World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Tidak Ada Di Belahan Dunia Manapun


__ADS_3

Iring-iringan mobil sudah terlihat melintasi jalan di Goldwest. Meski terpisah-pisah. Namun jika orang-orang menaruh sedikit perhatian, mobil-mobil itu menuju ke arah yang sama.


"Magi ... Ada berapa semua yang akan datang ikut kali ini?!"


Di salah satu mobil yang sudah di modifikasi serta memiliki gambar burung dengan lidah api menutupi seluruh bodynya, Toby bertanya.


Magi mengganti perseneling, agar laju mobil itu lebih stabil, sebelum akhirnya menjawab.


"Jujur saja ... Ini jauh lebih banyak dari yang kita perkirakan ... Apa itu masalah?"


Tobias Zargosky tersenyum puas sambil menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak ... Tidak, sama sekali ... Aku hanya ingin memastikan kota itu menjadi contoh bagi siapa saja yang cukup konyol berhadapan denganku, apalagi keluargaku ... !"


Magi tidak menyangka hanya karena tertarik dengan seorang gadis, Tobias menjadi segila ini.


Keduanya sudah cukup lama mengenal. Tapi, untuk melanggar perintah Nicholas Zargosky kakaknya, dan melakukan hal segila ini, benar-benar sudah jauh dari apa yang di ketahui Magi.


"Toby ... Kau tau aku selalu mendukungmu, bukan? Tapi aku ingin menanyakan hal ini sebagai teman. Apa kau keberatan?"


Wajah Tobias berubah. Dia menatap Magi, curiga. "Apa kau takut?!"


Mendengar itu, Magi mendengus. "Takut, heh?!" Apa kau lupa dimana kau mengenalku?"


"Jadi apa yang ingin kau tanyakan ...  teman?"


Magi menatap jauh ke depan. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Namun, beberapa saat kemudian, akhirnya dia bersuara.


"Toby ... Yang kau lakukan saat ini, sangat berbahaya ... Jujur saja, aku tidak takut mati atau apapun. Tapi yang jelas ini akan mengubah banyak hal di negara bagian ini ... "


Tobias menganggukkan kepalanya. "Memang ... Aku memang menginginkan hal itu. Dan itulah yang ingin aku tunjukkan pada semua orang ... "


Magi menggelengkan kepalanya, kemudian melanjutkan. " Saat masih di dalam penjara, seseorang pernah berkata padaku ... Jika kau ingin menghancurkan, maka kau harus siap dihancurkan ... "


Wajah Tobias kembali berubah. "Magi, apa maksudmu? ... Apa kau berpikir bahwa kita akan gagal? ... Aku menjadikannya seperti ini, untuk memastikan agar aku tidak gagal lagi."


"Toby, aku tidak peduli bagaimana akhir semua ini ... tapi aku hanya ingin mengingatkan. Orang yang kau akan hancurkan ini, belum melakukan apapun ... Ini membuatku sedikit ragu."


Mendengar itu, Tobias menggelengkan kepalanya. "Seseorang yang hanya bisa bersembunyi dan meminta orang lain melakukan apapun yang dia inginkan, bukanlah musuh yang pantas mendapat perhatian begitu dalam darimu, teman!"


Magi tidak begitu mengerti apa yang dipikirkan oleh Tobias saat ini. Akan tetapi, dia berhutang nyawa pada pemuda ini.


"Aku tidak terlalu memperhatikannya sebelumnya. Tapi, sekarang aku mulai memikirkan ini ... Itu lah kenapa aku ingin bertanya."


Sama seperti Magi yang tidak mengerti apa yang dia pikirkan saat ini, Tobias juga tidak tau apa yang coba dibicarakan oleh temannya itu.

__ADS_1


"Magi ... Kau bukan orang yang bertele-tele seperti ini ... Tanyakan saja langsung agar aku bisa langsung menjawabnya. Brengsek!"


Magi tersenyum, sebelum akhirnya menyampaikan apa yang ingin dikatakannya.


"Bagaimana, jika sejak awal dia tidak pernah memandang mu, atau keluargamu sebagai musuh yang pantas dipertimbangkan?"


Tobias tertegun saat mendengar Sebuah pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan olehnya, akan keluar dari seseorang apalagi orang itu adalah orang yang ada di depannya ini.


"Oh, F**K !! ... Brengsek kau, Magi!! Apa kau juga sudah ikut meremehkan keluargaku. Hanya karena aku dipermalukan oleh seorang gadis? Apa kau pikir kekuatan keluarga ku hancur hanya kami gagal menguasai Jaringan Haines?!"


Meski Tobias berteriak di sampingnya, Magi sama sekali tidak bergeming. Dia tidak takut ataupun semacamnya.


"Toby ... Seseorang juga pernah berkata padaku ... Akan selalu ada orang yang lebih hebat dari kita. Dan saat itu, kita harus tau sikap seperti apa yang harus kita lakukan saat bertemu dengannya. Sepertiku ... Aku telah mengambil sikap saat aku bertemu denganmu. Kau mengerti maksudku, teman?"


Karena kesal, Tobias tidak begitu memperhatikan apa yang dikatakan oleh Magi padanya. Sebaliknya, dia menanggapinya.


"Sial ... Jika aku bertemu dengan orang yang mengatakan hal itu padamu, aku akan menarik lidahnya itu keluar, dan memotongnya ... Itu hanya omong kosong!!"


Sejak saat itu, Magi tidak lagi menanyakan apapun tentang pergerakan ini. Dia malah memacu mobil semakin cepat, di ikuti puluhan mobil yang mengikuti mereka, di belakang.


Sementara itu, sebuah LVR hitam baru saja keluar dari gerbang tol menuju Bronzeland.


Noah memperhatikan sudah banyak perubahan yang bisa dia lihat bahkan sebelum dia memasuki pusat kota tersebut.


Noah menoleh pada Laura yang mengemudikan mobil tersebut, dan bertanya. "Aneh, Aneh kenapa?"


Laura menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau ... Tapi, bukankah kota ini seharusnya sangat sibuk?"


Noah baru memperhatikannya. Dia melihat tidak ada satupun mobil atau siapapun yang berlalu lalang, sejak mereka keluar dari gerbang tol tersebut.


"Benar, aku baru memperhatikan kalau kita berselisih dengan siapapun sejak keluar dari pintu tol tadi, bukan?"


Laura mengangguk, "Ya, itu maksudku ... "


Noah kembali mengedarkan pandangannya, dan kembali mengangguk heran.


"Dia baru saja keluar dari gerbang tol ... Kalian dengar? ... Ravens Satu baru saja keluar dari Tol ... Yang di gerbang kota bersiagalah ... Beberapa menit lagi, dia akan sampai!"


Mendengar suara yang baru saja menginformasikan hal tersebut, orang yang itu menjawab. "Mengerti ... "


Dia melihat pada semua orang dan berkata. "Dia sudah keluar Tol ... Bersiaplah."


Bronzeland kota yang seharunya sangat sibuk, karena pembangunan yang gila-gilaan serta pengunjung yang datang ke sana membeludak, tiba-tiba menjadi sangat hening.

__ADS_1


Bukan karena tidak ada manusia, namun saat ini bisa dipastikan semua orang sengaja mengehentikan semua aktivitas mereka dan berdiri di sepanjang jalan utama kota itu, menunggu.


Meta semua orang melihat ke satu Arah. Menunggu, sesuatu bergerak dan masuk dari arah sana. Mereka sudah berdiri di sini, jauh lebih lama, sebelum pemberitahuan tersebut hanya untuk menunggu momen ini.


Semakin dekat dengan yang mereka perkirakan, seolah waktu seolah berjalan semakin pelan. Suara hembusan angin sempat terdengar, sebelum akhirnya suara yang mereka tunggu-tunggu muncul.


"Woom woom woom  ... "


Deru suara kenalpot mobil terdengar dengan di ikuti munculnya siluet hitam di ujung jalan, di gerbang kota.


Mulai dari pintu masuk kota, semua orang meletakkan tangan di dada mereka dan membungkuk kan setengah tubuh menyambut kedatangan itu.


Sepanjang jalan saat mobil itu terus melaju, semua orang yang memenuhi kedua sisi jalan, membungkuk mengiringi nya.


Tidak ada kata tidak ada suara, semua orang membungkuk dalam, menunjukkan hormat dan rasa terimakasih mereka pada seseorang yang berada di dalam.


"Woom Woom Wooooommm ... "


Sebuah LVR hitam melaju membelah jalanan Utama Bronzeland untuk pertama kalinya. Mobil itu akhirnya berhenti di ujung jalan.


Pintu mobil itu terbuka, dan orang yang paling ditunggu-tunggu itu akhirnya keluar dari sana.


Dari pintu utama bangunan megah di ujung sana, Victoria tersenyum melihat anak laki-laki itu telah menginjakkan kakinya, dan berdiri balas menatap nya.


Sambil memasukkan kedua tangan kedalam saku hodynya, Noah tersenyum. Lalu berkata pelan.


"I'm Home ... " (Aku pulang)


Setelah mendengar Noah mengatakan itu, seluruh Anggota The Ravens yang berjumlah ribuan yang telah berbaris membentuk Gang antara mobil, dan pintu rumah besar itu, membungkuk dalam dan berseru lantang.


"Wellcome Home ... !!"


Sambutan itu menggema sangat kuat, namun tidak hanya sampai di sana saja, Dan inilah kenapa semua orang di seluruh kota memilih diam sebelumnya.


Mereka diam untuk menunggu momen bersejarah ini. Dan meneriakkan kata yang sama dengan cara yang sama pula.


"WELLCOME HOME ... !!"


Suara seluruh penduduk, menjadi Sebuah Seruan serentak yang benar-benar menggelegar ke seluruh penjuru udara kota tersebut, hingga membuat tanah Bronzeland yang mereka injak, bergetar.


Tidak ada sambutan seperti itu di belahan dunia manapun sebelumnya. Tapi, itulah protokol utama kota Bronzeland.


Sebuah sambutan, yang hanya pantas diterima oleh satu orang yang menjadi pelindung kota tersebut. Tumbuh dan besar di sana dengan nama Noah Evans, namun mereka lebih mengenalnya sebagai, the Madness.

__ADS_1


__ADS_2