World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Tiga Mobil Mewah


__ADS_3

"Ya, Tuan Evans ... ?"


"Antonius, kita sudah pernah membahas tentang teman-temanku, kau mengingatnya?"


"Ya, tentu saja ... Bahkan saat ini, aku mengingat seluruh data mereka."


Noah sudah membicarakan sebuah proyek investasi jangka panjang untuk tiga orang temannya dengan Antonius.


Dari sinilah, dia mendapatkan skill dasar investor di dalam Bell, Sistemnya.


"Antonius, mereka sahabat-sahabatku dan sekarang mereka ada di asrama pria di kampusku. Tolong atur dan kirim seseorang untuk menjemput ketiganya, mereka sangat ingin menikmati hiburan di DevilHill. Kau mengerti maksudku?"


"Ya, tentu aku mengerti. Aku akan mengaturnya."


"Baiklah, Terimakasih. Nanti malam aku juga akan ke sana."


Noah langsung memutus panggilan saat itu juga. Menurutnya, Antonius pasti sudah mengerti apa yang harus dilakukan pada tiga temannya tersebut. Sekarang, Noah ingin memastikan sesuatu.


"Old Ted, bukankah kau mantan marinir?"


Tidak menjawab pertanyaan Noah, di seberang sana, Ted Bowie sudah bisa menebaknya. "Noah, kau bisa langsung katakan, apa yang kau butuhkan?."


"Baiklah kalau begitu ... Aku akan mengirim gambar dua orang pemuda. Tolong  periksa latar belakangnya."


"Baik, serahkan padaku."


Saat itu telah lewat tengah hari, Noah menghentikan mobilnya dan mencari tempat parkir tidak jauh dari restoran tempat biasa dia makan siang.


Seperti biasanya, saat siang hari, tempat itu cukup ramai pengunjung. Saat mencari tempat duduk, matanya tertuju pada sebuah meja. Namun, bukan meja yang menarik perhatiannya, tapi siapa yang sedang duduk di sana.


"Jade? ... "


Jade tampak sedikit terkejut saat Noah memanggilnya, dilihat dari mana saja, jelas gadis itu sedang melamun.


"Noah, kau ... Apa ... Oh tidak. Kau sudah datang?  Duduklah."


Noah sedikit heran melihat tingkah gadis itu. Namun, dia tetap menerima tawarannya dan duduk di depannya.


"Kebetulan sekali, apa kau sudah makan?"


Jade hanya menggeleng. "Noah, sebenarnya aku sedang menunggumu di sini."


"Hmm ... Menungguku?"


"Ya, meski kau adalah teman pertamaku di kota ini, aku baru menyadari bahkan aku tidak menyimpan nomormu."


Noah benar-benar heran dengan sikap Jade. Memang, mereka baru saja bertemu, tapi Noah cukup yakin gadis cantik ini adalah gadis yang energik dan selalu ceria.


Tapi, saat ini Jade terlihat sedikit berbeda. Seolah seluruh masalah di dunia ini, sedang berenang-renang di kepalanya.

__ADS_1


"Jade, kau sedikit berbeda. Apakah sudah terjadi sesuatu?"


"Leyton ingin aku menjadi pacarnya."


Mata Noah sedikit melebar, walau sebentar. Tidak tau apakah Jade sempat melihat reaksinya itu.


"Oh begitu, lantas kenapa malah menungguku di sini?"


"Noah, memang terjadi sesuatu. Dan aku sepertinya harus menerima Leyton. Yah, walaupun sebenarnya aku lebih tertarik padamu ... "


"Haha ... Lucu sekali."


Jade hanya menggelengkan kepala. Reaksi Noah tidak seperti yang dia harapkan.


"Jadi, Lucy itu mantanmu?"


"Jade, aku tidak suka membahasnya. Lagipula, aku rasa kau juga sudah tau bagaimana ceritanya."


Melihat reaksi Noah yang langsung berubah kesal, Jade cepat menanggapi.


"Baik ... Baik, salahku. Maafkan aku."


"Oke, katakan apakah kau menunggu hanya untuk itu, atau ada hal lain yang ingin kau katakan."


"Ya, ada hal lain. Noah ... Ada alasan, kenapa aku tiba-tiba pindah ke universitas kita di tengah semester."


Saat mengatakan itu, makanan pesanan Noah, datang. Sambil makan, Noah mendengarkan Jade bercerita.


"Jadi, untuk mengatasi masalah keluargamu, kau meminta bantuan Leyton?"


Jade mengangguk. "Ya, aku lihat dia sedikit memiliki kemampuan. Karena Aku sudah tidak tau harus meminta bantuan pada siapa lagi."


"Jade, berapa hutang perusahaan keluargamu?"


"Noah, jika aku katakan, sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Bahkan, keluarga Leyton juga tidak mampu membantu. Mereka hanya menawarkan sebuah proyek pada ayahku, agar keluarga kami mampu bertahan."


"Jade, katakan padaku dimana tepatnya perusahaan keluargamu?"


"BronzeLand, aku berasal dari sana."


Mata Noah melebar saat mendengar nama kota itu. "Benarkah? Aku juga dari sana."


Jade tersenyum mendengarnya. "Hebat, kita bahkan tidak pernah bertemu padahal kita berasal dari kota yang sama."


"Yah, itu karena saat sekolah, aku menghabiskan waktuku untuk bekerja paruh waktu. Aku di besarkan di panti asuhan kecil."


Jade mengangguk mengerti. Jadi, kabar tentang Noah adalah mahasiswa termiskin di kampus mereka, ternyata benar.


Beberapa kejadian, pernah membuat Jade meragukan kondisi Noah yang sebenarnya. Namun, saat ini dia menyimpulkan bahwa itu hanya dugaannya saja.

__ADS_1


Itu karena Jade berharap hidup pemuda di depannya ini, tidak sesulit apa yang dikatakan oleh teman-temannya.


Meski begitu, sejak awal gadis itu tidak pernah mempermasalahkannya. Baginya, Noah tetap pemuda yang sangat menarik.


"Baiklah, Noah. Aku rasa aku harus bersiap-siap. Leyton mengajakku keluar malam ini ... Hmm, lagi pula aku rasa kau sudah tau."


"Jade, sebentar. Aku akan mengantarmu."


"Tidak, ...  tidak perlu. Aku akan memanggil taksi dan kau, silahkan teruskan makan siangmu."


Belum sempat Noah bereaksi apapun, Jade kembali bicara. "Noah, kau tidak perlu membuktikan apapun pada Greg atau Leyton. Bagaimanapun, bagiku kau bukan seorang pecundang. Aku percaya padamu ... "


Lagi-lagi Jade tidak memberikan Noah kesempatan untuk bereaksi. Setelah mengatakan itu, gadis tersebut langsung pergi meninggalkan Noah begitu saja.


***


Sore hari, terjadi kehebohan di asrama pria universitas Goldwest. Bagaimana tidak, saat itu tiba-tiba saja tempat tersebut di datangi tiga buah mobil sedan super mewah.


Tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui merk mobil tersebut. Namun, dari semua pakaian supir yang keluar dari mobil tersebut, jelas bahwa siapapun yang akan di temui oleh mereka adalah orang yang sangat-sangat penting.


"Permisi, kami datang untuk menjemput Tuan Henry, Tuan Liam dan Tuan Noel. Apakah ada dari kalian disini yang mengenalnya?"


Di sanalah kehebohan dimulai. Siapa yang menyangka bahwa orang-orang itu akan datang untuk menjemput tiga dari empat pecundang paling terkenal di asrama bahkan kampus mereka itu.


Henry, Liam dan Noel bahkan gemetaran saat mengetahui bahwa kedatangan tiga mobil itu, adalah untuk menjemput mereka.


"Tuan-tuan, apakah kalian tidak salah orang. Kami bertiga sama sekali tidak merasa melakukan apapun sebelumnya."


"Maaf, kami hanya menjalankan perintah. Silahkan ikut, seseorang akan menjelaskan semuanya nanti setelah kita sampai di tempat tujuan."


"Sebentar. Kami akan berganti pakaian."


Bisa dipastikan seluruh penghuni Asrama itu keluar untuk menyaksikan hal tersebut. Beberapa dari mereka merekamnya. Berharap sesuatu yang besar lainnya akan terjadi.


Tidak sedikit yang berfikir, bahwa bisa saja pria-pria berbadan besar yang menggunakan stelan jas mahal berkaca mata hitam itu, akan menarik paksa atau bahkan memukul ketiganya jika menolak mengikuti mereka.


"Baiklah, silahkan. Kami akan menunggu di sini."


Saking takutnya, Liam dan Noel sempat berfikir untuk kabur. Namun, Henry menahan keduanya.


"Sebentar ... Bukankah, Noah mengatakan bahwa akan ada yang menjemput kita?"


"Henry, aku rasa mereka bukanlah orang yang Noah maksud. Aku rasa ini sudah lain cerita."


"Tapi, apa yang kita lakukan sampai membuat seseorang marah, hingga mengirim tiga mobil mewah menjemput kita?"


Tentu saja mereka tidak ada yang bisa mengingatnya. Bahkan, Noel yang memliki kehidupan yang sedikit lebih baik dari yang lainnya, juga tidak merasa memiliki urusan dengan orang yang mampu mengirim tiga orang itu.


"Sudahlah, sebaiknya kita ikuti saja. Lagipula, apa kalian berfikir kita bisa kabur dari ketiganya?"

__ADS_1


Dengan penuh keraguan dan tanda tanya, akhirnya tiga sahabat Noah itu pergi dengan mobil-mobil tersebut.


__ADS_2