World Order System : The Mafia

World Order System : The Mafia
Sumpah


__ADS_3

Dua hari berlalu setelah kejadian itu. Di Silverstone semua tampak berjalan seperti biasa.


Tidak ada tanda-tanda akan terjadi pergerakan besar, seperti banyak yang dipikirkan semua orang.


Setelah mobil-mobil mewah itu kembali melintasi jalanan kota itu, hingga keluar dari sana. Silverstone kembali seperti sedia kala.


Pembangunan terus di lakukan. Bahkan semua terlihat di percepat. Hal itu semakin terasa karena semakin banyaknya World Order membutuhkan pekerja dari berbagai bidang.


Namun, tidak sama dengan apa yang terjadi di kota lainnya saat ini. Di Blacksteel, Timothy Flare yang sudah mereda, kini menjadi begitu murka.


"Rooney ... Apa maksudmu tidak ada kabar, brengsek?!"


Baru kali ini Rooney begitu gugupnya berada di depan Timothy Flare. Itu karena apa yang telah dia janjikan, tidak sesuai dengan kenyataan yang mengikutinya.


"M-ma-maaf, Tuan Flare ... Aku kehilangan kontak dengan dirinya ... "


"Praangg!!"


Gelas yang dipegangnya baru saja pecah di lantai\, tepat di sebelah kaki pria itu. "F**k!! ... F**k!!"


Timothy Flare benar-benar murka. Saat ini, kepalanya seolah sedang di injak-injak oleh seseorang. Meski sudah mendengar berita tentang dirinya, namun dia sama sekali belum mengenal orang tersebut.


"Tuan Flare ... Izinkan aku untuk mengatasi ini secepatnya. Aku akan—"


Rooney tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, karena saat itu juga Timothy Flare menyela dengan memegang kedua kerah bajunya.


"Kau akan apa, huh?! ... Apa yang bisa kau lakukan, brengsek?!"


Rooney menelan ludahnya. Tentu saja dia tidak bisa melakukan apapun, tanpa seizin atau perintah pria yang sedang bertanya tanpa memerlukan jawaban ini.


Timothy melepaskan kerah baju itu, setelah sedikit mendorong. Dia kemudian berbalik lalu duduk di sofa di teras lantai dua rumahnya.

__ADS_1


Dia melihat ponselnya yang sejak tadi bergetar tanpa minat untuk menjawabnya. Namun, saat melihat nama siapa yang tertera di sana, keningnya berkerut.


Dia langsung mengusap layar itu ke atas dan menekan tombol pengeras suara.


"Kau menghubungi ku di saat yang tidak tepat, brengsek!! ... Apa yang kau inginkan, Halland F**kin Fargo?!"


Halaand yang berada di seberang sana, tidak langsung menjawab. Hal itu membuat rasa kesal di kepala Tim, semakin bertambah.


Hampir saja dia berniat untuk membanting ponsel itu, namun suara Halaand Fargo terdengar di sana.


"Dua anakku, mati oleh orang yang sama Timy ... Sebagai ayah babtis mereka ... Apa yang akan kau lakukan, teman lamaku?"


Mendengar itu, mata Timothy Flare melebar. Dia langsung mematikan tombol pengeras dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.


"Halaand, katakan!"


"Aku tidak menginginkan apapun lagi selain membalaskan dendam ini, Timy ... Apa gunanya aku mengusahakan semuanya, jika tidak ada satupun orang yang akan mewarisinya ... "


"Aku menghubungimu, untuk menagih sumpah mu, kawan ... "


Timothy Flare menelan ludahnya, saat mendengar suara yang kini terdengar sangat putus asa itu, menyimpan dendam di setiap kata yang di ucapkannya.


"Halaand ... Aku bisa membantumu untuk membalaskan dendam mu ... Jadi, kau tidak perlu memikirkan itu. Aku—"


Timothy Flare tidak bisa meneruskan kata-katanya, Karena di seberang sana, Halaand Fargo langsung berteriak.


"Timy kau\, Brengsek!! ... Aku tidak sedang mengemis untuk meminta bantuanmu\, Kau son of a b*****h ... !!"


Mata Timothy Flare melebar saat mendengar Halland Fargo berteriak seperti itu padanya.


"Kawan ... Tenanglah! Aku mengerti ... Aku mengerti!"

__ADS_1


Sejak mengikuti pria yang sedang berbicara dengan Halaand Fargo lewat ponsel ini, Rooney tidak pernah sekalipun melihat Timothy Flare berbicara dengan nada dan ekspresi seperti ini.


Dia tentu saja mengetahui siapa Halaand Fargo. Sebelumnya, bagi Rooney sendiri, pria itu dan keluarganya hanyalah Jaringan kelas dua, yang mencoba mensejajari posisi bos nya di the Elevens.


Namun, sekuat apapun dia mencoba. Setelah belasan bahkan mungkin puluhan tahun lamanya, pria itu tidak pernah berhasil melakukannya.


Sekarang, dia menyaksikan sendiri bagaimana cara Timothy Flare yang di pikir adalah yang terkuat di antara sebelas orang di the Elevens itu bicara padanya.


Posisi keduanya seolah setara, Bahkan saat ini Halaand terlihat mendominasi penggagas organisasi The Elevens itu, sendiri.


"Tenang? ... Kau memintaku untuk tenang? ... Tolong katakan, Timy ... Jika mati saja aku tidak bisa tenang, bagaimana aku bisa hidup dengan situasi seperti ini ... Timothy Flare ... ?!


Jantung Timothy langsung berdetak lebih keras, saat Halaand menyebut nama lengkapnya secara jelas, namun dengan nada yang berbeda.


Itu seolah menegaskan bahwa tidak ada lagi tawar menawar setelah nama itu dia sebutkan.


Perlu beberapa waktu baginya untuk mendapatkan kembali pengendalian dirinya. Sekarang, Wajah Tim berubah datar.


"Halaand Elliot Fargo ... Apa menurutmu, ini sepadan?"


Pertanyaan ini, hanya akan dia ucapkan satu kali pada orang yang ada di seberang sana. Jadi, Halaand harus hati-hati untuk menjawabnya.


Beberapa detik waktu berlalu. Namun Halaand belum juga bersuara di seberang sana. Tim berharap pria itu memutus sambungan dan mengurungkan niatnya sekarang juga.


Tidak ada kata mundur jika dia menyambut pertanyaan itu. Setidaknya, itulah hal yang mereka percayai selama ini, dan hal itulah yang membuat mereka berdua, masih hidup sampai umur mereka saat ini.


Namun, harapan hanya tinggal harapan. Detik kemudian, Halaand di seberang sana mulai berkata-kata dengan penuh penekanan, yang setiap kata itu terikat dengan sebuah sumpah.


Mendengarnya saja, membuat Timothy Flare, merinding.


"Demi darah haram Elliot yang mengalir di tubuh ku ... Aku menagih sumpah yang mengikat hidup mu  ... Aku ingin Darah mereka semua ... Untuk menyirami makam kedua putraku ... Timothy Elliot Flare ... !"

__ADS_1


__ADS_2