World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Kembali


__ADS_3

Rumah sakit HighCopper, dibuat sibuk dengan kedatang empat pasien yang tiga diantaranya dalam kondisi kritis. Sekarang, tiga orang itu sedang dalam penanganan pihak rumah sakit.


Tidak lama berselang, Julius Clark dan Istri, Miranda datang. Begitu juga dengan  Carl Portman, dan kedua orang tua Stella. Terakhir, keluarga Sally datang menyusul.


"Chris ... Apa kau melihat Noah?"


Salah satu dari anggota Sattelite mencoba mencari keberadaan Noah. Saat melihat Chris, dia menganggap pemuda itu mengetahuinya.


"Tidak, terakhir aku melihatnya berdiri di sini ... Namun, saat aku aku menyadari, dia sudah tidak ada."


Aiden dan Mia sudah tidak punya orang tua. Keduanya di besarkan oleh ibu dari ayah mereka, yang sekarang juga telah meninggal dunia.


Hanya sebuah perusahaan yang ditinggalkan keluarga mereka, serta tim Sattelite saja yang mereka punya.


Laura mengikuti kemana Noah melangkah. Sejak tiba di sini, pemuda itu terdiam seribu bahasa.


Dia tidak mendengarkan siapapun saat ada seseorang mengajaknya bicara, setelah pintu ruang IGD rumah sakit itu tertutup.


Di sebuah tangga darurat, di sinilah Noah duduk. Bahunya bergetar hebat, sedangkan wajahnya tertutup kedua telapak tangannya. Pemuda itu, menangis.


Dominasi. Satu kata, yang akhirnya membawa lima orang di sana berakhir dalam keadaan yang sangat mengerikan.


Kejadian ini, begitu memukul mentalnya. Berbeda dengan sebelumnya, di mana keadaan sudah berjalan seperti itu, di mana Noah hanya datang dan memperbaikinya.


Akan tetapi, pada misi yang di berikan sistemnya kali ini, kelimanya adalah korban dari ambisi Noah.


"Apa dia di sana?"


Laura tersentak, saat seorang wanita yang sudah berdiri di sampingnya, bertanya.


Menyadari siapa wanita itu, Laura langsung menganggukkan kepalanya.


Miranda menghela nafas panjang, lalu melepasnya. Sebagai seorang ibu, dia juga terpukul mendapati kondisi putrinya saat ini.


Akan tetapi, mendengar bagaimana usaha Noah untuk menemukan Ivy secepat yang dia bisa, wanita itu yakin bahwa pemuda itu tidak harus merasa bertanggung jawab sedalam ini. Karena, sejak awal Ivy lah yang sudah memulainya.

__ADS_1


Laura mengangguk sekali lagi, dan mundur selangkah memberi jalan.


Miranda memberanikan diri mendekat, dan berdiri di depan Noah. Dia tidak ingin melihat pemuda ini jatuh terpuruk, seperti saat ini.


"Tuan Evans ... "


Noah tidak menyahut, atau menanggapi meski dia tau bahwa wanita yang sekarang berdiri di depannya ini adalah Miranda.


Bahkan, saat menyadarinya, pemuda itu bertambah gugup dan rasa bersalahnya terasa semakin dalam.


Miranda melihat Noah berusaha menahan tangisnya. Pemuda yang dia kenal sangat luar biasa ini, sekarang sedang menunjukkan sisi rapuh dari dirinya.


Tentu saja, tidak ada siapapun, yang mengenal pemuda itu, dan memilih mengikutinya, ingin melihat Noah dalam keadaan seperti ini.


Miranda maju selangkah, dan mulai berkata.


"Mereka menghormatimu ... Dan mereka tidak akan menyesal berkorban untukmu ... "


Hanya itu yang bisa Miranda katakan. Lebih dari apapun yang sanggup dilakukan seorang wanita pada seseorang, itu adalah rasa hormat yang sangat tinggi, yang bisa mereka tunjukkan untuk membuktikannya.


Cinta menuntut pengorbanan, akan tetapi Rasa hormat menuntut lebih. Dia mengenal putrinya, dan dia tau bagaimana perasaan Ivy pada pemuda ini.


Mendengar itu, Nafas Noah semakin sesak. Menyukai seseorang ternyata jauh lebih mudah, meski itu menyakitkan.


Akan tetapi menerima kenyataan bahwa orang lain berkorban untuk menunjukkan besarnya perasaan yang dia miliki, ternyata berdampak sangat berbeda.


"Tuan Evans ... Kemarilah."


Miranda kembali mendekat dan memeluk kepala Noah. Dia merasakan tubuh pemuda itu semakin bergetar hebat.


"Aku senang kau menangis. Karena itu menunjukkan pada kami, bahwa Ivy mencintai pemuda yang tepat. Akan tetapi ... Sebagian orang menyebut the madness dan sisanya memanggilmu The Ghost. tapi, Ivy menyebutmu ... the Miracles ... "


Saat mengatakan itu, mata Miranda juga sudah berlinang. Namun, dia tau apa yang sedang dilakukannya dan seseorang harus melakukannya untuk pemuda ini.


"Noah Evans ... Lepaskanlah semua di sini saat ini ... Setelah itu, kembalilah menjadi orang yang kami kenal ... Saat pelukan ini ku lepas, aku mohon ...  Kembalilah menjadi sosok yang dikagumi, dihormati dan sangat di cintai Ivy ... jadilah sang keajaiban, seperti yang dia katakan, dan buktikan itu, pada semua orang."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Miranda memeluk Noah semakin erat. Dia yakin telah melakukan apa yang dia bisa. Setelah ini, semua tergantung pemuda ini.


Di luar sana, Julius dan Laura melihat dan mendengar semuanya. Mereka tersenyum, tapi juga menetaskan air mata di saat bersamaan.


"Tuan ... Anda memiliki seorang istri yang ... Hebat!"


Mendengar gadis di sebelahnya mengatakan itu, Julius Clark mengangguk. "Ya, aku tahu ... Dan dia juga ibu yang sangat hebat, bagi putri kami."


Waktu berlalu, Stella tersasar terlebih dahulu. Sedangkan Mia, meski masih tidak sadarkan diri, namun gadis itu telah melewati saat-saat kritisnya.


Akan tetapi, di sebuah ruangan dengan sekat kaca besar sebagai pembatasnya, Noah berdiri dengan kedua Orang tua gadis yang masih bertahan dengan alat penopang kehidupan itu, menatapnya tanpa suara.


Dua pasang mata menatap dengan sendu. Namun, satu pasang mata menatapnya dengan cara yang jauh berbeda.


Melihat kondisi Ivy, Noah merapatkan gigi dan mengepalkan tangannya. Tanpa sadar, di saksikan kedua orang yang ada di sebelahnya, Noah berkata.


"Ivy ... saat kau terbangun ... Aku akan membuatmu menjadi gadis yang di kelilingi keajaiban ... Namun, Demi semua perasaan yang telah kau berikan, Aku bersumpah! ... Sebelum kau membuka mata, aku akan menghancurkan semua hal, yang membuatmu berakhir seperti ini ... !"


Setelah mengatakan itu, Noah langsung berbalik, dan mulai berjalan. Matanya menunjukkan isi hatinya. Pemuda itu benar-benar sedang terbakar amarah.


Noah mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang di sana. Tak lama, panggilan itupun terhubung.


"Noah ... ?"


"Alice ... Hubungi semua orang, dan katakan pada mereka. Aku memberi mereka waktu satu hari untuk menyelesaikan apapun yang telah aku tugaskan ... Setelah itu, minta mereka semua kembali ke Silverstone ... "


Mendengar itu, Alice yang belum tau apa yang terjadi, balik bertanya.


"Noah ... Apa telah terjadi sesuatu?"


Noah yang berbicara sambil berjalan, menggelengkan kepalanya.


"Alice ... sudah Tidak penting apa yang telah terjadi ... sebaliknya, Aku ingin memastikan semua orang di negara bagian ini, merasakan semua yang akan terjadi. Jadi, Bersiaplah ... Kita akan tunjukkan pada mereka, apa yang bisa kita kita lakukan ... Saat ini selesai, hanya akan ada satu nama di atas segalanya ...  !!"


Tanpa menunggu tanggapan Alice, Noah langsung memutuskan sambungan itu. Dia memasukkan ponselnya ke saku sementara Laura yang melihat berusaha berjalan mensejajarinya.

__ADS_1


"Tuan Evans ... Apa kita akan pergi? ... Kemana?"


"Tempat semuanya akan di mulai ... Silverstone ... Gedung Pusat, World Order!!"


__ADS_2