
Memang, mereka merasa sudah di atas angin. Tapi, mendengar nada bicara Noah sama sekali tidak berubah, mereka menjadi curiga, dan berfikir pasti ada yang salah.
Akan tetapi, sebelum mereka sempat berpikir lebih jauh, Barbara langsung berkata sesuatu yang mengingatkan mereka semua bahwa, saat ini sehebat apapun pemuda itu, sekarang posisinya sedang tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti apa yang mereka inginkan.
"Tuan Evans ... Seperti katamu, bukankah sudah terlambat bagimu untuk mengatakan itu?"
Tiba-tiba saja Noah mengangkat bahunya, seolah pasrah.
"Ya, sepertinya begitu ... Bukankah kalian sekarang sudah merasa menang? Lalu, apa kalian memanggilku kesini hanya untuk memamerkan padaku betapa pengecutnya kalian?"
"Ha ha ha ha ... Luar biasa, benar-benar luar biasa."
Barbara tertawa sambil bertepuk tangan pelan. Saat dia berhenti, dia melanjutkan pujian sarkasnya.
"The Madness ... Nama itu, benar-benar terdengar cocok untuk pemuda seperti dirimu. Hahahahaha ... "
Noah menanggapi hal itu, dengan sedikit mengangkat dagunya. Baginya, melawan wanita tentu saja mudah, tapi dalam hal ini, Noah benar-benar kehilangan kata-kata.
Melihat reaksi Noah atas kata-katanya, Barbara kembali berbicara. Namun, kali ini suaranya sedikit serius dan penuh tekanan.
"Hei Bocah, dengar ... Inilah dunia Mafia yang sebenarnya. Jika kau menginginkan sesuatu, makan kau bisa mendapatkannya dengan cara apapun. Meskipun kau memiliki potensi, tapi sepertinya kau tidak cocok dengan dunia seperti ini."
Apa yang dikatakan Barbara, mendapat anggukan dari orang-orang yang bersamanya.
Benar, Noah memang sangat kuat dan hebat dalam hal apapun. Akan tetapi, di dunia yang mereka jalani ini, ada sebuah sifat yang tidak boleh mereka miliki.
Bagi mereka, Noah terlalu naif. Apalagi saat ini pemuda itu sedang berhadapan dengan mereka yang sudah malang melintang di dunia bawah tanah yang kejam ini.
Bertindak dengan aturan agar tidak dikatakan sebagai pengecut, tentu saja itu tidak bisa diterima.
Sekarang, seperti kata Barbara sebelumnya, Noah memang terlihat sangat tidak cocok menjalani kehidupan seperti itu, apalagi berniat mendominasi serta menguasai BronzeLand, secara keseluruhan.
Noah melirik sebentar pada Acton yang masih tergantung di sana. Mengulur waktu terlalu lama, akan sangat membahayakan saudaranya itu.
"Ah, sepertinya kalian lebih suka berbicara ... Mari kita persingkat saja semua ini. Langsung saja ... Katakan, apa yang kalian inginkan?"
"Sial ... Kau pikir siapa dirimu, bocah ... Aku menginginkan kau mati, bagaimana?"
Lil Briley tampak langsung emosi menanggapi kata-kata Noah tersebut. Sehingga dia melontarkan kata-kata tidak masuk akal seperti itu.
__ADS_1
Akan tetapi, jawaban Noah terdengar lebih tidak masuk akal baginya, bahkan bagi semua orang.
"Dengan memintaku datang kesini seorang diri, bukankah sudah jelas apa niat kalian yang sebenarnya. Tapi, kalian harus punya lebih dari ini untuk melakukannya."
Saat itu juga semua orang tertegun. Noah sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-kata Lil Briley, malah, pemuda itu sepertinya sudah tau maksud mereka semua.
"Baiklah, sepertinya kau memang tidak sabar melihat hasil akhirnya. Sekarang dengarkan aku baik-baik ... "
Barbara melirik seseorang yang sejak tadi berdiri diam tidak jauh dari sana. Dengan sedikit anggukkan kepalanya, orang itupun datang mendekat.
Barbara kembali berbalik menoleh pada Noah dan melanjutkan kata-katanya.
"kau harus menanda tangani berkas-berkas itu, lalu aku akan melepaskan saudaramu. ... Kalian bisa pergi dari sini setelahnya. Kau mengerti?"
Noah menggelengkan kepalanya bukan karena tidak mengerti, tapi seolah tidak percaya mendengar kata-kata Barbara.
"Hei Sial ... Kenapa kau tersenyum? Apa yang kau pikirkan, huh?"
Tak sadar, salah satu dari berseru pada Noah. Karena baginya, Noah sama sekali tidak mengerti situasinya dan terkesan benar-benar sudah meremehkan mereka.
"Apa yang aku pikirkan? ... "
Noah mengatakan itu setelah memegang pulpen yang diserahkan orang yang kini memegang beberapa berkas yang ditunjuk Barbara tadi.
Mata semua orang melebar saat mendengar kata-kata Noah itu. Namun, tidak sampai di situ saja.
"Omong kos—"
Kata-kata itu tidak bisa dia selesaikan, karena tidak hanya katanya yang terhenti. Tapi, Jantung mereka semua seketika juga terasa berhenti. Karena, setelah kata-kata itu dia ucapkan, dia melihat Noah langsung melakukan gerakan yang sangat cepat.
Noah baru saja bergerak sedikit ke kiri untuk mengecoh semua orang sebelum berbalik melangkah ke kanan dan maju mendekat dengan sangat cepat menuju ketua Jaringan yang terakhir kali berbicara tadi.
Barbara bahkan tidak bisa bereaksi apapun saking terkejutnya saat merasakan Noah baru saja melewatinya.
"Sruup ... "
"Arggh ... "
Pulpen yang ada di tangan Noah, menancap tepat di leher bagian kiri ketua Jaringan itu. Dan darah segar pun langsung mengalir deras dari sana saat Noah kembali menariknya.
__ADS_1
Tidak membiarkan semua orang yang ada di sana bereaksi, Noah kembali bergerak dan menuju pada ketua Jaringan lainnya.
Orang yang berada di dekat korban pertama Noah itu, reflek menutupi lehernya karena berfikir Noah akan melakukan hal yang baru saja di alami rekannya itu, padanya.
"Sruup ... "
Malang, dia bernasib lebih buruk. Karena bukan lehernya lah yang di incar Noah, melainkan dada kiri, tepat dimana jantungnya berada dan di sanalah pulpen itu kini bersarang.
"Kau ... "
Mata ketua jaringan itu terbelalak, saat sekilas melihat Noah tersenyum miring padanya. Namun di saat bersamaan, tubuhnya langsung terasa mendingin setelah Noah sedikit mengangkat pulpen dan merobek dinding dalam jantungnya, sebelum pena itu beranjak dari sana.
Saat itu juga, Lil Briley dan ketua Jaringan lainnya memundurkan langkah mereka, waspada.
Kejadian tersebut terjadi begitu cepat sehingga mereka merasa otak mereka tidak bekerja. Mundur ini saja, murni hanya karena naluri bertahan hidup mereka meneriakkan tanda bahaya.
"Kau ... Kalian, lepaskan ... "
Noah tidak membiarkan Ketua Jaringan itu menyelesaikan kata-katanya. Karena dia langsung datang mendekat.
"Sruup ... !"
"Aaaaaarrrgggghhhhhhh ... "
Bukan leher ataupun jantung. Tapi kali ini adalah perut bagian kiri bawah mangsanya.
Setelah menancapkan pulpen itu di sana, Noah dengan sekuat tenaga menarik dengan kasar pulpen tersebut, secara vertikal.
Sehingga tidak hanya mengoyak bajunya saja, tapi juga perut dan langsung membuat seluruh isinya yang terlihat seperti akan tumpah.
Noah telah menunggu momen ini sebelumnya. Saat yang tepat untuk bergerak, dan memberikan serangan kejutan yang membuat mereka semua tidak mampu melakukan apapun karena tindakannya itu.
Dengan level Intuisi yang dimilikinya saat ini. Membaca situasi seperti ini tidak terlalu sulit baginya. Karena manusia yang terkena serangan mental, cenderung tidak bisa berpikir untuk beberapa saat.
Dengan jarak yang sudah dia perhitungkan, dari mereka semua. Noah akhirnya bergerak dan memanfaatkan momen tersebut untuk mematahkan mental mereka semua.
Terpaku di tempat di mana dia berdiri, satu ketua Jaringan melihat kedatangan Noah padanya. Namun saat itu di kepalanya hanya memikirkan satu kata, yang secara tidak sengaja dia ucapkan sendiri.
"The Madness ... "
__ADS_1
Satu hal lainnya yang bisa dia lakukan hanyalah menutup matanya, pasrah. Kini dia sadar bahwa, meski pada akhirnya mereka berhasil menyudutkan pemuda gila ini, tidak ada jaminan bahwa mereka masih tetap bisa hidup setelah melakukannya.
"Kalian, lepaskan talinya ... Sekarang!"