World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Mengejutkanku, Saja


__ADS_3

Sementara itu, hanya berselang beberapa menit saja, Noah sudah berhasil menumbangkan dua belas orang.


Eddy Faust yang ada di sana, sangat terkejut dengan kejadian tersebut. Memang, berita tentang kuatnya ketua gangster the Ravens sudah dia dengar, tapi siapa yang menyangka bahwa akan sekuat ini.


"Sial! ... Apa kalian bodoh, hadapi dia bersama-sama!"


Eddy Faust menjadi sedikit panik. Menurutnya, jika terus menghadapi pemuda yang sekarang sedang menggila itu sendiri-sendiri, tentu saja dalam waktu dekat separuh pasukannya akan segera tumbang.


"Buk!"


"Argh ... "


Noah baru saja memberi pukulan keras yang mengenai salah satu lawannya. Namun sebelum itu, dia sempat mendengar seseorang berteriak.


"Oh, jadi kau orangnya? ... Kebetulan sekali."


Mata Eddy Faust melebar. Karena saat itu Noah sedang menatap langsung padanya, sementara satu orang lagi anggotanya baru saja tumbang di tangan pemuda tersebut.


Tanpa sadar, Eddy Faust mundur selangkah. Namun begitu, sepertinya rasa kepercayaan dirinya belum runtuh seluruhnya.


"Apalagi yang kalian tunggu, b*staard!! Serang dan lumpuhkan bajingan itu!"


Saat itu juga, sepuluh orang yang berada paling dekat jaraknya dari Noah, langsung saling bertatapan. Mereka mengangguk bersamaan sebelum berbalik menatap Noah.


Sadar bahwa mereka memang tidak akan mampu mengalahkan pemuda gila yang ada dihadapan mereka itu satu lawan satu, kini mereka maju bersamaan.


"Hiyaaaa ... !"


Nkah hanya menggelengkan kepalanya, sebelum akhirnya menyongsong kedatangan mereka semua.


"Kalian bituh lebih dari jumlah ini untuk mengalahkanku, brengsek ... !"


"Buk!"


"Kraaak!"


"Aaaaaaaarrrggghh ... "


Satu lagi tendangan Noah di dada orang yang mendekat terlebih padanya, membuat orang itu berteriak kesakitan. Kali ini, tendangan itu tidak membuat lawannya terpental, tapi semua orang yang melihatnya dan mendengarnya tau, Noah telah meremukkan dada lawannya tersebut.


Dan sekali lagi Noah memanfaatkan kelengahan lawan-lawannya karena terkejut itu, untuk mulai menyerang mereka satu persatu.


Usai menendang orang yang kini telah jatuh terlungkup dengan mulut memuntahkan darah segar itu, Noah bergeser sedikit ke kiri lalu berputar seolah akan memberi tendangan yang sama kuatnya pada satu musuh yang datang.


Menyadari itu, musuhnya segera mencoba menghidarinya. Namun malang, itu hanyalah sebuah berakan pengalihan saja. Karena tepat setelah dia bergerak ke samping dan melihat pada kedua kaki Noah, dia tidak menyadari sebuah kepalan yang sangat cepat tengah meluncur langsung ke wajahnya.


"Buuuuk!"


"Buk!"


Pukulan yang ditambah dengan momentum perputaran tubuh Noah itu, berhasil menghempaskan musuh nya ke aspal jalan raya tersebut.


Tidak sampai di sana, Noah langsung berlari memdekat pada yang lainnya saat itu juga.


"Berdo'lah kalian, brengsek!"


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"

__ADS_1


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


Noah tidak memberikan siapapun yang tadi mencoba menyerangnya, untuk breaksi. Meskipun mereka sempat sedikit bergerak, saat itulah Noah datang menyerang.


Secara Naluri, mereka tau bahwa bergerak akan membuat mereka berhadapan langsung pada Noah. Namun begitu, diam ternyata juga tidak ada bedanya.


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


"Argh ... !" "Argh ... !" "Argh ... !"


Benar-benar serangan bertubi-tubi tanpa ampun. Jangankan untuk memberikan Noah perlawanan, bahkan untuk menangkis atau bahkan hanya sekedar menghindari serangan pemuda itu saja, mereka tidak mampu.


"Sial, siapa sebenarnya orang ini?!"


Salah satu orang di belakang yang berada tidak jauh dari Eddy Faust, berteriak padanya.


Selangkah demi selangkah, musuh Noah mulai mundur. Ketakutan mulai menjalari tubuh mereka. Saat ini, mereka sadar bahwa diri mereka telah salah memilih lawan.


Tanpa sadar, seseorang di antara lawan-lawannya bergumam.


"Oh, ****!  Kita hanyalah sekawanan itik, di depan Singa yang sedang marah ... "


Tentu saja gumaman itu di dengar oleh rekan-rekan di sebelahnya. Apalagi apa yang dia katakan itu sama sekali tidak salah.


"Eddy, Orang seperti apa yang yang kau bawa pada kami—"


Orang yang di yakini sebagai pemimpin kelompok itu, tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Karena saat itu, dia tidak lagi melihat Eddy Faust dan anggotanya berada di tempat di mana mereka tadi berdiri.


"Oh F**k ... Bajingan itu!"


Saat itu dia melihat ada tiga mobil telah menyala, dan langsung menancap gas meninggalkan mereka semua di sana.


Sementara itu, di sisi lain dari Arah belakang, William dan anggotanya beberapa saat yang lalu, sudah berniat membatu Noah.


Hanya saja, saat melihat bagaimana beringasnya Noah dihadapan musuh-musuhnya, William dan yang lainnya langsung berdiri terpaku di tempat mereka.


Meski telah melihat kehebatan Noah sebelumnya, namun siapa yang menyangka hanya beberapa menit saja, saat William dan yang lainnya mendekat ke sana, Noah sudah menumbangkan separuh musuh-musuhnya.


Berbeda dengan bagaimana reaksi Willam dan anggotanya, Boris Hanson benar-benar di buat terbelalak.


Sebelumnya, meski itu tidak terjadi, dia menyangka berhadapan dengan Eilliam Fane benar-benar sebuah kesalahan. Tapi, begitu dia melihat siapa yang sedang di hadapi oleh kelompok lainnya, membuatnya bersukur bahwa William lah yang datang padanya.

__ADS_1


Dengan gugup dan rasa pemasaran, Boris bertanya terbata. "Tuan William, Si-siapa Mo-monster gila itu?! ... "


Pertanyaan Boris, sontak membuat William tersadar. Namun, apa yang dikatakan Boris itu ada benarnya.


Karena, Tidak ada kata yang cocok saat ini, untuk mengungkapkan kejadian yang ada di depan mereka semua.


" Sama sepertiku, Dia adalah salah satu Raja, Tapi dia sangat berbeda ... Seperti yang kau lihat. Raja dari BronzeLand itu, benar-benar seorang Monster ... "


"Apa?! ... Dari BronzeLand?!"


Seorang Raja jalanan, pasti kuat. Setidaknya semua orang tau itu. Karena, di negara bagian Goldwest ini, untuk mendapatkan gelar itu seseorang harus di akui oleh yang lainnya.


Akan tetapi, ama seperti yang lain saat Noah pertama kali muncul sebelumnya. Siapa yang menyangka bahwa pemuda tersebut berasal dari sebuah kota kecil, yang sangat jauh tertinggal, dari yang lainnya.


"Ya, dia dari—"


William tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, karena seseorang memotong dan berseru padanya.


"Ketua, sepertinya ada yang sudah melarikan diri!"


Mata William langsung melebar. Dia juga melihat beberapa mobil sudah melesat menjauh dari sana.


"Sial ... Ayo,  bantu Noah menyelesaikannya ... "


Di depan, Noah terus menghajar siapapun musuh yang ada di dekatnya. Dia tidak menghitung sudah berapa musuh yang telah di tumbangkannya.


Akan tetapi, dia  menghentikan gerakannya, karena tiba-tiba saja semua musuh yang ada di sekitarnya berlutut di depannya.


"Sial, apa yang kalian lakukan, brengsek?!"


Tanya Noah segera terjawab, karena beberapa saat berikutnya, terdengar suara derap langkah kaki dari belakang, mendekat padanya.


Saat sudah berada di dekat Noah, dia melihat sisa-sisa lawan pemuda itu. William tidak heran kenapa sisa musuh Noah berlutut.


"Noah, sepertinya anggota keluarga Faust, sudah melarikan diri."


Noah berbalik dan melihat di kejauhan lampu belakang mobil yang terus mengecil mengangguk.


"William, pinjamkan aku mobilmu ... dan singkirkan mereka semua dari hadapanku ... "


Mendengar kata-kata Noah, Boris langsung menyela.


"Tuan Fane, biarkan aku dan anggotaku yang mengurus sisanya. Kalian bisa langsung mengejar mereka."


Saat itu, Noah mengernyitkan dahinya. Meski tidak mengenalnya, Noah yakin bahwa yang baru saja bicara, bukalah anggota William


"William, siapa dia?"


"Oh ini, dia pemimpin mus—"


Tidak sempat William menyelesaikan kata-katanya, dia melihat Noah menarik kepala Boris dan membenturkan pada kepalanya.


"Buk!"


"Arghhh ... "


Seketika boris terjatuh dengan memegang kepalanya, yang terasa baru saja membentur dinding beton dengan sangat keras.

__ADS_1


Saat itu, dengan samar-samar dia mendengar Noah mengumpat padanya.


"Sialan kau, brengsek ... Mengejutkanku saja."


__ADS_2