World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Ke Silverstone


__ADS_3

Sarah tidak tau harus menjawab apa, dia tidak menyangka pemuda di depannya ini, benar-benar gila.


"Tu-tuan ... Evans, a-aku ... aku ... "


Noah hanya tersenyum dan langsung kembali menoleh pada Aaron yang terdiam setelah mendengar semua kalimat yang di ucapkan pemuda ini.


"Tuan Aaron ... Aku tidak punya waktu banyak, Karen masih ada banyak hal yang harus aku selesaikan. Jadi, kau bisa menghubungi Alexander Reamus, tentang Syaratku ... "


Setelah mengatakan itu, Noah berdiri. Dia mengedarkan pandangannya pada semua orang di sana.


"Old Ted ... Kau bertugas mendampingi mereka di sini ... Jika Alexander Reamus menyetujuinya, maka lakukan seperti yang aku katakan."


Ted Bowie hanya menganggukkan kepalanya, setelah ikut berdiri. Di sana, Hale dan Dale Kingstone juga mengikutinya.


Hanya Sarah dan Aaron yang masih duduk, dan bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.


"Noah ... Bagaimana jika Alexander Reamus, menolak?"


Saat itu, Noah hanya tersenyum, lalu berkata. "Jika dia menolaknya ... Jadikan keluarga itu, Target pertama yang harus kita hancurkan ... Lagipula, tak ada bedanya, bukan?"


Setelah itu Noah menganggukkan kepalanya pada Hale dan Dale Kingstone yang berdiri layaknya zombie. Mereka tidak bisa berpikir apalagi berkata.


"Tuan Kingstone, terimakasih atas waktunya ... Aku hanya ingin menyampaikan itu saja ... Permisi."


Noah berjalan pergi, sementara Ted Bowie mengikutinya dari belakang.


"Noah, biarkan aku mengantarmu keluar ... "


Sementara itu, Empat orang yang ada di sana, masih mematung di tempat.


Barulah beberapa saat kemudian, Sarah kembali bersuara.


"Apa itu tadi? ... Hei, ini bukan mimpi, bukan?"


Di pintu keluar gedung, telah menunggu seorang gadis cantik dengan LVR hitam di belakangnya.


"Tuan Evans ... Maaf, aku ketiduran."

__ADS_1


Noah meninggalkan Laura yang tertidur di dalam mobil, saat keduanya berkendara ke kota ini. Meski tidak lama, Gadis itu tidak tau bahwa saat dia tidur, orang yang dia panggil sebagai tuan Evans itu, baru saja menarik tuas, yang akan membuat seluruh negara Bagian GoldWest, akan berguncang.


"Oh, maaf ... Karena kau tertidur, aku tidak membangunkannya. Lagipula, urusanku di sini sudah selesai ... Apa kau menunggu lama?"


Laura menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak sama sekali ... "


Noah menghentikan langkahnya, dan Ted Bowie juga melakukan hal yang sama, sesaat setelahnya.


"Old Ted ... Aku yakin kau tidak membawa dia begitu saja ... Jadi, bantu keluarga itu dan laporkan perkembangannya padaku."


Ted Bowie langsung mengangguk mengerti. "Baiklah ... Jadi, kemana harus aku arahkan mereka?"


Noah tampak berpikir sejenak, lalu kembali berkata. "Wilayah ini akan menjadi Wilayah Julius Clark dan Sattelite ... Aku memiliki rencana Lain untuk World Order ... "


Anak laki-laki yang dia kenal beberapa tahun yang lalu, benar-benar telah berubah.  Hanya satu saja yang masih terasa sama bagi Ted Bowie. Noah, selalu membawa keajaiban bagi siapa saja yang memilih berpihak padanya.


Meski masih sangat muda, Ted Bowie selalu yakin bahwa pemuda ini memikirkan kebaikan untuk semua orang-orang yang mengikutinya.


"Baiklah, aku mengerti ... Lalu, kemana kau akan pergi?"


Noah tersenyum lalu kembali berkata. "Aku akan kembali ke Silverstone. Jadi, aku harap kalian bisa segera membereskan kekacauan di sini. Saat semua siap ... Kita semua akan bergerak, untuk  mendominasi seluruh negara bagian ini."


"Tidak, kita akan ke Silverstone."


Laura mengangguk dan tersenyum "Baiklah ... Jika begitu, biarkan aku yang mengemudi. Kau istirahat saja."


Ted Bowie melihat mobil hitam itu membawa Noah pergi. Dia masih berdiri di sana hingga mobil itu tak lagi terlihat. sambil tersenyum dengan bangga, dia berkata.


"Aku bersumpah, akan melakukan apapun, untuk mengantarkanmu hingga ke tujuanmu, Noah ... "


Sama dengan Noah dan Laura yang kini sedang menuju Silverstone, ada orang lain dengan tujuan yang sama, meski dari tempat yang berbeda.


Paul Fargo baru saja memasuki kota itu. Dia dengan beberapa mobil yang mengikutinya berniat langsung datang menuju Pusat World Order.


"Sial, sepertinya pembangunan di sini benar-benar cepat. Ada berapa sebenarnya investor yang berani membangun, di kota ini?"


Di dalam mobilnya, ada tiga orang lagi, termasuk yang anggotanya yang sedang mengemudi.

__ADS_1


"Dari kabar yang kami dapat, hanya mereka saja yang membangun kota ini. World Order sama sekali tidak membuka jalur kerja sama dengan siapapun, kecuali Jaringan-jaringan yang memutuskan untuk bekerja di bawah mereka."


Mendengar orang yang di sebelahnya mengatakan itu, Paul Fargo menggelengkan kepalanya meremehkan.


"Tuan Kroeger ... Sudah berapa lama anda bekerja untuk keluargaku? ... Tidak mungkin ada yang bisa membangun secepat ini, kecuali mereka adalah salah satu dari the Elevens."


"Aku tidak yakin begitu. Tapi bisa saja salah satu dari keluarga itu berada di belakang mereka, bukan?"


Mendengar itu, Sebuah keraguan muncul di kepala Paul. Jika apa yang di katakan oleh orang kepercayaan keluarganya ini benar, maka ini akan lebih sulit dari apa yang dia pikirkan.


Namun, pria yang ada di bangku depan, berbalik dan mengatakan sesuatu yang membuat keraguan Paul menghilang seketika.


"Tuan ... Aku yakin ayahmu, Tuan Halaand Fargo, tidak akan mengutus kita ke sini, tanpa mempertimbangkan hal itu bukan?"


Paul langsung menganggukkan kepalanya. "Ya, tentu saja ... Lagipula, kita kesini hanya untuk mengambil alih apa yang seharusnya menjadi milik kami. Dan ... "


Saat itu, wajah Paul berubah. Sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, dengan nada penuh dendam.


"Aku ingin membayar lunas, apa yang telah mereka lakukan pada adikku ... "


Saat ini, dia masih mengingat video yang dia lihat, saat Arlen Fargo adiknya, tewas di tangan seorang wanita.


Mobil itu kini sedang melintas di jalan di depan kompleks  gelanggang olahraga yang sekarang sudah menunjukkan kemegahannya.


"Bagaimanapun ... Kecepatan pembangunan di sini, sangat gila ... Aku tidak menyangka tempat ini akan terlihat begitu hebat, setelah mereka membangun ulang ... "


Mata mereka semua terpaku pada sebuah Stadion yang memiliki ukuran paling besar, yang menyerupai sebuah Bahtera dengan ukuran Gigantis.


Mau tidak mau, semua orang yang ada di sana menganggukkan kepala mereka, mengakui kemegahannya. bahkan Paul Fargo melakukan hal yang sama.


"Ya ... Aku penasaran, siapa yang ada di belakang mereka."


Louis Krueger yang ada di sebelahnya, kembali mengingatkan siapa yang di tanya oleh Paul itu.


"Mereka memanggilnya sebagai, The Ghost ... Itu karena, hanya segelintir orang saja, di kota ini yang pernah benar-benar bertemu dengannya."


Paul Fargo tersenyum meremehkan. "The Ghost, Huh? ... Dia bersembunyi, karena dia seorang pengecut. Tipe orang seperti itu benar-benar pecundang! Aku akan membuatnya berlari dari kota ini, dengan ekor di antara kedua kakinya ... "

__ADS_1


Iring-iringan mobil itu, sudah berada tidak jauh dari Gerbang DevilHill, tempat di mana semua pengendali Bisnis di kota ini berada.


__ADS_2