
"Henry kami rasa, kalian memaksa keberuntungan kalian terlalu jauh."
"Greg, selama ini aku tidak pernah berurusan denganmu dan aku juga tidak ingin berurusan denganmu di masa depan. Jadi, menyingkirlah biarkan kami lewat."
Kesabaran Henry benar-benar dibuat melewati batas oleh Greg. Batu saja mereka ingin melangkah. Pemuda ini sudah Menghadangnya, lagi.
"Lucy, aku masih menghargaimu karena bagaimanapun, kau pernah dekat dengan kita bertiga. Jadi, tolong bawa pacarmu ini pergi dari sini."
Melihat Henry tidak memperdulikannya, Greg yang merasa di remehkan tersulut emosi. Saay itu, dia menarik kerah baju pemuda itu.
"Heh, Sialan. Kau fikir kau siapa? Hah?!"
Berfikir Henry akan takut, ternyata Greg sangat salah. "Huh, hanya karena kalian berdua kaya, kalian berfikir bisa melakukan semua seenaknya."
"Hei, kalian! Ada apa ini?"
Beruntung salah satu penjaga pintu depan Horizone, melihat pertengkaran keduanya. Saat itu, beberapa dari mereka datang untuk memastikan.
"Keamanan, aku tidak tau mereka masuk kesini memakai trik apa. Tapi, saat ini ketiganya coba memasuki tempat ini."
"Benar, mereka bertiga adalah pecundang di kampus kami. Aku yakin, anak ini telah memalsukan kartu pass untuk masuk kesini."
Inilah kecurigaan keduanya. Greg mengetahui bahwa henry cukup cerdas. Dia menduga anak itu telah memalsukan kartu untuk memasuki Devil Street. Jadi, keduanya memang sengaja datang untuk memprovokasi agar petugas itu datang dan Memeriksa mereka.
Mendengat kata-kata Greg, tiga petugas yang datang itu sedikit terkejut. Sangat berbahaya jika saat ini ada penyusup datang kesini.
Mereka sudah mendapat kode bahwa tamu super VIP sedang berada di dalam. Itu menegaskan agar tidak ada kekacauan sama sekali.
"Benarkah? ... Keamanan di sini sangat ketat. Tidak mungkin kalian bisa memalsukan kartunya. Sini biar ku lihat."
"Tidak perlu pak, kalian bisa langsung menendang mereka keluar dari sini. Aku bisa menjamin, bahwa mereka benar-benar miskin. Aku yakin, bahkan mereka bahkan tidak akan mampu membayar segelas air putih di dalam sana."
Saat itu, Leyton berbicara benar-benar dengan nada yang meyakinkan. Tentu saja hal itu membuat petugas itu sedikit mempercayainya.
"Perlihatkan, biar kupastikan. Jika benar apa yang di katakan dua orang ini. Maka, kalian akan merasakan—"
Belum sempat keamanan itu menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba saja seseorang menyelanya.
"Merasakan apa?!"
Saat itu, semua orang menoleh pada asal suara. Seketika mata semua orang langsung terbelalak. Noah sudah berdiri tepat di depan pintu itu.
Namun, yang lebih mengejutkan lagi, siapa yang kini bersamanya. Itulah yang membuat keamanan yang di sana begitu terkejutnya.
"Nona Alice ... "
Noah tau keamanan itu tidak mengenalnya. Namun, saat ini hatinya sedang kesal. Tidak terlalu memikirkan semua orang di sana, Noah kembali bersuara.
"Kalian kenapa begitu lama, ayo masuk."
"Noah, kami ... Kartu ... "
Noah langsung menggeleng. "Sudah simpan saja. Kita tidak memerlukannya di sini."
Greg dan Leyton merasa baru saja tersambar petir atau semacamnya. kejadian itu seperti mimpi bagi mereka. Keduanya, Tidak tau harus terkejut untuk hal yang mana. Munculnya Noah, kehadiran Alice Sanders, atau masuknya tiga pecundang itu ke dalam Horizone.
__ADS_1
Atau, mereka bisa menggabungkannya menjadi, Noah muncul dengan Alice Sanders dan membawa tiga temannya masuk ke dalam Horizone, seolah itu bukan apa-apa.
Jade dan Lucy yang ada di sana, membatu di tempat mereka. Noah bahkan tidak melirik keduanya, sedetikpun. Kini, pemuda itu benar-benar sudah masuk.
"Noah, bagaimana kau bisa kenal dengan Nona Alice?"
Bisik Liam penasaran. Padahal saat itu, Alice juga berjalan bersama mereka.
"Bukankah kau tau bahwa aku pernah bekerja di Clubnya, kenapa masih bertanya?"
Mata Liam melebar, namun otaknya mencoba mengingat. Namun, meski dia langsung mengingatnya, bukan jawaban seperti itulah yang diharapkannya.
Henry dan Noel bukan tidak ingin bertanya. Bahkan, mereka sekarang cukup kesulitan memikirkan apa yang ingin mereka tanyakan terlebih dahulu.
Saat itu, tiba-tiba ponsel Noah berbunyi seketika dia menghentikan langkahnya.
"Henry, kalian jalanlah terlebih dahulu. Aku harus menjawab panggilan ini."
Alice langsung memerintahkan beberapa gadis cantik untuk membawa ketiganya ke ruangan yang sudah di persiapkan oleh Antonius untuk menyambut Noah dan teman-temannya.
"Old Ted, ada apa?"
"Noah, aku sudah memeriksa latar belakang dua orang yang kau kirim. Kedua perusahaan orang tua mereka, bekerja dibawah World Order. Tapi ... "
Saat itu, Ted Bowie menjelaskan dua perusahaan itu sepertinya sedang bermasalah. Dan menceritakan semua masalah perusahaan itu secara garis besarnya saja.
Old ted menyarankan Noah untuk bertanya dan meminta penjelasan pada Alex, karena keduanya berada di bawah pengawasannya.
"Baiklah, aku mengerti. Terimakasih."
Saat itu, Noah langsung memutus panggilan dan kembali berjalan menyusul teman-temannya bersama Alice.
Alice yang awalnya berniat untuk pergi mencari hiburan lainnya, akhirnya memutuskan untuk menemani Noah dan teman-temannya itu.
Menurut Alice, mereka cukup lucu. Bahkan, salah satu temannya yang bernama Noel mimisan saat tiba-tiba penari striptis membuka seluruh pakaian didepannya.
Sekarang Alice mengerti apa yang membuat Noah senang. Saat malam semakin larut, ketiga teman Noah semakin liar. Awalnya mereka cukup malu-malu. Sekarang, Noel yang tadi mimisan malah ikut bergoyang di atas panggung bersama dua gadis lainnya.
Noah hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah teman-temannya itu. Namun, ada sedikit yang membuat Noah heran. Padahal, dia juga sudah minum sama banyaknya dengan teman-temannya. akan tetapi, dia merasa baik-baik saja.
"Noah, teman-temanmu ternyata anak-anak yang menyenangkan."
Sama seperti Noah, Alice juga tak henti-henti tertawa melihat ketiganya. Malam ini, Alice merasa dirinya seolah seumuran dengan mereka.
"Noah, gadis itu mengajakku. Apakah itu tidak apa-apa?"
"Noah, aku juga."
Noel dan Liam yang sudah dalam keadaan mabuk berat bertanya. Padahal, di sana ada Alice yang sedang berusaha menahan tawa.
"Itu terserah kalian saja. Aku tidak mempermasalahkannya."
Sementara itu, Henry sudah terkapar di satu sudut di ruangan tersebut. Namun, saat itu Alice langsung berbisik seolah sedang menyarankan sesuatu. Noah pun langsung mengangguk menyetujuinya.
"Baiklah, aku rasa itu jauh lebih aman."
__ADS_1
Saat itu, musik telah di matikan dan beberapa orang datang, langsung membawa tiga temannya ke kamar yang di sediakan untuk mereka.
Namun, di saat bersamaan, dua orang asing tiba-tiba masuk ke ruangan tersebut Dan langsung menghampiri Alice dan Noah.
Saat mengetahui siapa yang datang, wajah Alice langsung berubah.
"Alice, siapa mereka?"
Tidak sempat Alice menjawab, pria yang berjalan di depan langsung berbicara. Namun, ekspresi wajah orang itu, sama sekali tidak di sukai Noah.
"Alice, sulit sekali mencarimu sekarang."
"Darold bagaimana kau bisa masuk kesini?! ... "
Darold hanya tersenyum seolah mengejek. "Aku pelanggan di sini. Tentu saja aku bisa masuk. Bukankah seharusnya, sebagai tuan rumah, kau melayaniku?"
Saat mengatakan itu, mata Darold seolah sedang menelanjangi Alice.
"Darold, aku tidak seperti yang kau kenal beberapa waktu yang lalu. Sebaiknya keluar sekarang."
"A4, Hah? ... Lelucon apa itu?"
Noah langsung ingat siapa Darold. Orang inilah yang menyulitkan Alice sebelumnya. Saat itu, dia tambah tidak menyukainya.
"Darold, sebaiknya kau enyah atau aku akan menyuruh keamanan menyeretmu keluar dari sini." Ancam Alice.
Mendengar kata-kata Alice, wajah Darold langsung berubah.
"Hanya karena kau menjual tubuhmu itu pada seseorang yang lebih kaya, itu tak menjadikanmu apa-apa, B*tch ... "
Saat itu, Darold sedikit membungkuk dan kembali berkata. "Sekarang dengar ... World Order sialan yang kau banggakan ini, tidak ada apa-apanya di mata kami. kalian hanya Jaringan kecil yang bergerak di Silverstone saja. Dalam satu malam, kami bisa membuat perusahaan ini bangkrut seketika..
Saat itu, Alice langsung ingat bahwa Darold berada di bawah sebuah jaringan yang cukup kuat dan berbahaya. Apa yang dikatakannya, bisa saja benar.
Melihat Alice tertegun, Muncul seringai di wajah Darold. "Bagus, aku rasa kau mengerti. Jadi, sebaiknya merangkak ke sini, dan lakukan apa yang sudah kau tunda selama ini ... "
Saat itu, Darold langasung membuka kancing celana dan menarik risletingnya kebawah dengan bangga.
"Praaangg ... "
Sebuah botol baru saja pecah di kepala laki-laki itu hingga langsung membuatnya jatuh terlentang kebelakang.
Pengawal Darold yang ada di belakangnya, terkejut karena tidak mengira pemuda yang bersama Alice akan tiba-tiba menyerang bosnya.
Baru saja dia ingin bereaksi, Noah sudah menancapkan sisa pecahan botol itu di tenggorokannya. Pengawal itu jatuh berlutut memegang leher yang kini mengeluarkan darah sangat banyak.
Noah berjalan mendekati Darold yang masih memiliki sedikit kesadaran.
"Kau datang di waktu yang salah. Tidak ada yang boleh berkata seperti itu tentang Jaringan dan orang-orangku... "
"Bruk ... "
Noah menginjak batang dan bola Darold dengan sekuat tenaga, lalu berbalik dan berjalan meninggalkannya begitu saja.
"Alice ... Ayo, ... Kita pulang!"
__ADS_1
Malam itu mata Noah sudah benar-benar terbuka. Saat ini, Dia sudah tau apa yang harus ditaklukkannya.
"Hanya Silverstone, Huh? Kebetulan sekali, aku juga akan melakukan hal yang sama pada kalian." Gumam, Noah.