
Mobil Alice berhenti tepat di depan Showroom dimana mobil Noah berada. Meski memiliki banyak uang, namun dengan Kebiasaannya yang membumi itu, Alice tidak menyangka bahwa Noah akhirnya memilih untuk membeli sesuatu yang benar-benar sesuai dengan identitas pribadinya.
"Noah, ini SIM-mu."
Alice memberikan hal terakhir yang Noah perlukan untuk membawa mobil yang sudah dia beli, hampir sebulan yang lalu itu.
"Baik, terimakasih."
"Tidak perlu, itu sangat mudah."
"Baiklah, kalau begitu."
Saat Noah hendak keluar, Alice menahan tangannya. "Noah, sebentar."
Saat itu Noah mengernyit heran, ketika melihat Alice tampak sedikit ragu saat akan mengatakan sesuatu.
"Alice, ada apa?"
"Noah, aku tau ini bukan urusanku. Tapi, aku hanya ingin memperingatkanmu."
Noah mengangguk "Katakan saja, aku akan mendengarkan."
"Noah, kau memiliki tujuan besar. Jangan membiarkan sesuatu menghalanginya. Okey?"
Noah mencoba mencerna kata-kata Alice, dan kemudian tersenyum. "Alice, aku membeli mobil ini, bukan untuk pamer pada Jade dan mendapatkan hatinya. Jujur saja, bisa dikatakan, aku membelinya secara tidak sengaja."
Tidak mengejutkan bagi Alice saat mendengar Noah mengatakan itu. Bahkan dia dan semua eksekutif World Order kesulitan untuk menghabiskan uang pemuda tersebut.
Berapapun harga mobil Noah, itu tidak akan mengurangi kekayaannya. Setidaknya Alice yakin dengan hal itu. Namun, memikirkan seorang gadis, bukan hal yang tepat saat ini.
"Ya aku mengerti. Tapi ... "
"Alice, kau adalah orang tersekat dengan ku saat ini. Katakan saja jika ada sesuatu yang mengganggumu."
Apa yang dikatakan Noah memang benar. Bisa di pastikan, Alice adalah orang terdekatnya saat ini. Bahkan, Noah mempercayakan Alice untuk memilih nama perusahaanya.
"Baiklah, aku akan berterus terang. jangan anggap aku bercanda saat mengatakan ini."
"Hmm ... Okey"
"Noah, aku mengerti kau sudah dewasa dan ketika kau butuh seorang atau beberapa wanita, katakan saja padaku, aku akan mencarikan yang aman untukmu. Tapi, aku benar-benar tidak ingin melihat kau jatuh cinta. Setidaknya, untuk saat ini."
"Alice, hal itu sangat pribadi ... Apakah aku tidak boleh jatuh cinta?"
Alice langsung menggeleng. "Tidak, bukan ... Bukan itu. Tapi, World Order masih dalam keadaan rentan. Sebenarnya, di luar sana ada banyak jaringan yang mencari kelemahan kita. Kita tidak dalam posisi di mana kehadiran seorang gadis, bisa membuat semuanya kacau. Kau tau, kenapa ayahku mati?"
Saat itu, Noah sempat tertegun. Dia benar-benar tidak bisa lengah, tepat seperti apa yang Alice katakan. yang rentan saat ini bukan World Order, tapi dirinya
"Alice, maaf soal ayahmu. Aku sudah mengetahuinya dari Old Ted. Dan itu kenapa aku mulai mempelajari bela diri."
Alice langsung mengangguk cepat. "Ya, aku sangat setuju dengan ide Old Ted. Ini benar-benar akan memberi perubahan."
Saat itu, Noah menggenggam tangan Alice yang menahan lengannya."Alice, aku tau kau mencemaskanku. Tapi, aku berjanji. World Order akan berada di puncak. Aku tidak akan mati sebelum itu terjadi."
"Tidak, kau tidak boleh mati, bahkan jika itu tidak terjadi." Jawab Alice cepat.
"Baiklah ... Aku tidak akan mati." Jawab Noah sambil tersenyum.
Saat Noah kembali hendak turun, Alice menahannya lagi. Kali ini, Tidak hanya menahan saja. Alice menarik dan memeluknya.
"Noah, tolong bawa kami semua kepuncak dunia. Aku juga ingin melihatnya."
__ADS_1
Noah benar-benar merasakan kecemasan Alice itu. Tentu saja Noah mengerti, Alice adalah putri dari seseorang yang menjadi korban kejamnya dunia yang kini mereka arungi
"Ya, tentu saja. Aku berjanji, di masa depan, dengan World Order, Kita benar-benar akan Membuat Tatanan Baru pada Dunia ini."
Saat mendengar Nkah meyakinkannya, Alice mengecup Noah tepat di keningnya. lalu melepas pelukannya.
"Baiklah, kau benar-benar seorang pria, dan sebagai pria sejati, kau harus menepati janjimu."
"Okey, tapi saat ini, kita juga harus bekerja keras. Sekarang, habiskan dana yang ada di World Order untuk memulainya."
Alice melepas Noah dengan senyuman. Saat ini, dia benar-benar ingin melihat pemuda itu di puncak.
Ayahnya mungkin gagal. Tapi, dia sangat yakin bahwa Noah mampu melakukan apa yang tidak bisa dilakukan orang lain.
Saat ini Alice merasa, adalah tugasnya untuk memastikan Noah berjalan di jalur yang tepat.
"Bell ... "
Saat turun dari mobil Alice dan sebelum memasuki Showroom, Noah membuka panel Sistemnya. Saat ini, dia sudah tau apa yang harus dia tingkatkannya.
"Bell ... "
Noah langsung menaikkan level intuisinya sebanyak tiga belas kali. Saat itu, level tersebut sudah tidak bisa di naikkan setelah mencapai angka Dua puluh.
Begitu juga dengan Level Sense nya. saat Noah menaikkannya, Bar itu berhenti saat mencapai angka dua puluh lima.
Noah berjalan memasuki Showroom, saat merasakan otaknya sedikit menghangat selama beberapa detik.
"Hmm ... Pikiranku sedikit tenang."
Saat proses itu selesai, Noah juga yakin bahwa itu bukan tingkat akhir dari kedua bar tersebut.
Mungkin perlu penyesuaian level sistem atau yang lainnya, agar level sense dan level intuisinya bisa di naikkan lagi.
Padahal, sebelum kesini tadi, Noah sudah menelfonnya agar mempersiapkan mobilnya.
"Gadis itu benar-benar gigih."
Noah mencoba mencari Parish Bates, tapi dia tidak bisa menemukan manager showroom itu. Karena dia melihat Laura sudah hampir selesai, maka dia memutuskan menunggu gadis itu saja.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tersesat"
De Javu, itulah yang tiba-tiba Noah rasakan. Dia menghela nafas dalam dan melepasnya. "Sial, apa dunia di penuhi orang-orang seperti ini?" Umpatnya dalam hati.
Saat itu, Noah langsung berbalik dan menyunggingkan senyum ramah pada laki-laki itu.
"Maaf tuan, aku tidak tersesat. Aku kesini hanya untuk mengambil sesuatu. Silahkan, teruskan apapun urusanmu."
Dan seperti seharusnya. Selalu ada seorang wanita yang tak kalah sombongnya, di sebelah orang seperti itu. Noah pun menyunggingkan senyumnya pada wanita itu.
"Nona, kau beruntung sekali teman priamu, membawa kau kesini. Apakah kalian akan membeli salah satu mobil yang ada di sini?"
Mendengar kata-kata Noah itu, sang wanita sedikit merasa tersanjung, namun juga gugup di saat bersamaan
"Ya ... Ya ... Tentu saja. Bu-bukankah begitu, sayang?" Ucapnya, terbata.
"Ya, Ya ... kami akan membeli jika ada yang cocok."
Saat mereka mengatakan itu, Laura sudah berada di sana dan langsung berseru.
"Benarkah, jadi kalian akan membeli hari ini?"
__ADS_1
Sepasang kekasih itu tampak terkejut saat Laura sudah berdiri di sana, dan menanyakan kepastian pada mereka.
"Ya ... Setidaknya, biarkan aku test Drive sekali lagi."
Laura merapatkan bibirnya sambil mengangguk. "Baiklah, berarti kalian hanya datang untuk test Drive ... Lagi?"
Noah kembali tersenyum melihat pasangan itu sedang salah tingkah di depan Laura.
"Nona Laura, aku fikir tadinya, pemuda ini tersesat. Tapi, sepertinya dia ke sini ingin mengambil sesuatu. Kau mengenalnya?" Pria itu mencoba mengalihkan topik dan menjadikan Noah sebagai korbannya.
Laura sudah tau Noah ada di sana, bahkan dia sempat mendengar apa yang mereka bicarakan beberapa saat yang lalu. Untuk itulah dia sedikit berseru saat bertanya yang membuat keduanya gugup.
"Pemuda ini?" Tanya Laura memastikan pada keduanya.
"Ya dia. Kau mengenalnya?"
"Nona Laura, dia mengatakan akan megambil sesuatu di sini. Tapi, dia lihat dari pakaiannya, aku merasa dia memiliki niat yang buruk."
"Ya, sebaiknya kau mengusirnya terlebih dahulu dan kita bisa melanjutkan ini, nanti."
Laura hanya tersenyum saat mendengar keduanya.
"Ya, aku mengenalnya dan tentu saja dia kesini untuk mengambil sesuatu."
Saat mereka bicara, Lamborgini Veneno Roadster berwarna hitam, baru saja di dorong keluar oleh para mekanik showroom dari ruangan final check di sana.
"Oh my god ... !"
Sang wanita, teman pria itulah yang pertama kali melihat mobil tersebut. Dia langsung berseru saking terpesonanya dengan tampilan mobil itu.
"Nona Laura, kenapa mobil ini di bawa turun?"
Sebagai pecinta mobil sport yang belum mampu membeli mobil apapun, pria itu tau benar type mobil yang sekarang ada di dekat mereka itu.
"Tentu saja, karena ini akan segera di bawa pemiliknya."
Mata pria itu melebar seolah tak percaya, "Nona Laura, siapa di Silverstone yang memiliki kemampuan untuk membeli mobil ini?"
Sadar teman prianya lebih histeris dari dirinya, sang wanitapun bertanya. "Sayang, kenapa kau begitu terkejutny? Type apa dan berapa harga mobil ini?"
"Ini Lamborgini Veneno Roadster. Hanya ada sembilan unit di dunia dan harganya ... "
"Lima juta enam ratus dolar." Sambung Laura, bangga.
"Oh, F**k ... Ini benar-benar luar biasa, aku yakin pemiliknya adalah orang terkaya di kota ini. Nona Laura, siapa pemiliknya?"
Laura tersenyum. "Bukankah pemuda ini mengatakan pada kalian, bahwa dia di sini untuk mengambil sesuatu?"
Mata kedua orang itu terbelalak dan mulut mereka terbuka sangat lebar. Namun, Laura tidak lagi memperdulikan keduanya. Saat ini, gadis itu berbalik dan langsung memberikan senyum termanisnya.
"Tuan Evans ... Mobilmu, sudah selesai melakukan pemeriksaan terakhir. Sekarang, mobil ini sudah siap untuk di bawa."
Saat itu, Laura sedikit menunduk sambil menyerahkan kunci mobil itu.
"Terimakasih Laura,"
"Tidak perlu sungkan. bahkan, seharusnya kami yang berterimakasih pada anda."
"Beep ... Beep ... !"
Saat itu, pintu mobil itu terbuka dan Noah langsung masuk kedalam. Namun, saat dia hendak menutup pintu, dia kembali menyapa sepasang kekasih itu.
__ADS_1
"Tuan, kenapa kau di sini? Apakah kau tersesat?"
Sebuah Lamborgini Veneno Roadster yang merupakan mobil sport termahal di dunia itu, baru saja memasuki jalan Silverstone untuk pertama kalinya. Tentu saja saat ini, sang pemiliknya, Noah Evans, berada di dalam sedang mengendarainya.