
"Noah! Bagaimana bisa kau berakhir dengan luka tembak seperti ini? Apa yang terjadi?"
Alice tidak habis pikir, dia melihat luka tembak di bahu Noah, sore hari setelahnya.
Itu karena dia berada di kamar pemuda itu, sesaat setelah Noah keluar dari kamar mandi.
Noah hanya menggelengkan kepalanya, lalu menjawab. "Sesuatu terjadi, dan aku harus menerima luka ini ... Bukan masalah besar."
Hanya orang yang memiliki kegilaan level akut yang akan mengatakan sebuah luka tembak bukan masalah besar. Alice menatap pemuda yang sedang mengenakan celananya ini, dengan sedikit jengkel.
"Plak!!"
"Auch ... "
"Rasakan itu ... !!"
Noah tidak menyangka wanita yang duduk di depannya ini, akan menampar lukanya tersebut.
"Apa kau gila? ... Luka ini akan terbuka dan aku bisa saja mati!"
Alice berdiri dan mendengus. "Yah, setidaknya aku akan dikenal orang sebagai satu-satunya orang yang mampu membuat the Madness, mati hanya dengan satu tamparan. Sepertinya itu akan terdengar sangat hebat!"
Alice melihat Noah berdiri dan tersenyum kecut, dan pemuda itu kembali berkata.
"Untuk itu, kau harus sedikit menunggu ... Kau boleh membunuhku saat aku sudah berdiri dipuncak tertinggi. Saat itu, aku jamin tidak akan ada orang yang akan berani untuk membalaskan dendamku, padamu."
"Baiklah ... Aku akan mempertimbangkannya. Saat kesempatan itu tiba. Tapi, saat ini ada yang ingin aku sampaikan padamu."
Saat itu, Noah telah selesai mengenakan seluruh pakaiannya. Dia berbalik dan menatap pada Alice.
Melihat wajah wanita itu tampak serius, Noah langsung mengerti maksudnya.
"Apakah dia sudah bergerak?!"
Satu anggukan dari Alice, membuat Noah tersenyum. Namun, wajah wanita cantik itu tampak sedikit cemas.
"Noah ... Sepertinya dia membawa seluruh kekuatan yang bisa dikumpulkannya ... "
Noah berjalan melewati Alice, dan wanita itu terdiam sebentar lalu berbalik mengikutinya.
"Alice ... Kau pernah bertanya padaku. Jika aku ingin menjadi Raja, maka raja seperti apa aku ini, bukan?"
Alice mengingat kapan dia menanyakan hal itu. Tapi, untuk menjawabnya saat ini, wanita tersebut merasa bahwa ini bukanlah saat yang tepat.
"Soal itu ... Maksudku, itu soal ... "
Noah mengehentikan langkahnya dan Alice reflek ikut berhenti tepat di sebelahnya.
Wanita itu menoleh pada Noah yang tertunduk, lalu meletakkan kedua tangan di pinggang, tampak berpikir.
"Alice ... Saat melihat Aiden terbaring dengan luka yang sangat parah, saat itu aku merasa gagal menjadi seorang ketua ... Namun, saat melihat Ivy dan yang lainnya ... Saat itu, aku sempat kehilangan keinginanku untuk melanjutkan ini semua ... "
Alice tak bersuara, namun dia menatap lekat pada wajah pemuda tersebut. Beberapa deti kemudian Noah mendongakkan wajahnya ke atas, sebelum berbalik menoleh padanya.
__ADS_1
"Alice ... Mendominasi negara bagian adalah tujuanku ... Tapi, semua itu tidak berarti jika aku tidak bisa memastikan brengsek itu!melihat neraka, karena telah berani menyentuh, milikku ... !!"
Alice sempat merinding saat mendengar mengatakan hal tersebut. Namun, beberapa saat kemudian dia tersenyum.
"Sepertinya, aku sudah tau kau akan menjadi Raja seperti apa ... sekarang, aku tidak peduli. Aku akan ikut, menghajar bajingan itu ... Jika kau membawaku!!"
Noah menganggukkan kepalanya, lalu kembali berjalan.
"Hei, aku serius ... Aku bisa melakukan sesuatu untuk—"
Alice tidak jadi melanjutkan kata-katanya, karena saat itu Noah berbalik dan berkata.
"Alice ... Aku yakin kau tidak hanya bisa melakukan sesuatu untukku ... Kau selalu melakukan sesuatu untukku di setiap waktu ... Itu kenapa, kau harus tetap berada di sini ... Menggantikan aku ... "
Noah menjeda kata-katanya, lalu kemudian melanjutkan. "World Order bukanlah World Order jika salah satu dari kita tidak ada di pusat kendalinya ... Kata-kata mu disini, apapun itu, adalah kata-kata ku, kau mengerti maksudku, bukan?"
Melihat Noah mengatakan itu dengan wajah seperti itu, Alice tersenyum. Dia melipat tangan di depan dadanya, lalu mengangguk sekali, kemudian Dengan penuh percaya diri, dia berkata.
"Pergilah! ... Aku akan memastikan seluruhnya berjalan sesuai dengan keinginanmu dari sini ... "
Noah balas tersenyum. Tidak ada kata lagi yang ingin dia ucapkan saat itu. Karena tidak ada orang yang paling dia percayai selain wanita ini untuk segala sesuatunya.
"Pergi dan tunjukkan pada brengsek itu ... Apa akibatnya, jika berani mengusik keluarga, kita!"
Noah kembali tersenyum lebar, saat mendengar Alice mengatakan itu di belakangnya. Dia mengangkat satu tangan, dan mengepalkan nya di udara.
Melihat itu, Alice tersenyum. "Zargosky ... Di tangan pemuda ini ... Sejarah tentang keberadaan keluarga kalian, akan segera berakhir ... !"
"Alice?!"
"Antonius ... Dia dalam perjalanan ke sana. Bersiaplah!"
Di seberang, Antonius yang mendengarnya melebarkan matanya. Saat panggilan itu terputus, empat orang yang saat ini ada di depannya menatapnya heran.
"Tuan Antonius ... Ada apa?"
Tidak menjawab Myra yang bertanya. Antonius mengalihkan pandangannya pada satu orang lainnya, dan berkata.
"Dax ... Dia dalam perjalanan ke sini ... "
Sekarang, giliran mata Dax yang melebar. Dia sudah bersiap, namun ternyata ini tetap mengejutkannya.
Gegas pria itu berdiri, lalu mengangguk mengerti. Tidak menunggu tanggapan yang lainnya, Dax yang dipercaya sebagi penanggung jawab keamanan di kota itu, langsung menghambur keluar saat itu juga.
Tiga orang yang lain, tidak perlu bertanya siapa orang yang di maksud oleh Antonius tersebut.
Baru beberapa hari yang lalu, mereka melihat sebuah tontonan yang begitu mengerikan terhampar di langsung di hadapan mereka.
Sempat terdiam sejenak, Myra langsung berdiri. "Aku harus memeriksa kembali hasil pekerjaan ku ... "
Di saat bersamaan, Freddy dan Bearice juga langsung berdiri, namun tidak mengatakan apapun. Kedua langsung beranjak dari sana, untuk kembali ke kantor mereka.
Sejak melihat apa yang mampu di lakukan serta bagaimana sisi lain dari Pemuda yang mereka kenal tersebut. Tidak ada dari mereka yang berpikir untuk bekerja setengah-setengah bagi orang itu.
__ADS_1
Dax yang berjalan setengah berlari, meletakkan ponselnya di telinga, mencoba menghubungi seseorang.
"Cepat jawab, brengsek!!"
Satu detik saja panggilannya belum tersambung, Dax merasakan itubterlalu lama.
"Tuan Dax?!"
"Dia datang! ... Dia kembali! Bersiaplah kalian brengsek. Katakan pada semua orang ... Kode Merah ... Kode merah ... !!"
Ini adalah pertama kalinya Noah kembali setelah apa yang dia lakukan untuk kita ini. Setiap sepak terjang yang dilakukan pemuda itu, selalu menjadi buah bibir orang satu kota ini.
Mengetahui orang yang di akui seluruh penghuni Bronzeland sebagai penguasa kota ini akan kembali, berita itu langsung menyebar layaknya wabah.
"Kode merah!!"
"Kode merah!!"
Beberapa orang mulai berteriak, begitu mereka keluar dari pintu untuk memberitahukan hal tersebut pada siapa saja.
"Hei, Katakan pada semua orang ... Ini kode Merah!!"
"Kode merah? ... Apa itu?!"
Beberapa orang yang bukan merupakan penduduk kota dan hanya datang untuk sekedar berkunjung ke sana, merasa heran dengan perubahan atmosfir di kota tersebut.
Seorang pelayan yang berjalan melewati mereka, mendengar saat dia bertanya.
"Tuan, demi kebaikanmu ... Sampai semuanya Selesai, ikuti protokol kota ini ... "
Pria yang tadi bertanya, menoleh pada pelayan yang berdiri di dekat mereka. "Lalu, apa maksud dari kode merah yang di teriakkan semua orang di sana?"
Temannya yang lain mengangguk, dan menimpali. "Apakah ini semacam protokol penanggulangan bencana?"
Pelayan itu menganggukkan kepalanya.
"Ya, tapi ini lebih dari itu semua ... Kami dan seluruh penduduk, sedang bersiap untuk menyambut kembalinya pahlawan dan penguasa kota ini ... "
"Pahlawan? ... "
"Penguasa? ... "
Keduanya bertanya bersamaan. Namun, sang pelayan melihat keluar jendela dan melihat semua orang sedang bersiap-siap.
"Ya, Kami mengakui satu orang, sebagai penguasa tertinggi di kota ini ... Bronzeland hanya akan tunduk dan patuh pada orang itu ... "
Keduanya menelan ludah, karena melihat apa yang sedang terjadi di luar sana, pelayan ini tidak mungkin sedang bercanda.
"Si-siapa ... Orang itu?"
Sambil tersenyum bangga, sang pelayan menjawab .
"The Madness ... !"
__ADS_1