World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Senang Melihatmu


__ADS_3

Meski diluar semua tampak tenang, tapi seluruh Jaringan yang terkait dengan World Order, saat ini tengah bergerak.


Beruntung Alex mendapatkan informasi penting, tepat waktu. Jadi, sesuai hasil pertemuan itu, Noah menetapkan agar semua orang bekerja seperti biasa. Sementara itu semua bagian-bagian yang sudah ditunjuk, akan mengambil peran yang lebih penting.


Tidak mudah untuk bersiap-siap, karena Noah yakin bahwa saat ini World Order sedang menjadi sorotan. Namun, dia sendiri tidak mau menunjukkan bahwa mereka sedang berada di bawah tekanan.


"Noah, aku sudah meminta beberapa orang untuk menemani Sarah Kingstone dan Julius Clark dalam mengendalikan  dua wilayah Otoritas milik Anson Haines dan Alexander Reamus sebelumnya."


Mendengar itu, Noah menganggukkan kepalanya. "Baiklah, sekarang saatnya membuat satu lagi kekuatan yang setara dengan mereka."


Alice saat ini sedang berada di ruangan milik Noah. Keduanya memonitor langsung semua pergerakan World Order di semua wilayah yang sudah mereka kuasai atau sedang mereka susupi.


Namun, saat mendengar Noah ingin membangun satu lagi kekuatan setara dengan dua yang lainnya, membuat Alice heran. Tentu saja itu karena hal tersebut, tidak ada di agendakan di dalam pertemuan sebelumnya.


"Jadi, kekuatan seperti apa yang ingin kita bangun saat ini?"


Mendengar itu, Noah menganggukkan kepalanya, dan tersenyum. "Pertanyaan bagus! ... Jadi, Alice ... Bagaimana menurutmu?"


Alice yang kini berdiri di dekatnya, langsung melipat tangan di depan dada, dan bersandar pada meja di depan di mana Noah sekarang duduk.


Noah tersenyum saat melihat wanita itu kini tampak berpikir serius. Bahkan sampai saat ini, Noah sendiri masih sulit mempercayai bahwa dia memulai semuanya bersama dengan wanita, yang pernah menjadi bos nya ini.


Alice memijit pelipisnya karena tiba-tiba saja dia merasa memaksa otaknya bekerja secara berlebihan. Lalu, beberapa saat kemudian dia mengajar wajah, dan menatap pada Noah.


"Jujur saja, aku tidak pernah menyangka akan sesulit ini hanya untuk membangun sebuah kekuatan, padahal kita memiliki segalanya untuk memulainya ... "


Noah mengangguk setuju. Memiliki banyak uang, bukan berarti bisa bertindak sesuka hati hanya karena mereka mau.


"Ya, kau benar ... Kita bisa saja membangun banyak perusahaan. Tapi, untuk apa bukan?"


"Sepertinya begitu ... Perusahaan yang tidak memiliki pasar, hanya akan menjadi beban. Bagiamana itu bisa di sebut sebagai kekuatan?"

__ADS_1


Melihat itu, Noah menganggukkan kepalanya, setuju. Dia lalu berdiri, dan berkata. "Sepertinya, tugas seperti ini akan menjadi milikmu Alice ... "


Mendengar Noah mengatakan itu, Alice langsung menanggapinya. "Kenapa aku? ... Bukankah, itu seharusnya tugasmu? Kau pemilik—"


Alice tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, karena saat itu juga mulutnya dibungkam Noah dengan Sebuah kecupan.


"Kau selalu ada di dalam rencanaku ... Dan rencananya sekarang adalah, bantu aku memikirkannya ... "


Noah memegang kedua bahu wanita itu, lalu menariknya dalam pelukan.


"Alice ... Jangan katakan ini hanya Milikku ... Jika kau yang meminta, aku akan memberikan semua ini untukmu ... Kau mengerti Maksudku, bukan?"


Saat itu Alice menganggukkan kepalanya. Dia balas memeluk pemuda itu, dan kemudian berkata.


"Aku mengerti ... Aku, benar-benar mengerti."


Setelah itu mendengar itu, Noah melepaskan pelukan tersebut. Dia mengambil Hody miliknya, dan terlihat hendak pergi.


Noah menganggukkan kepalanya, "Ya, aku ingin ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Ivy dan yang lainnya. Apa kau mau ikut?"


Alice langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak bisa ... aku takut, seseorang benar-benar memberikan semua kegilaan ini padaku. Aku lebih memilih di sini untuk memikirkan apa yang sudah ditugaskan padaku. Jadi, silahkan pergi saja ... "


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu!"


Saat Noah menghilang dari pintu, Alice terduduk di bangku yang tadi di duduki oleh pemuda itu. Dia melepas nafas lega.


"Ah, dia harus cepat-cepat mendapatkan wanita lainnya ... Aku tidak ingin mati karena kenikmatan ... itu sangat konyol sekali!"


Setengah jam kemudian, Noah sudah berada di rumah sakit internasional Silverstone. Dia berjalan melewati koridor, dan langsung menuju ruangan di mana Ivy berada.


Dari kejauhan, dia melihat Miranda baru saja keluar dari ruangan itu. Saat keduanya silang bertatapan, wanita itu lekas menghampirinya.

__ADS_1


"Nyonya Clark ... Bagaimana perkembangannya?"


Mendengar Noah yang mencemaskan keadaan Ivy, membuat Miranda tersenyum. Apalagi, pemuda itu sendiri yang setiap hari datang ke sini untuk melihatnya langsung.


"Keadaanya sudah stabil ... Hanya saja, dokter mengatakan bahwa dia masih memiliki Trauma. Jadi, alam bawah sadarnya, seolah membuatnya sulit untuk membuka mata."


Noah mengangguk mengerti. Setelah itu, keduanya kembali berjalan ke ruangan tersebut. Akan tetapi, seperti biasanya, Noah berhenti Samapi di pintu dan melihat Ivy dari sana.


"Tuan Evans ... Kenapa kau tidak ingin mendekati Ivy?"


Noah menelan ludah, saat wanita itu menanyakan hal tersebut padanya. Namun, seperti yang sudah pernah dia katakan Sebelumnya dia menjawab dengan jawaban yang sama.


"Sampai aku bisa mempersembahkan sebuah keajaiban untuknya, Biarkan aku tetap hanya sampai di sini, Nyonya Clark ... "


Sebuah ego yang besar, yang dimiliki seorang pemuda yang juga memiliki jiwa yang besar.


Miranda tentu saja tidak bisa mengeluhkan hal tersebut. Fakta bahwa Noah memberi perhatian begitu besar bagi keluarganya terutama pada Ivy, adalah keajaiban yang telah lebih dahulu pemuda ini tunjukkan pada mereka.


Bahkan Ivy, putrinya itu menganggap Noahlah keajaiban itu sendiri. Namun, dia juga mendengar sendiri bahwa pemuda ini sudah mengucapkan sebuah janji. Miranda hanya bisa berdiri di sebelahnya, sambil menatap putrinya yang terbaring dengan alat pendukung kehidupan tersebut.


Noah menghabiskan beberapa waktu di sana, sebelum akhirnya mengunjungi yang lainnya. Sampai terakhir dia keruangan Aiden, yang sudah sadar sehari yang lalu.


"Noah, lihat ... Siapa yang sedang menemaniku di sini!"


Aiden menyambutnya, begitu melihat masuk. Dia menatap pada pemuda yang tadinya duduk dan kini berbalik, untuk menatapnya.


"Yo, Noah ... "


Noah menganggukkan kepalanya, dan tersenyum.


"Senang melihatmu di sini ... William ... "

__ADS_1


__ADS_2