World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Ke Pusat World Order


__ADS_3

Saat itu, mereka bertemu di taman di universitas. Mereka menceritakan bahwa Jade pergi di bawa oleh beberapa orang.


Menurut teman-temannya, karena gadis itu terlihat sangat dekat dengan Noah, maka dari itu mereka memintanya datang dan menjelaskan kejadiannya.


Seperti biasanya, karena video yang tersebar tentang putusnya Noah dengan Lucy beberapa waktu yang lalu, itu membuat Noah benar-benar dipandang rendah.


Di tambah tiba-tiba Noah dekat dengan mahasiswi baru yang kini langsung menjadi pujaan lelaki satu kampus, meski dua berita itu sangat berbeda, hal itu membuat Noah semakin di kenal.


Sehingga, sekarang banyak yang melihatnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Akan tetapi, Karena sudah terbiasa mendapatkan tatapan aneh, dia tidak terlalu memperdulikannya.


"Noah, bagaimana kau bisa mengenal gadis itu?" Tanya Henry.


"Ya. Apakah dia juga bekerja di DevilHill?"


"Tidak, aku rasa dia adalah anak dari salah satu pengusaha yang ada di DevilHill, bukankah begitu?"


"Ya, Aku rasa Liam benar."


Noah tidak bisa menjawab apa-apa karena teman-temannya sudah mengambil kesimpulan sendiri.


"Henry, bagaimana konten yang kalian buat, apakah sudah banyak yang menontonnya?"


Tidak nyaman dengan topik itu, Noah mengalihkan pembahasan. Lagipula, dia memang mengetahui bahwa teman-temannya ini sedang berusaha menjadi konten kreator.


"Ya, seperti itu. Noel sudah berinvestasi dengan anggaran yang cukup besar untuk semua perlengkapan. Tapi, untuk membuatnya terkenal, setidaknya kita butuh beberapa liputan yang hebat."


"Oh, begitu."


"Noah, bisakah kau meminta Jade untuk menjadi salah satu narasumber? Dia sangat cantik, aku rasa dia akan menarik banyak minat penonton."


"Soal itu, aku tidak bisa menjanjikan ... Bukankah, sekarang dia sedang pergi? "


Noah tampak berfikir dan mempertimbangkan sesuatu. "Kalau kalian hanya butuh berita hebat. Kenapa tidak meliput DevilHill saja?"


Saat itu juga, ketiganya langsung menoleh dan menatap Noah bersamaan.


"Noah, bisakah kau membawa kami ke sana?!"


"Ya. Kau bilang, kau bekerja di sana. Aku rasa ada banyak hal yang sangat menarik yang bisa kami rekam, di pusat Bisnis dan Hiburan terbesar itu."


Noah mengangguk."Ya, aku rasa aku bisa mengaturnya."


"Kapan, bisakah secepatnya?"


Noah kembali berfikir. "Henry, aku rasa bisa. Cuma aku perlu sedikit waktu untuk mengaturnya. Apakah tidak apa-apa?"


"Tentu saja. Kita semua tau bagaimana DevilHill, kita tidak masuk dan meliput apapun di sana sesuka hati kita." Jawab Henry cepat.

__ADS_1


"Aku pernah mendengar bahwa Di sana hiburannya sangat hebat dan sedikit liar. Aku ragu jika kita bisa masuk ke jalan utama pusat hiburan, dengan membawa kamera."


"Ya. Bahkan sebenarnya, kami cukup terkejut kau bisa bekerja di sana. Noah, kau bekerja sebagai apa di sana."


Noah kembali tertegun. Namun, kali ini otaknya bisa bekerja lebih baik. "Ya. Aku belum bisa dikatakan bekerja. Tapi, beberapa teman sudah mengaturnya untukku di sana. Dalam waktu dekat, maka aku akan mulai bekerja."


"Wow, aku rasa kau memiliki kenalan yang hebat. Apa itu gadis dengan Lamborgini?"


Noah tersenyum. "Tidak, ini berbeda. Tapi, aku akan meminta mereka mengaturnya untuk kalian. Aku berjanji."


"Baiklah Noah, kami mengandalkanmu."


Noah Baru saja memiliki gagasan untuk membantu teman-temannya. Mungkin saja gagasan ini akan membantunya untuk memahami sistemnya lebih jauh.


Untuk itu, dia memerlukan sedikit pengaturan. Dia akan meminta Alice dan yang lainnya dalam hal ini.


Mereka terus bercerita dan tak terasa waktu berlalu. Saat itu, Alice menelfonnya.


"Noah, persiapan sudah selesai. Kami hanya menunggumu datang dan semua akan dimulai."


"Baiklah, aku akan segera ke sana."


Setelah Noah memutus telfon, dia berpamitan pada teman-temannya.


"Ada yang harus aku lakukan, Aku harus pergi."


"Tenang saja. Aku akan mengaturnya untuk kalian."


Noah pun berlalu meninggalkan teman-temanya, yang menatap kepergiannya.


"Bukankah, Noah sedikit berubah?"


"Ya. Aku rasa juga begitu. Sekarang dia terlihat lebih ... Percaya diri?"


****


"Oh sial! Bagaimana aku bisa melupakannya!"


Saat di kamar hotel tadi, Noah melihat pakaiannya sudah ada di sana. Akan tetapi, ada hal lain yang di lupakan. Pakaian-pakaian itu akan terlihat aneh jika dikenakan dengan menggunakan sepatu Kets atau sneaker.


Noah sama sekali tidak memiliki sepatu yang cocok untuk itu, namun saat ini, dia sudah sangat terlambat.


"Huh, bagaimanapun itu milikku. Aku bisa datang apapun, sesuai dengan yang aku mau."


Kembali berganti memakai pakaian yang kasual, Noah keluar hotel dan mencari Taksi menuju DevilHill.


Pertama kali Noah memasuki pusat DevilHill, itu membuatnya terkejut. Bagaimana bisa ada kota lain di bukit ini.

__ADS_1


Ya, DevilHill terletak di perbukitan dimana semua bangunan di sana, merupakan tempat hiburan, restoran, hotel, dan beberapa toko barang-barang bermerk.


Dan gedung-gedung di sana adalah perkantoran perusahaan-perusahaan di mana World Order berinvestasi, atau perusahaan tekanan yang sudah bergabung dengan Jaringan Bisnis itu.


"Sial, bagaimana aku tidak mengetahui ini sebelumnya. Dan tiba-tiba ini menjadi milikku." Gumam, Noah.


"Kau bisa berkhayal apapun, tapi di aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini."


Ternyata gumaman Noah, di dengar supir taksi. Dan supir taksi itu batu saja mengatakan bahwa dia hanya bisa mengantar Noah sampai di depan pagar sebuah gedung mewah di sana.


"Tuan, kenapa kau menurunkanku di sini? Kenapa tidak masuk saja?"


Sang supir taksi menggeleng. "Nak, aku tau kau ingin kelihatan keren. Tapi taksi tidak diperbolehkan masuk. Sana, pergilah bekerja. Kau bisa lewat pintu itu."


Noah menoleh ke arah supir taksi itu menunjuk.


"Tuan, kenapa aku harus lewat sini?"


Sang supir taksi menggeleng seolah tak percaya. "Kau lihat, tidak ada pejalan kaki melewati gerbang itu. Sana, lewat pintu ini dan semangatlah bekerja. Buat wanita-wanita kaya itu jatuh cinta padamu, jika kau memiliki kesempatan."


Taksi itupun pergi. Noah melihat ke arah gerbang dan pintu yang ada di dekatnya. Berfikir sebentar, lalu dia melangkah.


"Ah, lagipula apa bedanya."


Noah melangkah memasuki pintu itu dan berjalan cepat. Mungkin saat ini, dia sudah terlambat.


Jarak antara pagar dan bangunan itu ternyata lumayan jauh. Noah memilih memintas jalan, melewati halaman yang dipenuhi rumput untuk sampai di depan gerbang.


"Hei Bocah, apa yang kau lakukan? Keluar dari sana!"


Reflek Noah berjalan ke tepi dan melihat siapa yang meneriakinya. "Maaf, apa maksud anda?"


Lelaki tua yang memanggilnya menunjuk sebuah jalan setapak. "Lewat sini, jangan menginjak rumput. Ikuti saja terus dan kau akan sampai ke pintu masuk."


Noah begitu terburu-burunya, hingga dia sedikit berlari. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, seharusnya dia sudah berada di dalam sejak tadi.


Saking terburu-burunya, Noah hanya fokus melihat jalan setapak itu dan akhirnya berhenti di depan sebuah pintu.


"Ya, ini memang pintu." Katanya lemah.


Sekarang dia berada di pintu bangunan, yang sepertinya terhubung ke bangunan utama. Tidak terlalu banyak fikir, Noah memutuskan masuk dan terus berjalan hingga akhirnya sampai di aula utama gedung tersebut.


"Akhirnya ... " Ucapnya lega.


Belum sempat menarik nafas lega untuk kedua kalinya, seseorang menariknya.


"Hei Tuan, kenapa kau menarikku?"

__ADS_1


__ADS_2