
Kedua gadis itu menatap bagaimana Noah bereaksi dan kembali saling berpandangan, berharap salah satu dari mereka bisa mengerti apa maksud dari sikap pemuda di dekat mereka tersebut. Namun, keduanya langsung menggelengkan kepala karena tidak mendapat petunjuk apapun.
Noah membiarkan keduanya asik berbincang dan ikut sekali-sekali, saat mereka bertanya, atau ada sesuatu yang menarik untuk dia tanyakan.
Untuk memastikan sekali lagi tentang apa misinya kali ini, dan agar tidak kesalah fahaman seperti sebelumnya, Noah sekali lagi ingin melihat panel pada Bell, Sistemnya.
"Bell ... "
[Nama Pengguna \= Noah Evans]
[Status \= Manusia Bumi level B]
[Pengalaman(P) \= 150]
[Mentalitas(M) \= 90]
[Vitalitas(V) \= 90]
[Sense (S) \= 60]
[Intuisi (I) \= 55]
[Keahlian Spesial (KS) \= 5(!)]
[Poin (P) \= 10.062.217]
[Poin Spesial (PS) \= 250]
[Level (L) \= 4]
[Minimal Belanja Bulanan (MBB) \= 500.000.000.000]
[Misi Sistem : Penyelamatan dan Dominasi]
[Mode Misi : Gluttony(Kerakusan)]
[Misi Utama : Penguasa]
(Keterangan : Selama misi berlangsung, pengguna hanya bisa melakukan peningkatan pada tiga ability dan hanya satu kali peningkatan pada masing-masing ability.)
Semuanya memang tampak seperti misi-misi sebelumnya, selain mode misinya telah berubah. Hanya saja, Noah melihat tambahan satu keterangan lain di sana.
Jika Noah hanya bisa menaikkan masing-masing satu kali setiap panelnya, maka dia merasa sedikit kecewa karena tidak menaikkan semuanya langsung saat misi sebelumnya selesai dan levelnya naik.
Sekarang, dia hanya punya sekitar sepuluh juta Poin saja. Sementara, untuk menaikkan setiap panel ability yang ada di Sistemnya, Noah jelas butuh lebih dari itu.
Level Empat membuat harga setiap ability pada sistemnya menjadi naik secara signifikan, dan harga kemampuan spesial juga naik.
Masalahnya tidak hanya itu saja. Misi ini terasa semakin sulit jika dia hanya bisa menaikkan tiga ability saja.
__ADS_1
Dominasi membawa pikiran Noah pada kesimpulan bahwa, dia harus menguasai HighCopper.
Sementara itu, seperti apa yang di jelaskan Julius sehari sebelumnya, kota ini tak biasa. Meski perusahaan miliknya sudah mendapatkan sedikit pengaruh di sini, namun itu tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Jaringan yang memiliki otoritas tertinggi, di kota ini.
Intuisi Noah pernah salah dalam menyimpulkan Misi sebelumnya. Itu menjelaskan level ability nya untuk hal tersebut, masih rendah.
Sekarang, dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Noah berpikir untuk menyelediki langsung segala sesuatu terkait tentang kota ini.
Setelah mendapatkan sebuah ide yang menurutnya sangat tepat, Noah meminta Julius dan Aiden mengatur banyak hal untuk dirinya.
Dia meminta kedua orang itu, untuk mengatur agar siapa saja yang mengenal dirinya di kota ini, bersikap seolah tidak mengenalnya.
Sekali lagi Noah menyamar, namun tidak seperti rencana yang dia katakan pada Julius sebelumnya, di mana dia berencana menjadi salah satu asisten Julius, namun Noah memutuskan untuk menjadi salah satu mahasiswa di universitas paling terkenal di kota ini.
Noah menyadari bahwa dia sekarang sudah cukup kuat. Namun, dia sangat mengetahui bahwa masih banyak orang yang jauh lebih kuat dari dirinya.
Bertindak sedikit lebih hati-hati menurutnya adalah pilihan bijak. Jaringan-jaringan Mafia perusahaan selalu tertutup dan sulit di baca.
Akan tetapi, Sebuah kampus, akan menunjukkan langsung siapa dan bagaimana kekuatan jaringan di kota ini yang sebenarnya.
Karena Noah yakin, di sinilah anak-anak para pemilik pengaruh serta kekuasan di HighCopper, berada.
Noah yakin Hendry dan Liam juga berfikir sama atau bahkan lebih. Mungkin saja kedua temannya itu, telah melakukan hal yang sama dengannya.
Namun, karena saat ini misi nya tidak hanya sekedar mendominasi saja, itu membuat Noah sedikit cemas. Penyelamatan seolah menegaskan bahwa misi ini ada hubungannya dengan situasinya.
"Henry, Liam ... Kuharap, kalian berdua baik-baik saja."
Namun beberapa saat kemudian, saat Mia melihat jam pada ponselnya, mata gadis itu segera melebar.
Noah yang saat itu melihat tanda yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang baru di dalam sana, mencoba membuka bar kemampuan spesialnya, harus mengurungkan niat, karena mendengar gadis itu berseru.
"Oh Sial, bagaimana aku bisa terlambat di hari pertamaku ... ?!"
Noah mengernyit heran, saat melihat Mia yang kini memegang kepalanya tampak panik. "Mia, ada apa?"
Gadis yang sekarang sudah berdiri itu, langsung menjawab meski tidak sesuai dengan jawaban atas pertanyaan Noah tadi.
"***** bagaimana ini ... Aku bahkan tidak tau di mana gedung fakultasnya!"
Saat gadis tersebut mengatakan itu,barulah Noah dapat mengerti apa yang terjadi. Dia menatap pada Sally yang sedang tersenyum melihat kepanikan Mia, sebelum akhirnya gadis itu berkata.
"Mia, tenanglah ... Ada aku. Aku akan menunjukkannya padamu ... "
Saat itu juga, Mia langsung menarik tangan Sally berusaha membawa gadis itu keluar dari sana saat itu juga.
"Hei, pelan-pelan ... Kelas mu, tidak akan kemana-mana!"
Tidak mendengarkan kata temannya itu, Mia malah mengambil semua buku Sally dan memeluknya, sebelum akhirnya berkata.
__ADS_1
"Aku akan membawakan ini, tunjukkan jalannya ... "
Bahkan saking paniknya, Mia melupakan Noah yang masih duduk sambil menatapnya dan pergi begitu saja.
Noah menggelengkan kepalanya saat Mia dan Sally menghilang dari sana. Dia tidak menyangka gadis itu benar-benar bersemangat untuk berkuliah.
Dia menarik nafas sekali, sebelum akhirnya berdiri. Noah mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan, lalu menganggukkan kepala.
"Baiklah, aku rasa aku harus memulainya dari suatu tempat di sini."
Noah pun akhirnya keluar.
Sementara itu, di tempat tidak jauh dari sana. Jack dan teman-temannya terlihat sedang berjalan, dan melihat Mia dan Sally berjalan berdua, tampak tergesa-gesa.
Mereka semua saling bertatapan, sebelum akhirnya tersenyum bersamaan. Tanpa aba-aba, mereka semua mulai melangkah dan mengikutinya.Hanya saja, tiba-tiba sebuah suara menghentikan mereka.
"Lupakan, apapun yang ingin kalian lakukan, dan kemarilah ... Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."
Berbeda dari yang lainnya yang menjadi kesal, Mata Jack terbelalak saat mengetahui siapa yang baru saja bicara.
Noah dengan kedua tangannya terlipat di dada, menatap datar pada mereka.
Jantung Jack terasa hendak pecah karena tiba-tiba saja salah seorang dari gerombolannya itu, berteriak pada Noah.
"Brengsek ... Kau bilang apa, hah?!"
Jack tau bahwa Noah berbahaya, namun dia begitu malu untuk mengakuinya. Akan tetapi, saat temannya berteriak seperti itu, membuatnya berpikir cepat. dia langsung memegang bahu temannya tersebut dan berkata, kesal.
"Sial, kecilkan suaramu ... Apa kau ingin merusak telingaku?"
Memang teriakan itu sedikit kuat dan penuh ancaman. Tapi, mengatakan bahwa itu bisa merusak telinga, terasa sangat berlebihan, walau itu hanya bercanda, apalagi melihat bagaimana situasinya.
Tidak bisa terima, pemuda yang tadi berteriak, mencoba menjelaskan situasinya.
"Jack, brengsek ini mengatakan sesuatu, seolah tidak menghargainya sama sekali. Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran, agar dia tau dengan siapa dia ... "
Pemuda itu mengerutkan dahinya, karena melihat Jack mengeluarkan keringat banyak di wajahnya yang entah bagaimana bisa menjadi sangat pucat.
Namun, dia langsung terperanjat saat seseorang telah berdiri di belakangnya dan bertanya dengan suara rendah.
"Apa maksudmu, orang yang ingin kau beri pelajaran itu, aku?"
Tidak sampai sepersekian detik saat dia menoleh kebelakang, pandangannya menjadi gelap.
Hal yang terakhir kali dia lihat sebelum kehilangan kesadarannya, hanya ruas-ruas jari terkepal yang melesat cepat, entah bagaimana sudah berjarak beberapa inci saja dari wajahnya.
Bahkan, Jack dan yang lainnya yang melihat Noah berdiri di sana, tidak bisa melihat dengan jelas pukulan yang dilayangkan pemuda itu.
Sekarang, dengan satu orang sudah terlentang di tanah, Noah kembali bicara pada Jack dan yang lainnya.
__ADS_1
"Sekarang katakan ... apa masih ada yang ingin memberiku pelajaran ... ?