ketiganya langsung berbalik dan menoleh pada pemuda kini tersemat sebuah senyuman di wajahnya itu.
"Tuan Evans? ... "
Ivy tidak tau cara menanggapi apa yang baru saja di dengarnya itu, dengan cara apa.
Berpikir bahwa dia bahkan seluruh keluarganya akan menjadi sasaran amukan Noah, namun sekarang sebuah ucapan terimakasih lah yang dia terima.
Noah menganggukkan kepalanya, dan menjelaskan maksudnya.
"Aku tidak tau bahwa hal ini, akan menjadi seperti ini ... Akan tetapi, kau memang telah membukakan jalan pada tujuanku yang sebenarnya ... Zargosky atau siapapun itu, aku tidak peduli ... begitu seluruh masalah ini selesai. ... Aku ingin memastikan, kitalah yang berdiri di puncak dan mendominasi semuanya ... !"
Mata ketiganya langsung terbelalak, saat mendengar tujuan Noah yang sebenarnya. Tidak pernah terpikir oleh mereka Satelite atau World Order akan ikut dalam persaingan menuju puncak yang di picu oleh Jaringan keluarga Zargosky itu.
"Tuan Evans ... Tapi, sebenarnya ... Ehm ... Ada masalah lainnya yang—"
Julius ingin mengatakan bahwa Tobias Zargosky telah lebih dahulu menyulitkan mereka. Namun, saat itu juga Noah mengangkat tangan tanda meminta Julius Clark mengehentikan ucapannya.
Pemuda itu terlihat sedang mengusap layar ponselnya seperti sedang mencari sebuah nama dari daftar kontaknya.
Saat dia menemukannya, Noah langsung menekan layar dan menghubungi nama itu. Tak lama, panggilannya itu pun tersambung.
"Tuan Evans? ... "
"Alex ... Apalah gelanggang olah raga bisa di gunakan sebagai lapangan pacu pesawat terbang?"
Di seberang sana, Alex sempat terdiam seperti sedangnmencoba mencerna apa yang baru saja di tanyakan Noah. Namun, tak lama dia menjawabnya.
"Tentu saja ... Gelanggang Ini bahkan lebih luas dari Bandara internasional Negara bagian ini ... "
Saat mendengar itu, Noah tersenyum puas, lalu kembali berkata.
"Senang mendengarnya ... Alex, dengarkan aku ... Seluruh material akan di kirim lewat pesawat langsung ke sana ... Jadi, atur bagaimana semuanya bisa terjadi secepatnya ... Kau mengerti?"
Seperti Alice dan Antonius, Alex juga berniat membuktikan dirinya pantas berada di di bawah Noah. Tidak begitu memperdulikan bagaimana caranya nanti, sekarang, yang dia tau hanyalah dia tidak boleh mengecewakan pemuda yang sedang berbicara dengannya ini.
"Baiklah, aku mengerti ... Aku akan segera mengaturnya ... "
__ADS_1
"Baiklah, aku menganggap bahwa urusan di sana sudah selesai dan tolong katakan ini, pada Antonius ... "
"Baiklah, aku akan menyampaikannya ... "
"Alex?"
"Ya, Tuan Evans? ... Apakah ada yang lainnya?"
"Tidak, tidak ada ... Tapi, Terimakasih ... "
Panggilan itu terputus saat Noah selesai mengucapkan rasa terimakasihnya pada Alex, yang sama sekali tidak mengecewakannya saat menanggapi permintaannya yang sebenarnya terdengar gila itu.
Namun, tiga orang yang di sana bersamanya, benar-benar terpana dengan cara Noah mengatakan sesuatu yang terdengar sangat gila, seolah itu bukan apa-apa.
Akan tetapi, kegilaan yang sebenarnya, akan segera mereka dengar, karena saat itu juga Noah kembali bersuara.
"Tuan Clark ... Lupakan jalur laut dan Biarkan si bodoh Zargosky itu melakukan pekerjaan konyol ... Saat ini kita akan beralih menggunakan jalur udara, untuk mengurus masalah material ini ... "
Meski masih terkejut, Julius yang merasa sudah mengerti, langsung menganggukkan kepala dan menanggapinya dengan sigap.
Kalimat Julius langsung terputus karena saat itu Noah sudah berdiri sambil menggelengkan kepalanya, tanda tidak menyetujui apa yang akan dia sampaikan.
"Tidak, tidak ... Tidak ada lagi kata kontrak atau sewa ... Kita akan membeli pesawat-pesawat itu ... Tidak ada yang bisa menghentikan kita, karena kita adalah World Order. Suatu saat, kita akan mengatur dunia ini, bersama ... "
Setelah mengatakan itu, Noah mulai melangkah. Sementara keluarga Clark terdiam membeku di tempat mereka.
Ketiganya tersentak dan langsung berdiri karena tiba-tiba Noah kembali bersuara, yang seolah memaksa ketiganya kembali ke dunia nyata, dari kejadian yang terdengar seperti mimpi itu.
"Oh, Tuan Clark ... Setelah ini selesai, carilah tempat dan bangun sebuah bandara yang jauh lebih besar dari yang negara bagian ini miliki ... Lagipula, kita belum belum memiliki bandara bukan? ... "
Julius hanya bisa menganggukkan kepala membenarkan apa yang dikatakan Noah. Setelah itu, pemuda itu juga ikut mengangguk sekali, dan menoleh pada Ivy dan kembali berkata.
"Ivy ... Aku pernah mengatakan bahwa aku menyukaimu karena kau berani dan bertanggung jawab, bukan?"
Sekarang, giliran gadis itu yang menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan Noah.
Dengan sebuah senyuman yang menampakkan keseriusan nya, Noah kembali berkata. "Tetaplah menjadi seperti gadis yang aku suka, mengerti?"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Noah meninggalkan ketiganya dalam keadaan terpana. Mereka benar-benar merasa beruntung berada di bawah seseorang yang mampu mengatasi masalah dengan begitu mudahnya.
"Aku bersumpah ... Dimasa depan, bahkan jika seseorang memintaku menukar keluargaku dengan nyawanya ... maka, aku lebih memilih mati bersama keluargaku ... !"
Kata-kata yang di ucapkan Julius, jelas terdengar seolah dua orang yang bersamanya tidak begitu penting jika dibandingkan dengan pemuda yang baru saja menghilang di sebalik pintu ruangan itu.
Akan tetapi, dua anggota keluarga Julius lainnya, menganggukkan kepala mereka karena mengerti kenapa Sang kepala keluarga berani bersumpah seperti itu.
Sama seperti apa yang di ucapkan suaminya. Miranda menambahkan dengan sesuatu yang tak jauh berbeda.
"Aku akan mati dengan tenang, jika nyawaku bisa menunjukkan bahwa keluarga kita bisa berguna untuknya ... "
Sementara itu, Ivy berdiri dengan wajah yang memerah. Gadis itu, merasa hatinya berbunga-bunga.
"Ayah, ibu ... Aku mencintainya ... Benar-benar mencintai dirinya ... "
Sementara itu, di gedung Perusahaan Media milik keluarga Langley, Antony Reyes baru saja menjelaskan beberapa hal penting yang bisa dia bagikan pada Rick dan Jack terkait Noah dan jaringan pemuda itu, yang diikutinya.
Mendengar siapa Noah, Ayah dan Anak itu seolah tidak bisa berkata-kata. Mereka dikejutkan dengan kesaksian Antony Reyes, karena takluknya kota Silverstone, terjadi langsung di depan matanya ditambah itu terjadi di dalam kediamannya sendiri.
"Paman ... Jadi, Noah sebenarnya adalah ... "
Jack tak berani melanjutkan kata-katanya karena dia mengingat hari di mana dia bertingkah konyol dan menyebalkan, di depan seorang pemuda yang sangat-sangat berbahaya bagi dirinya atau pun keluarganya.
Kerena tidak hanya Silverstone saja. Antony Reyes juga mengatakan bahwa the Ghost dan The Madness yang menjadi bahan pembicaraan orang-orang selama beberapa waktu terakhir di seluruh negara Bagian Goldwest itu, adalah orang yang sama.
"Jacky ... Kenapa wajahmu menjadi pucat seperti itu?"
Antony Reyes mengernyitkan dahinya, karena saat ini dia melihat Jack Langley, keponakan mendiang istrinya itu menjadi pucat dan berkeringat.
Sambil bertanya terbata, Jack langsung ingin memastikan sesuatu.
"Paman ... Jika aku pernah berbuat salah dan membuat orang itu kesal, meski aku memutuskan bergabung dan menjadi bawahannya, apakah dia masih akan menyimpan dendam padaku?"
Saat pertanyaan itu dilontarkan Jack, Antony Reyes langsung mengingat saat dimana dirinya mencoba menantang Noah untuk terakhir kalinya untuk memastikan bahwa pemuda itu memang pantas diikutinya, saat itu dia berakhir dengan sangat buruk.
"Jacky ... Percayalah, jika kau benar-benar telah membuatnya kesal, kau mungkin saja bisa mati ... Karena, saat terakhir kali dia menyerang ku, satu pukulan darinya, mampu membuatku tak sadarkan diri selama tiga hari ... "
__ADS_1