
Keesokan harinya, Noah kembali mendapat beberapa dentingan di dalam Bell, sistemnya. itu menandakan bahwa World Order sudah bisa bergerak normal kembali.
Seluruh operasional sudah berjalan lancar. Di tambah dengan aset seluruh Jaringan keluarga Fargo yang berhasil di akuisisinya, saat ini World Order sudah mengelola lima puluh lima persen bisnis di kota Silverstone.
****
Waktu berjalan lebih dari seminggu setelah itu. Sempat membuat Silverstone bergejolak, namun dunia bisnis di kota itu, kembali tenang dan berjalan seperti bagaimana seharusnya.
Tumbangnya sebuah Jaringan, meski itu keluarga Fargo, bukanlah hal baru di dunia mafia.
Semua orang sudah memutuskan dan akan berjalan pada pilihan masing-masing.
Tidak ada yang bisa dilakukan Noah ataupun World Order untuk menguasai seluruh Silverstone saat ini, kecuali sebuah kesempatan muncul dan mereka bisa memanfaatkannya dengan baik.
Sementara itu, Seperti biasanya dan sesuai janjinya, Noah meneruskan kuliahnya.
Lagipula, dia tidak berniat mengambil jalan pintas untuk menyelesaikannya meski saat ini dia bisa saja melakukannya.
Saat itu, Noah dan tiga temannya berkumpul di perpustakaan. Entah sejak kapan tempat itu menjadi basecamp mereka.
"Noah?"
"Hmm ... "
"Kau sudah mengetahuinya bukan?"
Noah tidak menoleh sedikitpun pada Liam yang bertanya. Namun, tetap menanggapi temannya itu.
"Soal apa?"
"Greg dan Leyton ... Keluarga mereka ... "
Noah hanya menggeleng. "Liam, untuk apa kau memikirkan mereka? Bukankah kalian masih banyak hal untuk dilakukan?"
"Yah, kau benar ... Aku tidak seharusnya memikirkan mereka. Hanya saja ... Lucy ... "
Liam melihat Noah tidak bergeming saat dirinya mengatakan nama Lucy.
Menyadari sikap Noah itu, Henry langsung menegurnya. "Liam, ada apa denganmu? ... Kenapa kau mengungkit hal-hal yang tidak mengenakkan saat ini?"
"Oh, salahku ... Maafkan aku."
Sadar bahwa suana manjadi sedikit tidak mengenakkan, Noah mendongakkan kepala dan melihat kedua sahabatnya itu.
"Dengar ... Tentu saja aku peduli dengan Lucy, bagaimanapun dia pernah mengisi hari-hari ku. Tapi tidak ada lagi yang bisa aku lakukan untuknya. Jadi, tolong jangan membicarakannya lagi, Oke?"
Kedua temannya itu mengangguk, dan sekali lagi Liam meminta maaf.
"Ya, maafkan aku."
Namun, saat Noah berbalik, dia melihat Noel yang sejak tadi hanya diam saja.
"Noel, kenapa kau terlihat tidak semangat begitu?"
__ADS_1
Noel menggeleng dan mengemas buku-bukunya terlihat terburu-buru. "Tidak, tidak ada apa-apa. ... Sepertinya, aku harus ke suatu tempat. Nanti aku akan menghubungi kalian, oke?"
Noel meninggalkan teman-temanya begitu saja. Namun, tiba-tiba henry kembali bersuara.
"Liam ... Sebaiknya, kau benar-benar menjaga mulutmu itu sejak dari sekarang!"
Mendengar apa yang dikatakan Henry, saat itu juga Noah menyadari apa yang membuat Noel seperti itu.
"Yah, aku lupa ... Maafkan aku."
Ayah Noel bekerja sebagai asisten Luke Norman. Tentu saja kejadian sebelumnya juga berdapampak pada keluarga salah satu sahabatnya itu, terutama ayahnya.
"Liam ... Kau harus minta maaf pada Noel, bukan pada kami ... " Noah berbalik menoleh henry. "Kalian berdua, pergi kejar dia."
Keduanya langsung mengangguk, namun saat itu juga mereka mengernyit keheranan.
"Baiklah, tapi ... Noah, bagaimana denganmu dan ... kau mau kemana?"
Henry dan Liam juga menyadari bahwa Noah juga bersiap-siap untuk pergi saat itu juga.
"Aku harus melakukan sesuatu. Kalian ... Kejar Noel ... "
Setelah Noah pergi, Henry kembali memarahi Liam.
"Kau, benar-benar harus menjaga mulutmu itu ... "
Noah benar-benar tidak mengingat tentang ayah Noel sebelumnya. Jadi, saat ini dia merasa bersalah karena itu.
Tentu saja Noah harus memikirkan cara untuk menyelamatkan keluarga Noel secepatnya.
"Albert ... Lakukan sesuatu untukku sekarang juga ... "
"Baik, baik ... katakan, apa itu?"
"Asisten Luke Norman, adalah ayah temanku ... Kau tau apa yang harus dilakukan, bukan?"
"Baik, segera aku bereskan."
"Albert ... Aku mengandalkanmu."
Noah memutus sambungan begitu saja. Saat ini, entah bagaimana karena tergesa-gesa untuk melakukan panggilan ini, Noah mendapati dirinya berada di asrama wanita.
"Sial ... Kenapa aku berada di sini?"
Belum sempat dia berbalik hendak melangkah pergi, sebuah suara memanggilnya.
"Noah?"
Noah memejamkan mata sebelum berbalik dan melihat gadis yang sebenarnya tidak ingin ditemuinya.
"Lucy ... "
Saat itu, Noah menyadari bahwa Lucy sedang menatapnya nanar. Tidak tau harus mengatakan apa, Noah segera melangkah.
__ADS_1
"Lucy, aku ada sesuatu yang ingin aku selesaikan. Aku pergi ... "
"Noah, apa kau berpacaran dengan Jade?"
Langkah Noah terhenti saat itu juga. Dia berbalik dan menatap Lucy dengan wajah sedikit kesal.
"Kenapa kau menanyakan itu?"
Lucy segera menggelengkan kepala. "Tidak, tidak. aku tidak bermaksud apa-apa ... Aku hanya bertanya."
"Baik, dan aku tidak ingin menjawabnya." setelah itu, Noah berbalik dan langsung berjalan.
"Noah ... "
Lagi-lagi Noah menghentikan langkahnya. "Lucy, jujur saja ... Aku juga tidak tau kenapa aku berada di sini. Tapi, ku tidak datang untuk menemuimu."
"Aku tau, tapi maukah kau berbicara denganku sebentar saja?"
Sebenarnya Noah ingin sekali menolak. Akan tetapi, dia juga tidak tau kenapa dia bisa berakhir di sini. Sekarang, mereka berdua sedang duduk di banku sebuah taman tidak jauh dari kampus keduanya.
"Lucy ... Aku tidak menyalahkanmu. Kau berhak dengan pilihanmu. Jadi, tidak perlu meminta maaf padaku."
Noah sudah menyadari hal ini sejak mendengar kata-kata gelandangan tua yang memberikan sistem ini padanya.
Meski Lucy tidak berada dalam posisi sulit seperti apa yang di alami oleh Alice dan Jade, akan tetapi tidak ada salahnya bagi seorang wanita seperti Lucy berharap sebuah kebahagiaan, yang saat itu tidak bisa diberikannya.
Hanya saja, memaafkan bukan berarti ingin kembali. Noah sudah membuang pikiran itu jauh-jauh. Lucy adalah masa lalunya, dan dia memiliki tujuan baru dalam hidupnya.
"Noah ... Aku ... Aku ... "
"Lucy, sebagai teman, jujur saja. Aku senang kau tidak bersama Greg lagi ... Tapi bukan berarti aku ingin kembali padamu. Pemuda itu, hanya ingin memanfaatkanmu."
Lucy hanya tertunduk saat Noah mengatakannya. Dia sudah menyadari hal itu sebelumnya. Seperti kata Noah, Greg tidak melihat apapun dari dirinya selain tubuhnya.
Meski mampu membelikan apa yang tidak sanggup Noah berikan untuknya, tapi Lucy tidak merasakan kebahagiaan dari Greg, seperti Saat-saat bersama Noah.
Setelah mengetahui bagaimana Greg, Lucy sudah beberapa kali berfikir untuk meninggalkannya. Namun, dia sadar bahwa Noah tidak akan mungkin lagi kembali padanya.
Akan tetapi, bertemu dengan Noah hari ini, membuat Lucy berfikir seolah memiliki setitik harapan.
"Noah ... Aku begitu jahat padamu ... Aku menyesal ... Aku masih ... — "
Noah sudah tau apa yang akan di katakan oleh Lucy. Dia benar-benar mengerti gadis ini. Itu kenapa dia sudah berdiri dan berniat untuk pergi.
"Lucy, maaf. Aku harus pergi. Saat ini aku tidak ingin membicarakan hal-hal seperti—"
Mata Noah melebar saat Lucy tiba-tiba memeluknya.
"Noah ... Aku mencintaimu. Aku terlalu bodoh ... Kau tau bagaimana aku ... Noah, aku mohon ... Maafkan aku ... Aku ... Aku ... Benar-benar ... Masih ... Mencintaimu ... "
Lucy terus menangis sambil memeluknya. Namun, hal itu sudah diduga Noah, dan itu kenapa dia langsung berdiri.
Akan tetapi, ada hal yang tidak diduganya, dan itulah yang membuat matanya melebar karena terkejut.
__ADS_1
Beberapa meter dari tempat dia berdiri dimana Lucy kini memeluknya sambil menangis itu, seorang gadis lainnya berdiri berhadapan dan bertatapan langsung dengannya.
"Jade ... ?"