
Noah menyadari bahwa misi sistemnya tidak akan selesai hanya dengan cara sederhana.
Dia sempat berfikir bahwa dengan membangun sebuah gedung atau perusahaan saja, itu akan membuatnya bisa menyelesaikan Misi sistemnya.
Akan tetapi, Perkembangan level Sense serta Intuisinya, menolak kesimpulan tersebut. Bahkan, di level dua saja, dia harus menaklukkan seluruh bisnis di kota Silverstone untuk menyelesaikannya.
Jadi, tentu saja saat misi tentang pembangunan muncul di panel bar sistemnya, Noah menyimpulkan bahwa tidak hanya sebuah perusahaan saja. Saat ini, Noah meyakini bahwa misinya adalah membangun sebuah kota.
BronzeLand kota kelahirannya. Tentu saja tidak perlu di ragukan lagi bahwa misi itu pasti menyangkut diri dan hal-hal di sekitarnya.
"Noah, apa kau yakin? ... Maksudku, kau bisa membawa Antonius atau Alex kesini, dan membangun kota ini."
Noah menggelengkan kepalanya. "Old Ted, aku akan membangunnya dengan tanganku sendiri. Lagipula, jika aku tidak bisa mengendalikan kota ini, maka apa yang aku bayangkan di masa depan, tidak lebih dari sekedar omong kosong belaka."
Ini membuat Ted Bowie kurang senang. Bukan bermaksud meremehkan kota dimana bosnya ini tumbuh. Akan tetapi, BronzeLand benar-benar tidak menjanjikan hal apapun dalam segi bisnis.
Di tambah dengan kekacauan sistem hukum dan tingginya tingkat kriminalitas di kota ini, Old Ted yakin apa yang sedang dilakukan Noah sangat beresiko.
"Baiklah, aku hanya mencoba mengingatkan. Akan tetapi, semua terserah pada dirimu dan pasti kau sudah tau, bukan? Apapun yang kau lakukan, aku dan yang lainnya akan selalu mendukungmu."
Noah merasa bersukur saat Alice memutuskan untuk memanggil kembali Ted Bowie, yang akhirnya bekerja padanya ini.
Selain sangat bisa di andalkan, pria itu sangat peduli dan juga sangat efektif dalam bertindak. Hanya saja, ini adalah misinya. Tentu saja semua tidak akan berpengaruh pada sistemnya, jika Noah meminta orang kain mengerjakan segalanya untuknya.
"Tentu aku tau, itu kenapa aku mempercayakan banyak hal pada kalian, bukan begitu?"
Itulah perbincangan terakhir mereka, sebelum akhirnya Ted Bowie pergi untuk kembali ke Silverstone, sesaat setelah dia mengantarkan Noah ke rumah sakit, di mana Issac saudaranya di rawat
"Tuan Evans, pasien sudah sadar sejak tadi malam. Sekarang, dia hanya tertidur."
Sisanya, Noah hanya mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti saat Myra menjelaskan bagaimana perkembangan kesehatan saudaranya itu.
"Baiklah Myra, aku mengerti. Dan bagaimana dengan tawaranku? Apakah direktur rumah sakit ini telah menyiapkan semuanya?"
Saat pertanyaan itu dia lontarkan, terlihat jelas perubahan pada wajah Dokter cantik itu.
"Tua Evans, jujur saja. Tawaranmu sangat menggiurkan. Namun begitu, tidak semua pemilik saham di rumah sakit ini, menerima keputusan ayahku."
Saat itu, kembali Noah di sadarkan dengan kenyataan bahwa uang bukanlah segalanya.
Meski dia mampu membuat sebuah rumah sakit, bahkan jauh lebih besar daripada rumah sakit ini, namun bagi Noah sendiri, bukan itulah tujuannya.
Saat ini, Noah memerlukan akses untuk memasuki salah satu jaringan mafia di BronzeLand, dan menurut Informasi dari Ted Bowie, rumah sakit ini pasti terlibat dengan salah satu di antaranya.
"Baiklah, tidak masalah."
Namun, saat itu juga Myra menggelengkan kepalanya. "Tidak, maksudku ini tidak sepenuhnya gagal. Ayahku hanya perlu sedikit waktu untuk meyakinkan sisanya. Itu saja."
Normalnya, Seharusnya para pemilik saham, tidak akan menolak jika ada perusahaan besar akan berinvestasi di sebuah Rumah sakit swasta seperti milik mereka ini.
Akan tetapi, ada dua pemilik yang memiliki jumlah saham cukup banyak di sana, menolaknya begitu saja saat ide itu di sampaikan pada mereka di mana dua orang itu terlihat tidak memikirkan dampak lebih jauh kedepannya.
__ADS_1
"Baiklah, senang mendengarnya."
Myra tau bahwa penjelasannya tidak membuat Noah senang. Namun, tidak banyak yang bisa di lakukan untuk mengatasi hal tersebut.
Setelah beberapa waktu di sana, Noah akhirnya keluar dari rumah sakit tersebut.
Sekarang, dia berniat mendatangi sebuah tempat, dimana menurut informasi dari thomas, dia bisa menemukan satu saudaranya di tempat tersebut.
"Noah? ... "
Di depa rumah sakit, Noah mendengar seseorang memanggilnya. Saat menoleh, kening Noah langsung berkerut.
"Ya, kau ... Siapa?"
Tentu saja Noah tidak bisa mengenali siapa yang menyapanya. Karena seingatnya, dia sama sekali tidak memiliki teman, yang tubuhnya di penuhi tatto.
"**** ... Kau melupakanku?"
Pemuda yang baru menyapanya tersebut datang mendekat, dan merentangkan tangan lalu menyengir dengan memperlihatkan satu gigi depannya sudah ompong.
"Aku Fredy ... Noah, Sial ... bagaimana bisa kau melupakan aku?"
Wajah Noah seketika berubah. Dia melihat pemuda tersebut dari ujung kaki hingga kepuncak kepalanya.
"Fredy ... Bronxson? ... "
"Oh, yeah ... Akhirnya, kau mengingatnya. Hahahah ... !"
"Sial, Fredy ... Apa yang kau lakukan pada tubuhmu?"
"Hei, apa maksudmu? Ini ... Ini ... " Freedy terlihat kebingungan bagaimana menjelaskannya. Namun, tidak lama dia menggelengkan kepala. "Yah, terserah ... Tiba-tiba saja aku ingin mencoret-coretnya."
Sebelum sekali lagi Fredy mencoba mendekat, Sekali lagi pula Noah menahan dan bertanya. "Kau, sedang mabuk? ... Kau terlihat seperti gelandangan, Sial."
Fredy tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya.
"Sedikit, ketika aku bangun, di tanganku masih tersisa setengah botol wisky. Jadi aku menghabiskannya lalu berjalan kemudian aku melihatmu."
Noah menggelengkan kepala. "Melihat keadaanmu, pasti kau tertidur di suatu tempat tidak jauh dari sini, bukan?"
"Ya, ya ... Kau mengerti. Baguslah."
Noah hanya bisa menggelengkan kepalanya sekali lagi, seolah tak percaya apa yang dilihatnya. Tentu saja fredy berniat merangkulnya. Karena saat masih sekolah, keduanya cukup dekat.
"Lalu, mau kemana kau?"
Menanggapi Noah, Fredy memegang perutnya sebelum berkata. "Noah, kebetulan kau di sini. Apa kau memiliki uang? ... Seingatku, aku belum makan apapun sejak tadi malam."
Noah menghela nafas dan melepasnya. "Baiklah, aku juga belum makan apapun."
Keduanya pergi ke sebuah restoran sederhana tidak jauh dari sana.
__ADS_1
Lagi-lagi Noah menggelengkan kepala saat melihat bagaimana cara fredy makan. Temannya itu terlihat sangat kelaparan dan takut bahwa makanan yang ada di depannya itu di rampas orang lain.
"Fredy, sial ... Pelan-pelan saja. Kau bisa mati tersedak jika cara makanmu seperti itu."
Fredy memukul-mukul dadanya lalu mengambil gelas yang berisi minuman bersoda di meja dan langsung meneguknya. Begitu makanan itu terdorong ke lambungnya, dia mendesah.
"Ahhh ... Aku benar-benar lapar sekali, sial."
"Fredy, kau bisa memesan lagi jika kau mau."
Saat itu mendengar Noah mengatakan hal tersebut, Fredy tertegun. Saat itu, dia mencoba mengingat sesuatu.
Tidak lama kemudian, dia berseru.
"Oh Sial ... Kali ini, Dia benar-benar akan membunuhku."
"Fredy, ada apa? Dan siapa yang akan membunuhmu?"
Fredy menggelengkan kepala. "Noah, kau masih memiliki uang?"
Teman di depannya ini, telah jauh berubah. Belum sampai tiga tahun mereka tidak berjumpa, Noah benar-benar tidak mengenal orang ini selain wajah dan nama mereka yang sama.
"Kau memerlukan uang? ... Berapa banyak? Sebentar ... Kau belum menjawabku, siapa yang akan membunuhmu?"
Fredy menatap Noah tajam. Sebelum akhirnya menyebutkan sebuah nama.
"Kau ingat teman sekelas kita yang bernama Bearice Balwel?"
Noah langsung mengangguk. "Maksudmu BB? ... Tentu saja, ada apa dengan gadis itu?"
"Dialah yang akan membunuhku."
"Membunuhmu? ... Hei, Fredy. Aku rasa kau benar-benar telah mabuk, sial. Tidak mungkin dia bisa membunuhmu. Hahaha."
Gadis yang di sebut oleh Fredy adalah teman sekelas mereka saat sekolah. Namun, gadis itu terlihat sangat pendiam dan lemah. Itu kenapa Noah merasa apa yang dikatakan Fredy terdengar seperti lelucon.
Fredy menggelengkan kepala namun wajah seriusnya tidak berubah "Tidak, tidak ... Dia bisa dan benar-benar akan melakukannya."
"Fredy, Kenapa gadis itu ingin membunuhmu?"
Fredy menelan ludah sebelum akhirnya menjawab.
"Dia memintaku untuk membeli susu dan bahan makanan untuk seminggu, dan aku baru saja menghabiskannya untuk membeli minuman itu."
Mata Noah melebar, dan bertanya. "Kenapa dia harus memintamu?"
"Tentu saja dia memintaku, dia sedang hamil dan kita tinggal bersama."
Mendengar itu, saat itu juga Noah berseru keras.
"F**k ... Fredy. Kau ... Sial, ... Apa kau sudah gila? Kau F**kin ... Bast*rd ... Menghabiskannya, untuk ... **** ... Kau bajingan.!!"
__ADS_1
"Noah, tenangkan dirimu ... Baiklah, aku tidak akan meminta uangmu. Tenang, tenang ... Oke?"