World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Pertemuan


__ADS_3

"Siapa kalian?"


Tentu saja itu Noah tanyakan bukan karena tidak mencurigai siapa yang mengirim orang-orang ini. Hanya saja, akan sangat konyol sekali jika hal itu tidak dia tanyakan.


"Tidak usah banyak tanya. Pada akhirnya, Kau juga akan tau."


Noah menggelengkan kepalanya. "Aku tudak mengenal kalian dan kenapa aku harus ikut. Aku juga tidak membuat masalah apapun. Atau ... "


Noah pura-pura berfikir dan melihat pakaian ketiga orang itu dari atas hingga kebawah. "Aku tidak meminjam uang pada siapapun. Aku rasa, kau salah mengenali orang."


Salah satu dari ketiga orang tersebut, merasa tersinggung dengan kata-katanya. "Apa kau berfikir kami ini terlihat seperti penagih hutang?! ... Hah?"


Saat itu, Noah berdiri dan menatap ketiganya. "Bukankah penagih hutang saat ini berpakaian seperti apa yang sedang kalian kenakan?"


Noah sengaja menyulut emosi ketiganya.  Dan itu benar-benar bekerja pada dua orang di sana. Namun, saat keduanya hendak maju seperti akan menyerang Noah, pria yang berdiri di tengah segera menghentikan Mereka.


"Tenangkan diri kalian, saat ini kalian benar-benar terlihat seperti penagih hutang ... !"


Saat itu juga keduanya langsung terdiam.  Keduanya melihat Noah tersenyum licik. Hal yang membuat keduanya terlihat semakin kesal.


"Tuan-tuan, setidaknya jelaskan maksud kedatangan kalian. Aku hanya seorang mahasiswa miskin. Aku melihat kalian datang dengan mobil yang sangat bagus. Aku sangat yakin bahwa aku tidak melakukan apapun beberapa waktu ini. Apakah aku telah berbuat salah pada seseorang tanpa aku sengaja?"


Pria yang terlihat lebih tenang itu, sekarang tampak berfikir, seolah mempertimbangkan sesuatu. Melihat Noah hanya berdiri tanpa berniat untuk melawan atau kabur, dia mencoba untuk mempermudah semuanya.


"Tidak, kau tidak melakukan sesuatu yang salah. Sepertinya ini hanya salah faham saja. Aku dan mereka memiliki standar kerja, itu saja. Saat ini, kami diperintahkan untuk membawamu untuk menemui seseorang. Jadi, aku harap kau bisa ikut, dan nanti biarlah orang itu yang menjelaskan semuanya. Bagaimana?"


Noah mengangguk-angguk kecil. "Baiklah, jujur saja. Penampilan kalian mencurigakan. Jadi, aku hanya bersikap waspada. Tapi, anda terlihat cukup ramah. Aku rasa aku akan ikut saja, Lagipula aku tidak merasa melakukan kesalahan apapun."


"Bagus, ini jauh lebih mudah. Kalau begitu, ayo. Orang itu tidak suka menunggu."


Arlen sedang makan siang di salah satu restoran mewah di Silverstone, saat tiga anak buah Alger datang.


Melihat ketiganya membawa seorang pemuda yang ciri-cirinya persis seperti apa yang Alger katakan, dia hanya bertanya sekali lagi pada tangan kanannya yang berdiri di sebelahnya sedikit ke belakang.


"Jadi, dia orangnya?"


"Ya, tidak salah lagi."


Arlen tersenyum saat Noah di bawa menghadap padanya. Namun, saat dia hendak bicara, Noah langsung menyela.


"Tuan, aku rasa ada kesalahan disini. Jelas kita tidak saling mengenal. Jadi, aku rasa aku tidak memiliki urusan dengan anda."


Kata-kata Noah itu, hanya ditanggapi dengan senyuman oleh anggota keluarga Fargo itu.


"Kau benar, kita tidak saling mengenal. Akan tetapi, bukan berarti kita tidak bisa berurusan, bukan?"


Saat itu, Noah mengernyit heran dan langsung kembali bersuara. "Tuan, aku harus memastikan. Apa aku telah membuatmu tersinggung atau aku melakukan kesalahan yang membuatmu tidak nyaman?"

__ADS_1


"Tidak, tidak. Kau tidak melakukan apapun. Jadi, tenanglah. Sekarang, silahkan duduk."


Saat itu, Noah bereaksi seolah akan menolak. Namun, Alger langsung berkata dengan nada sedikit mengancam.


"Jika Tuan Muda menyuruhmu duduk, maka duduklah. Tidak usah menolak."


Saat itu, Noah mengangkat bahu dan berkata pasrah. "Baiklah, aku hanya berusaha sopan. Karena aku melihat Tuan Muda ini adalah pria terhormat."


Memperhatikan sikap Noah yang terlihat sangat santai itu, Arlen sedikit meragukan kecurigaannya. Namun, Saat Noah baru saja duduk, dia langsung bertanya.


"Aku tidak pandai berbasa-basi. Jadi, katakan padaku apa hubunganmu dengan Alice?"


Selesai Arlen bertanya, Noah melebarkan matanya dan bersuara sedikit berseru. "Tidak mungkin ... Apa kau menyukai Nona Alice? ... Tuan, aku rasa kau salah faham. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Dia mantan bos ku saat aku masih bekerja di Clubnya—"


"Diam ... !"


Kata-kata Noah langsung terputus saat Alger berteriak padanya. Namun, Arlen mengangkat tangan tanda menyuruh Alger tidak ikut bicara.


"Jadi, siapa namamu?"


"Aku Noah, sepertinya anda sudah mencari tau. Tapi tuan,  soal Nona Alice, aku bisa jelaskan. Kami tidak berhubungan seperti yang kau fikirkan—"


Niah kembali terdiam, saat Arlen mengangkat tangan seolah menyuruhnya untuk berhenti bicara. "Noah, sepertinya aku salah menyampaikan pertanyaannya ku."


Niah mengangguk mengerti. "Baiklah, aku rasa kau juga tidak akan percaya bahwa aku dan Nona Alice memiliki hubungan romantis, bukan?"


"Baiklah, aku akan menjawab jika aku memang tau."


Arlen sedikit memajukan wajah dan menajamkan matanya. Dia merendah suara lalu bertanya. "Apa kau tau siapa the Ghost?"


Saat mendengar itu, mata Noah melebar dan mulutnya ternganga. "Tuan, kau benar-benar menanyakan hal ini, padaku?"


"Ya, itu yang aku ingin tau. Apa kau mengetahuinya?"


"Prak ... !" Noah mengebrak meja, lalu menjawab. "Tentu saja aku tau ... " Serunya.


Sadar semua orang terkejut, Noah langsung berkata lagi. "Maaf, aku terlalu bersemangat."


Arlen menggelengkan kepala, seolah tak peduli. "Jadi, kau benar-benar mengetahuinya?"


"Ya, tentu saja" Noah mengangguk yakin, namun setelah itu, dia mengerutkan dahinya. "Tapi, kenapa anda bertanya tentang itu padaku?"


"Tidak penting ... Sekarang, katakan siapa dia dan dimana dia sekarang." Ucap Arlen tidak sabar.


"Ini sedikit aneh. Kenapa kalian tidak tau the Ghost padahal, kalian tau Nona Alice."


"F**k katakan saja, siapa dia. Sekarang ... !"

__ADS_1


Melihat Arlen sudah kehilangan kesabaran, Noah pura-pura terkejut. "Baik, baik. ... Akan aku katakan."


Noah juga memajukan wajahnya mendekat pada Arlen di seberang meja dan mulai berkata dengan suara rendah.


"The Ghost adalah pemilik World Order dan karena ini jam makan siang, aku rasa dia sedang di sebuah restoran mewah, dengan seseorang atau semacamnya."


Jawaban Noah itu membuat Alger dan tiga anak buahnya membatu. Tentu saja semua orang tau itu dan jelas apa yang dimaksud bos nya bukan hal itu.


Arlen menggeram. Karena merasa pemuda yang sedang duduk di depannya ini, terlihat sedang mempermainkannya.


"F**k ... ! Kau mempermainkanku?! ... "


Noah menggelengkan kepala cepat. "Tidak, aku tidak mempermainkanmu. Aku mengatakan yang sejujurnya."


"Anak muda, aku memiliki batas kesabaran yang sangat rendah. Jadi, jangan mencoba keberuntunganmu di depanku."


"Tuan, aku menjawab hal yang aku ketahui. Jadi, aku tidak sedang mempermainkanmu."


"Kami tau kau tinggal dengan Alice, jadi tentu saja kau tau siapa The Ghost ini sebenarnya. Sekarang, katakan padaku siapa the Ghost ini, dan jangan berkata hal omong-kosong Lagi."


Saat itu, Noah menggelengkan kepalanya. "Tuan, kau tentu sudah mencari tau siapa aku dan bagaimana aku bisa mengenal Nona Alice. Aku hanya menumpang dirumahnya, karena aku belum memiliki tempat tinggal."


Arlen langsung terdiam. Saat itu, dia mencoba mempertimbangkan sesuatu. Namun, Alger yang berdiri di sebelahnya, menunduk dan berbisik padanya.


Dari gerak-gerik Alger, Noah bisa mengetahui bahwa pria itu sedang mengkonfirmasi sesuatu pada bosnya itu dan Noah memilih diam sampai mereka menyelesaikannya.


Saat selesai, Arlen mengangguk-anggukan kepalanya. Dan mulai berbicara.


"Noah, jika aku menawarkan cukup banyak uang yang bisa membuatmu hidup nyaman selama sisa hidupmu. Akan tetapi, aku memintamu melakukan sesuatu untukku. Bagaimana?"


Saat itu juga Noah menggelengkan kepala. "Tuan, maaf. Aku tidak mengerti. Tapi, setelah bertemu Nona Alice, hidupku menjadi cukup. Aku tidak bisa membantumu mendekatinya ... Kau memiliki kemampuan, jadi aku rasa kau bisa melakukannya tanpa bantuanku."


"Prangg ... !"


"F**k ... !"


Arlen menghempaskan gelas di meja kelantai dan mengumpat frustasi. Saat itu juga, Noah berdiri karena benar-benar terkejut.


Dia tidak menyangka bahwa Arlen benar-benar sebodoh ini. Meski terlihat takut, di hatinya Noah berteriak girang.


"Noah, kau ... "


Arlen tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena saking kesalnya. Menurutnya, pemuda ini benar-benar berfikir bahwa dia berniat mengejar Alice.


Tau bosnya sudah sangat kesal, Alger langsung bicara.


"Anak muda, kau bisa sebutkan angka berapa saja dan bahkan kami bisa memberimu sebuah rumah, agar kau mau bekerja di bawah kami. Sebagai ganti Alice, jika kau menginginkan wanita, maka kami akan memberikan gadis-gadis muda yang cantik untuk tinggal bersamamu. Yang kau perlu lakukan hanya satu ... "

__ADS_1


__ADS_2